
Jesika berjalan berdampingan dengan Frans menuju meja makan yang sudah dipesan sebelumnya. Disaat bersamaan Leon juga duduk dikursi yang menghadap langsung pada meja keduanya.
Baik Jesika maupun Frans tidak menyadari Leon yang menatap mereka dengan santai menikmati setiap potongan steak yang masuk kemulutnya.
Aneh!kenapa rasanya hambar. Batin Leon yang tidak merasa kesal atapun marah seperti sebelum-sebelumnya ketika melihat keduanya bersama.
Sejak mengetahui hubungan keduanya hingga memergoki Jesika tinggal di apartemen milik sahabatnya itu Leon tidak pernah lagi menghubungi Jesika. Sebaliknya Jesika malah menelpon dan sering menemuinya langsung ke kantor untuk bertemu melepas rindu. Namun reaksi yang Leon berikan malah semakin dingin dari sebelumnya. Bahkan ia lebih banyak menolak dengan mengatasnamakan pekerjaan.
"Aku sibuk banget Jes." Memutar kursinya membelakani Jesika yang datang ke kantor setelah semua karyawan pulang.
Perasaan yang ia miliki untuk Jesika seperti terkikis oleh waktu dan bahkan mungkin perasaan itu tidak pernah ada jauh sebelumnya. Leon menenggelamkan dirinya pada pekerjaan sama hal waktu dirinya memutuskan untuk menjauh dari Frans dan Rahel. Ia memendam kekecewaan dalam dirinya sendiri tanpa mau mendengarkan penjelasan ataupun mencari kebenaran yang terjadi.
"Sesibuk itukah?Sampe Lo gak ada waktu buat gue." Keluh Jesika merebut tablet dari tangan Leon.
Bukannya udah ada Frans.Batin Leon berdiri dari kursinya. Lalu ia meregangkan tubuhnya disofa.
"Gak jadi balik?" Tanya Jesika metakkan tablet Leon dan duduk ditepian sofa tempat Leon merenahkan tubuhnya.
"Gue masih ada kerjaan yang belum selesai." Ucap Leon memejamkan matanya tak peduli ada Jesika disana.
"Yaudah kalo Lo masih mau disini." Bangkit berdiri meraih tas dan dokumen yang ia bawa.
"Jes!" Panggil Leon ketika wanita itu meraih gagang pintu.
"Apa Lo berubah pikiran?" Tanya Jesika yang penuh harap bahwa kekasihnya itu akan memilih dia dan membawa pekerjannya pulang. Seperti biasanya.
"Kedepannya Lo gak perlu datang menemuiku dikantor." Ucap Leon terduduk membelakani Jesika. "Kalau kerjaan sudah selesai Lo bisa balik duluan." Melihat ke Jesika yang berdiri dengan wajah ditekuk. "Akhir-akhir ini kerjaan gue banyak." Mencari alasan untuk tidak bertemu dengannya.
"Iya. Gue ngerti." Membuka pintu pergi meninggalkan Leon yang kembali membaringkan tubuhnya.
Kali ini Leon akan tidak akan meninggalkan ataupun memberitahu apa yang telah ia lihat. Ia ingin terus berpura-pura tidak mengetahui kelakuan keduannya.
Gue mau lihat sampai dimana kalian terus-menerus berakting didepan gue seperti orang bodoh. Batin Leon menyeringai usai meneguk wine digelasnya dengan mata yang melirik Jesika tertawa kecil pada Frans yang berada dihadapannya.
****
Akhirnya Leon selesai menjamu kolega David dengan hidangan spesial dan juga pemandangan memuakkan matanya sejak tadi. Kini waktunya ia menghantar kolega itu masuk ke mobil yang sudah terparkir didepan.
Dengan pesona yang memikat beberapa wanita sejak keberadaannya disana Leon berjalan melewati keberadaan Jesika dan Frans. Jesika terbatuk ketika melihat punggung kekasihnya itu melewati keberadaan keduanya.
"Jes kenapa?" Tanya Frans yang tak menyadarinya.
Leon. Batin Jesika melihat pria itu tersenyum lebar pada pria paruh baya yang berjalan disampingnya.
Ting!
Leon keluar dari Lift menuju apartemennya. Seharian penuh ia memanjakan kolega bisnis Ayahnya sampai membuat semua badannya terasa pegal.
"Kak Leon!" Panggil suara dari balik tembok membuat ia menegakkan lehernya dan mendapati Sandra berjalan keluar kearahnya sambil memeluk Paper bag.
"Mau ketemu Frans ya?"tanya Leon melihat penampilan Sandra dari ujung kaki sampai kepala.
Tumben gak pakai seragam. Batin Leon yang menebak Sandra hendak menemui Frans hanya dengan melihat paper bag.
"Enggak kok." Jawab Sandra mendongak pada Leon yang sekarang berdiri sejajar dengannya didepan pintu.
"Emang Lo ada kenalan lain disini selain Frans." Membuka panel kode.
"Kak Leon." Jawab Sandra. "Aku mau ketemu Kak Leon." Melihat jari Leon yang hendak memasukkan kode.
"Aku kangen sama kakak." Sandra berhasil menghentikan jari Leon menekan kode apartemennya.
"Lo gak lagi ngerayu gue kan?" Tanya Leon memasukkan kode membuat pintu terbuka.
"Buat apa?" Tanya Sandra balik.
"Buat bisa tinggal bareng gue." Jawab Leon Mengacak rambut Sandra.
"Enggak." Membuka pintu menyelonong masuk mendahului Leon. "Kak ini dress yang aku---." Menyerahkan paper bag pada Leon.
"---Ngapain dibalikin." Melihat kedalam. "Ini buat Lo aja." Menyerahkan kembali pada Sandra.
"Kalau gitu dress-nya Sandra simpan disini aja." Pinta Sandra. Ia gak mau Stela tau bahwa Leon memberikan dress untuknya.
"Ya udah." Menarik Sandra. "Lo simpan dikamar gue." Memeluk Paper bagnya sekaligus dengan Sandra.
"Kakak kenapa tiba-tiba meluk Aku."
"Bukannya Lo kangen sama gue." Memeluk Sandra dengan erat membuat aroma maskulin dari tubuh Leon menyeruak masuk ke indera penciuman Sandra. "Oh iya,gue lihat suami masa depan lo tadi lagi mesra-mesraan sama pacar gue." Ucap Leon membuat Sandra menatap heran pada Leon.
"Kak Leon gak marah?" Tanya Sandra.
"Enggak!"
"Kenapa?Emangnya Kakak belum bicara sama Kak Jesika?"
"Bicara apa?" Tanya Leon balik sekaligus menarik Sandra duduk dipangkuannya.
"Bicara kalau kakak mergokin dia selingkuh sama Kak Frans." Jawab Sandra polos.
"Untuk Apa?" Tanya Leon mencubit halus pipi Sandra. "Lagian dia udah tidur sama Frans."
Tidur?Oh iya juga. Aku pernah ketemu dengan kak Jesika dikamar hotel yang sama dengan Kak Frans. Batin Sandra.
"Emangnya Kak Leon belum pernah tidur sama Kak Jesika." Ucap Sandra lirih.
"Udah." Bisik Leon tersenyum nakal. "Lo mau nyoba gak?" Tanya Leon menggoda Sandra
"Kebetulan bangetkan Lonya ada disini." Tambah Leon kembali menggoda Sandra yang mulai panik.
"Mending Kak Leon mandi gih!" Ucap Sandra mengalihkan pembicaraan.
"Yaudah sekalian aja entar habis gituan." Goda Leon membuat Sandra semakin panik.
"Kak Leon ngomong apasih?Sandra gak ngerti." Sahut Sandra turun dari pangkuan Leon. "Kak Frans gimana ya?" Tanya Sandra berusaha mengalihkan pembicaraan Leon yang membuat otaknya traveling kemana-mana.
Namun bukannya berhenti menggoda Leon malah semakin mengkait-kaitkan omongan Sandra dan terus menggodanya.
"Oh Lo maunya gituan sama Frans." Goda Leon. "Ya udah ayo gue antarin." Tawar Leon.
"Enggak! Maksud Sandra bukan begitu." Menolak maksud Leon yang menanggapi omongannya.
"Iya Gue tahu." Menangkup wajah Sandra. "Kita gak usah bahas mereka ya." Pinta Leon pada Sandra. "Gak usah sebut-sebut nama mereka. Bisakan?!" Pinta Leon pada Sandra yang membalasnya dengan anggukan kecil.
"Terserah Kakak deh maunya gimana." Ucap Sandra meskipun dalam benaknya ia masih bingung kenapa pria didepannya ini tidak marah setelah apa yang dilakukan pacar dan sahabatnya itu. "Lain kali kalau kakak punya pacar dijagain baik-baik ya kak. " ucap Sandra menepuk-nepuk punggung Leon membuat pria itu melipat bibirnya mendengar nasehat dari Sandra. "Jangan sampe ditidurin sama cowok lain." Tambahnya lagi membuat pria itu tersenyum.
Sandra yakin Kak Leon pasti punya rencana sendiri untuk memberi mereka pelajaran. Batin Sandra.