
Sandra menyeret kopernya dengan menerobos hujan yang begitu deras memasuki area kediaman Winata. Ia menyelinap ke halaman belakang menembus koridor yang terhubung ke kolam renang.
"Non Sandra." Desis Ema menepuk bahu Sandra.
"Bibi!" Balas Sandra terkejut dengan basah kuyup.
"Lewat sini." Ucap Ema menuntun putri majikannya itu menyelinap masuk dari belakang tembus menuju ke kamar Ema. Sementara itu Ema berdiri dikoridor memperhatikan Rosa, Adit dan Stela saling melihat satu sama lain. Ketiganya masih menunggu kedatangan Sandra yang telah membohongi semuanya.
"Apa belum ada jawaban?" Tanya Adit pada Rosa yang menghubungi Sandra sejak tadi.
"Stela tinggal dulu." Jawab Stela bangkit berdiri tersenyum sinis pada Rosa yang kali ini tidak bisa membela Sandra.
Belum lama ini Stela melihat Adit dan Rosa begitu memperhatikan Sandra dibelakangnya. Ia tahu berapa bulan terakhir ini Adit dan Rosa berpura-pura memberi hukuman pada Sandra didepannya. Sebelum akhirnya Stela memergoki Adit dan Rosa menghabiskan waktu bersama menemani Sandra selama ia tak dirumah. Pemandangan yang persis dengan masa-masa Sandra mengambil perhatian semua orang darinya.
Darimana dia mendapatkan keberanian mengambil semua yang harusnya jadi milikku. Batin Stela mematikan tv penuh amarah ditambah dengan berita yang kini lebih menjurus ke identitas Sandra yang berdiri disamping Leon.
"Coba telpon wali kelasnya pah." Pinta Rosa pada Adit membuat Ema bergegas menyusul Sandra ke belakang. Sementara Stela bangkit dari berdiri meninggalkan keduanya sambil mengirim pesan pada Leon.
"Gue mau lihat apa yang akan dilakukan papa padanya." ucap Stela melihat Adit dan Rosa dari atas. "Akan lebih menarik lagi kalau Gue bilang Sandra menghabiskan tiga harinya bersama Leon."Lanjutnya melihat Rosa yang begitu panik sejak melihat potret siswi disamping Leon. "Kelihatannya Mama mengenali Sandra." Menilik Ema yang menghantar makan malam dimeja makan. Ia kemudian melihat Ema menyendokkan nasi dipiring dan membawanya kembali kearah dapur. "Apakah dia lupa ninggalin nasi untuknya?" Tanya Stela berbalik badan masuk ke kamarnya. Ia duduk didepan meja riasnya sambil menunggu balasan Leon akan pesan yang ia kirim.
"Apa Sandra masih sama Lo?" Suara Leon membaca pesan dari Stela sesampainya di basemant apartemen miliknya. "Apa dia masih diluar?" Tanya Leon keluar dari mobilnya. "Tau begini gue mending bawa dia kesini." Melangkah menuju lift sambil memperhatikan sekitarnya sekaligus perkembangan berita tentangnya.
"Non." Panggil Ema masuk kekamar dengan nasi dan sup udang yang masih hangat dan beberapa lauk lainnya. "Tehnya diminum atuh Non." Meletakkan nampan berisi makanan yang baru ia bawa untuk Sandra yang bersembunyi dibawa selimut tebal dengan rambut yang masih tergulung handuk.
"Bi." Panggil Sandra berbalik badan.
"Iya Non." Sahut Ema.
"Papa marah banget ya?" Tanyanya pada Ema yang sudah memberitahu sebelumnya apa yang telah terjadi setelah Adit dan Rosa mengetahui kebenaran dibalik acara perpisahan.
"Iya Non." Jawab Ema memakaikan sendok ditangan Sandra. "Tiga hari ini Non ada dimana?" Tanya Ema melihat Sandra menyuap nasi dan sup kemulutnya bergantian.
"Di rumah teman Bi." Jawab Sandra berbohong sambil menekuk wajahnya menikmati makanan didepannya.
"Siswi S itu bukan Non Sandra kan?" Tanya Ema membuat Sandra terkejut. Ia hampir saja menjatuhkan sendok ditangannya.
"Bi Ema kenapa bisa berpikir itu Sandra?" Jawab Sandra yang balik bertanya.
****
Di waktu bersamaan Leon dikejutkan oleh reporter yang berkerumun didepan pintu apartemennya. Ia pun segera berbalik badan namun lift yang baru saja ditinggalkan sudah tertutup lebih awal.
Sial! Umpat Leon dengan jari yang terus-menerus menekan tombol lift.
"LEON!!" Teriak salah satu reporter yang memergoki Leon menekan bel sambil melihat kearahnya.
Brakk! Suara pintu darurat berhasil diterobos reporter yang membuat Leon lagi-lagi mengumpat mencari persembunyian dari sekumpulan reporter yang mengincarnya. Sebuah tangan datang dari sisi lain menarik Leon dari buruan reporter. Tangan itu menyeret Leon masuk kedalam ruangan dan menempatkan tubuh itu dinding dengan penekanan.
"Apa Lo mencoba melampiaskan semuanya pada Sandra?!" Tanya Frans menarik kerah baju Leon.
Tak perlu berapa lama Frans langsung menyadari semuanya. Setelah mengecek beberapa foto dirinya bersama Sandra yang ia ambil sebelum-sebelumnya menunjukkan banyak kemiripan. Ia kemudian mengaitkan informasi mengenai kedekatan Leon dan Sandra yang selalu ia tepis dari Stela. Kemunculan Sandra didalam lift bersama Leon yang membuat dirinya tertipu akan tipuan keduanya. Masih dihari yang sama ia memergoki Sandra keluar dari mobil Leon dengan suasana hati yang berbeda. Pikirannya semakin kacau mengingat dirinya pernah memergoki Leon mencumbui seorang wanita didalam mobil.
"Sejak kapan Lo ngelakuin itu ke dia brengesek!" Teriak Frans mengingat kembali ucapan Leon sebelumnya divilla.
"Kenapa?" Tanya Leon tersenyum sinis mengejek Frans yang tampak terpukul mengetahui bahwa tunangannya selama ini telah bermain dibelakangnya. "Menyakitkan bukan?" Cibirnya membuat darah Frans mendidih.
"Apa yang udah Lo lakuin ke dia brengsek?" Tanya Frans masih menarik kerah Leon sambil menekannya.
"Bukannya Lo lebih tahu." Jawab Leon menggenggam pergelangan tangan Frans penuh kebencian yang selama ini ia tahan. "Lo harusnya gak lupa dengan semua yang pernah Lo ajarin ke Gu---"
"---Diam Lo!" Teriak Frans memotong perkataan Leon yang semakin membuat darahnya mendidih.
"Ah sorry." Balas Leon. "Gue seharusnya gak ngeduluin Lo buat nyobain milik Lo bu---"
"---Diam!" Teriak Frans memotong perkataan Leon yang lagi-lagi membuatnya marah.
"Ah,Gue lupa." Lanjut Leon memprovokasi Frans. "Lo kan lebih suka sisaan Gue." Cibirnya membuat Frans melayangkan pukulan yang berhasil dihentikan Jesika yang mendengar percakapan keduanya yang membuat hatinya sakit.
"Gue bawa Lo kesini bukan untuk jadi perisanya dia." Keluh Frans menarik kepalan tangannya yang terjeda tepat di depan wajah Jesika.
"CK!" Decak Leon menepis tangan Frans dari lehernya. "Apa kalian masih berhubungan?" Tanya Leon melempar pukulan ke wajah Frans hingga membuat pria itu jatuh tersungkur dilantai.
"Hah!" Keluh Frans menyentuh sudut bibirnya yang mengeluarkan darah membuat Jesika terkejut. "Sialan Lo!" Teriak Frans bangkit menarik Jesika menjauh dari Leon lalu dalam hitungan detik ia balas melayangkan pukulan ke wajah Leon.
"Lo kesal?" Cibir Leon mencengkram leher baju Frans. "Karna Sandra gue tidurin?" Tanyanya mencengkram erat leher baju.
"Diam Lo sialan!" Balas Frans berusaha melepas cengkraman Leon darinya.
"Sama!Gue juga demikian saat tahu Lo nidurin Rahel dan Jesika!" Teriaknya sekaligus melayangkan pukulan di wajah Frans yang dibalas balik oleh Frans.
Keduanya pun bergulat dilantai saling memukul satu sama lain. Tak ada yang bisa dilakukan Jesika selain berusaha memisahkan keduanya yang malah membuatnya terkena pukulan dari Frans.
"Aw!" Desis Jesika membuat Leon menghentikan pukulannya pada Frans yang telentang dilantai.
"Thanks!" Ucap Leon bangkit berdiri keluar meninggalkan apartemen Frans.
๐๐๐
Maaf sekali buat para pembaca setia yang telah menunggu terlalu lama๐ Authornya lagi sibuk tak menentu๐คญ