
Ada tidaknya keberadaan Rahel maupun Jesika yang menyandang gelar sebagai kekasih tidak mengurung niat Leon untuk menolak nafsu yang dihadapkan didepan mantanya.
Laki-lakilah namanya. Selama bentukan dan tampilan itu menarik ditambah menaikan birahinya. Mengapa tidak?
Tidak ada ada tombol kontrol untuk itu bagi Leon dan Frans. Dan itu sudah terjadi jauh sebelum Rahel memasuki kehidupannya dan belum berhenti hingga Jesika hadir mengisi kekosongannya.
"Byurr!" Suara air shower dari balik pintu kamar mandi yang terkunci. Sandra berdiri sambil menempelkan telinganya dipintu. Sementara Leon masih berjuang bermain dengan sang adik.
Leon bahkan sudah lupa kapan terakhir kali iya melakukan hal seperti itu di kamar mandi dimanq dirinya harus menyalakan shower sekencang-kencangnya menutupi suara erangan dan permainan kelima jarinya.
Rasanya ia ingin pergi mencari Jesika untuk melampiaskan hasratnya yang tak kunjung terpuaskan sejak tadi.
Sandra! Batin Leon membayangkan wajah gadis itu sambil terduduk dibawah air yang mengalir dari shower. Ia tak menyangka akan ada hari dimana dirinya melakukan hal yang sekarang ia rasa aneh.
Dan juga membuatnya kembali dalam ingatan waktu ia dan Frans terjun kedunia itu pertama kalinya. Dunia dimana ia bisa melakukannya secara langsung ketika ingin itu menguasai dirinya hingga membuatnya ketagihan yang menjadi awal hubungannya dengan Rahel.
Rahel merupakan wanita pertama yang menyandang gelar sebagai kekasih Leon. Sekaligus wanita yang membawanha kedalam kenikmatan berhubungan.
"APA?!!" Tanya Frans dan Gio kompak terkejut mengetahui bahwa Rahel yang Leon pacari ternyata sudah gak virgin lagi.
"Enak dong Lo!" Celetuk Frans pada Leon.
"Enak apanya?" Tanya Leon. "Bekas begitu!" Ucapnya lagi memainkan alisnya pada Frans yang sepemikiran sementara Gio menggeleng-gelengkan kepalanya melihat dua sahabatnya.
"Ya setidaknya kalo lagi pengen gak perlu susah-susah kan man!" Ledek Frans yang tidak pernah mengikat hubungan ke wanita manapun seperti yang dilakukan Leon. Bagi Frans iya hanya perlu menikmati masa-masa itu sebelum akhirnya ia melakukan pertunangan dengan Stela.
"Tapi gue gak nyangka loh seorang Rahel begitu." Ucap Gio simalaikat yang terjebak diantara dua iblis.
"Kenapa Lo mikir begitu?" Tanya Frans yang ingin mendengar penilaian malaikat mereka itu tentang Rahel sibunga kampus yang sudah lama mengincar Leon cowok yang jadi incaran semua cewek di kampus.
"Pendiam." Jawab Gio yang berada di fakultas yang sama dengannya. Keduanya juga terkadang berada dikelas yang sama.
"Diamnya itu yang bahaya." Celetuk Frans yang memiliki jam tayang lebih banyak ketimbang Leon hingga sekarang. Sampai-sampai ia meniduri pacar sahabatnya sendiri.
Wuhh! Hembusan asap rokok dari bibir seksi Leon yang duduk bersandar dengan rokok yang menyelip diantara jari telunjuk dan tengahnya.
Sudah sejam berlalu Leon keluar dari kamar mandi dan mendapati Sandra tertidur pulas dibalik selimutnya. Ia memilih duduk dibalkon sambil menatap gadis itu dari jauh.
Hasrat itu masih ada hingga mengharuskan Leon untuk menjaga jarak dan membiarkan Sandra menikmati malam yang tenang.
****
Sandra terjaga dalam tidurnya. Ia bangkit terduduk dan melihat tak ada Leon disampingnya.
"Kak Leon kemana?" Melihat jam dinding menunjukkan pukul 02.00 dinihari. Ia menurunkan kakinya kepermukaan lantai sambil mengucek-ngucek matanya.
Sandra meraih sweaternya dan memakaikannya menutupi setengah tubuh nya yang membuat Leon teransang.
Sebelum Leon keluar dari kamar mandi Sandra yang menempelkan kupingnya dipintu samar-samar mendengar sebuah erangan dari dalam. Ia bahkan sempat ingin mengetuk pintu itu mencemaskan Leon yang menimbulkan suara seperti kesakitan.
"Kakk---"
"---Ah!Ahh!" Suara desahan terdengar jelas ketika suara shower tiba-tiba berhenti. Sandra mengurungkan niatnya dan menempelkan kembali kupingnya kepintu. Ia mendengar suara seperti mengocok adonanan dengan tangan yang ditimpa tindih dengan suara Leon yang mengerang.
Mungkinkah yang menyentuh pahaku tadi itunya Kak Leon.Batin Sandra menutup mulut dengan kedua tangannya dan ekspresi shock .
Sandra berbalik badan. Ia kembali keranjangnya. Sandra panik sambil berjalan mondar-mandir didepan ranjang. Sesekali ia melirik ke arah kamar mandi tempat Leon berada.
Bagaimana kalau Kak Leon gak bisa nahan. batin Sandra yang menyadari apa yang terjadi pada Leon.
Bukan sesuatu yang baru bagi Sandra mengetahui apa yang sekarang dilakukan Leon didalam sana. Teman sekelasnya yang cowok-cowok bahkan sering membahasnya dengan frontal didepannya.
Sandra turun menapaki anak tangga mencari keberadaan Leon. Disisi lain ia merasa bersalah membuat Leon tersiksa. Namun disisi lain ia harus menghindar dan menjaga harta paling berharga miliknya.
Sandra bersinggang dengan kedua lutut yang bertumpu dilantai memandangi Leon yang tidur.
Tap! Suara tangan Leon yang dengan spontan menagkap tangan Sandra yang hendak mengelus wajah pria itu.
"Kamu!" Ucap Leon melihat Sandra yang terkejut.
"Kak Leon aku---" ucapannya terputus saat Leon menariknya tidur disampingnya. Leon menarik selimut dan menutupi keduanya.
"Kak Leon gak marah samaku?" tanya Sandra yang masih merasa bersalah membuat pria itu mengalami hal yang mengharuskan dirinya mengungsi dari kamarnya sendiri.
"Marah kenapa?" tanya Leon meraih wajah Sandra dan membuatnya menghadap padanya. "Hm?" memandang wajah Sandra.
"Karna nilai Sandra jelek!" jawab Sandra mengalihkan ke hal lain. Ia tidak mau Pria itu terpancing lagi karnanya.
"Enggak." Jawab Leon tersenyum.
Gue benar-benar mau memakanmu Sandra. Batin Leon yang menangkap rasa simpati gadis itu terhadap apa yang telah terjadi di kamar mandi.
"Lo kedinginan,hm?" tanya Leon yang melihat Sandra sengaja menutupi setengah tubuhnya dengan sweater yang ia kenakan.
"Enggak." jawab Sandra polos.
"Kalau gak kedinginan kenapa pake beginian?" tanya Leon menunjuka sweater yang dipakai Sandra.
"Nanti Kak Leon---."
"---Cup!" suara Leon mengecup bibir Sandra membuat gadis itu merona dan langsung menyembunyikan wajahnya didada Leon.
"San." panggil Leon mendekap Sandra yang menyembunyikan wajanya.
"Ya?" Sahutnya mendongak.
"Bolehkah?! pinta Leon melihat ke Sandra dibawahnya yang dibalas gelengan kepala oleh Sandra.
"Kak Leon."
"Hm?!"
"Jangan bahas itu lagi." pinta Sandra membuat Leon mengecup bibir itu lagi.
"Kenapa?" Tanya Leon setelah menjauhkan bibirnya.
"Nanti Kak Leon gitu lagi gimana?" tanya Sandra yang membuat Leon terkekeh mendengar kekhawatiran yang menggelikan itu.
"Kak Leon kok malah ketawa." ucap Sandra.
"lagian Lo sih pake nanya begitu." Ucap Leon menjepit tubuh Sandra dengan kedua kakinya.
"Makanya jangan dibahas lagi." bantah Sandra.
"Lo takut ya kalau adek gue ke bangun!" memeluk Sandra dengan gemas.
"Adek?" tanya Sandra bingung.
"Iya adek gue!" jawab Leon menempelkan pipinya ke pipi Sandra.
"Kak Leon punya adek?" tanya Sandra membuat Leon melipat bibirnya melihat gadis itu.
"Iya. Kapan-kapan gue kenalin ya." jawab Leon nakal.