Unboxing

Unboxing
61. Orang Yang Sama



Sudah 10 menit berlalu Sandra menenggelamkan dirinya dengan duduk didasar kolam renang.


Sesampainya dirumah Sandra melepaskan pakaian dan menggantikannya dengan baju renang swimsuit one piece motif bunga. Ia melompat ke kolam dan melakukan dua kali putaran. Kemudian seperti biasa ia menenggelamkan dirinya didasar kolam.


Dan kali ini Sandra sudah menghabiskan 10 menit didalam kolam. Ia menenggelamkan dirinya bersama kenangan manis dan kesedihannya.


"Non Sandra!" Teriak Ema dari atas kolam yang sudah dua kali datang membawa makanan dan minuman untuk putri majikannya itu. "Non!" Teriaknya lagi berjalan menyisir tepian kolam mengecek Sandra yang memiliki kebiasaan berdiam diri di dasar kolam. Meskipun sudah bukan yang pertama kali bagi Ema melihat Sandra menahan nafas didalam air tetap saja ia khawatir. Ia takut Sandra benar-benar tidak bisa keluar dari sana.


"Non Sandra keluar atuh Non!" Teriak Ema yang akhirnya menemukan gadis 18 tahun itu sedang duduk didasar kolam sambil merentangkan kakinya. Ia mendongak keatas dan melihat wajah panik Ema yang mondar mandir disisi kolam.


"Blum,blum,blumm!" Suara gembulan udara yang keluar dari mulutnya saat naik kepermukaan air.


"Dor!" Kejut Sandra menangkap kaki Ema di sisi kolam.


"Non Sandra." Sahut Ema terkejut. "Non jangan suka nakut-nakutin Ema." Tambahnya memperingati Sandra yang memiliki kelebihan yang justru membuat Ema panik.


"Makanya Bi Ema belajar berenang." Ucap Sandra keluar. "Jadi Kalau Sandra gak keluar-keluar." Duduk disisi kolam. "Bi Ema bisa lompat kedalam buat nolongin Sandra." Senggolnya pada Ema yang duduk tepian kolam yang kering.


"Emang Non Sandra ada rencana gak mau keluar-keluar dari sana." Ucap Ema kesal melihat kelalakuan majikannya itu yang membuatnya panik. Ema meraih jus guava kesukaan Sandra dan memberikannya.


"Mama kemana Bi?" Tanya Sandra menerima jus dari tangan Ema.


"Ke rumah sakit Non." Jawab Ema.


"Mama sakit?" Tanya Sandra yang merasa tak ada yang aneh pada Rosa sejak kemarin sore.


"Bukan Nyonya." Jawab Ema. "Tapi Non Stela yang masuk rumah sakit." Lanjut Ema meraih gelas jus yang sudah kosong dari tangan Sandra.


"Oh gitu." Ucap Sandra yang kembali masuk kekolam. "Bi mie goreng sama yang lainnya buat dikamar Sandra aja ya." Pinta Sandra melihat masih begitu banyak makannya yang dibuat Ema untuknya.


"Non gak mau makan dibawah situ." Ledek Ema pada Sandra untuk membawa makananya ke dasar kolam.


"Boleh deh." Balas Sandra. "Tapi Bi Ema yang letakin dibawah ya." Menenggelamkan tubuhnya kemudian muncul kembali.


"Non jangan tiduran dibawah lagi!" Teriak Ema yang membuat Sandra membalikan tubuhnya dengan mengancungkan jempol. Lalu ia berenang dengan gaya kupu-kupu menelusuri permukaan kolam sambil menikmati warna jingga dilangit yang memanjakan matanya yang lelah menangis sebelumnya.


"Hilang sudah." Gumamnya melihat senja yang perlahan menghilang tertutup awan hitam.


****


Gio keluar meninggalkan Leon yang istirahat ditemani Nadin dan juga David yang baru saja tiba. Ia menekan tombol lift dan berpapasan dengan Rosa dan Adit yang beridiri didalam.


"Tante apa kabar?" Tanya Gio menyapa Rosa masuk kedalam lift membuat Rosa dan Adit saling menatap.


"Kamu ini---" Jawab Adit terjeda melihat Gio dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"---Aku Gio Om!" Sambung Gio tersenyum hingga memperlihatkan kedua lesung pipinya yang membuat Rosa menepuk lengan Adit.


"Ya ampun pah Gio udah sebesar ini." Ucap Rosa yang terakhir bertemu dengan Gio saat ia melahirkan Sandra dirumah sakit ini.


"Ingatan kamu bagus juga ya." Puji Adit pada Gio yang tertawa mendengar pujian Adit padanya.


"Wah akhirnya impian mama kamu terwujud ya." Ucap Adit yang duduk dicafe tidak jauh dari rumah sakit bersama Gio dan Rosa. "Punya anak yang meneruskan jejaknya." Tambah Adit.


Gio yang masih berusia 10 tahun berpapasan dengan Stela yang tergeletak tak sadarkan diri dengan tubuh yang berlumuran darah. Stela didorong masuk keruang UGD oleh Silvia dan dokter lainnya. Dan keesokan paginya Gio kemudian melihat Adit dan Rosa yang menangis melihat ke dalam ruang ICU.


"Mah anak perempuan yang tadi malam dimana?" Tanya Gio menarik lengan jas putih Silvia.


"Didalam sayang." Sahut Silvia memeluk putranya.


"Om dan Tante itu mama papanya yah mah?" Tanya Gio.


"Bukan sayang." Jawab Silvia yang tanpa sadar memeluk putranya sambil meneteskan air mata. Hari berikutnya Stela yang koma dipindahkan keruangan yang lebih intensif. Gio yang penasaran dari awal menyelinap masuk keruangan tempat Stela terbaring.


"Auristela Winata." Suara Gio membaca nama yang ada diranjang.


"Gio." Desis Silvia yang masuk bersama dengan Adit dan Rosa. "Sayang kamu ngapain disini." Ucap Silvia yang hendak mengecek keadaan Stela ditemanin Adit dan Rosa.


"Anaknya ya dok?" Tanya Rosa tersenyum.


"Iya." Jawab Silvia malu. "Anak nakal." Ucapnya lagi menarik hidung Gio gemas.


"Gio mau nemanin Auristela ya." Goda Adit pada Gio sambil melihat Silvia mengecek perkembangan Stela yang membuat semuanya tersenyum. Sejak hari itu Gio selalu mengunjungi Stela setiap datang kerumah sakit. Ia bahkan menemani Stela hingga terbangun dari koma.


"Siang tadi dia ditemukan pingsan di hotel." Tambah Adit menjelaskan membuat raut wajah Gio berubah sedih. "Makanya om dan tante ada disini." Tambahnya lagi melihat ke Rosa.


"Auristela apa masih suka pingsan om?" Tanya Gio mengingat setelah Stela bangun dari komanya tidak mengenali siapapun. Disaat ia mencoba mengingat yang terjadi Stela malah merasakan sakit dikepala dan berakhir jatuh pingsan.


"Udah enggak." Jawab Adit. "Semoga ini bukan gejala sebelumnya." Ucap Adit.


"Emangnya om gak mau dia ingat semuanya." Ucap Gio.


"Kalau mengingatnya hanya akan membuatnya sakit." Ucap Adit. "Om rasa tidak perlu meskipun----."


"---Rasanya udah lama banget ya kita gak kesini." Potong Rosa meraih tangan Adit dari bawah sambil menggelengkan sedikit kepalanya.


"Hmm, Iya terakhir kita kesini pas Alexandra lahir." Ucap Adit.


"Ah benar banget om." Ucap Gio mengiyakan namun ia melihat ada sesuatu yang disembunyikan Rosa dan Adit. "Alexandra udah gimana kabarnya om?" Tanya Gio yang hanya pernah bertemu Sandra saat masih bayi.


"Sandra sudah SMA." Jawab Adit. "Ini tahun terakhir dia." Menyeruput kopinya.


"Sandra?" Tanya Gio mendengar panggilan yang tak asing itu.


Kenapa namanya bisa sama persis. Batin Gio menaikan satu alisnya.


"Maksud Om itu Alexandra." Ucap Rosa melihat reaksi Gio. "Di rumah kami manggilnya Sandra." Ucap Rosa menjelaskan pada Gio.


"Oh gitu." Gio menyanggupi.


"Kamu kok kayak terkejut gitu dengar namanya?" Tanya Adit. "Atau jangan-jangan kamu udah pernah ketemu sama putri om ya." Goda Adit membuat Gio tersipu.


"Aduh! apa sih om dari dulu sampai sekarang gak berubah-ubah." Ucap Gio. "Senang banget godain Gio." Tambahnya lagi membuat Rosa tertawa mengingat Adit yang dulu selalu menggoda Gio untuk menjadi menantunya. "Hmm, digoda begini Gio jadi pengen benaran mau ketemu nih!" Balas Gio gak mau kalah lagi disertai senyum yang sedikit canggung.


Gue mau lihat apakah mereka orang yang sama . Batin Gio disertai senyum yang canggung.