
Setelah membuat Sandra terengah-engah Leon melepas ciumannya. Ia membiarkan gadis itu jatuh bersandar didadanya yang bidang dan membantunya memegangi kembang api yang sebentar lagi habis terbakar.
Leon kemudian menancapkan satu persatu kembang api yang belum dibakar pada sterofom yang sudah disiapkan Sandra sebelumnya. Ia menancapkan kembang api sambil memikirkan Jesika yang sebelumnya menelpon.
"Lo dimana?" Tanya Jesika dari panggilan suara.
"Gue lagi dirumah." Jawab Leon melihat ke Sandra yang duduk membelakanginya.
"Ohh, sibuk ya?" Tanya Jesika dengan suara bergetar membuat Leon mengernyitkan alisnya.
"Yaa." Jawab Leon. "Lo gak ada masalah kan?" Tanya Leon yang merasa ada sesuatu yang terjadi pada pacarnya itu.
"Gak." Jawab Jesika berdiri didepan mobil Leon yang terparkir dibasement apartemen.
"Baguslah." Ucap Leon membuat Jesika berusahan menahan isakan yang hendak keluar dari bibirnya.
"Kak Leon." Panggil Jesika sekaligus mengakhiri panggilannya yang membuat Leon teringat terakhir kali ia mendengar wanita itu memanggilnya demikian saat Jesika menyadari bahwa diri telah melakukan kesalahan padanya.
Apa dia sudah tahu kesalahannya. Batin Leon mengingat bagaimana kebiasaan Jesika yang ia kenali sejak mengenalnya hingga keduanya berpacaran.
Dulu sebelum keduanya menjalin hubungan Jesika yang empat tahun lebih muda dari Leon selalu memanggilnya dengan sebutan Kak Leon.
Leon membantu Jesika agar bisa mengimbangi kemampuannya dengan pekerjaan dikantor. Usaha Leon dibalas dengan kerja keras Jesika yang menekuni apa yang diarahkan padanya. Seiring berjalannya waktu Jesika jatuh cinta pada Leon sama halnya seperti wanita lain. Ia pun memberanikan diri menyatakan perasaannya pada Pria itu.
"Kak Leon gue suka!" Ucap Jesika ketika ia mengantar dokumen keruangan Leon.
"Suka apa?" Tanya Leon pura-pura tidak tahu.
"Kak Leon." Jawab Jesika.
"Oh." Sahut Leon yang sudah sering menerima pernyataan seperti ini dari wanita yang bekerja di perusahaannya.
"Gue cinta sama Kak Leon." Ucap Jesika lagi dengan polos membuat Leon bangkit dari kursinya mendekati Jesika.
"Gue tahu." Ucap Leon menyentil jidat Jesika yang tersipu malu. Leon pun merespon seolah ia menerima Jesika. Sama seperti wanita-wanita yang datang padanya. Meski dikenal dingin Leon tidak jauh beda dengan Frans. Tak menunggu berapa hari Leon berhasil membuat Jesika terbaring tanpa sehelai benangpun ditubuhnya.
Jeritan dan ringisan yang keluar dari bibir Jesika membuat Leon terpaku sesaat. Ia menarik tubuhnya dan mendapati cairan merah keluar dari pusat tubuh Jesika.
"Jes." Panggil Leon menenggelamkan lagi dan lagi hingga membuat Jesika hanya bisa menggigit bibirnya.
Sejak hari itu hubungan diantara keduanya pun terjalin. Sebenarnya Leon tak memiliki perasaan pada Jesika namun ia merasa baj*ngan jika mengabaikan wanita yang sudah menyerahkan kehormatannya padanya. Leon pun berusaha menyembunyikan hubungannya keduanya dari publik. Ia tak ingin Jesika dalam masalah jika wanita-wanita lain mengetahuinya.
Panggilan Jesika pada Leon pun perlahan berubah setiap Leon menjatuhkannya lagi dan lagi diranjang kamar tamu yang ada diapartemen Leon.
"Ahh.." desah Jesika yang membuat Leon menerjangnya. "Kak Leonn!" Panggilnya.
"Leon." Bisik Leon.
"Leon." Panggil Jesika membuat Leon menerjangnya kembali. "Ahh..ahh.." suara ******* Jesika memenuhi kamar.
Namun setiap kali Jesika menyadari ia telah melakukan kesalahan pada Leon. Ia kembali memanggilnya seperti semula.
"Kak Leon." Panggil Jesika memeluk Leon.
"Kenapa?" Tanya Leon.
"Gue yang telat buat data laporannya kak." Jawab Jesika yang membuat kesalahan menyebabkan Leon mengalami kendala dalam penanganan proyek.
"Oh yaudah." Menenangkan. "Lain kali Lo jangan gagal fokus."
"Iya Kak Leon." Ucap Jesika layaknya seorang adik membujuk sang Kakak untuk tidak memarahinya.
"Kak Leon aku minta maaf ." Ucap Jesika yang kini jongkok didepan mobil Leon dengan tangan yang menutup wajahnya yang berlinang air mata.
****
Semua kembang api dalam boxnya sudah tertancap pada sterofom yang berada dalam frame besi didepan Sandra.
"Kak Leon."
"Kak Leon kenapa?" Tanya Sandra pada Leon yang sejak tadi ia panggil tidak menyahutnya.
"Hm." Terbangun dari lamunannya yang memikirkan maksud panggilan Jesika padanya ditelpon.
"Kak Leon mikirin Kak Jesika ya?" Tanya Sandra.
"Enggak." Jawab Leon berbohong.
"Bohong." Celetuk Sandra meraih pematik dari tangan Leon.
"Gue aja." Merebut pematik itu lagi dari tangan Sandra sambil tersenyum menangkap wajah cemburu Sandra. "Nanti tangan Lo kebakar." Menyalakan pematik dan mempertemukan simerah yang kebiruan pada ujung kembang api yang sudah berdiri diatas sterofom.
"Biarin." Jawab Sandra ketus membuat Leon tersenyum melirik wajah merengut Sandra dengan bibirnya yang kini monyong kedepan.
Crazz! Suara kembang api yang menyala dengan cahaya percikan dari setiap sisinya memberikan keindahan tersendiri.
"Masih marah ya?" Tanya Leon merangkul Sandra.
"Emangnya Sandra punya hak marah." Jawab Sandra yang menyadari statusnya dibanding Jesika.
"Kalau gitu gue yang marah ya?" Tanya Leon memutar tubuh Sandra sehingga membuatnya saling menghadap satu sama lain.
"Sandra emang salah apa?" Balas Sandra balik bertanya.
"Tunangan." Jawab Leon yang masih terusik dalam pikirannya. Dibanding dengan Jesika yang baru saja membingungkannya hingga melamun ia lebih merasa terganggu dengan pengakuan Frans akan hubungannya dengan Sandra. "Bukannya Lo bilang masih calon." Menangkup wajah Sandra yang bingung.
Aku lupa punya tunangan. Bisa-bisanya aku cemburu dengan pacar Kak Leon. Batin Sandra.
"Itu inisiatif Kak Frans sendiri." Ucap Sandra yang hanya bisa diam mendengar Frans mengakui hubungan diantara mereka ke publik.
Hari dimana Frans pertama kali mengakuinya dipublik adalah hari dimana ia melihat Frans ribut dengan Stela didepan pintu kamar Stela. Frans yang awalnya ingin membawa Stela ke perjamuan akhirnya menarik Sandra untuk pergi.
Sandra yang tidak bisa mendengar pembicaraan keduannya tak bisa berasumsi bahwa pengakuan Frans terhadap dirinya Itu tidak lain adalah ide Stela.
"Nyokap bokap Lo tahu?" Tanya Leon yang membuat Sandra menurunkan pandangannya dari Leon. "San." Panggil Leon yang tak sengaja menyinggung kedua orang tua yang selalu membuat Sandra menekuk wajahnya.
"Tahu tidaknya kelak Sandra juga bakal tunangan dengan Kak Frans." Melihat ke Leon.
Mungkin kah dia dipaksa tunangan dengan Frans. Batin Leon yang menduga-duga dari raut wajah Sandra.
"Dan pada akhirnya Sandra bakal menikah dengan Kak Frans kan." Ucap Sandra yang semakin hari semakin mengkhawatirkan pertunangannya dengan Frans. Ia tidak melihat tanda-tanda Frans mengejar Stela lagi setelah hari dimana mereka bertengkar.
"Lo punya perasaan gak sama Frans?" Tanya Leon memastikan gadis kecil yang terikat oleh sebuah pertunangan dengan Sahabatnya itu.
"Kalau Sandra punya perasaan sama Kak Frans mana mungkin Sandra ada disini." Jawab Sandra membuat Leon melipat bibirnya menahan senyum dan rasa senang yang meluap dari dalam hatinya.
"Selama kita gak ketemu apa dia pernah nyium bibir Lo ini?" Tanya Leon menangkup wajah Sandra dan menyentuh bibir Sandra dengan ibu jarinya.
"Kak Leon udah coba sendirikan." jawab Sandra. "Rasanya masih sa---" Goda Sandra terputus oleh Leon yang langsung meraup bibirnya. Leon menjatuhkan tubuh Sandra kelantai hingga membuatnya mudah menikmati rasa yang sama seperti dimalam pertama kali ia menyicipinya.