
Dari luar ruangan Fandy menahan tangan Feny untuk masuk menyusul Leon yang membuat putra mereka berdarah. Fandy juga memberi kode kepada pengawal untuk mundur dari depan ruangan.
"Dari mana Lo tahu kalau Jesika hamil?" Tanya Frans yang kemudian merampas kertas ditangan Leon. "Dari mana Lo mendapatkan ini?" Tanyanya melihat surat keterangan hamil atas nama Jesika Anastasya.
"Gue gak pernah lagi menyentuh wanita itu setelah Gue memergoki Elo dan dia tujuh bulan yang lalu." Ucap Leon memperjelas pada Frans sudah berapa lama Leon mengetahui hubungan mereka. "Tapi gimana mungkin Lo melemparkan pertanggung jawaban ini sama gue!Brengsek!" Menarik kerah baju Frans.
"Sa-satu bulan." Ucap Frans. "Gue gak tahu dia hamil anak Gue." Lanjutnya disertai isakan yang membuat Leon melepas kerah bajunya. "Terakhir Gue nemuin test pack di apartemennya." Terduduk di sofa. "Tapi dia ngakunya itu milik teman dia." Mendongak melihat ke Leon.
"Dan Lo langsung percaya." Sahut Leon dengan tatapan kebencian terhadap Frans yang perlahan mulai melebur.
"Gue percaya apapun itu yang membuat dia bahagia." Balas Frans yang membuat Leon kembali menarik kerah baju Frans.
"Bahagia?" Tanya Leon dengan sinis. "Ini yang Lo sebut bahagia?" Cibirnya. "Lo ninggalin dia dan menikah dengan wanita lain." Tegas Leon.
"Lo pikir gue gak melakukan apapun hah!" Balas Frans yang kini meraih kerah baju Leon. "Gue nelpon dia berkali-kali!" Teriaknya. "Pengawal 24 jam ngawasin gue dirumah! Apa Lo tahu!" Lanjutnya membuat Feny merasa bersalah. "Gue bahkan menerobos semuanya tadi malam buat bawa dia lari sama gue!"
"Omong kosong!" Umpat Leon menepis tangan Frans dari kerah bajunya. "Buktinya Lo masih disini." Melihat Frans dari ujung kaki hingga kepala yang siap akan mengambil Sandra dari hidupnya untuk selamanya.
"Dia gak ada disana." Ucap Frans mengacak rambutnya melampiaskan kekesalannya. "Apartemen bahkan biarawati di panti ia tumbuh gak tahu dia ada dimana." Jelas Frans membuat Leon terkejut.
"Gue juga baru dari sana." Ucap Leon. "Tetangganya bilang mereka tidak tahu kemana Jesika pergi." Jelasnya.
"Tunggu!" Sanggah Gio yang sejak tadi melihat perdebatan keduannya. "Terus Lo dapat surat ini dari mana,Man!" Ucap Gio membuat Frans melihat ke Leon.
"Dia ada dimana Leon?" Tanya Frans dengan mata penuh harap bahwa Leon mengetahui keberadaan Jesika.
"Gue nemuin itu diatas meja kerja gue dikantor." Jawab Leon. "Sorry, Gue sama sekali gak tahu Jesika dimana. Itu kenapa gue langsung kesini setelah kembali dari apartemen Jesika. "Jelasnya membuat Fandy yang telah mendengarkan semuanya bergegas menelpon seorang dan menarik Feny dari sana.
Sementara itu para tamu undangan telah menunggu di ballroom yang di tata sedemikian rupa dengan aroma semerbak bunga hidup yang ditata di setiap jalan masuk pengantin hingga di altar.
Rosa mondar-mandir didepan ballroom menunggu kedatangan Fandy,Feny dan Frans yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Klek! Suara pintu kembali terbuka membuat Sandra mendongak dari bunga tangan pemberian Nadin.
"Sayang." Panggil Rosa tak memperhatikan perhiasan yang sekarang dikenakan Sandra telah berganti. "Papa dimana?" Tanya Rosa yang kemudian disusul oleh Adit dan Stela dari belakang mengejutkannya.
"Pah,ini udah jam 10.00 loh." Ucap Rosa melihat jam dipergelangan tangannya. "Feny dan yang lainnya belum ada kelihatan di ballroom." Jelasnya mondar-mandir membuat Stela memiliki firasat bahwa Gio berhasil menjalankan misi.
"Rileks mah kita tung---" Sahut Adit terputus oleh panggilan masuk ke hapenya. "---Halo ini---" sambung Adit yang kemudian terjeda sambil melangkah keluar ruangan meninggalkan ketigannya.
****
"CK!" Decak Rosa sambil mondar-mandir di depan Stela dan Sandra yang saling mengendik bahu mereka melihat kegelisahan Rosa. Sudah setengah jam lebih Adit pergi meninggalkan mereka di ruangan. Begitu juga dengan pihak mempelai pria yang tak kunjung datang. Sementara jarum jam terus berputar membuat para tamu undangan mulai berbisik satu sama lain.
"Mah, Stela kedalam duluan ya." Ucap Sandra sambil menghentikan memperbaiki make up sang adik yang mulai pudar menunggu sang mempelai pria. "Siapa tahu ada yang bisa Stela bantu didalam." Lanjutnya beranjak dari kursinya meraih tas tangannya.
"Iya sayang." Sahut Rosa menjamah pipi Stela dan membelai rambutnya yang terurai.
"Mama tenang aja." Ucap Stela menenangkan kepanikan Rosa yang sangat terlihat jelas diwajahnya. "Pangeran gak akan telat menemui kekasihnya." Lanjutnya sambil mengedipkan mata pada Sandra yang tak tahu apa-apa. "Paling dia lagi kompromi dengan kudanya,okey!" Tambahnya yang kemudian pergi meninggalkan keduannya.
Klekk! Suara pintu terbuka di ruangan yang lainnya. Seorang wanita dengan sepatu high heels berwarna pastel dengan motif bunga mempercantik kaki mulusnya melangkah masuk kedalam . Wanita itu menghampiri pria yang berdiri di depan meja rias. Pria itu kemudian berbalik badan menerima box keemasan dengan balutan pita berwarna merah di atasnya.
"Thank you." Suara pria itu terdengar ketika wanita itu membungkukkan sedikit tubuhnya untuk meninggalkan ruangan.
Tes tes tes! Suara Gio berdiri di podium MC pernikahan membuat para hadirin undangan melihat kearahnya termasuk Stela yang baru saja tiba didalam ballroom.
"Pertama saya sebagai MC dadakan pada hari ini ingin menyampaikan permintaan maaf akan keterlambatan yang terjadi. Hingga membuat para tamu harus menunggu lama untuk menjadi saksi cinta pasangan berbahagia kali ini tentunya! Haha." Ucap Gio di susul oleh tawa yang terdengar garing membuat Stela menutup wajahnya menahan malu.
"Tak perlu basa-basi lagi, Mari kita sambut mempelai pria yang sudah menunggu saat paling berbahagia ini!" Seru Gio disertai tepuk tangan yang riuh dan juga alunan musik mengiring Pria yang menundukkan wajahnya berjalan diatas carpet merah menuju altar.
"Tunggu gue gak bisa li---" ucap Stela terputus oleh tangan yang menariknya untuk berbalik badan.
"---Lo disini ternyata." Ucap Rahel memotong sekaligus mengahalangi Stela mengetahui pria yang berjalan ke depan altar. "Gue cari-cari dari tadi." Lanjut Rahel.
"Setahu Gue kita gak saling kenal satu sama lain." Ucap Stela. "Apalagi sampai pegangan tangan seperti ini." Cibirnya pada Rahel yang kemudian menepis tangan Stela yang ia tangkap sebelumnya.
"Benar." Sahut Rahel setuju dengan apa yang dikatakan Stela barusan padanya. "Terlepas dari Gue dan Lo yang gak saling kenal ini." Ucapnya. "Jadi gue minta dengan segala hormat! Kembalikan hardisk gue yang Lo ambil!" Pinta Rahel.
"Apa? Hardisk?" Tanya Stela bingung dengan permintaan Rahel.
"Iya. Gue tahu Lo kan yang ngambil hardisk gue dari ruangan?" Tuduh Rahel.
"Sinting kali Lo ya!" Jawab Stela berbalik badan namun Rahel kembali menangkup lengannya membuat wanita hamil itu berbalik kembali menghadap Rahel.
"Balikin nggak!" Ucap Rahel yang kini menekan pergelangan Stela membuatnya meringis.
"Lo jangan asal nuduh ya!" Sahut Stela melepas tangannya dari cengkraman Rahel. "Lagian Lo mikir deh buat apa gue ngambil hardisk Lo!" Jelas Stela pada Rahel yang asal main tuduh aja.
"Disitu ada banyak foto Leon dan Sandra! Kalau Lo sampai nyebarin itu yang kena---"
"---Apa Lo bilang?" Potong Stela. "Foto Leon dan Sandra kah?" Tanyanya sambil mengernyitkan keningnya memikirkan sesuatu.
"Kita sambut mempelai wanita yang membuat mempelai pria jatuh hati!" Seru Gio membuat Rahel dan Stela kompak melihat ke arah pintu yang terbuka.
Teng! Teng.. teng..teng! Teng..! Suara denting piano mengiringi Adit yang menggandeng tangan Sandra. Ia melangkah diatas carpet merah menghantar putrinya ke altar untuk menemui pria yang akan mengikat janji suci dengan Sandra.
"Apa Sandra bakalan menikah dengan Frans hari ini?" Tanya Rahel membuat Stela kembali tersadar dengan perdebatan sebelumnya.
"Bukan urusan Lo!" Jawab Stela yang kini balas balik menarik Rahel. "Jadi elo yang posting foto adik gue dan Leon hari itu!" Tuduh Stela mengingat kejadian sebelumnya yang hampir saja membahayakan perusahaan yang ditinggalkan nyokapnya.
"Hah!" Balas Rahel. "Kembalikan dulu hardisk gue!" Pinta Rahel.
"Sembarangan!" Balas Stela. "Siapa yang nyolong hardisk Lo!"
"Cuma Lo doang orang luar yang masuk keruangan gue dan Gio." Tuduh Rahel.
"Oh,ya! Emang elo ada li---"
"---Ckckck." Decak seorang memotong ucapan Stela. "Sebenarnya yang ngambil hardisk itu orang suruhan Saya." Ucap Pria paruh baya yang muncul ditengah perdebatan keduannya. "Maaf sekali nona-nona cantik!" Lanjutnya pada Rahel dan Stela. "Dengan benda hitam itu saya bisa mengendalikan pria yang mencintai putrinya untuk mewujudkan kerja keras pria yang telah jatuh cinta." Jelasnya membuat kedua wanita itu kompak menoleh.
"Om David." Seru Stela membuat semua tamu undangan melihat kepada mereka. Begitu juga dengan Adit yang menahan kekesalannya.
"Ssttt!" Desis David membungkukkan sedikit tubuhnya.
🍁🍁🍁
Yuhuuu🤗🤗🤗
Jangan lupa untuk tinggalkan Vote,Like,dan Coment terbaik kalian ya buat Author rebahan ini.
Gomawo cingu🥰🥰🥰