
Sandra dengan blouse pink tanpa lengan yang memperlihatkan tangan yang putih mulus dipadu dengan rok lipit hitam panjang diatas lutut yang memerah masih dengan luka kemarin. Ia berdiri meneguk susu cokelat yang dibuat Bi Ema untuknya yang akan bersiap untuk pergi.
Sandra memakai Sling bagnya sambil dengan menggigit sandwich ditangan kanannya. Ia berjalan keluar rumah menghampiri mang Asep yang menunggunya didalam mobil.
"Non ini bekalnya di bawa." Memberikan kotak makanan. "Dimakan ya Non." Menutup pintu mobil.
"Makasih Bi." Dari dalam mobil.
"Lututnya di jaga ya Non." Mengusap pundak Sandra dari kaca mobil yang diturunkan. "Jangan sampai jatuh lagi Non."
"Iya Bi." Sahut Sandra melambaikan tangannya sambil menutup kaca mobil.
"Mang ke Katedral ya."
"Siap Non."
Sandra mengusap lembut lututnya yang memerah dan juga siku kanannya. Rasa nyut-nyutan yang mulai meradang hingga membuatnya sedikit demam.
Satu jam setelah misa kedua selesai Sandra membuka bekal siang yang dipersiapkan oleb Bi Ema saat ia berangkat. Ia memakan bekal itu dibawah pohon taman depan katedral yang diramaikan oleh anak-anak yang bermain disana. Sandra duduk di kursi taman ditemani oleh mang Danu yang juga menikmati bekalnya.
"Non kenapa sampai bisa luka begitu lututnya?" Tanya Danu.
"Jatuh Mang."
"Nyonya sama Tuan sudah tahu?" Tanya Danu melihat Sandra yang menghentikan kunyahannya.
Kemarin sepulang dari Apartemen Leon dengan jalan yang tertatih Sandra mendapati Adit dan Rosa sedang memilah-milah album foto di kursi yang ada dipinggir kolam renang. Keduanya tampak bahagia dengan tawa dan senyum yang menguntai dibibirnya.
"Mah Pa---" panggilan Sandra terhenti ketika Stela muncul entah dari mana langsung menghampiri keduanya.
Aku jatuh dan lututku memar. batin Sandra membatalkan niatnya menghampiri Adit dan Rosa. Ia berbalik meneruskan langkahnya dengan sangat hati-hati menapaki anak tangga menuju kamarnya.
Ia melemparkan tubuhnya diranjang hingga tak sadar ia tertidur dengan lelap dengan seragam sekolahnya melewatkan makan malam.
"Belum." Melihat ke Mang Danu. "Aku belum ketemu sama Papa dan Mama." Mengunyah kembali.
"Nyonya dan Tuan ke---"
"---Sandra yang tidur lebih awal kemarin." Potong Sandra yang mengalihkan kecurigaan supirnya itu terhadap statusnya sebagai putri majikannya.
Bukan sekali dua kali Danu melihat perlakuan Adit dan Rosa yang berbeda terhadap Sandra. Danu yang dipekerjakan setalah Sandra masuk sekolah tidak mengetahui apapun yang sebenarnya terjadi.
Danu yang prihatin terhadap Sandra yang diperlakukan oleh majikannya itu seperti bukan putrinya. Belum lagi dengan perlakukan Stela yang membuat Danu ingin membantu Sandra setiap kali wanita arogan itu menindasnya. Hingga akhirnya Ema memberitahu kebenaran yang menyedihkan demi melindungi orang tercinta.
"Yang sabar ya Non." Mengusap pundak Sandra.
Danu merasa kasihan dengan Sandra yang diperlakukan seperti anak angkat. Anak angkat aja masih punya waktu dengan kedua orangtua dan masih mendapatkan pelukan hangat.
****
"Non,yakin gak mau Mang Danu tunggu aja." Ucap Danu membuka pintu mobil.
"Gak usah Mang." Sahut Sandra melepas sealtbetnya. Ia bahkan tak tahu apakah pintu itu terbuka untuknya atau tidak. "Aku nanti pulangnya naik taksi aja." Memakai Sling bagnya keluar dari mobil.
"Iya mang." Berjalan menuju lift sambil melihat sekitar basemant.
Ting!
Sandra keluar dari Lift melangkah pelan menuju tempat ia kemarin tersungkur hingga meninggalkan luka memerah di kedua lututnya.
Meskipun Leon sudah memperingati ia untuk tidak menemuinya lagi, Sandra tetap bersikeras untuk tetap datang.
Bila pertemuan ini akan menjadi akhir tidak apa. Ia berharap kelak tidak ada salah paham diantara keduanya.
Sandra tidak ingin kesalahannya kemarin berefek pada pertemuan di masa depan. Mengingat Leon adalah pria yang disukai Stela kakaknya. Sandra tidak mau kesalahan yang ia lakukan pada Leon berdampak pada Stela. Sandra tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan kakaknya jika tahu dirinya telah menyinggung pria incarannya.
Bahkan ketika dirinya tidak melakukan kesalahan wanita arogan itu selalu saja mencari masalah dengannya.
Maaf. Batin Sandra berdiri didepan pintu. Hanya itu. ia datanga hanya untuk satu kata maaf.
Sudah dua puluh menit Sandra berdiri sambil memencet bel berkali-kali. Rasa ngilu dan nyut-nyutan menggerogoti kedua lututnya. Ia akhirnya terduduk dilantai sambil meniup-niup lututnya menunggu kedatangan Leon.
Matahari pun terbenam di barat bersamaan dengan Sandra yang tertidur menyandar kedinding membuat Leon terkejut saat keluar dari Lift. Ia mendapati gadis kecil itu duduk dengan kedua kaki yang ia luruskan.
"Sandra!" Panggil Leon ketika membuka panel password . Bunyi tombol pin itu membangunkan Sandra. Ia mendongak dan mendapati Leon yang berdiri didepan pintu dengan skantong kresek ditangan kirinya.
"Ngapain Lo tidur didepan apartemen gue?" Tanya Leon dingin. "Pulang sana!" Usir Leon masih dengan nada Dingin walaupun dalam hatinya ia merasa bersalah mengatakan itu Pada Sandra yang sudah menunggu berjam-jam beralaskan lantai yang dingin persis sama dengan sikapnya.
Ini bukan apa-apa San. Aku tumbuh dengan perlakuan yang tak dianggap. So,ini hanya hal kecil. Batin Sandra menguatkan hatinya dengan bangkit berdiri menahan rasa nyeri dilututnya.
"Kak.." Menahan lengan Leon yang akan menutup pintunya.
"Apa?" Tanya Leon membiarkan gadis itu menahannya.
"Aku minta maaf." Ucap Sandra dengan bibir bergetar. "Ini terakhir Aku muncul didepan Kakak." Menahan rasa sakit didada dari menahan sikap dingin Leon dan juga nyeri dilututnya. Ditambah dengan sikap Leon mengingatkannya pada sikap orangtuanya yang selalu dingin padanya.
Sandra menundukkan wajahnya menyembunyikan air mata yang mulai membendung. "Aku pamit Kak." melepas lengan Leon dan membiarkan pria itu menutup pintunya.
Leon melihat kebawah dan baru menyadari kedua lutut Sandra yang memerah tanpa plester. Sandra menyeret kakinya pelan saat mundur dari hadapan Leon.
Apa dia bodoh! Batin Leon. Kenapa dia belum mengobati lukanha sampai separah itu. Batinnya lagi.
Sandra menyeret kakinya dibantu dengan tangan kirinya yang menopang Kedinding. Sementara tangan kanannya mengusap setiap Air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.
"San.."panggil Leon dari belakang meraih tangan Sandra. "Gue ant--"
"---Gak usah Kak."potong Sandra dengan wajah tertuduk menutupi air matanya. "Lain kali kalau kita ketemu---" ucapan Sandra terhenti ketika tangan Leon menangkup sisi wajah Sandra. Leon melihat dan juga merasakan air mata Sandra ditelapak tangannya. Air mata itu semakin bercucuran membasahi tangan Leon.
"Kak, Sandra minta maaf." Ucap Sandra dengan bibir bergetar diteruskan dengan isakan tangis yang panjang.
"Gue yang harusnya minta maaf. Bukan Lo!"
mendekap gadis itu kedalam pelukannya dan mengusap lembut punggungnya.
Maaf udah memperlakukanmu kasar dan mendinginkan mu yang tidak ada kaitannya dengan apa yang terjadi. Batin Leon menggendong gadis itu dan membawanya.