
Satu jam sebelum kedatangan Sandra di apartemen. Leon memarkirkan mobilnya tepat diantara mobil yang menghadap langsung ke pintu lift. Tiga hari ini dia tidak cukup istirahat karna harus mengurus beberapa berkas tender yang masuk ke perusahaan. Sebentar Ia memejamkan matanya yang sejak tadi menariknya untuk tidur.
Suara dentuman entah darimana berhasil membangunkan Leon dengan sealbet yang masih terpasang tertidur dalam mobil. Ia mengerjap matanya berulang-ulang meraih kesadarannya saat melihat Jesika berjalan kearah Lift.
Leon meraih hapenya,lalu mengusap layar diteruskan membuka pola dan mengecek panggilan tidak terjawab dan pesan yang baru masuk tidak ada satupun berasal dari Jesika.
"Dia mau kemana?" Tanya Leon melepas seatbelnya.
Setelah Lift tertutup Leon keluar dari mobil menyusul Jesika kelantai dimana apartemen Frans berada dengan menggunakan tangga.
Dia menapaki anak tangga satu persatu dengan cepat menyusul Jesika sesegera mungkin.
Dengan napas yang memburu dan keringat yang bercucuran dipelipisnya Leon berdiri dengan satu tangan yang menopang didinding. Ia merasa lutut kakinya hampir lepas setelah sampai di lantai kemungkinan Leon menadapati pacarnya itu.
Jesika keluar melangkah berjalan sambil fokus pada hape yang ada ditangannya. Ia kemudian berhenti didepan unit Frans lalu membuka panel dan memasukan kode apartemen Frans.
"Sudah sejauh mana sebenarnya." Ucap Leon memukul tembok tempat lengannya menopang dirinya yang kelelahan. Sementara Jesika membuka pintu tanpa mempedulikan ada Leon yang melihatnya.
Leon berbalik badan duduk tersungkur dibalik dinding diam seribu bahasa mendengar suara pintu tertutup kembali. Ia melonggarkan dasinya mengusap rasa sesak yang menyeruak didadanya. Tangannya merongoh saku mengambil hape dibalik jas yang ia kenakan.
Mengusap layar hape membuat panggilan untuk Jesika.
"Leon." Jawab Jesika
"Lo lagi dimana?"
"Hmm..Gue lagi ketemu klien."
"Oh begitu."
"Udah dulu ya Gue masih ada meeting."
"Oke." Mengakhiri pembicaraan.
Jes, kenapa harus Frans?kenapa harus dia?batin Leon sambil tertunduk dengan lusuh.
Luka yang sama datang. Datang menimpa luka lama yang bahkan belum pulih oleh orang yang sama.
Enam tahun lalu Leon mengunjungi Frans diapartemenya. Ia berencana memberi kejutan pada sahabatnya itu bahwa sebenarnya dia juga mendapat Apartemen digedung yang sama dengannya hanya saja lantain yang ia dapatkan berbeda. Sesuai dengan keinginan Frans yang kelak akan tinggal digedung yang sama ketika keduanya lulus kuliah.
"Kalau kerja nanti apartemen kita harus digedung yang sama bila perlu unitnya sebelahan." Ujar Frans.
"Gak sekalian aja satu kamar." Sahut Leon meledek Frans yang gak mau jauh-jauh darinya.
"Gila! Wanita gue mau Lo taruh dimana?"
"Di kamar mandilah." Jawab Leon
"Tega Lo!"
"Bathub! Bathub!." Sahut Leon menaik turunkan kedua alisnya pada Frans. Frans lansung tanggap dengan ide berlian sahabatnya itu.
"B*ngk*!"umpat Frans.
Finally, selesai kuliah keduanya mendapat hadiah satu unit Apartemen. Frans yang lebih dulu pulang memasuki Apartemen miliknya lebih awal ketimbang Leon yang masih menemui klien perusahaan Sanjaya.
Sejak awal perkuliahan Leon sudah ikut berkecimpung ambil bagian menjalankan perusahaan. Ia kerap membantu David melakukan pertemuan bisnis bahkan menyelesaikan beberapa masalah yang terjadi didalam perusahaan ataupun pada klien mereka. Bagi Leon libur kuliah sama dengan libur pekerjaan yang ia terima dari David.
Setelah melihat kondisi apartemennya Leon turun ke lantai tempat Frans berada untuk memberi kejutan akan kepulangannya. Frans yang sebelumnya sudah mengirimkan kode pintunya itu membuat dengan gampang menberikan kejutan.
"Surprise!" Ucap Leon mendapati Frans dan Rahel tidur diranjang dengan tubuh yang tertutup selimut.
"FRANS!!! Teriak Leon penuh amarah melihat sahabatnya meniduri Rahel kekasihnya didepan mata kepalanya sendiri.
Keduanya terbangun Gelabakan saling menarik selimut menutupi tubuh telanjang mereka didepan Leon. Tidak ada kata apapun yang keluar saat itu selain Leon yang memanggil nama Frans.
"Brengsek!" Umpat Leon meninggalkan tempat dengan perasaan kecewa yang membuat keduanya berakhir pada perang dingin hingga saat ini.
Enam tahun lamanya Leon mendiami dan tidak mau mendengar penjelasan apapun hingga kejadian yang serupa terulang kembali. Lagi dan lagi luka itu semakin mendalam dan semakin menjadi ketika Sandra gadis yang 10 tahun lebih muda darinya mengetahui yang terjadi.
Malu dan Sakit.
****
"Keluar!" Teriak Leon bangkit berdiri melihat ke Sandra. Ia tidak ingin melihat gadis yang sempat mengguncang birahinya itu.
"Kak.." panggil Sandra lirih. Ia terkejut dengan pria yang ada didepannya. Leon yang sebelumnya terlihat bodoamat berubah menjadi pria yang mengerikan dalam sekejab.
"Lo dengar gak sih!" Ucap Leon lagi ke Sandra dengan wajah memerah. "Gue bilang keluar ya keluar! Dengan nada meninggi mengancungkan telujuknya hingga memperlihatkan urat tangan dilengannya.
"A-Aku gak a---"
"---Keluar dari apartemen gue sekarang!" Teriak Leon memotong Sandra yang hendak menjelaskan maksudnya.
Namun Leon tidak memberi kesempatan untuk Sandra menjelaskan. Sama halnya dengan Frans yang sampai sekarang tidak memiliki tempat untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi hingga berujung kepada salah paham yang berkepanjangan.
Leon menarik tangan Sandra penuh amarah. Ia menyeret gadis itu keluar membuat wajah Sandra berubah menjadi pusat pasi.
"Kak dengarin Sandra dulu." Pinta Sandra pada Leon yang sudah dikuasai amarah. Sandra tidak menyangka akan berakhir seperti ini.
"Sandra gak maksud ngeledek Kakak." Ucap Sandra lagi namun Leon memilih mengabaikan apa yang Gadis itu katakan.
Leon yang tadinya begitu hangat kembali dingin dan juga kasar dalam waktu sekejap. Melihat itu Sandra terdiam dengan rasa takut yang mencekam. Badannya juga ikut bergetar tak berdaya yang pada akhirnya didorong keluar oleh Leon tanpa perasaan.
Brukk! Sandra tersungkur ke lantai hingga kedua lutut itu tergores ketika ambruk ke lantai. Ia meringis pelan menahan rasa pedih yang menyengat dari lututnya.
"Jangan pernah muncul dihadapan gue." Melempar ransel Sandra kelantai.
Brakk! Suara pintu yang dibanting Leon ketika menutupnya dengan keras.
Kak Leon aku minta maaf. Maaf telah mengatakan sesuatu tanpa memikirkan hal itu akan menyinggung perasaanmu. Batin Sandra yang merasa bahwa Leon bersikap demikian karna malu akan penghianatan kekasihnya diketahui oleh orang asing seperti dirinya.
Sandra perlahan bangkit berdiri menahan nyeri dan juga pedih pada luka dilututnya yang cukup serius.
"AW!" Desisnya lagi ketika menyadari siku tangan kirinya juga tergores. Ia kemudian berjalan dengan langkah yang tertatih-tatih dengan tubuh yang masih bergetar mengingat raut wajah Leon.
Sementara Leon yang tersungkur duduk dibalik pintu mengacak-acak rambutnya.
"Bodoh!"umpat Leon pada dirinya menarik rambut itu dan melepasnya dengan wajah kesal. Ia sadar akan apa yang baru saja ia lakukan pada Sandra adalah kebodohan. Ia tak seharusnya melampiaskan kekesalannya pada Sandra akan apa yang terjadi pada Dia,Jesika dan Frans.
Ia harusnya tahu gadis kecil itu tidak sengaja mengetahui hal yang membuatnya marah dan malu. Jika memang harus ada yang terdorong seperti apa yang Leon lakukan bukan Sandra. Tapi Jesika dan Franslah yang harusnya merasakan perlakuan kasar itu.
Leon bangkit berdiri dan membuka pintu namun ia tidak menemukan keberadaan Sandra lagi disana.
"Brengsek Lo Leon!" Umpatnya pada dirinya dengan tangan yang mengepal dan melempar tinjuan itu didinding apartemennya.
Brengsek!!