Unboxing

Unboxing
74. Bukan Aku



Sebulan berlalu Sandra tak diperbolehkan keluar rumah hingga pengumuman kelulusan keluar. Adit menegaskan kepada Rosa untuk tidak menyembunyikan apapun lagi mengenai Sandra darinya.


"Kak Leon." Desis Sandra dilayar hape Leon yang sedang mengecek progres beberapa proyek luar kota di laptopnya.


"Hm." Sahut Leon yang fokus ke pekerjaan lain yang mengalami beberapa kendala yang memperlambat kinerja dilapangan.


"Sandra kangen." Ucap Sandra yang membuat Leon melihat kearahnya.


"Lo mau gue nyelinap kesana,Hm?" Tanya Leon yang juga begitu merindukan peri kecilnya.


"Emang bisa." Sahut Sandra yang secara gak langsung mengiyakan sarannya itu.


"Kalau bisa Lo mau ngasih gue apa?" Tanya Leon menutup laptopnya. Ia memandang Sandra yang telungkup diranjang memperlihatkan belahan dadanya.


"Kak Leon mau apa?" Tanya Sandra menggoyang-goyangkan kakinya diatas ranjang.


"Gue mau Lo." Jawab Leon menahan hasratnya. "Sayang." Panggil Leon pada Sandra yang terdiam melihatnya.


"Ya." Sahut Sandra yang sampai detik ini belum memberitahu bahwa Stela telah mengetahui hubungan diantara keduanya.


"Mau gak?" Tanya Leon.


"Enggak." Jawab Sandra menjulurkan lidahnya mengejek Leon.


Tok tok tok! Suara ketukan pintu membuat Leon segera mengakhiri video callnya dengan Sandra.


"Masuk!" Jawab Leon kembali membuka laptopnya.


"Hai!" Sapa Stela masuk kedalam ruangan dengan mengunci pintu agar tidak ada yang masuk mengganggu dirinya.


"Kalau ada sesuatu mengenai proyek yang kamu handle beritahu ke GM yang bertanggung jawab." Ucap Leon melanjutakan pengecekannya.


"Saya kesini bukan masalah pekerjaan Pak Leon." Ucap Stela berjalan melewati meja dan meletakkan kamera kecil di atas dokumen yang mengarah ke kursi Leon.


"Jika tidak ada urusan lain kamu boleh segera pergi." Pinta Leon yang kini mendapat sentuhan tangan Stela dibahunya. "Apa kamu lagi bosan?" Tanya Leon. "Apa perlu saya menelpon HRD untuk menurunkan surat resign?" Tanya Leon dingin.


"Jangan galak-galak." Jawab Stela yang mengangkang naik kepangkuan Leon dengan tubuh yang saling berhadapan.


"Stela gue ini atasan Lo!" Bentak Leon yang sebelumnya sudah menegang karna Sandra.


"Ah!" Desah Stela merasakan milik Leon mengeras menyentuh pusat tubuhnya. "Bukan kah sebelumnya Lo menyukainya." Ucap Stela yang kini menyandarkan dadanya pada Leon.


"Turun!" Perintah Leon dengan nada dingin sementara Stela malah menggerak-gerakkan pinggulnya menggesek pusat tubuhnya pada miliki Leon yang mengeras. "Stela Stop!" Teriak Leon mendorong bahu Stela.


"Tanggung." Desis Stela yang kini meraba milik Leon yang masih tertutup. "Kita bisa melakukannya disini." Menurunkan resleting Leon.


"Lo yakin?" Tanya Leon yang kini meraih bokong Stela. "Bisa muasin gue!" Tegas Leon meremas bokong itu dan menarik tubuh itu mendekat pada tubuhnya.


"Ya." Jawab Stela berhasil memancing Leon. "Gue wanita dewasa tentu bisa memuaskan Lo dan dia." Meremas milik Leon sambil melirik kamera yang telah merekam keduanya.


"Ahh!" Desah Stela sengaja sambil mengerakkan pinggulnya yang terus menggesek miliknya pada Leon. "Lepasin baju aku sayang." Ucap Stela terus bergoyang.


"Turun dulu." Pinta Leon. "Kita tukar posisi." Ucap Leon.


"Okeh." Balas Stela turun dari pangkuan Leon sambil melepas satu persatu kancing bajunya. Sementara Leon bangkit berdiri dari kursinya dan mempersilahkan Stela duduk di kursinya sambil melepas kaitan bra-nya.


Prankkk! Suara Leon melempar kamera yang diselipkan Stela sebelumnya. Ia menghancurkan kamera dengan sekali lemparan kelantai.


"Hah!Beraninya Lo jebak gue!" Ucap Leon menginjak remahan kamera.


"Tak masalah!" Ucap Stela santai.


Masih ada yang lain. Batin Stela bangkit berdiri memakain bajunya.


"Keluar dari ruangan gue!" Perintah Leon pada Stela yang berdiri didepannya.


"Karna tak ada lagi kamera." Ucap Stela melihat kameranya yang sudah hancur. "Kenapa kita gak melanjutkannya saja." Melingkarkan tangannya dileher Leon.


"Gue bakal singkirkan setelah kita melakukannya gimana?" Tawar Stela yang jinjit mencium pipi Leon. "Lo gak akan nyesel karna gue lebih ahli dari Sandra." Ucap Stela yang mendapat dorongan dari Leon membuat dirinya jatuh tersungkur ke lantai.


****


Suara panggilan masuk dari Leon ke nomor ke telpon yang tergeletak di meja kerja Simon.


"Halo Bos!" Sapa Simon yang lagi bersama Mona memperbarui jadwal pertemuan Leon dengan beberapa kolega baru.


"Tolong seret wanita ****** yang sembarang masuk keruangan gue,Sekarang!" Perintah Leon yang kemudian memutus suara telpon yang terhubung dengan Simon.


"Wah besar juga tuh nyali orang." Ucap Simon bangkit berdiri dari kursinya.


"Kenapa?" Tanya Mona menyusu data-data yang baru ia prin out.


"Itu ada wanita yang ngerusuh di ruangan Bos." Jawab Simon.


"Wah cari mati tuh orang."Balas Mona melanjutkan pekerjaannya.


Tak berapa lama kemudian Simon masuk dan langsung menyeret Stela dari ruangan itu. Ia tak berani bertanya pada Leon yang duduk dikursi membelakangi keberadaan Stela. Simon melirik Stela yang kini terlihat urak-urakan dengan pakaian berantakan.


"Lepasin gue gak!" Bentak Stela pada Simon yang menyeret tangannya melewati lift. "Lo mau bawa gue kemana si----"


"---Beresin pakaian Lo!" Dorong Simon pada Stela kedalam toilet wanita sebelum mengirimnya ke lift.


"Sial!Beraninya asisten ini dorong gue kasar begitu." Geram Stela yang membalas kemarahannya pada Simon dengan menutup pintu dengan keras.


Brakkk! Suara debaran pintu mengejutkan Simon yang sangat baik masih menunggu ya diluar.


Stela melihat dirinya dalam pantulan cermin dan melemparkan botol sanitaizer pada dirinya yang ada di cermin.


"Sial!" Umpatnya kesal.


Gue yang udah susah payah melemparkan Jesika pada Frans demi mendapatkan kesempatan meraih Leon malah kecolongan oleh Sandra. Batin Stela.


"Arghhh!" Geramnya kesal. "Kamera gue juga pake acara hancur segala lagi." Ucapnya bertolak pinggang. "Bisa-bisanya Leon tahu padahal jelas-jelas dia tadi fokus begitu kerja." Ujarnya sambil memikirkan cara lain untuk memisahkan Sandra dari Leon.


Rencana Stela yang tadinya ingin membuat Sandra membenci Leon gagal sudah. Ia bahkan tidak memiliki pertinggal apapun.


"Stela mikirin apa?" Tanya rekan kerjanya memberikan file daftar harga standar material perusahaan padanya.


"Mikirin breakdown harga pekerjaan baru." Jawab Stela yang melihat Jesika terlihat memajang Bungan mawar di vasenya.


Apa itu dari Frans? Tunggu! Ah benar Frans. Sepertinya Frans belum tahu tentang Leon dan Sandra. Batin Stela tersenyum sinis pada Jesika yang begitu bahagia dengan mawarnya.


"Frans!" Panggil Stela menghalangi jalan Frans yang berjalan kearah Jesika yang sudah menunggunya sejak tadi. "Lo mau makan apa hari ini?" Tanya Stela yang langsung merangkul lengan Frans didepan mata Jesika. "Gimana kalau siang ini kita ke cafe seberang." Tawar Stela yang mengira Frand datang untuknya. Frans yang terjebak dalam sikap manis Stela membuatnya memilih pergi dengannya.


"Jes!" Panggil rekan pria dari belakang. "Gak jadi makan di luar?" Tanya pria itu.


"Gak jadi." Jawab Jesika menghela nafas melihat Frans pergi begitu saja tanpa mengatakan sesuatu.


"Bukannya Lo tadi ada janji makan siang sama cowok yang ngirimin bunga pagi ini?" Tanya rekannya itu pada Jesika yang pagi ini menerima bunga dari Frans dan ajakan makan siang dengannya.


"Ah,Dia tiba-tiba ada urusan penting yang tak boleh ditinggal." Jawab Jesika berbalik badan pergi bersama rekannya itu ke cafetarian kantor.


"Emangnya janji dengan wanita yang kita sayang bukan sesuatu yang penting." Ucap pria itu membuat Jesika menoleh sebentar kebelakang.


"Penting." Sahut Jesika.


Tapi wanita yang disayang itu bukan Aku. Batin Jesika kembali melihat kedepan.


🍁🍁🍁


Jangan lupa untuk vote,like dan komen cintahh❤️❤️❤️