
Seminggu berlalu Sandra kini disibukan dengan ujian semester setap harinya. Ujian kali ini benar-benar membantu mengalihkan pikirannya untuk melupakan tentang ruwetnya percintaan orang dewasa,ketidakpedulian orangtuanya dan kebencian Stela padanya yang tak berkesudahan.
"Sudah sampai dimana kedekatan kamu sama Leon?" Tanya Rosa pada Stela saat sarapan.
Ah,Leon. Ada nama lain gak?. Batin Sandra mengolesi selai diatas rotinya.
"Gitu deh mah." Jawab Stela menghela nafas.
"Papa kan udah bilang dari awal kamu itu sama Frans aja." Sahut Adit.
Sekarang Frans dibawa-bawa juga. Batin Sandra menggigit rotinya.
"Leon itu dingin dan gak pedulian sama orang." Ucap Adit memotong roti. "Pasti kamu dicuekin mulu kan sama tuh anak." Memakan rotinya.
"Jangankan Stela Pah." Melihat ke Adit. "Pacarnya aja dicuekin." Gerutu Stela mencabii-cabik rotinya.
"Leon sudah punya pacar?" Tanya Rosa melirik ke Sandra yang memilih menikmati sarapannya ketimbang ikut bergabung dalam obrolan mereka.
"Sudah Ma." Jawab Stela mengangkat gelasnya. "Namanya Jesika." Meneguk susunya. Sementara Sandra malah menjatuhkan sendok ditangan.
"PRANK!" Sandra terkejut mendengar bahwa Leon yang selama ini disukai Stela adalah Leon yang ia pernah temui seminggu yang lalu.
Jadi pria yang mengalihkan Kak Stela dari Kak Frans itu Kak Leon. Batin Sandra menikmati setiap gigitan rotinya tak peduli enam pasang mata sedikit terganggu karnanya.
Mungkinkah Kak Frans sengaja goda Kak Jesika karna tahu wanita yang ia sukai memilih Kak Leon. Batin Sandra melirik kecil pada Stela yang ingin melemparkan garpu yang ia tancapkan diroti yang ada dipiringnya.
"Terus kamu masih mau dekatin Leon." Adit menarik Stela pembicaraan ke Leon untuk mengalihkan tatapan seram Stela pada putrinya itu.
"Tetap dong Pah." Sahut Stela yang kembali tenang dan menghiraukan Sandra.
"Oh iya mengenai perang dingin antara Leon dengan Frans apakah udah reda?" Tanya Adit yang sering mendengar persaingan gesit diatara dua pria yang jadi idola para gadis-gadis termasuk Stela.
Eh?!bukannya mereka sahabatan. Batin Sandra mengingat perkataan Feny yang menyebut Leon adalah bestfriend Frans.
"Masih deh kayaknya pah." Jawab Stela. "Dan Leon yang selalu jadi pemenangnya." Tambahnya memuji dan membanggakan Leon yang selalu berada di posisi teratas dibandingkan dengan Frans. Yang menjadi alasan wanita arogan seperti Stela menolak melanjutkan perjodohan dengan Frans dan memilih Leon.
Musuhan?bukannya Tante Feny bilang mereka sahabatan. Batin Sandra meneguk susunya dan bangkit berdiri dari kursinya menghiraukan yang lain.
"Ma,Pa,Kak." Panggil Sandra. "Sandra duluan."meninggalkan meja makan tanpa melihat kearah mereka. Sandra berlari kecil menghampiri dan melingkarkan tangannya dilengan Bi Ema dan keduanya saling melempar canda berjalan menghilang dari pandangan Rosa.
Rasa sesak menyeruak dari dalam hati Rosa menundukkan wajah melihat Sandra lebih dekat pada asisten rumah tangganya ketimbang dia yang ibu kandungnya.
Adit mengusap lembut punggung tangan Rosa melihat mimik wajah istrinya. Ia bisa merasakan apa yang terjadi pada istrinya karna mereka memiliki perasaan yang sama.
****
Hari terakhir ujian membuat Sandra malas untuk pulang kerumah. Sudah setengah jam ia rebahan di kursi di bawah pohon rindang di taman kota dekat sekolahnya sambil menikmati hembusan angin sepoi-sepoi.
Baru saja mata itu hendak terpejam namun harus terbuka ketika notifikasi pesan masuk. Sandra bangun terduduk di kursi merapikan rambutnya. Ia merongoh kantong roknya mengambil hapenya.
"Siapa sih?" Mengusap layar hape. "Ganggu aja." Membuka pesan.
FransrosoMahesa
Sandra minta tolong temanin Jesika di apartemen gue ya. please ๐๐.
Alexandra Winata
Kirim alamatnya ya Kak.
FransrosoMahesa
Makasih cantik๐
Beberapa jam kemudian taksi yang membawa Sandra akhirnya sampai didepan sebuah Apartemen.
"Pak ini benaran apartemennya?"tanya Sandra melihat dari luar jendela. Apartemen tempat Leon membawanya sebelumnya.
"Gila!" umpat Sandra lalu menepuk dahinya ketika melihat supir taksi mengernyitkan dahinya yang mendengar dirinya mengumpat.
"Kenapa dek?" Melihat ke Sandra.
"Gak ada pak." Mengeluarkan dompetnya."Pak turunin aku di basemant ya."
Ting! Lift terbuka.
Sandra bersandar didalam lift sambil memikirkan apa yang terjadi bila Leon memergoki keduanya untuk kedua kali. Suara lift pun berdenging pintu lifpun terbuka.
"Ngapain Lo disini?" Tanya Leon yang berdiri didepan Lift dengan dasi compang camping menggantung dileher dengan kemeja yang terlihat lusuh menunjukan lekukan leher dan jakun yang menantang.
Sandra melihat dari sepatu terus keatas semakin ke atas mendongak. Ia menelan ludah mendapati tatapan dingin Leon.
Aku gak salah lantai kan ya!batin Sandra.
"A-Aku Mau ke Apartemen kakak." Jawab Sandra begitu saja menyembunyikan bahwasanya dirinya hendak ke apartemen Frans untuk menemani pacar pria yang berdiri didepannya ini.
"Bohong." Memutar tubuh Sandra mendorong gadis itu masuk kembali ke Lift. "Ini lantai apartemen Frans." Menggengam tangan Sandra yang ia tarik berdiri disebelahnya. "Apartemen gue ada diatasnya lagi." Memencet tombol naik lalu melirk ke Sandra yang merengut ketahuan berbohong.
"Ayo keluar!" Ucap Leon menoleh pada Sandra setelah lift sampai dilantai apartemen Leon. "Bukannya tadi Lo yang bilang." Menarik tangan Sandra. "Mau ke apartemen gue." Membawa Sandra pergi masuk ke apartemennya.
Sampai didalam Leon melepas jas yang ia kenakan dan meletakkannya disofa. Ia kemmudian melepas dasi terlihat compang menggantung di kerah bajunya. Lalu di teruskan dengan membuka dua kancing atas kemeja dan menggulung lengan bajunya hingga sikunya. Lalu Ia pergi kesamping lemari es mengambil botol mineral kemudaon membuka botol itu dan meneguknya.
Ganteng banget! Batin Sandra menelan ludah yang sejak tadi terpaku menikmati pria didepan matanya.
"Lo gak haus?" Menyodorkan satu botol minuman pada Sandra yang berdiri memandangi aksi Leon yang menggoda sejak sampai diapartemen.
Kak stela gak salah nolak Kak Frans demi Kak Leon. Mungkin juga Kak Jesika sudah bosan dengan tampilan yang begini. Batin Sandra menerima botol minuman dari Leon.
"Kak.." panggil Sandra ketika keduanya kembali keruang tamu. "Hmm.." sahut Leon duduk disebelah Sandra lalu menyandarkan tubuhnya dipunggung sofa.
"Tahu darimana yang dibawah apartemen Kak Frans?" Tanya Sandra kepo.
"Belinya barengan." Melihat ke Sandra yang juga melihat padanya. "Dulu." Tambahnya lagi.
"Kak Leon dan Kak Frans temananya." ucap Sandra menyandarkan dirinya di punggung sofa mengikuti Leon.
"Dulu." Ucap Leon mengusap wajahnya. "Di Apartemen Frans tadi ada cewek."Memiringkan kepalanya melihat ke Sandra. "Makanya gue bawa Lo kesini." Mengacak rambut Sandra. "Jadi Lo jangan mikir yang aneh-aneh." Menarik hidung Sandra dengan jari telunjuk dan jari tengahnya menjepit.
"Kak Leon." Meraih tangan Leon yang masih menjepit hidungnya. "Punya pacar kah?" Tanya Sandra mencari tahu kebenaran yang sebenarnya tentang keempat orang dewasa yang terlibat dalam sebuah rahasia yang diketahuinya.
"Kenapa?"tanya Leon melepas jarinya dari hidung Sandra. "Lo mau jadi pacar gue?" Leon mendekat dengan kedua tangan yang berhasil memenjarakan Sandra.
"Jawab dulu pertanyaanku kak."pinta Sandra menatap wajah Leon . Tangannya kemudian tanpa sadar terangkat menyentuh lekukan wajah Leon. Pria 28 tahun itu membiarkan usapan lembut dari punggung jari telunjuk Sandra menyentuh wajahnya.
"Sandra." Desis Leon. "Bibir Lo menggoda banget." Memiringkan kepalanya menjangkau bibir Sandra yang siap untuk ia terkam.
"Na,,Nana,,banana." Suara dering ringtone hape Sandra berbunyi menggagalkan bibir Leon yang sedikit lagi meraup bibir Sandra.
Sial! Umpat Leon dalam hati menarik wajahnya dan juga tubuhnya hingga memberi jarak diantara mereka.
Sandra mengambil hapenya dari dalam ransel dan melihat panggilan masuk dari Fransroso Mahesa. Ia menerima panggilan itu dengan mengaktifkan speaker yang membuat Leon mengernyit padanya.
"Halo Kak."
"Jesika bilang Lo belum sampai diapartemen gue. Lo dimana?" Suara Frans.
"Masih disekolah Kak." Melihat ke Leon yang acuh tak acuh mendengar kekasihnya berada diapartemen pria lain. Sandra sengaja melakukan itu untuk mengetahui reaksi Leon.
"Tunggu disana biar gue jemput. Sekalian barengan ke Aparteme---."
"---Gak usah kak lain kali aja." Potong Sandra Masih memperhatikan Leon yang sekarang mengangkat kedua kakinya diatas meja dan menyandarkan tubuhnya dipunggung sofa.
"Oh gitu. Ya udah hati-hati." Menutup panggilan dari Frans.
"Oh jadi...Cewek yang di apartemen Frans tadi namanya Jesika." Ujar Leon mendongak wajah keatas dengan mata yang terpejam.
"Hmm!." sahut Sandra memiringkan tubuhnya bersandar di punggung sofa menghadap Leon."Kak Leon!" Panggil Sandra.
"Hmm?"
"Jesika itu pacar kak.Leon kan?" Tanya Sandra membuat Leom memalingkan wajahnya kepada Sandra yang menatapnya.
"Apa Lo bilang?" tanya Leon memastikan kembali.
"Kak Jesika itu pacar kak Leon kan." Jawab Sandra.