
Empat hari sudah Sandra berdiam diri melamun duduk di tepian ranjang sendirian. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain memasak makan untuknya,membersihkan apartemen seadanya dan menunggu kepulangan Leon.
Senin pagi sebelumnya Leon menerima kabar finishing salah satu proyek hotel di Bali sedang berada dalam sedikit masalah dengan pihak owner. Pihak owner tiba-tiba menghentikan para pekerja yang beroperasi di lapangan. David memutuskan Leon agar segera terbang ke Bali untuk memeriksa masalah yang terjadi hingga menghambat progres pekerjaan.
Leon pun terbang ke Bali dengan meninggalkan pesan pada post it yang Ia tempelkan digelas susu yang ditinggalkan untuk Sandra. Sebelum pergi ia menyiapkan sarapan pagi untuk Sandra yang masih tidur.
'Gue ada pekerjaan diluar kota dan mungkin butuh tiga sampai empat hari menetap disana. Kulkas sudah gue isi dengan beberapa bahan makanan. Jangan lupa mematikan kompor dan selama gue gak ada jangan sembarangan membuka pintu untuk orang lain. Kunci pintu kamar kalau Lo mau tidur.' tulis Leon.
Selama empat hari ini Sandra selalu membawa post it itu bersamanya dan membacanya berulang-ulang kala ia merindukan Leon.
Sandra merebahkan tubuhnya diranjang. Ketika akan memejamkan mata tiba-tiba suara pesan masuk berbunyi.
Satu pesan baru dari nomor tidak dikenal.
+62812xxxxxxx
Ini nomor gue Leon.
Sandra tertawa kecil memeluk hapenya berguling diatas ranjang membuat dirinya tergulung dalam selimut. Dengan posisi tenlungkup dalam balutan selimut ia membalas pesan Leon. Sementara itu Leon yang sedang mengadakan pertemuan dengan salah satu owner yang lainnya.
Ditengah pembicaraan dengan owner hape yang Leon letakkan di meja bergetar. Satu pesan baru dari Sandra terpampang dilayar hapenya.
Sandra
Kak Leon cepat pulang🤗
Pesan itu membentuk garis lengkung diwajah Leon yang melebar menarik perhatian owner untuk mengetahui apa yang membuat Pria dingin itu tersenyum ditengah pembicaraan mereka.
"Sepertinya kado natal untuk Anda datang lebih awal dari orang lain." Tutur pria paruh baya melihat suasana hati Leon yang terlihat baik.
"Kado natal?" Tanya Leon mengernyitkan alisnya mencerna ucapan pria yang seumuran dengan David.
"Iya." Balas Bapak itu yang kemudian menyeruput kopinya. "Malam nanti adalah malam natal." Meletakkan kembali gelasnya. "Saya juga sudah tidak sabar untuk berkumpul dengan keluarga dirumah." Tambahnya lagi mengingatkan Leon yang langsung membalas pesan Sandra dan sesegera mungkin mengakhiri pembicaraan diantara ia dan pria didepannya itu.
****
Hari mulai gelap Leon dijemput asistennya menggunakan mobil perusahaan dari bandara Soekarno Hatta. Mobil itu berangkat menuju kediaman keluarga Sanjaya.
Loceng berbunyi sepanjang mereka melewati gereja. Pohon natal menjulang tinggi dibeberapa tempat dengan gemerlap cahaya lampu yang menambah penerangan.
Demikian juga dengan pohon natal dua dimensi Sandra yang menempel didinding kamar Leon. Pohon natal itu tidak kalah gemerlap dengan pohon-pohon natal yang ada disepanjang jalan. Sandra menyibukkan dirinya sejak sore tadi membuat pohon natal seadanya dari berbagai hiasan untuk pohon natal dari onlineshop. Ia menghiasi bantal sofa dengan pita dan meletakkan dibawah pohon natal sebagai pengganti kado natal biasanya yang ada dibawah pohon natal.
Pintu terbuka diikuti oleh suara langkah kaki Leon menghampiri Nadin dan David yang sudah menunggu dirinya di meja makan dengan hidangan dan juga lilin yang menambah keromantisan.
Nadin berdiri dari kursinya memeluk Putra semata wayangnya itu.
"Kalau kamu gak datang,Mama bakalan nyalahin Papa." Ujar Nadin Melepas pelukannya. "Karna terlalu membuat putraku bekerja terlalu banyak." Mengusap pipi Leon.
"Kamu terlalu berlebihan." Sahut David. "Itu hanyalah masalah kecil untuknya."
"Kamu selalu mengatakan itu kecil." Kembali duduk. "Kalau itu kecil mengapa tidak kamu saja yang pergi menyelesaikannya." Meletakkan daging potongannya ke sendok Leon.
"Kalau Aku yang pergi siapa yang bakal nemanin mama disini." Sahut David masih membela diri dari istrinya yang mendapat balas cubitan kecil dan senyum manis dari Nadin.
"Itu bukan kertas biasa sayang." Sahut Nadin. "Didalamnya ada doa dari Papa dan Mama untuk kamu." Tambah Nadin menjaskan.
"Seharian ini mama hukum Papa dengan menggantung semua kertas itu." Keluh David menggoda Nadin.
Nadin tertawa kecil pada David yang mengadu perlakuannya pada putra mereka. Lalu makan malam itu diakhiri dengan kecupan manis dari David dan Nadin di kening Leon dan juga ucapan Selamat Natal.
Leon berdiri di dekat pohon natal dan membuka kertas yang digantung orangtuanya. Ia menghela nafas panjang setelah mendapati keseluruhan kertas isinya sama saja.
'Semoga tahun depan anak kami Leon menikah.' tulis Nadin & David.
Bunyi pesan baru masuk membuat Leon mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas itu.
JesikaAnastasya
Suster memintaku merayakan natal dipanti mungkin Aku akan disana sampai besok. Maaf Aku gak bisa menemanimu malam ini.
Leon kemudian mengirim balasan untuk Jesika dan melihat pesan terkirim sebelumnya untuk Sandra.
'Gue pulang malam ini.' tulis pesan yang terkirim pada Sandra pukul 18.00.
Ini sudah jam berapa?kenapa gue bisa lupa?batin Leon mengambil kunci mobil.
"Leon,mau kemana lagi?ini sudah jam satu." Tanya Nadin yang keluar dari kamar melihat Leon panik.
Sial! Udah jam satu aja. umpat Leon dalam hati.
"Leon pergi mah!" Teriak Leon berlari keluar meninggalkan Nadin.
Leon berhasil menempuh perjalanan dua jam menjadi satu jam sampai diapartemenya. Ia berlari keluar dari Lift dan buru-buru masuk ke apartemennya.
Syukurlah! Gumam Leon lega ia tidak melihat keberadaan Sandra diruang tamu maupun dapur menunggu kedatangannya.
Leon menapaki anak tangga menuju kamarnya. Ia mengernyit ketika pintu kamarnya tidak terkunci.
"Gadis ini tidur tanpa mengunci kamar." Gerutu Leon masuk kekamar dengan lampu padam dan sebuah cahaya gemerlap dari pohon natal dua dimensi yang menempel di didinding kamarnya.
Leon menyalakan lampu dan mendapati Sandra meringkuk dalam balutan selimut didepan pohon natal.
Dia nunggu gue bahkan nyiapin semua ini. Batin Leon terduduk disamping Sandra sambil memperhatikan pohon natal,bantal sofa dengan pita dan sebuah cake kecil dengan lilin-lilin diatasnya. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya pada Sandra yang tertidur lalu mengambil kertas yang ada dalam genggaman gadis itu.
"Gadis bodoh." Ucap Leon melihat kertas itu adalah post it yang ia tinggalkan empat hari yang lalu.
"Selamat Natal Sandra." Bisiknya membuat gadis itu terbangun.
"Kak Leon." Sahut Sandra berusaha membuka matanya yang mengantuk. "Selamat Natal." Ucapnya melingkarkan tangannya dileher Leon.
Leon mengecup bibir Sandra dengan lembut dan mendekap gadis itu dalam pelukannya. Kemudian Leon mematikan lampu dan membiarkan hanya gemerlap lampu pohon natal Sandra yang menerangi tidur mereka melewati malam natal.
Selamat Natal 🌲