Unboxing

Unboxing
33. Penghinaan



Samar-sama Sandra mendengar suara Gio sebelum akhirnya panggilan itu terputus begitu saja tanpa ia sadari.


"Kak Jesika sakit apa Kam?" Tanya Sandra berbicara pada Frans yang sudah tidak terhubung lagi.


"Halo Kak Frans!" Panggil Sandra dari telpon.


"Kak Frans! masih dengar aku kan?" Panggil Sandra lagi. "Eh?panggilannya terputus." Ujar ketika menarik hapenya dari telinga.


"Apa tadi kepencet ya makanya terputus." Gumam Sandra sambil menghubungi balik ke nomor Frans. Namun tidak ada jawaban selain suara operator yang mengatakan nomor yang anda hubungi tidak dapat menerima panggilan! Coba ulangi beberapa saat lagi.


Sandra yang fokus berkali-kali menghubungi Frans tidak menyadari akan kedatangan Stela dengan langkah pelan masuk ke kamarnya. Stela berdiri didekat Sandra melihat siapa yang adiknya telpon.


Tutttttttt....suara panggilan terhubung.


"Ha--" ucapan Sandra terputus ketika panggilannya terang-terangan ditolak oleh Frans kembali.


"Eh?! Ditolak!" Ucap Sandra membuat Stela tersenyum sinis penuh kemenangan. Ia berspekulasi bahwa Frans masih lebih menyukainya ketimbang adiknya itu.


"Ya..iyalah Emang Lo siapa buat dia ngangkat panggilanmu." Cibir Stela yang membuat Sandra terkejut.


"Tunangannya." Jawab Sandra lirih meletakkan hapenya. Entah dari mana ia mendapat keberanian menjawab Stela dengan santai.


"Masih calon kali!" Cibir Stela meraih dagu Sandra. "Siapa yang tahu Frans bakal jatuh cinta dengan wanita diluar sana." Tambah Stela mengingat dirinya telah melemparkan Jesika pada Frans untuk membuat Leon meninggalkan Jesika dan memilihnya.


"Kakak habis minum ya?" Tanya Sandra mencium bau alkohol yang begitu tajam menyeruak dari mulut Stela dan juga dress bling-bling yang menempel ditubuh mempertegas setiap lekukan ditubuhnya itu.


"Bukan urusan Lo!" Jawab Stela menepis wajah Sandra dari hadapannya. Ia berbalik badan berjalan kearah ranjang dengan sempoyongan. Tanpa aba-aba Stela melemparkan tubuhnya di ranjang Sandra.


Stela yang mabuk itu mulai mengguling-gulingkan tubuhnya membuat satu persatu bantal berjatuhan. Sandra yang melihat kekacauan itu hanya bisa diam memperhatikan kelakuan Stela. Ia tidak bisa marah ataupun protes.


"Lo darimana aja dua Minggu ini?" Tanya Stela yang sebentar-bentar mendapatkan kesadarannya kembali setelah tubuhnya tergulung dalam bed cover dengan rambut berantakan.


"Di rumah teman." Jawab Sandra berbalik badan sambil menghela nafas pelan mengelus dadanya membelakangi Stela.


"Teman cowok?" Tanya Stela membuat Sandra terdiam melirik pantulan wajah Stela pada cermin yang ada didepannya. Ia mendapati Stela menatap punggung Sandra sambil beranjak bangkit dari ranjang membuat bed cover yang menggulung ditubuhnya terjatuh dengan sendirinya kelantai.


"Lepasin baju Lo!" Perintah Stela yang sekarang berdiri disamping Sandra. Dengan cepat tangannya menarik leher kaos Sandra dengan paksa untuk memeriksa tubuh gadis itu.


"Kakak mau apa?" Tanya Sandra berusaha menolak dengan membalas menahan leher bajunya yang di tarik oleh Stela.Tindakan Stela membuat Sandra teringat akan bekas ciuman Leon yang berada diarea lehernya sebelumnya.


"Lepasin gak!" Teriak Stela melihat penolakan Sandra akan perintahnya yang membuatnya bersemangat akan sesuatu dibalik baju itu.


Bekas ciuman! Apalagi yang bisa ditinggalkan cowok dileher selain tanda itu Barin Stela yang bersemangat untuk menemukan bekas itu untuk ia tunjukkan pada Adit dan Rosa.


"Oh jadi Lo gak mau lepasin." Ujar Stela meraih ikat rambut diatas meja lalu mengikat rambut Sandra yang terurai keatas hingga memperlihatkan lehernya.


"Gue mau lihat semurahan apa sih lo." Cibir Stela memeriksa leher Sandra.


Sandra hanya bisa memejamkan matanya saat rambutnya disibak keatas. Ia hanya bisa menunggu bagaimana Stela akan menghukumnya kali ini.


"CK!" decak Stela kesal setelah melihat tidak ada bekas apapun yang tertinggal disana. Namun ia masih curiga akan sikap Sandra sebelumnya.


Apa yang dia coba sembunyikan tadi. Jelas-jelas gak ada sesuatu disana. Batin Stela dalam hati berjalan keluar dari kamar Sandra.


Sandra kemudian membuka matanya perlahan. Ia melihat samar-samar tangan Stela menutup kembali pintu kamarnya.


'Untung aja bekasnya sudah gak ada. Batin Sandra mengelus dadanya memandang pantulan dirinya di depan cermin.


****


Sementara itu di rooftop rumah sakit Gio berdiri dengan kedua tangan yg terlipat didada dan Frans menggenggam raling dengan kepala tertunduk kebawah. Ia tak menyangka akan bertemu Gio sahabatnya tepat di pintu kamar Jesika yang membuatnya bahkan mematikan panggilan Sandra berkali-kali.


"Gue gak nyangka Lo kenal dan lebih parahnya lagi Lo ada hubungan dengan Jesika." Ucap Gio memecah suasana dingin yang sejak keduannya sampai diatas.


Gio yang masih terkejut melihat Frans dengan sigap menarik sahabatnya itu dari depan kamar Jesika. Tidak ada yang tahu pasti, dirinya bahkan Frans sekalipun kalau-kalau Leon datang dan memergoki keduanya. Gio belum memiliki persiapan menyaksikan perkelahian kedua sahabatnya itu.


"Gue juga gak nyangka bakal ketahuan begini sama Lo." Sahut Frans.


"Jesika itu pacar Leon." Ucap Gio.


"Gue tahu." Sahut Frans menegakkan pandangannya.


"Makanya Lo dekatin. Begitukan?" Cibir Gio menoleh ke Frans.


"Entahlah." Jawab Frans menegakkan pandangannya menatap lurus kedepan.


"Apa Lo juga udah tidur sama dia?" Tanya Gio langsung to the point. Gio tahu lelaki seperti apa Frans. Lelaki yang selalu bergonta ganti wanita diatas ranjangnya.


"Bercanda Lo gak lucu!" Ucap Gio.


"Gue gak bercanda. Lo sendiri kan juga tahu wanita yang kutemui gak ada yang gak berakhir diranjang gue." Jelas Frans membuat Gio terdiam sebentar melihat raut wajah Frans yang serius.


"Lo gila!" Umpat Gio. "Bisa-bisanya Lo ngelakuin itu lagi dan lagi kepacar sahabat Lo sendiri." Ucap Gio yang mengusap keningnya menahan amarah.


"Iya." Ucap Frans. "Gue emang gila." Ucapnya lagi terduduk dikursi. "Puas Lo!" Ucap Frans menarik rambutnya merasakan sedikit penyesalan dengan apa yang telah ia lakukan kali ini pada Leon.


"Ck!" Decak Gio mengambil posisi duduk disebelah Frans yang sedang menarik rambutnya sendiri. Ia selalu melihat Frans yang seperti ini sama dengan kejadian lima tahun yang lalu.


"Salah paham lima tahun lalu aja belum Lo lurusin." Ucap Gio.


"Itu salah Lo yang gak mau bantuin gue jelasin ke dia." Ucap Frans.


"Bukannya gue tapi Leon gak mau mendengarkan penjelasan dari siapapun." Ucap Gio.


"Sudahlah gue malas bahas itu." Ucap Frans berhenti menarik rambutnya.


"Tapi kenapa Lo malah ngulangin kesalahan yang sama." Cibir Gio membuat Frans melihat kearahnya.


"Lo masih sahabat gue kan?" Tanya Frans.


Meskipun Leon dan Frans berseteru namun Gio tetaplah adil meluangkan waktu kosongnya pada kedua pria itu secara bergantian. Sudah sejak dulu kedua sahabatnya itu tidak bisa barang semenit untuk tidak mengganggu dirinya bahkan sampai mendatanginya ke tempat kerjanya.


"Lo mau apa?" Tanya Gio balik yang sudah bisa menebak maksud dari pertanyaan Frans.


"Gue minta tolong lo untuk jaga rahasia ini dari Leon." Jawab Frans.


"Gue gak bisa."


"Yoo."


"---Gue gak bisa pura-pura gak tahu kalau suatu waktu Leon tahu dari orang lain." Potong Gio.


"Gue paham. Selama dia gak tahu itu sudah aman." Ucap Frans bangkit berdiri dari tempat duduknya.


"Gimana dengan Lo?" Tanya Gio mendongak pada Frans yang meregangkan badannya.


"Gimana apanya?" Jawab Frans yang balik bertanya.


"Lo gak mau cerita kenapa sampai bisa bermain api dengan Jesika?" Tanya Gio menarik tangan Frans membuat pria itu terduduk kembali.


Kalau gue bilang itu atas dasar kemauan Jesika sendiri itu bakal buat Gio benci dan menyalahkan semuanya pada Jesika. Batin Frans dalam hati.


"Kalau gue bilang itu inisiatif Jesika sendiri. Apa Lo percaya?" Tanya Frans menaikkan salah satu alisnya.


"Ya Enggaklah." Jawab Gio. "Pasti Lo kan yang jebak dia." Tambahnya lagi.


Sial!. Umpat Frans dalam hati dengan mulut menganga melihat ke Gio.


"Gue tahu Jesika itu wanita seperti apa." Ucap Gio. "Yang ada Lo kali yang jerat dia diranjang." Cibir Gio lagi.


Wah benar-benar nih anak. Apa diotaknya gue sejahat itu. Batin Frans tidak terima namun pernyataan Gio membuatnya tersenyum.


"Baguslah." Sahut Frans. 'Setidaknya Gio mengenal Jesika dengan baik jadi gak punya pemikiran jelek terhadap Jesika. Batin Frans dalam hati.


"Bagus apanya?" Tanya Gio.


"Badan Jesika." Jawab Frans menggoda dokter polos disampingnya.


"B*set!sialan Lo!" Umpat Gio memukul pundak Frans.


"Beneran. Gue gak bohong." Lanjut Frans.


"Tutup mulutmu kampr*t." Umpat Gio menyumpal mulut Frans dengan tangannya.


"Emang benar." Sahut Frans masih menggoda Gio.


"Berhenti bahas tubuh Jesika." Ucap Gio bangkit berdiri dari tempat duduknya. "Itu penghinaan buat Leon." Lanjut Gio.


"Penghinaan?" Tanya Frans.


"Ya. Memang ada kata lain lagi." Jawab Gio berjalan ke arah pintu meninggalkan Frans.


Benar. Dan Penghinaan ini mungkin sewaktu-waktu akan berbalik padaku juga. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari. Batin Frans.