
Leon tak mengatakan satu katapun mengenai kebenaran yang terjadi pada Sandra. Ia malah melumpuhkan peri kecilnya itu dengan menghujaninya ciuman dan sentuhan yang membuat tubuhnya bergetar melebihi sebelum-sebelumnya.
Dalam gelap Sandra telentang di jok belakang dengan tubuh yang kini hanya tertutup bra dan daleman yang belum terlepas oleh Leon yang ******* bibirnya dengan tangan yang tak berhenti meraba sekujur tubuhnya.
"Ahh." Desah Sandra keluar dari bibir yang terlepas dari ******* Leon.
"Sandraaa." Desis Leon yang kemudian menggigit telinga Sandra dilanjutkan dengan mengecup belakang telinganya turun keleher dan tulang selangkanya. "Gue pengen San." Desisnya lagi mengangkat wajahnya ke atas wajah Sandra. "Boleh ya?!" Pintanya yang sejak tadi menahan rasa sakit karna adiknya yang mengeras.
"Sandra gak mau." Desis Sandra melihat samar-samar Leon bertumpu dengan lututnya diatas tubuhnya melepas atasan kemejanya. Cahaya lampu jalan yang sedikit menerobos kedalam mobil memperlihatkan tubuh sixpack Leon yang perlahan turun menimpa tubuh Sandra.
"Gue bakal lembut." Desisnya menyibak rambut yang menutup leher Sandra lalu mengecupnya dengan sedikit gigitan yang membuat Sandra menggeliat. "Selembut itu sayang,hm!" Bujuk Leon pada Sandra untuk mau melakukan hubungan intim dengannya.
"Bukan masalah lembut atau sakit Kak." Ucap Sandra membuat Leon menggesek miliknya pada paha Sandra memancing tubuh peri kecilnya agar terangsang hingga ia bisa langsung mengeksekusinya.
"Lalu?" Tanya Leon yang sudah dikuasai oleh ***** dengan terus menggesek paha Sandra untuk merangsangnya.
"Kak Leon bakal ninggalin Sandrakan nantinya kalau udah selesai ngelakuin itu semua." Jawab Sandra polos yang berusaha menahan gairahnya yang sudah terpancing dengan mengalihkan wajahnya kesamping menghindar dari tatapan Leon. "Sama kayak Kak Leon terhadap Kak Je---."
"---Gue gak bakal ninggalin Lo!" Potong Leon segera mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Sandra. Ia mengehentikan permainannya dengan meraih tangan Sandra untuk duduk di sebelahnya.
"Kak Leonn." Desis Sandra yang tidak bisa melihat raut wajah Leon dengan jelas. Ia tidak tahu apakah Leon marah padanya atau tidak.
"Apa?" Tanya Leon meraih gaun Sandra yang ia lempar sebelumnya ke jok depan.
"Kak Leon marah ya!" Jawab Sandra yang dibantu Leon memakaikan kembali gaunnya.
"Enggak." Jawab Leon yang berusaha menahan rasa sakit akan tuntutan adiknya dari bawah yang meronta. "Lo, akhh---." Ucap Leon terjeda menahan membuat Sandra tak tahan melihatnya kesakitan. "Langsung gue antar ke rumah aja ya." Pintanya bersandar sebentar memalingkan wajah keluar jendela dengan deru nafas yang cepat meremas sudut kursi untuk menahannya.
"Kak Leon, Sandra hidupkan lampu ya." Ucap Sandra mencondongkan tubuhnya kedepan mengaktifkan penerangan didalam mobil. Kemudian Ia berbalik duduk menyandar disebelah Leon yang masih menyembunyikan rasa sakit darinya.
"Kak Leon Sandra bantu ya!" Tawar Sandra menangkup wajah Leon mengarahkan padanya.
"Lo ngomong apa sih?" Sahut Leon balik bertanya bangkit pindah namun tangannya ditahan oleh Sandra yang membuatnya duduk kembali.
"Lo mau ap---"
"---Bukanya dari mana Kak." Potong Sandra dengan wajah tertunduk menatap celana Leon. "Sandra belum pernah." Bersandar di setengah tubuh Leon yang telanjang. "Kak Leon ajarin Sandra ya?" Mendongak pada Leon yang langsung meraup bibir Sandra lebih dulu sebelum akhirnya ia menuntun tangan Sandra menjinakkan adiknya yang sudah lama ingin bertemu.
Paginya Sandra memadangi kembali tangannya sambil berendam di bathub. Ia tak bisa mengeluarkan ingatan dikepalanya akan apa yang telah ia lakukan dengan tangan itu semalaman hingga membuat Leon kesenangan.
Benar-benar memalukan. Batin Sandra menutup wajahnya lalu menenggelamkan dirinya di bathtub.
****
Di tempat lain Stela membuka matanya perlahan yang tertepis sinar matahari pagi yang menembus masuk melalui jendela. Ia mengucek matanya dan mendapati seorang wanita dengan seragam putihnya berdiri mengganti botol infus dengan selang yang terhubung pada tangannya.
Semalam aku pingsan karna kolam renang sialan itu. Aku bahkan belum sempat memberi pelajaran pada Sandra. Batin Stela mencabut selang infus ditangannya membuat darah mengalir.
"Suster apa ada yang ter---." Ucap Gio terputus sesampainya didalam ruangan melihat Stela yang duduk melihat tajam kearahnya. "---Apa pasien baru bangun?" Sambungnya bertanya mendekat dan memeriksa laporan perkembangan Stela yang belum melepaskan tatapannya dari Gio.
"Dokter pasiennya tadi tiba-tiba cabut selang infus ditangannya." Ucap Perawat pada Gio yang melirik perban ditangan Stela yang berdarah.
"Selain itu apa ada yang lain?" Tanya Gio melirik bubur yang tergeletak dicabinet sebelah ranjang Stela lalu melirik sebentar ke Stela yang masih menatapnya.
"Apa ada yang ingin Nona Stela katakan?" Tanya Gio layaknya seorang dokter yang menanyakan hal sama pada semua pasien yang jadi tanggung jawabnya.
"Papa Mama dimana?" Tanya Stela yang sejak bangun tidak melihat satupun keluarganya ada disana menemaninya.
Apa mereka sedang bersenang-senang dengan Sandra dirumah?. Tanya Stela dalam hati sambil menatap dingin Gio yang melihat perawat membawa peralatan medisnya pergi meninggalkan keduanya didalam ruangan.
"Aku Dokter bukan temanmu." Ucap Gio mendekat ke cabinet. "Seharusnya kamu menanyakan apa yang terjadi padaku." Lanjutnya membuka laci cabinet dan meraih hape milik Stela disana. "Bukan malah menanyakan keberadaan orang---" ucap Gio terjeda. Ia bada berbalik mendekat pada Stela dengan hape ditangannya.
---Apa kamu belum mengingat siapa orangtuamu. Batin Gio.
"---Ini." Jawab Gio menyerahkan hape pada Stela kemudian mendekatkan wajahnya pada Stela. "Kenapa kedua mata ini seolah ingin menerkamku?" Tanya Gio melihat pantulan dirinya dikedua bola mata Stela yang tak berkedip.
"Karna kau tak terlihat seperti dokter!" Jawab Stela membuat Gio tersenyum hingga memperlihatkan lesung pipi yang akhirnya membuat Stela berkedip.
"Apa lesung pipiku menggodamu?" Tanya Gio menarik wajahnya menjauh dari Stela yang kini kembali dengan raut kesal. "Aku minta maaf mewakili wajah tampan dan lesung pipi yang lancang ini menggodamu." Ucap Gio tersenyum membelakangi Stela dan mengambil bubur diatas cabinet.
"Bodoh!" Umpat Stela menghidupkan hapenya dan mencari kontak Adit untuk melakukan panggilan.
"Halo Pa---."
"----Om ini Gio." Potong Gio merampas hape dari Stela begitu saja. "Stela sudah bangun." Menyendokkan bubur kebibir Stela yang menutupnya dengan rapat.
"Kalau begitu Om dan Tante titip Stela ya." Sahut Adit.
"Oke Om." Mengakhiri panggilan dan memasukkan hape Stela kedalam saku jasnya.
"Kembalikan ha---."
"--- ahmm." Satu sendok bubur masuk ke mulut memotong omongan Stela sebelumnya.
"Aku bakal kembalikan kalau kamu menghabiskan bubur ini." Ucap Gio mendekatkan wajahnya kembali pada Stela yang malah menyemburkan bubur dimulutnya kewajah Gio.
"Rasain!" Ucap Stela meraih hape disaku jas Gio.
"Stela,ternyata kamu masih licik seperti dulu." Ucap Gio membuat keduanya saling menatap satu sama lain.
๐๐๐
Jangan lupa Vote,Like dan Komen untuk Leon dan Sandra๐คญ๐คญ๐คญ