Unboxing

Unboxing
113. Percikan kasih sayang



Suara nada dering panggilan masuk memenuhi kamar yang hanya mendapatkan pencahayaan dari pintu balkon yang terbuka lebar. Leon menenggelamkan dirinya dikamar yang penuh dengan bayangan Sandra.


Ting Ting Ting! Suara kata sandi apartemennya berbunyi di gelapanya ruangan.


"Sandra!" Seru Leon keluar dari kamarnya menuju lantai bawah.


Klekk! Suara pintu terbuka setiba Leon dibawah dengan harapan yang besar.


"San---" Ucapnya terputus melihat Nadin muncul didepannya. "---Mamah,ngapain malam-malam kesini." Sambungnya berbalik badan sambil menyalakan lampu.


"Apa Kamu tahu mengenai pertunangan Frans dan Sandra?" Tanya Nadin mengikuti putranya dari belakang.


"Ya." Jawab Leon duduk disofa.


"Sayang, mama dengar hari Minggu ini mereka bakal---"


"---Melangsungkan pernikahan." Potong Leon. "Leon juga tahu mah." Keluhnya sambil menopang kepalanya.


"Kamu udah bicara sama Frans?" Tanya Nadin.


"Udah mah." Jawab Leon menekuk wajahnya.


"Dia bilang apa sayang?" Tanya Nadin yang sebenarnya sudah tahu apa jawaban yang diperoleh putranya. Hanya dengan melihat penampilannya saat ini.


Lusuh dan pasrah. Haih! Mengsad sekali euy!


Di waktu bersamaan Stela menyibak gorden kamarnya sambil melihat Sandra turun dari mobil disusul oleh Rosa yang mengomelinya. Ia tidak bisa mendengar apapun selain melihat raut sedih di wajah Sandra.


"Sandra,mama hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kamu." Ucap Rosa menahan tangan Sandra yang hendak menaiki satu anak tangga menuju kamar.


"Terbaik?" Cibir Sandra yang kini menoleh ke Rosa membuat Stela yang baru saja keluar dari kamar menghentikan langkahnya. "Apa menurut mama dengan menikahkan Sandra dengan Kak Frans adalah yang terbaik?" Tanya Sandra.


"Frans anak yang baik semua tahu itu sayang." Jawab Rosa.


"Kalau memang iya. Kenapa mama tidak memberikan yang terbaik itu pada Kak Stela?" Tanyanya membuat Rosa melepas tangannya dari Sandra. "Bukan kah selama ini kalian lebih peduli dengannya." Cibir Sandra membuat Stela tertunduk dan juga Rosa yang merasa bersalah. "Kalian selalu menuruti apapun yang membuat dia senang,bukan." Lanjut Sandra dengan tatapan sendu. "Sementara Aku---"


"---Sayang." Potong Rosa menangkup bahu Sandra. "mama dan papa gak ada maksud untuk---"


"---Mengasingkanku." Potong Sandra. "Ya!" Seru Sandra. "Sandra tahu itu." Tegas nya penuh penekanan membuat Ema dan Danu terkejut. Hampir dua puluh tahun bekerja di keluarga itu ini pertama kalinya Ema melihat Sandra meluapkan suara hatinya. "Kalian melakukannya semata-mata untuk melindungiku,bukan." Jelas Sandra membuat Rosa terkejut.


Darimana dia tahu mengenai itu. Batin Rosa melepas dekapan tangannya dibahu Sandra.


"Terus kenapa?" Tanya Sandra. "Kenapa sekarang berubah mah?" Tanya Sandra membuat Stela melangkah menyusul keduanya. Namun,


"Kenapa sekarang mama lebih peduli pada Sandra dan mengabaikan Kak Stela?" Tanya Sandra menghentikan Stela yang hendak meluruskan segalanya. Ia tidak pernah tahu bahwa Sandra justru mengkhawatirkan dirinya meski Sandra telah mengetahui kebenarannya.


"Apa mama tahu Kak Stela dimana dua hari ini?" Tanya Sandra penuh penekanan."Apa mama tahu apa yang terjadi dengannya?" Lanjutnya terus memojokkan Rosa. "Apa mama gak khawatir?"


"Sandra stop." Ucap Adit yang baru saja tiba.


"Papa dan Mama mengasingkanku untuk melindungiku dari kecemburuan Kak Stela, bukan!" Ucap Sandra melihat ke Adit. "Apa menurut kalian dengan cara seperti itu kami akan menjadi lebih baik?" Tanyanya melihat ke Rosa.


"Sandra stop." Pinta Adit.


"Selama ini Aku selalu berpikir dikeluarga ini akulah yang bukan putri kalian." Ucap Sandra. "Itu juga yang ada dibenak Kak Stela." Lanjutnya. "Tapi fakta yang terjadi malah sebaliknya." Melihat ke Adit. "Kalian memanipulasi kami berdua!" Tegas Stela penuh penekanan.


Plakk! Suara tangan Rosa menampar pipi Sandra didepan semuanya.


"Apa Leon yang mengajarimu seperti ini?" Tanya Rosa kelepasan.


"Leon?" Tanya Adit.


"Ya!" Sahut Rosa. "Pria itu memiliki hubungan dengannya." Jelas Rosa penuh penekanan.


Sandra berlari tanpa peduli dengan Stela yang berdiri menatapnya. Ia masuk ke kamar.


Brakk! Suara Sandra membanting menutup pintu kamarnya.


Rosa kemudian menceritakan segalanya yang ia sembunyikan dari Adit mengenai hubungan Leon dan putri mereka. Ia bahkan memberitahu bahwa gadis berinisial S sebelumnya tidak lain adalah Sandra. Stela yang mendengar pembicaraan keduannya sambil menghela nafas melihat ke kamar Sandra.


"Papa telah mengetahui semuanya." Ucapnya melangkah ke kamar Sandra.


Tok tok tok! Suara tangan Stela mengetuk pintu kamar Sandra.


"Ini Aku,Stela." Ucapnya membuka pintu yang ternyata tidak dikunci oleh Sandra. Sementara itu Sandra berbaring diatas ranjang membelakangi dirinya. "Frans jatuh cinta sama mantan Leon." Ucap Stela duduk di tepi ranjang. "Kamu gak perlu khawatir." Lanjutnya menenangkan Sandra. "Dia gak bakal menikahimu."


"Siapa?" Tanya Sandra bangkit duduk melihat ke Stela.


"Fransroso Wardana." Jawab Stela membelai lembut ujung kepala Sandra.


"Aku nanya mantan Kak Leon yang mana?" Tanya Sandra menghentikan sesaat tangan Stela.


"Jesika." Jawab Stela dengan senyum dikedua sudut bibirnya.


"Kak Frans sama sekali gak cinta sama Kak Jesika." Sangkal Sandra yang membuat Stela mengernyit. "Hari ini Kak Leon membuang gengsinya mendatangi Kak Frans." Lanjutnya.


"Frans bilang apa?" Tanya Stela.


"Dia bakal tetap melaksanakan pernikahan." Jawab Sandra. "Kami bahkan pergi fitting baju hari ini." Keluh Sandra. "Kak Leon gak bisa melakukan apapun." Sambungnya dengan mata berkunang-kunang oleh air mata yang kian membendung.


"Maafin Gue." Ucap Stela. "Gue gak seharusnya mendorong Lo ke Frans hari itu." Lanjutnya.


"Kak Stela gak salah." Sahut Sandra memeluk Stela. "Andai mama dan papa gak memanipulasi keadaan untuk Kak Stela semuanya gak bakal terjadi,bukan." Jelas Sandra.


"Maafin gue, San." Balas Stela memeluk Sandra.


"Ya,Aku maafin." Ucap Sandra. "Dan terimakasih." Lanjutnya membuat Stela melepas pelukan dan melihat ke Sandra.


"Terimakasih untuk apa?" Tanya Stela bingung. Ia tidak pernah melakukan sesuatu hal yang baik pada Sandra dalam ingatannya.


"Kalau bukan karna Kak Stela dorong Sandra ke Kak Frans mana mungkin Aku bisa kenal dengan Kak Leon." Ucapnya menjelaskan.


"Kamu mengambil milikku." Sahut Stela yang kemudian terkekeh dan merebahkan dirinya diranjang sambil mengelus anak Gio yang ada didalam perutnya. "Apa kau jatuh cinta pada Leon?" Tanya Stela.


"Ya." Jawab Sandra menyusul berbaring disamping Stela.


"Kalau gitu kau dalam masalah." Ucap Stela menoleh ke Sandra. "Mama menceritakan semuanya ke papa mengenai kamu dan Leon." Lanjutnya. "Kamu tahu papa gak menyukai Leon sejak dulu." Jelasnya.


"Kak Stela,apa ini siasat baru untuk menyingkirkan saingan?" Tanya Sandra yang mengetahui bahwa Stela dari dulu berusaha keras menyingkirkan wanita-wanita yang ada disekitar Leon.


"Aku serius." Jawab Stela menyakinkan Sandra. "Andai Frans membatalkan pernikahan bukan berarti kau bisa bersama Leon." Jelasnya mengingat seperti apa Adit yang tidak begitu suka dengan Leon.


"Tapi kenapa dulu papa ngizinin Kakak mendekati Leon?" Tanya Sandra yang kini berbalik dengan posisi telungkup melihat ke Stela.


"Cih!" Sahut Stela membuat Sandra teringat pada Stela yang sebelum-sebelumnya berbicara dengan nada dan seperti itu padanya."Itu karna papa tahu kalau Leon sama sekali gak tertarik sama gue." Jelas Stela dengan raut kesal yang sering ia tunjukan padannya juga.


Namun kali ini semua itu terasa berbeda. Ada percikan kasih sayang yang tulus mengalir didalamnya.


🍁🍁🍁


Hai,hai,hai! Jangan lupa berikan cinta kalian ke author rebahan ini melalui vote,like,dan Coment terbaik kalian yaaπŸ€—πŸ€—


Giftnya juga boleh tapi tidak dipaksakan 🀩