
Aroma menggoda menusuk hidung Leon yang mempercepat langkah menuruni anak tangga dengan dasi yang masih menggantung dileher. Pagi ini Sandra bangun pagi sekali menyiapkan nasi goreng untuk sarapan mereka.
"Kak Leon dasinya." Ucap Sandra naik kursi memasang dasi Leon.
"Kenapa gak pakai seragam?" Tanya Leon yang melihat Sandra mengenakan celana jeans dan atasan merah hati yang kemarin malam ia belikan.
Setelah membujuk Sandra untuk pulang dengannya Leon membawanya ke toko pakaian 24 jam. Lalu membawanya menikmati dessert dan manisan lainnya di sepanjang gang tempat jualan berbagai jajanan malam menghiburnya.
Sampai diapartemen Leon membaringkan Sandra yang tertidur setelah lelah berjalan kesana kemari mencoba jajanan.
"Hari ini emang pakai pakaian bebas kak." Jawab Sandra turun dari kursi lalu beranjak mengambil dua piring nasi goreng dari pantry dan meletakkannya dimeja.
"Sayang bisa ambilkan susu." Pinta Leon duduk. "Yang ada di kulkas aja sayang." Ucapnya pada Sandra yang hendak menuangkan susu bubuk ke gelas.
Byur! Suara susu cair siap minum yang dituang kegelas Leon oleh Sandra yang berdiri disebelahnya.
Uhmmm! Suara Leon mengecap nasi goreng yang sudah masuk kemulutnya. Sandra kemudian menarik tissue dan melap ujung bibir Leon.
"Nanti malam tidur disini lagi kan?" Tanya Leon pada Sandra yang duduk di kursinya.
"Kalau bisa ya kak." Jawab Sandra menyuap nasi goreng kemulutnya.
"Emang gak bisa lagi." Ucap Leon melihat ke Sandra.
"Sandra gak tau mau kasih alasan apalagi." Ucap Sandra. Ujian sudah selesai tak ada alasan menginap karna tempat les jauh atau tugas kelompok. Syukur-syukur sampe saat ini tidak ada yang curiga dengannya.
Mama dan Papa benar-benar gak khawatir denganku. batin Sandra yang betapa mulusnya kebohongan yang ia buat untuk bisa tinggal dengan Leon. Dan lagi itu menjadi kebiasaan yang membuatnya ingin menetap dalam sangkar Leon. Pria itu selalu memberinya kehangatan meskipun terkadang ia harus mengorbankan sedikit tubuhnya.
"San!" Panggil Leon. "Kok bengong?" Tanya Leon yang sudah dengan piring kosong. "Lagi mikirin apa?" Tanya lagi.
"Mikirin gimana caranya biar Sandra bisa tinggal selamanya sama Kak Leon." Jawab Sandra yang membuat mata Leon terbelalak sontak terkejut mendengar ucapan Sandra. "Ah!Kak Leon." Bangkit berdiri dari kursinya menghindar dari tatapan Leon."Maksud San---"
"---Iya tahu." Potong Leon melipat bibirnya menahan senyum.
"Enggak!Maksud Sandra itu bukan seper---" mencari kesibukan di depan pantry sangking gugupnya.
"---Iya gue tahu." Potong Leon yang udah berdiri dibelakang merangkul pinggang Sandra. "Lulus SMA kamu mau kemana?" Tanya Leon mencari topik lain. Ia berusaha mengalihkan kegugupan Sandra akan ucapan spontan yang membuat gadis kecilnya itu malu.
"Jadi istri Kak Frans." Jawab Sandra dingin. Tak terasa waktu itu akan segera tiba.
"Bukannya masih tunangan dulu." Ucap Leon yang hampir lupa status Sandra sejak awal ia bertemu dengannya.
****
Stela menuruni tangga dengan tergesa-gesa menghampiri Adit dan Rosa yang sedang menikmati sarapan.
"Pah Mah." Panggilnya begitu tiba dimeja makan. "Sandra gak ada dikamar." Ucapnya mengambil roti dan mengolesinya dengan selai.
"Mungkin sudah berangkat pagi-pagi tadi." Jawab Rosa melirik Ema yang menuangkan susu digelas Stela.
"Bukannya Sandra gak pulang." Ucap Stela sengaja membuat Rosa terbatuk mendengarnya.
Sejak Frans memberitahu Stela bahwa Rosa amat mengkhawatirkan keberadaan Sandra,Ia mulai memperhatikan gelagat Rosa pada Sandra.
Stela yang tidak pernah absen mengecek keberadaan Sandra dikamarnya menemukan kejanggalan. Ia menemukan post it berisikan kebohongan Sandra pada mereka.
Sandra tidak pernah mendaftar les. Stela mengunjungi tempat itu dan tidak menemukan nama Alexandra Winata.
"Coba cek sekali lagi!" Pinta Stela kepada bagian administrasi.
"Maaf Bu atasnama Alexandra Winata tidak terdaftar diportal kami." Ucapnya lagi.
Sandra apa yang sebenarnya kamu lakukan. batin Stela keluar dari gedung dan melihat mobil Rosa terparkir didepan cafe sebelah gedung bimbel.
"Hari ini sampai dua orang yang cari nama Alexandra Winata." Ucap Staff pada temannya.
"Kamu barusan bilang apa?" Tanya Stela.
"Aduh ibu sudah berapa kali saya cek ditempat kami tidak ada yang bernama Alexandra Winata." Jawabnya kembali.
"Bukan itu maksud saya." Ucap Stela. "Sebelum saya apa ada orang yang datang kesini nyari nama yang sama?" Tanya Stela.
"Ada." Jawabnya.
"Pria?Wanita?" Tanya Stela.
"Wanita." Jawab staff itu yang semakin membuat Stela memperhatikan sikap Rosa dirumah. Terutama jika Rosa terlihat bersama Ema.
"Bi!" Panggil Stela pada Ema yang henda pergi.
"Iya non."
"Danu masih didepan kan?" Tanya Stela yang membuat Rosa gelisah. Rosa tahu bahwa Sandra tidak pulang semalaman. Hingga sekarang ia juga belum tahu dimana selama ini putrinya tinggal. Namun sikapnya yang menjauh dari Sandra dari dulu membuatnya sulit untuk menanyakan langsung.
"Jadi Sandra benaran gak ada dirumah sejak tadi malam?" Tanya Adit pada Rosa yang terlihat menyembunyikan sesuatu darinya.
"Oh anu Pak!" Teriak Danu yang tiba-tiba nyelonong masuk.
"Iya! ada apa Danu?" Tanya Adit.
"Non Sandra tidur dirumah temannya." Jawab Danu yang menerima pesan seperti itu setiap hari dari Sandra untuk berjaga-jaga jika hari ini datang.
Namun Sandra tidak menyangka bahwa bahaya lain dari kebohongannya bukan hanya itu. Ia tidak berpikir suatu waktu akan bertemu Frans dilift yang sama dengan Leon.
"Sandra." Ucap Frans saat lift terbuka dilantai apartemen Frans.
"Haiiii Kak!" Sahut Sandra menggeser sedikit tubuhnya memberi jarak pada Leon.
"Kok Lo ada disini?" Tanya Frans menahan pintu lift yang melirik Leon lalu kembali melihat Sandra.
"Anu ehh." Jawab Sandra. "Sandra mau ketemu Kak Frans." Sambungnya. "Eh Iyah." Tambahnya lagi.
"Jam segini." Ucap Frans melihat Jam ditangannya. "Lo yakin?" Tanyanya dengan wajah ragu.
"Ehh Iyaaalah." Jawab Sandra membuat Leon yang sejak tadi berusaha menahan senyum dibibirnya. Ia menggigit bibirnya tertawa menikmati Sandra yang berusaha mencari alasan dalam kepanikan untuk mengadali Frans. "Emang digedung ini Sandra mau ketemu sama siapa lagi selain kakak." Tambahnya.
"Emang kamu gak kesekolah?" Tanya Frans.
"Ini mau kesekolah kak haaaa." Jawab Sandra yang semakin panik.
"Dari sini?" Tanya Frans melirik Leon yang melihat ke Sandra.
"Iyaa mau nebeng sama Kak--" Jawab Sandra terjeda sebentar. "---Sama Kak Frans." Sambungnya.
"Oh gitu." Balas Frans. "Tapi kok bisa kamu datangnya dari atas." Ucap Frans. " Bukan dari bawah." Tambahnya lagi.
"Namanya juga bidadari yaa datangnya pasti dari ataslah." Celetuk Leon membantu Sandra yang terjebak diantara mereka berdua.
"Tumben mulut manis." Sahut Frans masuk lift berdiri disebelah Sandra.
"Yaa." Leon mengiyakan. "Akhir-akhir ini gue makan yang manis-manis." Ucapnya meraih jari Sandra yang berdiri disebelahnya. Ia merasakan keringat ditangan Sandra yang panik. Leon kemudian meraih jemari itu dan membuat jari mereka saling bertaut.
Jangan takut!Gue disini sayang. Batin Leon mengeratkan jemarinya.