
Taman belakang yang kini sudah diberi dinding kaca dan juga dipenuhi berbagai tanaman hias didalamnya. Bunga anggrek dari segala warna beradu mekar menyombongkan keindahan yang mereka pancarkan untuk majikannya yang kini sedang duduk dikursi taman tepat bersebelahan dengan air mancur yang ada ditengah taman.
Nadin sebagai majikan mereka merangkai bunga hidup itu kedalam vase-vase yang berjejer dihadapannya sejak tadi sambil menilik putra semata wayangnya itu yang duduk bersandar disofa ruangan yang ada dihadapannya.
Ruangan itu adalah ruangan favorit Leon sejak istana milik Nadin didirikan oleh David untuknya. Sejak hari dimana Leon didatangi peri kecil diruangan itu ia menjadikannya markas dirinya untuk menenangkan diri dan mengingat momen ketika dengan beraninya ia menempelkan bibirnya pada peri kecil itu.
Namun setelah Leon memiliki apartemen sendiri ia jarang sekali datang keruangan itu lagi. Meski begitu Nadin selalu membersihkan ruangan itu tanpa mengurangi atau menambahkan apapun yang sudah ditata Leon sejak ia berusia 14 tahun.
"Leon sayang!" Panggil Nadin saat masuk keruangan dan meletakan vase bunga dengan bunga yang baru dimeja yang berada dihadapan Leon.
"Iya mah!" Sahut Leon menegakkan tubuhnya menoleh pada Nadin yang kini telah duduk disebelahnya.
"Apa gadis itu yang masak makanan sebelumnya?" Tanya Nadin sembari menggunting tangkai bunga yang terlalu panjang. Sudah dua Minggu setelah kejadian David memperingati Leon. Dan selama dua Minggu itu Leon meninggalkan apartemennya dan kembali kekediaman Nadin dan David.
"Iya mah." Jawab Leon kembali mengingat Sandra yang sudah bersusah payah ia lupakan.
Br*ngs*k! Umpat Leon dalam hati pada dirinya yang mementingkan nama baiknya saja sementara jelas-jelas ia sudah melakukan yang seharusnya tidak ia lakukan pada Sandra sebelumnya. Ia bahkan tak menghubungi dan menayakan keadaan gadis kecil itu hingga detik ini.
"Sayang!" Panggil Nadin memegang pundak Leon yang duduk dengan menekuk wajahnya. "Apa kamu masih memikirkan gadis kecil itu?" Tanya Nadin membuat Leon menegakkan wajahnya melihat ke Nadin.
"Ini Papa yang suruh ya?" Tanya Leon yang mengetahui Nadin yang selalu meniliknya dari luar sambil merangkai bunganya ditaman. Ia berpendapat bahwa David meminta Nadin untuk memantau apakah Leon masih berhubungan dengan Sandra. "Bilang sama papa Leon akan menjaga baik nama perusahaannya itu." Ucap Leon. "Leon bahkan---"
"---Mama bukan menanyakan dia." Ucap Nadin memotong ucapan Leon.
"Lalu mama nanya siapa?" Tanya Leon menyandarkan kepalanya lagi dipunggung sofa.
"Peri kecilmu." Jawab Nadin mengingatkan Leon pada peri kecilnya dimasa lalu yang tak kunjung bisa ia temui keberadaannya hingga saat ini.
"Kak aku pergi kemama dulu ya." Pinta peri kecil itu merosot dari pangkuan Leon.
"Mau Kakak gendong gak?" Tawar Leon pada peri kecil yang kini berdiri didepannya.
"Gak usah." Ucap peri kecil pergi meninggalkan Leon diruangan. Ia berlari kecil menuju ruang depan dengan melawati koridor penghubung halaman belakang dan ruang tengah.
Peri kecil itu berlari kecil dikoridor itu sambil melambaikan tangannya pada Leon yang berdiri disela pintu melihatnya.
Buk!suara peri kecil menabrak seorang didepannya.
"Alexandra!" Suara memanggil dari depan.
"Alexandra!sudah berapa kali kamu tidur dijam pelajaran bapak!" Teriak pak guru yang kini berdiri dari kursinya meneriaki Sandra yang tak sadar tertidur dijam pelajaran.
****
Bukan sekali dua kali Sandra tertidur dikelas dan membuatnya berakhir distrap berdiri didepan pintu kelas yang membuat cowok-cowok dari kelasnya dan kelas lain berlomba mencari masalah saat jam pelajaran agar disuruh berdiri diluar kelas. Pemandangan yang membuat cewek-cewek disekolah Sandra semakin membencinya.
Ketika cowok-cowok mulai bergantian menyapa Sandra mereka dikejutkan oleh suara riuh dari lapangan membuat siswa-siswi yang berada dibawah lantai tempat Sandra berada keluar menjulurkan kepalanya melihat sosok pria berjalan kearah ruangan kepala sekolah.
"Itu yang punya grup Nusantara kan?" Tanya cewek disebelah Sandra yang keluar dari kelas padanya.
"Gak tahu." Jawab Sandra yang tidak bisa melihat jelas sosok pria yang membuat cewek-cewek digedung sekolahnya riuh menggodanya.
"Sandra!" Panggil seorang cowok yang berjalan kearah Sandra yang masih melongo melihat kehebohan semua cewek disekolahnya.
"Sandraaa." Bisik cowok itu yang menempatkan wajahnya didepan wajah Sandra yang melongo.
"Tristan!" Sahut Sandra.
"Gak ikutan kebawah?" Tanya Tristan siswa terpintar disekolah Sandra. Tampan dan populer disekolah. "Yuk gue temanin." Ajak Tristan menarik tangan Sandra pergi membuat cowok-cowok yang lain pada bubar barisan jalan.
sampai dibawah banyak sekali murid cewek berkerumun di koridor. Sandra kesusahan melewati desakan cewek-cewek yang beradu penampilan dan aksi memikat pria.
"Emang yang datang siapa?" Tanya Sandra pada Tristan yang hanya memandangi Sandra sejak tadi. Sementara itu dalam ruang kepsek ada Leon yang mengadakan pertemuan dengan pemilik sekolah. Beberapa menit kemudian bel istrahat pun usai kesempatan bagi Leon untuk segera pergi menghindar dari anak sekolah yang membuat ricuh sorak-sorai sejak datang ke sekolah tadi.
Sementara itu Sandra ditahan oleh Tristan untuk menunggunya mengambil buku pr mereka yang masih ada diruang guru. Tak sengaja ketika keluar dari ruang guru Sandra yang berjalan menunduk dengan buku dikedua lengannya menabrak Leon yang berpapasan dengannya.
Bruk! Suara buku dilengan Sandra terjatuh.
"Kamu gak papa?" Tanya Leon meraih bahu Sandra.
"A-- Eh?!" Jawab Sandra melihat Leon begitu juga sebaliknya.
Dia siswi sekolah sini. Batin Leon terdiam melihat gadis yang ia abaikan selama dua Minggu ini.
"Kak Leon." Ucap Sandra dengan mata berbinar.
"Kak Leon?" Tanya pemilik sekolah. "Kalian saling kenal?" Tanya pemilik sekolah pada Leon yang melepas tangannya dari bahu Sandra.
Gawat. Meskipun gue belum tahu kebenaran siapa yang mengambil foto itu. Siapapun gak boleh ada yang tahu soal Sandra. Batin Leon.
"Ka--."
"---bukan Pak. Saya tidak mengenalnya." Jawab Leon memotong ucapan Sandra.
Maaf Sandra ini demi kebaikan lo juga. Batin Leon mengepal tangannya membuat Tristan yang berdiri disamping Sandra mengeryit.
"Oh kalau begitu mari." Ucap pemilik sekolah memberikan jalan untuk Leon meninggalkan Sandra yang menatap punggung Leon yang semakin menghilang dari pelupuk matanya. Tanpa Sandra sadari Tristan yang ada disebelahnya melihat cara Sandra menatap kepergian Leon seperti dirinya yang selama ini melihat Sandra disekolah.
"Apa Lo tertarik juga dengan pria tadi?" Tanya Tristan membuat Sandra terbangun dari lamunannya dan menundukkan badan meraih buku-buku yang terjatuh dilantai.
"Aku rasa aku menyukainya." Ucap Sandra membuat Tristan tercengang.
"Kamu kenapa terkejut begitu?" Tanya Sandra yang kini berdiri dengan buku-buku ditangannya. "Bukannya semua cewek disekolah ini menyukainya juga." Ucap Sandra mengalihkan agar Tristan tidak menanggapi pernyataan perasaannya terhadap Leon dengan serius.
"Becanda Lo ya!" Celetuk Tristan.
"Dahlah lupakan!" Balas Sandra.
Lagian Kak Leon juga udah melupakanku. Ia bahkan tak mengenaliku. Jelas-jelas aku mengenakan seragam sekolah saat kami pertama kali bertemu. batin Sandra.