Unboxing

Unboxing
109. Salahkan dia!



Lima tahun yang lalu Rahel dan Leon dikenal sebagai pasangan terfavorit di kampus. Keduanya tampak serasi dengan visual dan prestasi yang mereka miliki. Mereka kadang kala tanpa sengaja memamerkan keromantisan didepan publik. Rahel juga sering terlihat keluar masuk dari apartemen dimana Leon tinggal. Hubungan keduanya membawa Rahel dekat dengan Frans begitu juga dengan Gio.


Namun suatu hal terjadi disatu tahun terakhir mereka menjadi mahasiswa. Sejak kuliah Leon sudah disibukkan dengan urusan perusahaan. Berbeda dengan Frans dan Gio yang masih memiliki banyak waktu santai.


"Lo telat 15 menit Jes." Ucap Frans kala itu ketika Jesika datang kemarkas mereka menemui Leon. "Anaknya baru aja pergi." Tambahnya melemparkan diri diranjang sementara Gio baru saja tiba setelah Rahel sampai.


"CK!" Decak Rahel kesal berbalik badan sambil menghentakkan kakinya kelantai. "Dia bahkan gak balas pesan gue." Gerutunya kesal keluar meninggalkan Frans dan Gio.


Minggu-minggu berikutnya Rahel bergegas secepat mungkin meninggalkan perkuliahan setelah menyelesaikan pratikumnya di lab. Ia tidak lagi ke markas tiga pria itu. Kini dia langsung menuju kelas Leon. Rahel mencatat jadwal perkuliahan Leon untuk bisa menyeret pria itu menghabiskan waktu dengannya.


"Hari ini temanin gue makan,belanja,terus---" ucap Rahel terjeda sambil merangkul tangan Leon yang baru saja keluar dari ruangan. "---nonton!" Sambungnya melihat ke Leon yang membelai rambut Rahel yang berantakan setelah berlari untuk menemuinya.


"Nontonnya di bioskop atau di---"


"---diapartemen gue." Potong Rahel. "Gue gak mau melakukannya di sofa." Lanjutnya mengingatkan Leon yang tak pernah membiarkan ia masuk kedalam kamarnya.


"Kamar gue berantakan." Ucap Leon yang tak pernah mengijinkan wanita manapun masuk kekamarnya selain Nadin.


"Alasan." Sangkal Rahel yang kemudian mengalihkan ketopik lain. Ia tidak ingin ribut seperti biasanya dengan sikap Leon yang jauh berbeda dengan mantan-mantannya.


Hari berganti hari.


Minggu berganti Minggu.


Bulan berganti bulan tak ada yang berubah dalam hubungan Rahel dengan Leon yang cuek dan dingin. Ya, ia selalu seperti itu kecuali diatas ranjang.


Suara panggilan masuk mengusik Leon yang baru saja memejamkan matanya setelah membuat Rahel terkulai lemas disampingnya. Ia bangkit dari tidurnya sambil mengangkat panggilan masuk.


"Apa udah ketemu?" Tanya Leon melangkah menjauh dari Rahel yang menyadari kepergian Leon.


Bukan sekali dua kali Leon mengambil jarak dari Rahel saat menerima panggilan. Hal itu membuat Rahel diam-diam menguping isi pembicaraan Leon dengan sipenelepon. Dan ia tak menemukan apapun selain mendengar Leon membicarakan projek dan projek. Rasa penasaran pun memudar oleh cumbuan dan sentuhan jemari Leon dikulitnya.


Ah! Desah Rahel.


Ditengah kesibukan mencapai gelar sarjana Rahel yang datang ke perpustakaan mendengar Gio menyebut peri kecil. Ia menilik Gio dari sela-sela buka yang ada dirak.


"Apa Lo benar-benar bakal menikahi dia?" Tanya Gio pada Leon yang mendapat kabar bahwa dirinya menemukan keberadaan peri kecilnya.


"Gue bakal nunggu waktu yang tepat buat itu." Jawab Leon dengan sumringah. Ia terlihat sangat bahagia saat membicarakan peri kecilnya dengan Gio dihadapan Rahel. Jauh berbeda saat dia sedang bersamanya selama lebih dua tahun ini.


Brakk! Suara Rahel spontan berbalik badan menabrak Frans yang berdiri dibelakangnya. Ia melihat Rahel menumpahkan kekesalannya ditangan yang mengepal saat mendengar pembicaraan Gio dan Leon.


****


Rahel berbeda dengan Jesika. Ia selalu memakai logika dalam menjalin suatu hubungan. Ibu Rahel adalah model berkebangsaan Australia. Sementara Ayah biologisnya adalah seorang duda pemilik perusahaan property berkebangsaan Indonesia. Ia dibesarkan di keluarga yang sibuk dengan kehidupannya masing-masing hingga berujung pada perselingkuhan dan berakhir cerai. Hal itu membuat Rahel lebih menggunakan logika ketimbang rasa.


"Lo gak pa-pa?" Tanya Frans setelah satu bulan berlalu.


"Emang gue kenapa?" Tanya Rahel balik yang selama satu bulan mencari tahu siapa peri-peri yang dimaksud Leon. Namun ia tak menemukan apapun selain nama peri kecil yang tertulis dibeberapa buku bacaan kesukaan Leon di apartemennya.


"Baguslah." Balas Frans menepuk pundaknya lalu pergi bergabung dengan Leon dan Gio dimeja lain.


Berhari-hari Rahel mencari cara melupakan Leon sambil memandangi pria itu saat bersamanya. Ia memiliki prinsip melupakan dulu setelah itu meninggalkan,berbanding terbalik dari kebiasaan orang.


"Ah, kenapa susah banget sih?" Tanya Rahel ketika ia telungkup diatas tubuh Leon sambil memandang mata Leon yang terpejam. Ia kesusahan untuk melupakan Leon yang akhir-akhir ini sering menghampirinya lebih dulu.


"Udah." Jawab Rahel turun dari atas tubuh Leon dan berbaring disampingnya.


"Terus apa yang susah?" Tanya Leon memiringkan badannya memeluk Rahel.


"Entahlah." Jawab Rahel meraba dada telanjang Leon dalam pelukannya sambil memikirkan cara melupakan pria yang tidak memiliki perasaan untuknya.


"Lo telat---" ucap Frans terjeda beberapa saat melihat jam ditangannya menunjukkan 15.00 . " ---satu jam." Sambung Frans melihat ke Rahel yang tak pernah telat sejauh itu. Ia menatap Rahel yang melangkah kearah nya dengan wajah seperti tak mencari keberadaan Leon.


"Gue kesini bukan untuk Leon." Ucap Rahel memainkan bibirnya sambil mengambil posisi duduk dihadapan Frans.


"Ah, gue tahu!" Sahut Frans. " Gio gak datang." Ucap Frans membuka laptopnya. "Dia lagi nemanin maminya." Lanjutnya yang kemudian menghidupkan laptopnya.


"Gue kesini juga bukan untuk cari Gio." Ucap Rahel.


"Lalu?" Tanya Frans melirik Rahel.


"Gue kesini buat Lo." Jawab Rahel menutup Laptop Frans.


"No!" Bantah Frans setiap hari pada Rahel yang selalu menemuinya di tempat dimana tidak ada Leon ataupun Gio.


Di Markas. "Apaan sih!" Bantah Frans.


Di perpustakaan. "Gila!" Umpat Frans.


Di Laboratorium Pengujian Beton. "Sial!" Umpat Frans yang mendapati Rahel menunggunya didepan pintu.


Di Kantin. "No Rahel!" Bantah Frans pergi dengan membawa botol minumannya meninggalkan Rahel dengan sejuta rayuannya.


"Ahh!" Teriak Frans terkejut mendapati Rahel duduk diatas cabinet kamarnya dengan memainkan rambutnya. "Lo tau dari mana kata sandi apartemen gue?" Tanya Frans mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk dilehernya.


"Sabrina Nadia Evana Claudia Vita Kyla Hmm---" sebut Rahel turun dari cabinet. "---Siapa yang anak perbankan itu." Sambung Rahel.


"Agnes." Jawab Frans berbalik badan melihat ke Rahel.


"Gue nanya yang kemarin ketemuan dengan Lo di depan ATM." Ucap Rahel duduk ditepian ranjang Frans.


"Carolin." Ucap Frans melempar handuknya di gantungan.


"Gue punya nomornya." Tawar Rahel menyilangkan kakinya membuat hampir semua paha Rahel terlihat dengan rok pendek yang ia kenakan.


"Gue sama Leon udah berteman sejak kecil." "Lagian gue udah punya nomor Carolin." Tambahnya keluar dari kamar meninggalkan Rahel.


"Gue lebih segalanya dari cewek-cewek itu." Ucap Rahel bangkit menyusul Frans. "Lo yakin gak mau?" Tanya Rahel menarik tangan Frans.


"Berapa kali harus gue bilang sama Lo." Tepis Frans pada tangan Rahel. "Kalau Lo gak terima dengan Leon yang punya wanita lain selain elo." Menangkup bahu Rahel. "Lo ngomong." Mengguncang bahu Rahel. "Jangan malah godain gue untuk hianatin dia!" Tegas Frans.


"Salah dia!" Sahut Rahel mendongak ke Frans. "Salahkan dia yang mengkhianati gue duluan!" Ucap Rahel.


🍁🍁🍁


jangan lupa vote,like dan Comentnya ❀️❀️❀️