Unboxing

Unboxing
117. Tercengang



Klekk! Suara pintu gerbang setinggi dua kali lipat tinggi orang dewasa. Semua pengawal yang berjaga serentak berjalan kearah gerbang.


"Siapa disana!" Seru kepala pengawal dengan menodongkan senjata ditangannya diikuti oleh anak buah yang datang mengawal dari belakang dan setiap sisinya.


"Fan, itu anak kamu!" Seru Feny yang melihatnya dari balkon. Ia berbalik badan meninggalkan Fandy yang memerintah semua pengawal untuk meletakkan senjatanya.


Sementara Feny berlari kecil menyusul Frans yang berjalan dengan tertatih. Ia tak berhasil menemui Jesika untuk membawanya pergi kawin lari.


Satu jam sebelum Frans kembali keruman, Ia mencari Jesika di panti asuhan. Namun biarawati yang ia temui mengatakan bahwa dirinya tidak tahu putrinya pindah dari apartemen.


"Dia sudah lama tidak kesini nak Frans. Saya pikir pekerjaan di kantor mungkin amat banyak." Jelas Biarawati yang membuka pintu untuk Frans di jam tiga dini hari.


Brukkk! Suara tubuh Frans tumbang jatuh ke pangkuan Feny yang langsung spontan menangkapnya.


Tik tok tik tok! Suara jarum merah yang ada dalam jam dinding membangunkan Leon yang terbaring di bawah selimut. Ia bangkit duduk sambil mengucek-ngucek matanya melihat ke jam weker yang terletak diatas cabinet samping ranjangnya.


Pukul 05.00 Leon menyibak selimut yang menutupi tubuhnya sambil menyalakan lampu.


Tep!


Sial! Umpatnya mendapati dirinya yang tak mengenakan apapun ditubuhnya. Seluruh pakaian terlempar dibawah ranjang. Ia kemudian membalikkan selimut memeriksa apakah ia menodai wanita dalam bawah sadarnya.


Fyuh! Hela nafas lega melihat hanya ada dia diatas ranjang.


"Pagi sayang." Sapa Nadin dipagi hari pada putranya yang turun dengan pakaian formal dengan dasi yang menggantung dilehernya.


"Pagi juga mah." Balas Leon menarik kursi bergabung dengan David dan Nadin untuk menikmati sarapan yang telah disediakan pelayan.


"Kamu mau kemana pagi begini?" Tanya David mengangkat gelasnya untuk menyeduh kopi buatan istri tercintanya.


"Mau ke kantor pah." Jawab Leon mengolesi selai di roti yang ada diatas piring.


"Ini kan hari Sabtu sayang." Ucap Nadin melirik David yang dibalas kedipan mata sambil menyeduh kopinya oleh David.


"Yang off kan cuma staff dikantor mah. Di lapangan kan tetap jalan." Sahut Leon menikmati satu persatu potongan rotinya didalam mulut.


"Tante Feny kemarin minta mama ajak kamu loh, ke pernikahan Frans." Ucap Nadin mengingatkan putranya yang jelas melihat undangan itu sebelumnya. "Kamu juga udah dengar kan." Lanjutnya menatap Leon yang hanya melihat ke potongan-potongan rotinya.


"Nanti Leon usahakan datang." Sahut Leon melihat ke Nadin dengan senyum terpaksa menghiasi wajahnya yang tampan.


"Kalau gitu Papa dan Mama tunggu kamu di sana ya." Ucap David yang meraih hapenya dan mengirim pesan ke pada nomor tidak dikenal.


"Okeh." Balas Leon yang kemudian melap bibirnya dan pergi meninggalkan meja makan.


Tap tap tap! Suara langkah sepatu Leon memasuki lobby perusahaan membuat securty dan office boy berlari kecil menghampirinya.


"Pagi Pak Leon." Sapa mereka yang terkejut melihat Leon muncul dihari Sabtu di perusahaan. Tidak biasanya.


"Pagi." Balas Leon melangkah menuju lift yang sudah terbuka didepannya. "Kalian bertindak seperti biasa saja. Tidak usah hiraukan saya. Mengerti!" Ucap Leon pada pada Security dan office boy sebelum pintu lift tertutup.


Ting!


"Simon." Ucap Leon pada Simon ditelpon sambil melangkah masuk ke ruangannya.


"Iya bos." Sahut Simon dari balik selimutnya.


"Lo dimana?" Tanya Leon duduk di kursinya sambil melihat jam ditangannya.


"Di pulau kapuk Bos." Jawab Simon santai. "Ada apa bos?" Tanyanya yang kembali meringkuk dibawah selimut.


"Gue udah dikantor." Jawab Leon menarik map dokumen yang ada diatas mejanya.


Krass! Suara amplop cokelat yang ada dibawah map jatuh ke lantai.


"Oke bos." Jawab Simon pasrah bangkit dari ranjangnya.


Leon kemudian mengakhiri panggilannya sekaligus memungut amplop yang terjatuh dilantai. Ia mencampakkan map ditangannya kembali kemeja dan menyandarkan tubuhnya di punggung kursi sambil membuka amplop cokelat.


Srekk! Suara kertas putih yang terlipat tiga keluar dari dari dalam amplop.


'Yang bertanda tangan dibawah ini Dokter RSU, dengan ini menerangkan bahwa nama Jesika Anastasya, usia 24 tahun dinyatakan positif hamil dengan usia kandungan saat ini 4 Minggu atau 1 bulan.'


"Sial!" Umpat Leon usai membaca dengan salah satu alisnya naik keatas.


****


Klekk! Suara pintu terbuka membuat Sandra yang duduk mengenakan gaun pengantin dengan bahu terbuka itu menoleh.


"Sayang." Panggil Rosa dikuti oleh Nadin dari belakangnya masuk ke ruang mempelai wanita. "Jangan tegang sayang." Ucap Rosa merapikan veil slayer yang ada dikepala Sandra sambil melirik jam dipergelangan tangannya menujukkan pukul 09.30WiB.


"Tante." Desis Sandra melihat dengan mata sendu ke Nadin yang berdiri didepannya. "San---" ucapan Sandra terputus oleh suara dering panggilan masuk ke hape Rosa yang membuat wanita itu keluar dan meminta Nadin untuk disana menemani Sandra.


Klek! Suara tangan Nadin membuak kotak perhiasan yang berisi satu set kalung kupu-kupu lengkap dengan cincin dan antingnya senilai 8 M.


"Kamu pakai yang ini ya,sayang." Ucap Nadin menggantikan perhiasan yang dipakai Sandra sebelumnya.


"Kupu-kupunya---" Ucap Sandra terjeda yang kini duduk didepan cermin melihat pantulan perhiasan yang dikenakan Nadin untuknya.


"---Kenapa dengan kupu-kupunya sayang?" Tanya Nadin melihat pantulan peri kecil putranya dalam cermin.


"Sandra kayak pernah lihat." Jawab Sandra melihat ke Nadin. "Tapi lupa dimana." Lanjutnya tersenyum.


"Itu khusus di desain Leon buat kamu sayang." Ucap Nadin membuat Sandra terpaku. Ia tak sanggup untuk mengatakan apapun saat nama itu disebut.


Di waktu bersamaan Gio diam-diam berdiri di koridor tempat Frans berada. Ia sedang mencari kesempatan untuk bisa menerobos keruangan mempelai pria yang sejak tadi diawasi oleh pengawal. Ia memilih maju sendiri dari pada menunggu Leon yang tak kunjung menjawab panggilannya. Bahkan Simon yang sebelumnya menerima perintah untuk menemui Leon dikantor tidak mendapati Bosnya itu disana. Iya hanya menemukan amplop cokelat kosong di atas meja.


"Sial!" Umpat Gio. "Sebenarnya di siapa sih ini yang lebih penting." Ucapnya melihat Feny dan Fandy keluar dari ruangan. Fandy menerima panggilan sementara Feny terus mengikuti suaminya itu keruangan lain.


"Ada info apa Fan?" Tanya Feny pada suaminya yang tercengang mendengar sesuatu yang dibicarakan ditelpon.


"Leon baru saja kembali dari Apartemen Jesika." Ucap Fandy mengakhiri panggilan.


"Fan, jangan-jangan dugaan kita benar." Ucap Feny yang pergi keluar ruangan meninggalkan Fandy yang kembali menelpon seseorang untuk mengikuti Leon.


Brakk! Suara Gio menjebol dinding yang terbuat dari lapisan gypsum membuat Frans terkejut melihat Gio keluar dari sana.


"Gila!" Umpat Frans yang duduk di atas karpet dengan kedua tangan yang direntangkan diatas lutut dengan kepala mendongak ke Gio.


"Lo yang Gila!" Balas Gio menepis-nepis bahunya dari serpihan gipsum mengotori jasnya. "Kenapa Lo gak baca pesan gue?" Tanya Gio.


"Congratulation kah?" Tanya Frans dengan lesu. Ia sama sekali tak menyentuh pesan lain selain pesan dari Jesika.


"Sandra peri kecilnya,Leon!" Ucap Gio. "Apa Lo tahu?" Tanyanya membuat Frans tercengang sambil bangkit berdiri dari lantai.


"Omong kosong!" Ucap Frans.


"Apa Lo akan tetap meni----"


----Brakkk! Suara kaki Leon menendang pintu ruangan hingga terbuka membuat Gio dan Frans kini melihat kompak kearahnya.


"----Gue pikir Lo gak bakal datang." Sambung Gio melihat Leon melangkah masuk dengan secarik kertas ditangan kirinya. "Baguslah Lo bisa langsung ngo---"


---Bukkk! Suara Leon memukul wajah Frans memotong ucapan Gio.


"Hei bukan begini caranya ngomong,Man!" Seru Gio melihat Frans meringis menyentuh sudut bibirnya yang berdarah.


"Apa Lo tahu kalau Jesika hamil?" Tanya Leon membuat keduanya tercengang.


🍁🍁🍁


Sorry,buat kalian menunggu πŸ₯°


Jangan lupa vote,like dan Coment terbaik kalian yaπŸ™


Thankyou 😘