
Dengan tangan yang masih bergetar Jesika membuka pintunya tanpa mempedulikan Frans yang diam membatu.
"Jes gue belum---"
---Brakkk! Suara pintu yang kembali ditutup Jesika dengan keras. Ia terduduk di balik pintu sambil menutup mulutnya menahan suara isakan yang keluar.
Ini ketiga kalinya Frans merendahkan dirinya selama mereka menjalin hubungan. Sangat jauh berbeda dengan Leon yang memilih untuk menahannya sendiri tanpa menyakiti hatinya yang jelas-jelas menghianatinya.
Samar-samar tangis Jesika terdengar oleh Frans yang tertunduk didepan pintu meratapi dirinya yang selalu merendahkan Jesika. Tak ada yang memintanya menjalin hubungan pada wanita yang pernah mengkhianati kekasihnya.
"Bego!" Umpat Frans mengacak rambutnya mengingat setiap perkataan yang ia lontarkan pada Jesika.
Pagi yang cerah disambut Jesika dengan semangat baru. Ia memulai lembaran baru dengan berhenti berhubungan dengan pria-pria kaya itu.
"Pagi Jes!" Panggil Mona merangkul pundaknya berdiri didepan lift.
"Pagi juga." Sahut Jesika dengan senyum namun mata yang menyipit bekas menagis semalaman tidak bisa ia sembunyikan bahwa ia mengalami halnyang menyedihkan.
"Nih!" Tangan Mona menyodorkan kacamata miliknya. "Jangan sampai orang yang tidak menyukai Lo melihatnya." Sara Mona mengusuk-ngusuk bahu Jesika.
"Makasih Mon." Menerima kacamata dan memakainya.
"Itu kaca gak ada obatnya." Ucap Mona. "Jadi gak usah khawatir." Mengajak Jesika masuk ke lift yang sudah terbuka.
Di waktu bersamaan Frans berada dimobil yang sama dengan Stela menuju kantor. Sebelumnya Stela menahan Frans yang membuat janji akan menjemput Jesika sore itu. Stela mengikuti Jesika sebelumnya dan mendengarkan pembicaraan keduanya ditelpon.
"Frans tolongin gue." Telpon Stela di jam dimana Jesika menunggu kedatangan Frans. "Mobil gue mogok." Alasan Stela yang sengaja menyuruh orang untuk merusak mobilnya dijalan sepi.
"Yaudah Lo bisa telpon Mang Danu kan." Ucap Frans diperjalanan menuju Jesika.
"Frans disini banyak preman." Ucap Stela mencari alasan membuat Frans langsung berbelok kearah keberadaan Stela.
Naasnya sesampai disana Stela malah meminta Frans untuk menemaninya memperbaiki mobilnya.
"Masih lama gak pak?" Tanya Frans pada orang yang sudah disuruh Stela untuk melama-lamakan mobilnya diperbaiki.
"Sekitar dua jam lagi pak." Jawab pria itu sambil melihat kode yang diberikan Stela padanya
"Dua jam lagi ya." Ucap Frans melihat jamnya menunjukkan pukul 20.30.
"Frans gimana kalau kita makan dulu." Tawar Stela melemparkan amplop cokelat berisi duit pada Pria suruhannya. "Disana ada cafe bagus tuh." Menarik berjalan kearah cafe yang membuat Frans tidak bisa menepati janjinya pada Jesika. Dan bukannya minta maaf ia malah mencurigainya dan merendahkan wanitanya itu.
"Frans kok malah berhenti disini!" Ucap Stela pada Frans yang menghentikan mobilnya didepan gedung perusahaan miliknya yang berjarak 50 meter lagi ke perusahaan milik Leon tempat Jesika berada.
"Gue ada meeting." Sahut Frans melepas seatbeltnya. "Lo bisa jalan kaki dari sini atau memesan ojek online." Sarannya degan nada dingin keluar dari mobil dan melemparkan kuncinya pada petugas valet parkir.
Sialan Lo Frans! Umpat Stela dalam hati keluar dari mobil dengan membanting pintunya keras.
****
Siang harinya Sandra melompat kegirangan diranjangnya melihat jadwal perpisahan kelas 12 yang diadakan diluar sekolah. Suara hape Leon berdering ditengah rapat menyita perhatian para kolega termasuk Frans.
"Saya rasa semua udah sesuai dengan schedule." Ucap Leon yang perlahan mengecilkan volume nada deringnya sambil menutup rapat dengan kesimpulan yang telah dirangkum.
"Oke semoga kerja sama ini tidak mengalami kendala." Ucap rekan yang lain memantapkan dan mengakhiri rapat.
"Iya ada apa?" Tanya Leon yang kembali keruangannya sambil melonggarkan dasi dikerah baju.
"Kak Leon lusa Sandra ke puncak." Ucap Sandra yang kini tiduran diranjangnya.
"Oh." Sahut Leon mengecek email Simon terkait rapat tadi.
"Oh doang." Ucap Sandra dengan wajah yang berubah menjadi murung. "Kak Leon gak mau ambil kesempatan ini ketemuan sama Sandra." Jelasnya membuat Leon tersenyum yang kemudian membalas email Simon.
"Puncak ya?" Tanya Leon memastikan yang kemudian mengirim pesan pada Simon. "Berapa hari sayang?" Tanya Leon.
"Alamatnya dimana?" Tanya Leon yang menutup email dan mengirim pesan yang sama pada Simon dan Mona. "Kosongkan jadwal gue lusa."
Tring!
Tring!
Tring! suara tiga pesan masuk.
"Alamatnya udah Sandra kirim kak." Ucap Sandra. "Lusa Kak Leon bisa antar Sandra ke sekolah ya." Pinta Sandra.
"Ya." Jawab Leon membuka pesan dari Sandra lalu membuka pesan Simon dan Mona.
"Berapa hari bos?" Tanya keduanya kompak.
"Tiga harikan sayang?" Tanya Leon pada Sandra sambil mengetik dan mengirimkannya pada Simon dan Mona.
"Iya."
"Mau Gue jemput didepan rumah atau didepan kamar sayang?" Goda Leon pada Sandra.
"Gak boleh!" Tolak Sandra. "Tempat biasa aja." Pintanya yang langsung menutup telpon.
"Dasar!" Ucap Leon melihat Sandra mengakhiri telponnya begitu saja. "Puncak ya?!" Gumam Leon yang tak sabar menunggu lusa. Ia meraih jasnya dan pergi meninggalkan ruangan dengan wajah bahagia.
Sementara itu Frans berhenti dilantai tempat Jesika berada. Ia melihat Jesika dengan rambut tergerai dan kacamata di matanya yang fokus ke layar monitor.
"Jes!" Panggil rekanya membuat wajahnya berpaling dari layar. Ia melihat sekilas Frans yang langsung berbalik badan menghindar dari Jesika.
"Brukk!" Suara dokumen Mona jatuh kelantai yang tak sengaja ditabrak oleh Frans.
"Maaf." Ucap Frans membantu Mona mengambil dokumen dilantai membuat Jesika yang mengenali suara itu langsung bangkit melihat keluar.
Frans?Apa yang dia lakukan disini. Batin Jesika berdiri di pinggir pintu yang kemudian dengan sengaja Stela menabraknya.
"AW!" Desis Jesika yang tersungkur jatuh didepan Frans.
"Ya ampun Jesika!" Seru Stela yang membuat Frans melihat lutut Jesika memerah.
"Jes Lo gak pa-pa kan?!" Tanya Mona membantunya berdiri.
"Gak pa-pa." Jawab Jesika mengusap lututnya sambil berdiri begitu juga Frans bangkit berdiri memberikan dokumen pada Mona.
"Frans mau makan siang dimana?" Tanya Stela yang merangkul tangan Frans didepan Jesika dan lainnya.
"Cie Stela." Goda yang lain melihat Stela yang biasanya acuh tak acuh pada Frans yang mengejarnya sejak dulu. Tidak heran karna semua rekan kerja Jesika dan Stela memang tahu bagaimana hubungan mereka selama ini.
"Apasih kalian." Sahut Stela yang melihat Jesika yang begitu menyedihkan.
"Ini dokumennya." Ucap Frans melihat mata Jesika menyipit dari sela-sela kacamatanya.
Apa dia menangis semalaman karna omongan gue. Batin Frans tak sanggup melihatnya.
"Makasih Pak Frans." Ucap Mona menerima dokumen dari tangan Frans yang menjauhkan pandangannya dari Jesika yang meringis.
"Frans gimana kalau kita makan di tempat yang kemaren." Ucap Stela menarik Frans pergi. "Oh iya tadi malam makanan di cafe itu enak banget ya." Tegas Stela sengaja mengatakannya didepan Jesika. "Lain kali kita kesana lagi ya." Tambah Stela memperluas ruang sakit di hati Jesika mendengarnya.
Sakit yang tak berdarah.
πππ
Jangan lupa untuk Vote,Gift,like dan komen untuk dukung authorπππ