Unboxing

Unboxing
18. Berubah



Frans masuk kedalam apartemen kecil yang luasnya lebih besar dari kamar di apartemen miliknya. Sebelah kanan terdapat kamar dan untuk kiri terdapat meja makan yang dibelakangnya ada dapur mini untuk memasak. Ia melangkah maju mendapati ruang bebas yang hanya memilik satu sofa yang muat hanya untuk dua orang. Lalu didepannya ada pintu yang mengarah ke balkon kecil tempat mengeringkan pakaian selebar 1 meter.


"Lo mau makan malam disini?" Tanya Jesika keluar dari kamarnya dengan mengenakan kaos yang menutupi hingga setengah pahanya.


"Boleh." Balas Frans mengiyakan disertai dengan senyum.


Selagi Jesika menyiapkan makan malam Frans pelan-pelan memperhatikan benda-benda yang ada disekitaran TV. Ia menemukan foto Leon dan Jesika. Lalu disebelah foto itu ada foto lain.


Frans mengambil foto itu dan mendapati ada Jesika bersama biarawati dan anak-anak. Foto itu diambil didepan Panti asuhan St Theresia yang tertulis dalam foto. Ia juga melihat bingkai yang lain terpajang dengan foto dan baju yang berbeda dengan lokasi tempat yang sama.


"Gue cuma ada ini doang untuk dimasak." Ucap Jesika menyajikan tempe kentang sambal dan buncis tumis sosis.


"Enak." Puji Frans menikmati masakan Jesika yang duduk dihadapannya.


"Lain kali gue traktir makan enak diluar ya." Balas Jesika menuangkan air hangat digelaa Frans.


"Gue lebih suka masakan begini." Menatap Jesika yang sekrang menunduk mengaduk-aduk makanannya sambil senyum-senyum.


"Kenapa Lo senyum-senyum?" Tanya Frans. "Senang ya gue puji masakannya." Ucap Frans kepedean.


"Semakin kesini gue jadi yakin." Melihat Frans.


"Yakin kalau gue lebih mendingan dari Leon." Ucap Frans.


"Bukan!" Balas Jesika.


"Apa dong?!"


"Gue yakin banget kalau Lo sama Leon itu saudara kembar." Jawab Jesika mengigit halus sendok dimulutnya menatap Frans.


"Apa dia juga ngomong hal yang sama?" Tanya Frans dibalas anggukan dari Jesika. Lalu dilanjutkan dengan balasan tawa kecil dan saling berebut menyuapi satu sama lain.


Tak terasa makanan yang Jesika masak habis tanpa sisa. Sudah beberapa hari ini dirinya tidak berselera untuk makan. Bahkan apa yang ia masak selalu berakhir ke tempat sampah.


Perasaan bersalah terhadap Leon dan juga Frans selalu menghantuinya ditambah lagi dengan minggu-minggu ini Leon jauh lebih dingin dari sebelumnya.


Brakk! Suara Jesika membuka kulkas. Ia mengambil sebotol air mineral dan meneguknya dengan cepat. Matanya kemudian melirik pada Frans yang duduk disofa membelakanginya.


Entah apa yang gue lakukan dengannya disini. Batin Jesika.


****


Jesika mengeluarkan mangga yang sudah dipotong dadu dari kulkas. Ia duduk disebelah Frans memberikan garpu pada pria itu sembari menawarkan buah itu padanya.


"Lo mau buat gue betah disini ya." Menusuk mangga.


"Santai aja di sini sempit Lo gak akan betah disini ." Balas Jesika.


"Jes."


"Apa?"


"Lo suka pergi ke kegiatan amal begitu ya?" Tanya Frans menanyakan foto Jesika bersama anak panti asuhan.


"Enggak." Jawab Jesika memakan mangganya.


"Terus Foto-foto Lo yang lagi sama anak-anak panti itu dalam rangka apa?" Tanya Frans menujuk keberadaan foto yang sebelumnya ia lihat.


"Oh..itu foto keluarga gue." Jawab Jesika membuat Frans tercengang. Ada perasaan bersalah dan juga terkejut mengetahui Jesika sama seperti anak-anak yang ada dalam foto. "Biarawati itu orangtua gue dan anak-anak didalam foto itu adek-adek gue." Tambah Jesika menjelaskan.


"Jes,gue---"


"Gak pa-pa." Menyuap Mangga ke mulut Frans. Ia melihat Frans dengan ekspresi bersalah. "Lain kali gue ajak Lo kesana." Meletakkan piring buahnya dimeja.


"Gue minta maaf ya." Ucap Frans.


"Ya ampun Frans gak pa-pa kali." Balas Jesika melap bibir pria itu dengan tissue.


"Dia tahu jauh sebelum kita pacaran." Jawab Jesika.


Malam itu Jesika menceritakan dirinya yang merupakan anak yatim piatu yang tumbuh di panti asuhan yang ada dalam foto. Jesika dapat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi juga berkat beasiswa penuh yang ia terima.


Sejak kuliah Jesika sudah tidak tinggal di panti asuhan lagi. Ia memilih untuk hidup sendiri agar bisa bekerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan dirinya tampa membebani panti asuhan.


Jesika bekerja sebagai kasir di minimarket untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan keperluan kuliahnya. Jika ada waktu luang ia datang berkunjung ke panti membantu biarawati mengurus anak-anak.


Lulus kuliah ia mulai mencari pekerjaan yang menjadi awal pertemuannya dengan Leon. Jesika yang waktu itu mengikuti jobfair yang diadakan disebuah gedung yang menghadiri beberapa perusahaan-perusahaan ternama didalamnya.


Jesika yang hendak memberikan CV-nya tiba-tiba seperti diabaikan oleh Pihak yang bertugas dan membiarkan amplop cokelat itu jatuh begitu saja. Leon yang datang untuk melakukan pengecekan kebagian tim perusahaannya yang kebetulan ambil bagian untuk merekrut karyawan baru tanpa sengaja melihat kejadian itu. Leon pun meraih amplop itu dari lantai yang penuh desakan banyak orang.


"Maaf pak itu milik saya." Ucap Jesika meminta dengan sopan amplop ditangan Leon.


Leon pun mengarahkan Jesika untuk memasukan CV-nya ke tim mereka.Sejak hari itulah hubungan diantara keduanya terjalin.


Leon sangat kagum dengan kemandirian Jesika menjalani hidupnya. Selain mandiri Jesika tidak mau menerima uang Leon seperti wanita pada umumnya ketika mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Leon pernah menawarkan Apartemen seperti miliknya untuk Ia tinggali. Namun, Jesika lebih memilih sebuah Apartemen kecil yang sekarang ia tempati. Itupun Leon dengan susah payah mendesak Jesika untuk menerimanya. Leon tidak tega melihat Jesika yang tinggal di kosan yang letaknya berada di gang sempit dan gelap.


"Itu yang buat gue jatuh cinta sama dia." Ucap Jesika melihat ke Frans yang mendengarkan ceritanya. "Dan gue pikir dia ngerasain hal yang sama." Sambung Jesika.


"Maksud Lo?!" Tanya Frans.


"Dia hanya kasihan sama gue." Menghela nafas panjang. "Harusnya gue sadar lebih awal."


Sadar bahwa semua orang sama saja. Selalu memandang gue seperti itu. Meskipun gue udah gak tinggal disana.Batin Jesika.


"Mata yang melihat ke gue itu bukan mata orang yang sedang jatuh cinta." Melihat ke Frans yang menatap dirinya persis dengan cara Leon menatapnya selama ini.


"Frans." Panggil Jesika.


"Ya?" Sahut Frans.


"Jangan lihat gue dengan tatapan begitu." Memeluk kedua lututnya.


"Kenapa Jes?!"


"Gue gak suka." Menyembunyikan wajah pada lututnya.


Tatapan kasihan orang-orang yang ia lihat sejak kecil. Pandangan orang yang mengasihaninya disekolah karna ia tumbuh tanpa orangtua. Terlahir untuk ditinggalkan. Tumbuh dipanti asuhan hingga besar karna tak ada yang menginginkan. Itulah yang yang ada dipikiran Jesika. Namun ia tak pernah merasa minder dengan apa yang ia miliki.


Ia hanya tak ingin memperoleh kasih sayang hanya karna mereka menganggap dia seperti itu. Simpati semata.


"Gak semua tatapan yang Lo lihat adalah tatapan kasihan karna Lo tumbuh ditempat." itu." Mengangkat wajah Jesika.


"Lalu karna apa?" Tanya Jesika.


"Kagum!" Jawab Frans. "Gue kagum sama Lo. Tadinya gue pikir Lo sama kayak Stela. Putri dari keluarga kaya yang manja." Jawab Frans menangkup wajah Jesika.


"Benarkah?"


"Lo gak lihat tampang terkejut gue pas tahu kebenarannya." Jawab Frans menjelaskan.


"Kalau gitu lo harus bersikap seperti biasanya ya." Pinta Jesika.


"Maksudnya?"


"Gak boleh berubah."


"Berubah seperti apa?!"


"Intinya Lo gak boleh merubah sikap Lo kegue."


"Oh itu."


Bisa aja Jes tapi gue gak yakin kalau dengan perasaan. Kamu juga pasti tahu perasaan bisa aja berubah. batin Frans mengusap pipi Jesika.