Unboxing

Unboxing
105. Everything



"Makasih Frans." Ucap Jesika berdiri didepan pintunya.


"Makasih untuk apa?" Tanya Frans yang berusaha masuk kedalam namun dihalangi oleh tangan Jesika.


"Buat malam ini." Jawab Jesika yang kini menggunakan tubuhnya menghalangi Frans masuk kedalam.


"Apa gue gak diterima disini?" Tanya Frans melihat Jesika menolaknya bergabung malam ini dengannya.


"Bukan." Jawab Jesika.


"Kalau begitu biarkan gue masuk." Ucapnya menerobos masuk kedalam.


Frans kemudian melangkah masuk ke kamar dan meletakkan jasnya dimeja. Sebuah test pact bertanda positif tergelatak disana.


"Apa Lo hamil?" Tanya Frans mengambil test pack yang tergeletak di atas meja riasnya.


"Bukan." Jawab Jesika segera merampas test pact dari tangan Frans dan melemparkannya ke tong sampah yang ada dibelakangnya. "Itu punya salah satu teman yang gue temui hari ini." Berbalik badan memasukkan surat keterangan hamil kedalam laci.


"Kenapa Lo kelihatan panik gitu Jes?" Tanya Frans memeluk Jesika dari belakang dan memandang pantulan mereka dalam cermin. "Gue gak keberatan jika itu punya Lo." Ucap Frans mengecup leher Jesika dengan lembut. "Gue bakal tanggung jawab." Tambahnya membuat Jesika memutar tubuhnya menghadap Frans.


"Itu bukan punya gue." Ucapnya mendorong Frans dari depannya. "Lo gak pulang?" Tanya Jesika mengalihkan pembicaraan sambil membuka lemarinya.


"Gue mau disini nemanin Lo." Jawab Frans melepas pakaiannya sambil memperhatikan Jesika yang satu persatu menanggalkan pakaiannya hingga hanya tertinggal g-string dan bra ditubuhnya.


"Gue bukan anak kecil yang perlu Lo temanin." Balas Jesika memakai gaun tidurnya.


"Tapi orang bilang tak baik meninggalkan wanita hamil sendirian dimakan hari." Ucap Frans.


"Harus berapa kali gue bilang." Ucap Jesika berbalik badan. "Itu bukan punya gue!" Tegasnya.


"Hanya bercanda." Ucap Frans menghamburkan dirinya memeluk Jesika. "Kenapa Lo sampai segitunya,Hm?" Tanya Frans mengusap punggung Jesika.


Lo terlihat sensitif,Jes. Apa Lo benaran hamil. Batin Frans menggendong Jesika ke ranjang. Sementara itu Gio yang menyaksikan Stela mual lagi dan lagi memaksanya untuk melakukan pemeriksaan.


"Gio!" Bentak Stela didalam mobil. "Lo gila ya! " Umpatnya pada Gio yang membawa Stela ke rumah sakit.


"Kita harus cek kondisi Lo sekarang juga." Sahut Gio.


"Ini udah malam." Ucap Stela. "Gue capek! Gue mau istirahat!" Serunya pada Gio yang terus fokus menyetir disampingnya.


"Iya gue tahu." Balas Gio. "Setelah pemeriksaan Lo bisa tidur diruangan gue,Hm!" Ucapnya menenangkan Stela yang marah sejadi-jadinya.


"Terserah Lo deh!" Ucap Stela pasrah. Ia benar-benar merasa capek hingga membuatnya tidur sesampai mereka di rumah sakit.


Gio menggendongnya keluar dari mobil dan membawanya masuk ke dalam ruangan. Mumpung Rahel sebelumnya telah bertukar shift dengannya. Ia membaringkan Stela diranjang miliknya yang berada dibelakang meja kerjanya.


"Sus,gue gantiin shift Dokter Rahel ya." Ucapnya di meja administrasi usai kembali dari luar dengan berbagai kebutuhan Stela di ruangannya.


"Gue gak nyangka Dokter Gio playboy juga kayak dua temannya itu." Ucap para perawat yang mulai bergosip ria setelah melihat Gio menggendong Stela sebelumnya kedalam ruangan.


****


Sandra menarik tissu dari depannya sambil melihat keatas. Ia membersihkan bibirnya sambil melirik kecil kearah tangga mencari keberadaan Leon.


Fyuh! Hela nafasnya pelan dengan menekuk wajahnya kebawah.


"Sandra." Panggil Adit pada Sandra yang kini menapaki anak tangga seusai menyelesaikan makan malamnya.


"Iya pah." Sahut Sandra berhenti menoleh ke Adit dan Rosa.


"Kita belum selesai bicara mengenai---"


"---Pernikahan." Potong Sandra.


"Ya." Jawab Adit dan Rosa kompak.


"Bukannya tadi udah." Ucapnya yang kini hanya memikirkan perasaan Leon. Ia bahkan tak tahu apa Leon pergi begitu saja setelah mendengar pernikahan dirinya dan Frans.


"Itu hanya beberapa sayang." Sahut Rosa.


"Apa masih ada hal lain yang harus dibicarakan denganku selain tanggal pernikahan?" Tanya Sandra. "Bukannya sudah lebih dari cukup dengan Aku berdiri ditanggal yang ditetapkan untuk menggantikan Kak Stela." Jelas Sandra yang membuat Rosa dan Adit membatu. Begitu juga dengan Leon yang masih berdiri didepan pintu kamar Sandra.


"----Apa kak Frans tahu?" Tanya Sandra memotong ucapan Adit.


"Om Fan---"


"---Ya! Frans tahu." Potong Rosa mendahului Adit menjawab pertanyaan Sandra. Leon yang sebelumnya berdiri didepan pintu Sandra memilih masuk kedalam. Ia tidak ingin mendengar kelanjutan pembicaraan Sandra dengan orang tuannya.


"Mah." Desis Adit melihat ke Rosa yang tiba-tiba berdiri dari kursinya menghindar dari Adit.


"Apa Kak Frans setuju?" Tanya Sandra tak percaya karna Frans berjanji padanya akan merebut hati Kak Stela sebelum harikelulusannya tiba.


"Ya." Sahut Rosa melangkah menghampiri Sandra. "Dari awal Frans sudah menetapkannya bukan." Sambungnya yang kini berdiri dihadapan Sandra. "Kamu juga ada disana saat itu."


"Oke. Sandra ngerti." Sahut Sandra berbalik badan menapaki anak tangga.


"Sandra." Panggil Rosa namun Sandra tak menghiraukan panggilan itu dan malah meneruskan langkahnya menuju kamar.


Brakkk! Suara Sandra menutup pintu kamarnya dengan kencang. Ia kemudian terduduk dilantai bersandar dibalik pintu.


"Bagaimana mungkin Kak Frans setuju?" Tanyanya pada dirinya dengan wajah yang ia tenggelamkan pada kedua lututnya.


"Haruskah gue mengucapkan selamat." Ucap Leon yang bersandar dijendela dengan kedua tangan dilipat didada.


"Kak Leon." Ucap Sandra melihat Leon yang ternyata masih berada didalam kamarnya. "Kak Leon dengar?" Tanyanya yang dibalas anggukan oleh Leon.


"Lo yakin Frans tahu tentang ini?" Tanya Leon mendekat pada Sandra yang duduk bersandar dibalik pintu.


"Sandra gak tahu kak." Jawab Sandra kembali menyembunyikan wajahnya pada kedua lututnya. "Kak Leon,Sandra minta maaf." Desisnya pelan.


"Minta maaf kenapa?" Tanya Leon yang kini menyandarkan kepalannya dipintu. "Apa Lo buat salah?" Tanyanya melihat ke langit-langit kamar.


"Sandra sama aja kayak kak Rahel dan Kak Jesika,bukan?" Tanya Sandra mengangkat wajahnya dan meletakkan dagunya diatas lututnya.


"Gak sama sekali." Jawab Leon melihat ke Sandra yang juga menghadapkan wajahnya kearah Leon.


"Minggu depan Sandra bakal nikah sama Kak Frans." Ucapnya. "Bukannya itu sama aja dengan menghianatin Kak Leon." Jelasnya yang dibalas gelengan kepala oleh Leon. "Kak Leon..." Panggil Sandra sambil mengangkat kepalanya. "Lakukan sesuatu." Pintanya pada Leon.


"Sepertinya Frans menyukai Jesika." Ucap Leon.


"Lalu?" Tanya Sandra.


"Frans gak bakal nikah sama lo."


"Kak Leon yakin?" Tanya Sandra yang meragukan Frans.


"Hei, Gue lebih kenal Frans daripada Lo." Ucap Leon mencubit hidung Sandra.


"Sandra sih gak yakin." Cibir Sandra.


"Kenapa?"


"CK,Kak Frans itu punya beragam jenis wanita Kak."Menunjuk dada Leon dengan telunjuknya. "Kak Jesika hanya salah satu dari mereka." Melirik ke Leon.


"Dan yang paling spesial dari semua." Balas Leon meraih telunjuk Sandra yang mengenai dadanya.


"Oh! kayak kak Leon ke Peri kecilnya ya?" Tanya Sandra.


"Enggak." Jawab Leon.


"Terus kalau gak spesial apa dong?"


Everything. Jawab Leon dalam hati sambil mencium Sandra yang penasaran akan jawabannya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Berikan Vote,like dan Coment untuk dukung Author hehehe


love youโค๏ธโค๏ธโค๏ธ