
Satu persatu kancing baju Sandra terlepas hingga memberi jalan untuk tangan Leon masuk meremas gundukan yang masih terbungkus.
Perlahan jemari itu masuk meraba kedalam dan memainkan jarinya pada sesuatu yang telah mengeras sejak tadi.
"Ahh!" ******* terlepas serentak dengan sentilan kecil dan bibir Leon yang turun mengecup lehernya.
******* kembali terdengar dengan tubuh Sandra yang kini menggeliat ketika kedua tangan Leon menarik keduanya secara bersamaan.
"Ahh,Kak Leon." Desis Sandra meremas bahu Leon dan mencoba mendorongnya.
"Iya sayang." Sahut Leon masih memainkannya dengan jarinya yang terus membuat Sandra menggeliat.
"Kak Leon." Panggilnya kini sambil meraih tangan Leon dari tubuhnya. "Jangan lagi." Pinta Sandra dengan memelas.
"Kenapa?" Tanya Leon.
"Kak ini dibasement." Ucap Sandra.
"Kaca mobilnya gue buramin deh." Ucap Leon yang tak terima Sandra menghentikan gairahnya seketika dengan menekan salah satu tombol disisinya sambil menyeruak kepalanya ke leher Sandra.
"Lanjut dikamar aja ya." Tolak Sandra mendorong Leon yang bibirnya belum sempat menyentuh leher Sandra. "Lagian Sandra bau keringat begini." Ucapnya menangkup wajah Leon.
"Coba Gue cek." Balas Leon kembali menyeruak masuk mengendus dan mencium tulang selangka milik Sandra. "Hmm, harum." Desisnya.
"Mana ada." Ucap Sandra yang kemudian mendapat gigitan halus dari Leon yang membuatnya mencubit pipi Leon sampe memerah.
Leon duduk ditepi ranjangnya sambil mengusap pipi yang memerah. Sementara Sandra duduk disofa menghadap ke Leon. Ia duduk dengan tangan yang terlipat didada dan kaki yang menyilang disertai omelan yang belum selesai.
"Maaf." Ucap Leon masih mengusap pipinya.
"Kalau bekasnya kelihatan sama teman sekolah Sandra gimana?" Tanya Sandra yang sejak tadi mempermasalahkan gigitan Leon.
"Lo gak jadi mandi?" Jawab Leon balik bertanya mendekati Sandra yang masih memayunkan bibirnya.
"Enggak!" Jawab Sandra yang masih kesal.
"Gak ada bekasnya kok sayang." Bujuk Leon menyibak rambut Sandra keatas memeriksa area yang ia gigit sebelumnya.
"Benaran?" Tanya Sandra meraba area lehernya.
"Kalau gak percaya ayo kedepan cermin." Ajak Leon meraih tangan Sandra membawanya kedepan cermin. "Ada gak?" Tanya Leon menyisi rambutnya kebelakang agar mempermudah Sandra melihat kondisi sekujur area lehernya.
"Gak boleh!" Ucap Sandra menahan tangan Leon yang melepas kancing atas bajunya.
"Gue cuma mau bantu Lo memeriksa." Ucap Leon yang melanjutakan jarinya melepas dua kancing atas. "Gak ada kan." Ucap Leon menarik sisi kerah baju memperlihatkan tak ada bekas apapun yang ia tinggalkan.
"Maafin Sandra ya kak." Ucap Sandra terpantul dicermin.
"Iya." Sahut Leon meletakkan dagunya diatas kepala Sandra diteruskan dengan melingkarkan tangannya dipinggang Sandra.
"Pipinya sakit ya?" Tanya Sandra. "Mau Sandra obatin gak?" Tanya Sandra mendongak ke Leon.
"Mandi bareng gimana?" Tawar Leon yang mendapat cubitan dipipi lagi dari Sandra yang menjinjit saat meraihnya.
"AW!" Desis Leon menggenggam kedua pergelangan tangan Sandra yang belum melepaskan tangannya dari pipi Leon. Tak ingin melihat Sandra kesulitan meraihnya Leon memilih mendekatkan wajahnya dan mengambil kesempatan meraup bibir Sandra yang membuatnya candu.
****
Suara nada panggilan dari Frans kembali terdengar dimeja makan apartemen kecil. Namun suara itu tertutup oleh tangisan Jesika yang mengurung diri dikamar dengan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Sudah terlambat untuk baginya kembali ke sisi Leon. Usahanya menjauh dari Frans selama satu bulan dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi pada mereka sia-sia sudah.
Frans terus menghubungi Jesika sambil memeriksa siapa wanita yang bersama Leon.
"Sial!" Umpat Frans tidak menemukan apapun lagi dimobil Leon.
Tak!Tak!Tak! Suara langkah kaki berjalan kearah Frans yang hendak membuka mobilnya.
"Frans!" Panggil suara wanita berhenti didepan mobil sebelah mobil Frans terparkir.
"Stela!" Ucap Frans menoleh terkejut melihat Stela berdiri disana.
"Lo mau kemana malam begini?" Tanya Stela berjalan mendekati Frans dengan pintu mobil yang sedikit terbuka.
"Ada berkas penting tinggal dikantor." Jawabnya berbohong.
"Bohong." Ucap Stela.
Satu bulan berlalu Stela memperhatikan Frans tidak pernah bisa melepas pandangannya barang sedetikpun dari Jesika. Awalnya ia menyangka Frans melakukan itu karna mereka habis bertengkar.
"Frans,Lo masih marah sama gue?" Tanya Stela sebelumnya dihari pertama ia berpisah dengan Jesika.
"Enggak." Ucap Frans yang menatap sendu Jesika yang duduk dibelakang Jesika membuat keduannya saling berhadapan. Namun Jesika selalu memalingkan matanya darinya dan bersikap mesra dengan rekan laki-laki disebelahnya.
"Kalau gitu lo udah pikir tanggal pernikahan kalian kan." Ucap Stela yang menyinggung topik yang membuat keduanya sebelumnya berantam hebat hingga membuat Frans menyeret Sandra ke perjamuan dan memberitahu ke publik Sandra adalah tunangannya. "Jadi gak usah ada acara pertunangan." Ucap Stela yang sangat menikmati makan siangnya. "Nikah aja udah." Sambungnya lagi membuat Frans menyadari satu hal.
"Heh!" Ejek Frans dengan memberikan senyum tipis pada Stela yang melihatnya.
"Gue tahu Lo bakal menuruti maunya gue." Ucap Stela membersihkan ujung bibir Frans dengan ibu jarinya.
Kali ini Lo salah Stela. Batin Frans menatap Jesika yang kini menekuk wajahnya sambil melipat bibirnya.
"Frans!" Panggil Stela ketika suatu siang menemuinya diloby kantor.
"Jesika mana?" Tanya Frans yang kini berbalik memanfaatkan Stela untuk dirinya bisa melihat Jesika lebih dekat.
"Dia bilang gak mau ganggu kita." Jawab Stela menarik tangan Frans membawanya ke cafetaria perusahaan.
Frans kemudian mengambil pesanannya dan membawanya kemeja tempat Stela duduk. Namun matanya selalu mencari-cari keberadaan Jesika. Hingga Stela merasa Frans selalu membawanya makan ditempat Jesika berada.
"Lo kok sampe segitunya lihat Jesika." Cibir Stela membuat Frans menyemburkan makanan yang dimulutnya.
Apasih yang bagus dari wanita kayak Jesika itu. Batin Stela kesal mencabik-cabik makanya dengan garpu.
Rasa kesal Stela tidak juga membuat Frans berhenti. Ia malah melewatkan makan siang dengan Stela dan pergi mengekori Jesika berada.
"Lo mau ke Apartemen Jesikakan." Ucap Stela menekan pintu mobil hingga tertutup kembali.
"Kalau iya kenapa?" Tanya Frans.
"Gak pa-pa." Jawab Stela. "Gue cuma mau Lo ingat kalo Lo tuh---."
"---Tunangan Adik lo. Begitukan mau Lo?!" Potong Frans. "Oh bukan tunangan. tapi bakal nikah dengannya." Ucap Frans. "Dan itu semua kemauan Lo. Iya kan?!"
"Iya." Ucap Stela.
"Lo lakuin semua itu agar gue gak bisa milikin Lo kan." Ucap Frans.
"Iyaa. Gue mau Lo bersama wanita lain. Karna gue---"
"---Gue udah nyerah buat ngejar Lo." Potong Frans membuka kembali pintu mobilnya.
"Jesika pacar Leon!" Ucap Stela.
"Gue gak peduli Jesika pacar siapa." Ucap Frans masuk kemobilnya tanpa mempedulikan Stela.
Sekarang yang ku mau hanya dia. Batin Frans melaju pergi menyusul Jesika.