Unboxing

Unboxing
98. Saingan



"CK!" Decak Stela berbalik badan mengabaikan Frans yang kini pergi menyusul Jesika. "Giorgino Saputra." Ucapnya dengan penghafalan yang jelas membuat Mona yang kebetulan lewat mendekatkan kupingnya. "Mungkin dia tahu sesuatu!" Menggit ujung kukunya sambil berpikir membuat Mona menyenggol bahunya dengan sengaja. "Siapa yang---" ucapnya terjeda melihat Mona berdiri didepannya. "---Elo ternyata!" Sambung Stela menepis bahunya yang ditabrak Mona sebelumnya.


"Pria mana lagi tuh." Cibir Mona pada Stela yang selama ini mengemis cinta Bosnya.


"Kebetulan banget ada Lo." Meraih tangan Mona. "Tolong keluarin cuti setengah hari buat gue ya?!" Pintanya dengan lembut. "Diam berarti oke." Mengacak rambut Mona. "Thank you." Pergi meninggalkan Mona yang kini berbalik badan melihat kepergian Stela dari pandangannya.


"Mon!" Panggil Frans yang datang menghampirinya bersama Jesika. "Dia mau kemana?" Tanyanya.


"I don't know sir!" Jawab Mona meninggalkan keduanya dengan menggelengkan kepala.


Sementara itu Leon memarkirkan mobilnya di luar pagar kediaman Winata. Ia mencoba menelpon balik Nadin sambil menunggu keadaan sepi untuk masuk menemui Sandra.


"Mama mau ngomong apa sih?" Tanya Leon memperhatikan dari dalam mobil sambil menunggu Nadin mengangkat panggilannya. "Kenapa malah gak diangkat juga?" Tanya Leon keluar dari dalam mobil beranjak menuju kediaman Winata.


Diwaktu bersamaan Sandra mondar-mandir di dalam kamar memikirkan hapenya yang saat ini berada dalam genggaman Adit. Adit menyita hapenya karna hingga sampai saat ini Sandra masih bungkam kemana ia pergi selama tiga hari berturut-turut.


"Non Sandra ada tamu!" Teriak Ema dari bawah membuatnya keluar dari kamar.


"Siapa Bi?" Tanyanya menuruni anak tangga menghampiri tamu yang dimaksud Ema.


"Itu Non." Jawab Ema menunjuk dengan wajahnya kearah wanita paruh baya berdiri membelakanginnya.


"Cari siap---" Suara Sandra terputus sesaat wanita itu berbalik badan melihat kearahnya. "---Tante Nadin?" Sambungnya terkejut begitu juga dengan Nadin yang langsung mendekat meraih tangan Sandra.


"Kamu gak kenapa-napa sayang?" Tanya Nadin dengan raut cemas.


"Cuma agak sedikit flu Tan." Jawab Sandra heran. "Tante sama Om ngapain kesini?" Tanya Sandra yang sebelumnya bertemu dengan David dan menanyakan hal yang sama.


"David tadi dari sini?" Tanya Nadin yang dibalas anggukan kecil oleh Sandra. "Ngapain?" Tanya Nadin. "Apa dia melakukan sesuatu padamu?" Tanyanya lagi memerikasa tubuh Sandra.


"Om cuma mau ketemu papah kok Tante." Jawab Sandra bingung melihat sikap Nadin. "Kalau Tante mau ngapain?" Tanya balik.


"Tante mau ketemu sama---."


"--Mamah!" Potong Leon mengakhiri panggilan ke Nadin setibanya di pintu. Ia berdiri didepan pintu melihat Nadin menggenggam tangan Sandra dengan wajah cemas.


"Kak Leon." Ucap Sandra membuat Nadin menoleh kebelakang.


"Mamah ngapain disini?" Tanya Leon menghampiri keduanya.


"Mamah cuma mau ketemu sama Rosa." Jawab Nadin melepas perlahan genggaman tangannya dari Sandra.


"Bohong." Sahut Leon melirik Sandra sebentar kemudian balik melihat ke Nadin. "Mama mau ngomong apa ke Leon?" Tanya Leon menunjukkan hapenya.


"Papa bilang dia mau menyingkirkan gadis---" ucap Nadin terjeda melihat ke Sandra. "---yang ada di foto." Sambungnya berbalik melihat ke Leon.


"Tante tau dari mana kalau gadis didalam foto itu Sandra." Desis Sandra pelan agar tidak didengar oleh Ema yang lalu-lalang disekitar mereka.


****


Di sudut tepian kolam renang dengan minuman dan makanan yang disuguhkan Ema, Nadin menceritakan segalanya kecuali mengenai Sandra adalah peri kecil putranya.


"Oh gitu ceritanya." Ucap Sandra melihat ke Nadin. "Tante." Panggilnya.


"Ya?"


"Apa ada yang masih Sandra gak tahu?" Tanya Sandra membuat Leon yang duduk dibelakang Sandra memberi kode agar Nadin tidak memberitahu bahwa dia adalah peri kecil Leon.


"Gak ada sayang." Jawab Nadin membelai rambut Sandra.


"---Intinya Lo harus waspada sama papah." Potong Leon berjongkok didepan Sandra.


"Oke." Sahut Sandra melihat ke Leon.


"Mengenai Om Adit." Ucap Leon. "Gue yang bakal urus." Lanjutnya. "Gue bakal pastiin identitas Lo gak bakal terekspose dimedia." Menatap dalam ke Sandra tanpa peduli ada Nadin disana.


"Ehem!ehem!" Suara Nadin berdehem membuat Leon memalingkan wajahnya dari Sandra.


Sementara itu Gio menatap layar komputernya sambil melirik kecil ke Rahel yang terlihat mengerutkan keningnya menatap layar komputer didepannya.


"Rahel ada dirumah sakit kakek gue." Ketik Gio yang kemudian mengirimkan pesan untuk Frans.


"Apa Lo sedang memberitahu Frans gue ada disini?" Tanya Rahel membuka folder yang berisi foto Sandra dan Leon yang ia ambil diam-diam selama ini.


"Gue gak punya waktu untuk itu." Jawab Gio mengelak tebakan Rahel. "Sudah berapa lama Lo diindo?" Tanya Gio yang kini mengklik halaman kerjanya menutupi halaman chatt dimonitornya.


"Entah." Jawab Rahel yang kini mengklik foto Sandra yang masuk ke toko tempat Leon dan dirinya sering bertemu. "Gimana hubungan Lo dengan Stela?" Tanya Rahel mengklik Foto Stela yang tak sengaja ia ambil saat Rahel menguntit Leon dan Sandra yang masuk ke Toko menghindar dari Stela.


"Stela siapa?" Balas Gio balik bertanya dengan menghentikan tangannya menggeser mouse.


"Pacar Lo bukan?" Jawab Rahel yang mengambil amplop coklat dari tasnya.


"Bukan." Jawab Gio membuka halaman chatt dimonitornya.


"Sungguhan?" Tanya Rahel menilik Gio dari samping komputernya. "Tapi Lo terlihat begitu peduli dengannya." Lanjut Rahel mengeluarkan Foto-foto Gio yang memapah Stela dibasement Apartemen Leon dan Frans.


"Lo kenal Stela?" Tanya Gio menghentikan jarinya mengerikan pesan.


"Enggak." Jawab Stela yang kemudian menatap Foto Stela yang keluar dari mobil Gio didepan kediaman Winata. "Gue hanya mendengar gosipnya dari beberapa perawat hari ini." sambung Rahel menyimpan kembali Foto-foto itu kedalam lacinya. "Katanya Lo menghabiskan waktu semalam penuh menjaganya." Lanjutnya lagi menutup halaman folder penyimpanan foto-foto dengan senyum merekah.


"Gue hanya melakukan kewajiban sebagai dokter." Balas Gio. "Mereka hanya melebih-lebihkan saja." Membatalkan niatnya mengetik pesan dengan menutup halaman chatt. Di waktu bersamaan Stela memarkirkan mobilnya diparkiran rumah sakit. Sementara Frans yang baru saja selesai dengan rapatnya melangkah masuk ke ruangan sambil membuka pesan dari Gio.


"Apa Leon tahu?" Kirim Frans membalas pesan Gio yang sesaat kemudian terlihat dilayar komputer Gio.


"Ya." Balas Gio yang kemudian menutup halaman chatt dan menonaktifkan komputernya. "Ayo Gue kenalin ke rekan dokter lainnya." Ajak Gio bangkit dari kursinya.


"Okeh." Sahut Rahel menonaktifkan komputernya sambil bangkit dari kursinya dengan senyum dikedua sudut bibirnya.


"Oh my God!" Ucap perawat yang melihat kedatangan Stela dari meja resepsionis menuju ruangan Gio.


"Wah! Bukankah kalian merasa akhir-akhir ini Dokter Gio begitu tampan." Ucap yang lainnya.


"Sus!" Panggil Stela pada Vaya si perawat yang pernah merawatnya bersama Gio sebelumnya.


"Lo manggil gue!" Balas Vaya yang masih kesal dengan Rahel yang menghabiskan waktu bersama dengan Gio diruangan.


"CK!" Decak Stela kesal. "Iya." Ucapnya mendekat dengan senyum terpaksa dibibirnya. "Gio lagi sibuk gak?" Tanya Stela melihat Gio dari jauh keluar dari ruangannya. "Ah Gi---" panggilan Stela terputus sesaat Rahel keluar merangkul lengan Gio disertai senyum dikedua sudut bibirnya.


"Ih kesal!" Ucap Vaya disertai hentakan kaki melihat ke Gio dan Rahel.


"Wanita itu Siapa?" Tanya Stela menatap Gio yang membelakanginya.


"Saingan." Jawab Vaya melihat ke Stela.


🍁🍁🍁


Berikan Vote,Like dan Coment ❀️❀️❀️