Unboxing

Unboxing
32. Gila!



Sudah setengah jam lamanya Gio berdiri didepan pintu kamar menguping Jesika yang bangun dari tidurnya. Sebelumnya saat Gio akan mengangkat panggilan dari Frans tiba-tiba saja Jesika terbangun dengan mata yang masih mengerja-ngerjap. Gio pun mengurungkan niatnya mengangkat panggilan itu dan segera pergi melangkah pelan keluar ruangan. Ia memilih berdiri dari balik pintu yang sedikit terbuka memberi celah untuk suara yang keluar dari dalam ruangan.


Jesika pun duduk diranjang dan meraih hape itu dan melihat panggilan dari Frans. Ia melirik sebentar kesekitar ruangan memastikan tak ada orang lain. Jesika pun menghela nafasnya mengangkat panggilan Frans.


"Lo dimana?" Tanya Frans. "Lo gak kenapa-napakan?" Tanyanya lagi dengan panik membuat Jesika tercengang. "Jes ini Lo kan?" Tanya suara itu lagi membuat Jesika tersenyum.


"Iya." Jawab Jesika. "Ini gue Frans." Sambungnya lagi diteruskan dengan penjelasan Jesika dengan pertanyaan yang dilontarkan Frans yang membuat Gio yang ada dibalik pintu semakin menempelkan kupingnya.


"Leon disana?" Tanya Frans lirih setelah mendengar penjelasan Jesika kenapa dirinya berakhir dirumah sakit.


"Sudah balik pas gue---" ucap Jesika terputus sambil memperhatikan tak ada kunci mobil milik kekasihnya itu disana.


"Gue kesana sekarang ya." Ucap Frans langsung setelah mendengar Leon tidak bersama Jesika. "Lo ada dirumah sakit mana?" Tanya Frans tidak memberikan jeda untuk Jesika memberi tanggapan apa ia mau atau tidak.


Anak ini benar-benar gak ada takutnya. Batin Jesika. Ia kemudian tersenyum dan mengiyakan setelah memberitahu rumah sakit tempat dirinya dirawat. Jesika merasa tersanjung sejak dirinya mendengar suara panik Frans yang mengkhawatirkannya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan perasaan seperti itu dari sahabat kekasihnya itu.


"Istirahat yang banyak." Omel Frans. "ikutin apa yang dokter katakan." Ujar Frans memutar balik mobilnya kearah Rumah sakit.


"Lo juga jangan terburu-buru Frans. Gue udah mendingan kok." Sahut Jesika.


"Gue belum lihat Lo jadi gue gak percaya." Sahut Frans. "Mau makan apa?" Tanya Frans. "Biar gue bawain." Ujar Frans sambil melirik sekali-kali ke restoran yang ia lihat di sepanjang jalan.


"Disini ada banyak makanan kok." Jawab Jesika menolak. Ia tak ingin merepotkan Frans mengingat hubungan keduanya yang seharusnya tidak sampai ditahap sekarang ini.


"Iya tapi makanannya gak enak kan." Bujuk Frans agar Jesika tidak menolak.


"Yaudah bawa yang menurut Lo enak deh." Ucap Jesika.


"Kalau gue bawa Lo makan ya."


"Iya bucin." jawab Jesika disertai tawa kecil. "Hati-hati Gue tutup ya." Ujar Jesika menutup telponnya mengakhiri pembicaraannya. Sementara itu Gio yang masih stay memantau Jesika dari balik pintu hanya bisa mengernyitkan keningnya mendengarkan pembicaraan hangat itu.


Jesika beraninya Lo bermain dibelakang Leon setelah apa yang sahabat gue perbuat demi Lo. Batin Gio perlahan menarik tubuhnya dari pintu.


"Dok!" Panggil perawat yang datang menghampiri Gio yang baru saja berbalik badan hendak melangkah pergi.


"Dokter tampan!" Panggil perawat itu lagi mendekat dengan suara yang kencang.


Mampus. Batin Gio yang melihat ke perawat dan melirik sebentar pada pintu yang masih sedikit menganga.


"Dokter Gi---"


"---Sssstt!" Potong Gio membekap mulut perawat dan membawanya pergi dari depan ruangan Jesika dirawat.


****


Ditempat lain ada Sandra yang baru saja tiba dirumah. Ia masuk begitu saja sambil mengangkut koper kecilnya melewati tangga menuju kamar membuat Bi Ema melihatnya dari bawah. Cepat-cepat Bi Ema kembali ke kamarnya dan meraih hape untuk mengirimkan pesan pada majikannya itu.


Di kamar Sandra mulai membongkar isi kopernya dan mengembalikan mereka pada posisi semula. Ia kemidian membuka laci mejanya mencari buku tabungannya. Namun dan tidak menemukan buku tabungan miliknya itu disana.


"Kok gak ada." Ucap Sandra mengecek kebeberapa laci dan rak yang ada dihadapannya. "Kemana perginya?" Tanyanya lagi menoleh kearah pintu kamar yang belum ia kunci.


Satu jam berlalu Sandra duduk mengeringkan rambutnya sambil melihat ke jam dinding yang menunjukkan pukul 15.30. Ia keluar dari kamar dan turun kebawah melangkah ke dapur dengan perlahan. Beberapa menit kemudian Sandra keluar dari sana dengan membawa nampan berisikan nasi putih yang diatas ada cumi goreng tepung,terong goreng balado,nugget goreng,telur ceplok. Lalu gelas yang berisi jus guava,sebotol air mineral dingin dan beberapa camilan. Ia meletakkan semua itu diatas meja rias sesampainya dikamar.


"Saatnya mengisi perut dan melupakan semuanya." Ucap Sandra menikmati makannya yang penuh lahap. Ketika ia asik menikmati lumuran saos dan rasa didalam mulutnya Sandra dikejukan oleh hapenya yang berdering terletak diranjang yang jauh dari jangkauannya.


Mungkinkah itu Kak Leon. batin Sandra meletakkan buru-buru sendoknya dan membersihkan mulutnya dengan tissue. Ia tersenyum beranjak dari kursi berpindah duduk ditempat tidurnya meraih hape yang masih berderin.


Belum ada hitungan menit senyum yang tadi merekah diwajahnya tiba-tiba hilang sekejb melihat nama yang tertera dilayar hapenya ternyata bukan Leon melainkan Frans.


"Halo Kak." Suara Sandra lesu mengangkat panggilan Frans.


"Lo udah dimana?" Tanya Frans turun dari mobil dengan paper bag makanan ditangan kanannya.


"Aku udah dirumah Kak." Jawab Sandra masih dengan nada tak bersemangat dari telpon.


"Lo gak kenapa-napa kan?" Tanya Frans yang mendengar nada bicara Sandra yang lemas.


"Aku baik----"


"---Wiuww....wiuwww...wiuwww." suara ambulans lewat membuat Sandra terdiam sejenak.


"Kak itu bukanny---"


"---Iya itu ambulans. Gue lagi di rumah sakit." Potong Frans sambil berjalan kearah pintu utama.


"Kakak kenapa?" Tanya Sandra kembali duduk di kursinya sambil mencocol cumi kedalam saus dipiringnya.


"Gak kenapa-napa." Jawab Frans melangkah masuk lift menuju lantai kamar VVIP.


"jangan-jangan mama masuk rumah sakit ya.'' Ujar Sandra berhenti menenggelamkan cuminya kedalam saus.


"Bukan."


"Tante Feny bukan?"


"Bukan juga." Jawab Frans keluar lift.


"Kak Stela?" Tanya Sandra.


"Bukan." Jawab Frans berjalan dilorong menuju kamar Jesika.


"Lalu siapa yang buat Kak Frans sampe ke Rumah sakit diawal tahun begini?" Tanya Sandra dari telpon.


"Jesika." Jawab Frans berhenti didepan pintu kamar Jesika. "Dia sakit." Sambung Frans sambil memperhatikan seorang dengan jas putih keluar dari ruangan Jesika membuat mata keduanya saling melihat satu sama lain.


"Frans, Lo nga----". Ucapan Gio terputus memdapati Frans yang menelpon Jesika tidak lain adalah Fransroso yang ia kenal. Baru beberapa jam lalu ia berharap Frans yang menelpon Jesika itu adalah Frans yang lain.


"Gio...Gue bisa jelasin." Ucap Frans mematikan panggilannya begitu saja dengan Sandra.


"Gila!" Umpat Gio terduduk dikursi depan ruangan. "Frans Lo Gila!" Umpat Gio lagi menatap Frans yang diam tertunduk seribu bahasa berdiri didepannya.