Unboxing

Unboxing
49. Aku Benci Diriku



Stela melepaskan pelukannya dan berdiri disamping Leon dengan wajah yang menyombongkan diri pada Jesika yang berjalan mendekat.


"Auristela." Panggil Leon.


"Just Stela." Sahut Stela yang masih menyombongkan diri didepan Jesika.


"Oke Stela!" Leon mengiyakan. "Kamu sudah bisa pergi." Perintah Leon.


"Baik Pak." Ucap Stela disertai jarinya yang ia turunkan kearah ujung roknya memberi kode pada Leon untuk menepati janjinya yang ia sepakati sebelum Jesika muncul mengacaukannya.


Leon berdehem mengiyakan permintaan Stela yang datang malam ini untuk memuaskannya diranjang yang ada dikamar sebelah ruangannya.


Setengah jam sebelum kedatangan Jesika keruangan Leon. Pria 28 tahun itu tidak menyembunyikan kemunafikan dalam dirinya. Stela bukanlah karyawati pertama yang bernaung diperusahaan milik David yang memberikan tubuhnya secara gratis untuk ia eksekusi.


Tak ada perlakuan khusus untuk wanita yang memberi tanpa diminta Dimata Leon. Ia normal seperti yang lain. Untuk itu ia meladeni kenakalan Stela dengan membuat wanita itu terengah-engah dengan jari nakalnya yang menari hingga menyeruak masuk melewati penutup kain sutra yang berenda.


Tubuh Stela bergetar dipangkuan Leon. Ia terkulai dengan lemas menerima kenikmatan sesaat yang diberikan Leon.


"Gue sebenarnya tahu hubungan Lo dengan Leon." Desis Stela ketika melewati Jesika yang berdiri terpaku melihat kekasihnya bersama rekan kerja yang ia percaya selama ini.


"Brakk!" Suara hape Jesika jatuh kelantai mendengarkan ucapan Stela yang hanya bisa didengar olehnya.


Senyum sinis membentang diwajah Stela membuka pintu meninggalkan Jesika yang telah dipermainkan olehnya selama ini.


"Jesika." Panggil Leon yang menarik tissue membersihkan tangannya yang kotor dan melemparkannya ke tempat sampah.


"Jesika apakah Lo hanya akan berdiri saja disana?" Tanya Leon yang melihat kekasihnya itu berdiri dengan tatapan kosong.


"Kalau Lo mau marah." Ucap Leon. "Marah saja." Pintanya yang tak menduga Jesika akan menyaksikan wanita lain berada di pangkuannya lagi.


Terakhir Jesika melihat Wanita lain berada di pangkuannya masa dimana Pria itu memutuskan untuk serius padanya. Tahun pertama hubungan mereka,Leon masih belum bisa menerima Jesika satu-satunya wanita yang bisa memuaskannya.


Anniversary satu tahun hubungan mereka,Leon akhirnya berjanji tidak akan membuat Jesika melihat dirinya memangku wanita lain.


Hari ini Jesika kembali melihatnya. Namun ia tidak memliki hak untuk marah mengingat bagaimana kotornya dia sekarang.


"Jes!" Panggil Leon.


Mungkinkah dari awal Stela menginginkan Leon mencampakkanku dengan memperkenalkan aku dengan pria yang begitu menginginkannya. Batin Jesika memungut hapenya.


"Jes apa kau mengabaikan ku?" Tanya Leon.


"Leon." Sahut Jesika berdiri. "Aku membencimu." Ucapnya yang kemudian berbalik badan memunggungi Leon dan pergi meninggalkan ruangan.


Aku mencintaimu. Batin Jesika jongkok dibalik pintu dengan tangisan.


****


Stela tidak bisa berhenti untuk senyum sejak ia keluar dari ruangan Leon hingga dirinya menyambut kedatangan Frans dijam makan siang.


"Emang Lo ada dimana tadi pagi?" Tanya Frans mengingat Jesika yang mencari Stela.


"Dikantor." Jawab Stela dengan seuntai senyum diwajahnya. "Emang gue harus berada dimana lagi selain dikantor." Cibir Stela menikmati sayur-sayuran yang begitu ia benci membuat Frans menaikan alisnya.


"Sejak kapan Lo jadi suka makan sayur?" Tanya Frans melihat Jesika yang mengusap sudut ujung matanya.


Dia nangis kenapa? Tanya Frans dalam hati memperhatikan ujung hidung Jesika yang memerah. Ia terlihat tidak memiliki kekuatan memegang sendok ditangannya.


"Gak tau hari ini gue menyukai semua yang aku benci." Jawab Stela yang membuat Frans mengerutkan kening tak mengerti apa yang dikatakan Stela.


"Coba deh." Menyuapi Frans potongan pepaya kemulutnya. "Sesuatu yang Lo benci itu ternyata enak." Ucapnya disertai senyum.


"Apaan sih?!" Ucap Frans mengeluarkan buah yang ia tidak sukai itu. "Gue gak suka." Tambahnya membuat Stela tertawa bahagia.


Tawa Stela sebaliknya membuat hati Jesika semakin sakit.


Prank! Suara sendok Jesika terjatuh dari tangannya mengejutkan beberapa orang disekitar mejanya. Frans melihat kesedihan yang sangat jelas tersirat diwajah Jesika.


"Lo kurang sehat ya Jes?" Tanya rekan yang duduk disebelahnya.


"Gue cuma gak enak badannya aja." Jawabnya yang kemudian meneguk air mineral digelasnya lalu pergi meninggalkan semuanya.


Sementara Mona yang juga ada disana dengan Simon memperhatikan lirikan mata Stela dan senyum sinis pada Jesika.


"Simon." Panggil Mona.


"Apa?" Tanya Simon.


"Kalau disuruh milih antara Jesika dan Stela." Ucapnya melirik Stela. "Lo milih siapa?" Tanya Mona melihat Simon.


"Elo." Jawab Simon.


"Sial!" Umpat Mona mengambil kuning telor dipiring Simon dan memberikan putih telurnya kemulut Simon.


Langit jingga yang selama ini selalu terlihat cantik dari kursi Jesika yang tepat disebelah kaca kini bisa ia nikmati. Kesedihan yang ia rasakan terobati oleh pemandangan diluar dan juga teh manis yang menghangatkannya.


"Jes lembur?" Tanya rekan kerjanya yang bersiap pulang dan melihat Jesika baru saja kembali dengan membawa makan malammnya.


"Iya." Jawabnya meletakkan makanan dan beberapa camilan dimejanya dengan monitor komputer yang kembali menyala. "Ada beberapa yang belum selesai." Ucapnya yang harus menyelesaikan breakdownan budget untuk skup pekerjaan pemasangan lain di beberapa proyek yang ia handle. Kejadian pagi tadi membuat waktu kerjanya terbuang untuk menangkan dirinya.


"Apa masih ada yang over budgetnya?" Tanya rekannya yang akan segera pergi.


"Setelah dicek ada beberapa pekerjaan yang gak ada dan bisa dialihkan untuk yang over." Jawab Jesika menjelaskan.


"Wah jadi saving dong." Sahut rekannya.


"Lumayan." Ucap Jesika menyedihkan sup dicup ke nasi. "Gue makan ya." Ucapnya.


"Yaudah gue duluan ya." Pamitnya menepuk bahu Jesika dan pergi. "Lemburnya jangan kemalaman ya." Teriak rekannya.


Tak terasa Jesika telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia bahkan membereskan proyek baru yang baru masuk hari ini dari GM divisi mereka.


Jesika melihat jam weker dimeja nya menujukkan pukul 22.30. Ia melirik kecil kemeja Stela diseberang yang terhalang oleh meja kerja lain. Tas dan blazer yang Stela kenakan masih ada disana. Namun ia tidak melihat Stela sejak dirinya fokus pada kerjaannya.


"Kemana anak itu?" Tanya Jesika yang kini berdiri di depan lift. Ia menekan tombol keatas.


"Huft!" Jesika masuk kelift dan menekan kelantai 32 .


Ting! Pintu lift terbuka.


Langkah kaki Jesika keluar perlahan tanpa suara. Ia mendekat dan mendapati pintu ruangan Leon tidak terkunci. Jesika menilik kedalam dan tak menemukan siapapun disana selain atasan yang dikenakan Stela hari ini. Samar-samar terdengar suara ******* dari kamar pribadi Leon yang membuat Jesika mendekat.


Kamar dimana Leon merengut kehormatannya dulu. Erangan dan ******* miliknya memenuhi ruangan seperti malam ini. Namun malam ini yang terdengar bukan ******* yang keluar dari mulutnya melainkan dari Stela yang membodohinya.


Ia menjebak aku yang bodoh pria yang begitu menyukainya untuk membuat Leon meninggalkanku. Batin Jesika menahan dadanya yang semakin sesak diantara ******* yang memenuhi telinganya.


Aku benci diriku. Batin Jesika.