
Keesokan harinya.
Tap tap tap! Suara langkah sepatu menuruni tangga menuju ruang bawah tanah. Seorang pria paruh baya bertemu pria muda yang tengah menunggu kedatangannya.
"Bagaimana?" Tanya suara pria paruh baya itu pada laki-laki yang kini memutar kursinya menghadap padanya. Dibawah pencahayaan yang minim dari lampu pijar yang menggantung 20 cm dari kepala, laki-laki itu menarik laci dibawa meja.
Srekk! Suara amplop cokelat besar ia tari dari dalam.
"Ini Bos." Ucap laki-laki itu menyerahkan sekumpulan Foto Sandra dan Leon. "Di dalam ini masih ada beberapa lainnya." Memberikan hardisk.
"Oke." Ucap Pria paruh baya itu berbalik badan sambil menundukkan kepalannya dalam gelap keluar dari pintu yang berbeda.
Ning nong! Suara bel membuat Leon dan Nadin yang duduk bersantai didepan kolam kompak menoleh kearah pintu.
"Apa mama ada tamu?" Tanya Leon yang kembali melihat tabletnya sambil menikmati potongan-potongan buah didepannya.
"Harusnya gak ada." Jawab Nadin kembali meneruskan merangkai bunga didepannya.
"Kamu benaran gak kekantor?" Tanya Nadin yang tadi malam meminta putra untuk tinggal dirumah sampai ia bisa melupakan bayangan-bayangan Sandra di apartemennya.
"Ada Simon kok." Jawabnya menyilangkan kakinya.
"Kamu yakin dia bisa menanganinya sen---"
"---Ada Papa juga kok." Potong Leon membuat Nadin berhenti menggunting ranting tangkai bunga.
"Kapan?" Tanya Nadin.
"Pagi-pagi tadi mah." Jawab Leon. "Papa bilang mau ke kantor. Katanya ada yang mau diurus." Jelas Leon.
"Bukannya beberapa tahun ini semuanya kamu yang urus,sayang?" Tanya Nadin.
"Mungkin projek lama kali mah." Sahut Leon. "Soalnya ada satu dua projek belum clean---"
"---Maaf Nyonya tamunya saya bawa kesini." Potong pelayan dirumah Leon.
"Siapa bi?"tanya Nadin menoleh dan mendapati Feny berdiri dengan sebuah undangan ditangannya. "Ah,Kamu Fen!" Seru Nadin beranjak dari kursinya membuat Leon yang mendengar nama itu hanya bisa terpaku dengan bibir yang berhenti mengunyah. "Kita di ruang tamu aja yuk!" Ajak Nadin menjaga perasaan putranya dengan membawa Feny dan undangan itu menjauh darinya.
"Leon gak ke kantor Nad?" Tanya Feny pada Nadin yang membuka undangan pernikahan Fransroso Wardana dan Alexandra Winata.
"Be-Besok!" Jawab Nadin melihat tanggal pernikahan tertulis diundangan.
"Ah,Iya." Sahut Feny. "Sekalian kamu ajak Leon datang. Siapa tahu ketemu jodohnya disana." Jelasnya membuat Leon mengepal tangannya berdiri dibalik tembok.
"Aku tidak bisa janji. Kamu tahukan hubungan putraku dengan putramu seperti apa." Ucap Nadin meletakkan undangan dimeja.
"Benar. Aku merindukan mereka berkelahi karna hanya sebuah mainan kecil. Ketimbang sekarang yang diam-diaman hanya karna seorang wanita." Ucap Feny dengan menghela nafas panjang.
"Apa keluarga mempelai wanitanya mengetahui seperti apa Frans?" Tanya Nadin. Ia tahu putra Feny tidak jauh beda dengan suaminya sewaktu muda. Eh, maksudnya ehem-ehem ya guys!
Nadin tahu seperti apa Adit. Ia sangat membenci pria yang suka jajan dimana-mana. Meskipun jajannya itu sekelas bintang lima.
"Mereka mengenalnya ***---" ucapan Feny terputus kala suara dering panggilan masuk dari Fandy. "---Ah,bentar Nad." Sambungnya yang bangkit berdiri menjauh sambil mengangkat panggilan Fandy.
Sepuluh menit kemudian.
"Sorry Nad, Aku harus pergi sekarang. Ada hal penting meng---"
"--Oh oke!" Potong Nadia mengusap lengan Feny. "Akan Aku usahakan Leon datang bersama kami." Lanjut Nadin melihat Leon datang dari balik tembok.
Namun,Aku tak bisa menghentikan apapun nanti yang akan dilakukan Leon disana. Batin Nadin menghantar Feny kedepan meninggalkan Leon yang melangkah meraih undangan yang tergeletak di meja.
****
Tap! Suara tumit setinggi 10 cm berhenti melangkah didepan ruangan Leon. Ia menggapai gagang pintu sambil melihat sekitar menghindari tangkapan kamera cctv.
Klekk! Suara pintu yang ternyata tidak dikunci.
Tap tap tap! Langkah kakinya menggapai meja kerja Leon. Ia kemudian mengeluarkan amplop cokelat dari dalam dokumen yang dipegang sejak tadi. Ia menyelipkan amplop dibawah dokumen yang tergeletak tepat didepan kursi.
Fyuh! Keluhnya yang kemudian berbalik meninggalkan ruangan Leon dan kembali dengan menggunakan tangga darurat yang ada disebelah lift.
"Jes." Panggil Stela pada Jesika yang melamun didepan makan siangnya.
"Eh?!" Sahut Jesika melihat Stela yang sudah duduk dihadapannya.
"Lo udah cerita ke Frans kan'." Ucap Stela menunjuk ke arah perutnya sambil memperhatikan sekitar.
"Hm." Jawab Jesika menuangkan sup dimangkok kedalam piring yang berisi nasi. "Kemarin Lo kemana?" Tanya Jesika mengaduk-aduk nasibnya dalam kubahan sup dan taburan ayam suwir dipiringnya.
"Gue ke rumah sakit minta pertanggung jawaban Gio." Jawab Stela membuat Jesika hampir tersedak bubur mendengarnya.
Uhukk!
"Nih minum." Sodor Stela pada Jesika. "Gue dengar ini bagus untuk perkembangan." Lanjutnya menunjuk perut Jesika dengan bibirnya yang manyun.
"Jadi Lo dah kasih tahu kalau lo---"
"---Besok pernikahan Frans dan Sandra." Potong Stela yang sekali lagi membuat Jesika terbatuk-batuk. "Kalau Lo gak segera bertindak. Lo bakal kehilangan Frans selamanya." Lanjut Stela menarik tissue didepannya. "Gue udah pernah bilangkan' kalau Frans melukai gue karna Lo." Mengingatkan Jesika. "Sampai bertemu besok." Ucap Stela pergi sambil mengirimkan alamat hotel pernikahan.
Tring! Pesan masuk.
Fyuh! Keluh Frans melihat pesan yang masuk datang dari Gio. Sudah tiga hari dirinya menghubungi dan mengirim pesan pada Jesika. Namun, tak ada jawaban dari wanita itu hingga senja dilangit mulai tergantikan oleh malam.
"Jesika angkat,please!" Pinta Frans yang mondar-mandir di kamarnya sambil melihat beberapa penjaga didepan pintu. Feny dan Fandy meminta semua pelayan dirumah untuk mengawasi Frans agar tidak berpergian sampai hari pernikahannya.
Mereka tak ingin putranya kepergok Adit dan Rosa sedang berpelukan dengan wanita lain seperti malam-malam sebelumnya.
"Nomor yang ada tuju sedang sibuk, cobalah sesaat lagi atau tekan---" Suara operator. "---Dia lagi hubungin siapa sih?" Sambung Gio mengakhiri suara operator. "Dari tadi kalau gak sibuk pasti dialihkan. Gitu terus jadi pengen gue banting aja nih hape." Gerutu Gio kesal yang tidak bisa menghubungi Frans.
"Coba entar lagi deh." Ucap Leon yang duduk di bar dengan minuman non alkohol. Ia meneguk minuman itu sambil memikirkan perkataan Gio mengenai Adit yang tidak menyukainya.
"Sandra gimana?" Tanya Gio menuangkan minuman kengelasnya. "Lo gak bilang bakal ninggalin dia kan' ." Melihat ke Leon.
"Gue ngelepas tangannya." Jawab Leon kembali meneguk minumannya.
"Dan Lo sama sekali gak ngubungin dia sampe se---"
"---Om Adit kenapa benci banget ke Gue ya?" Potong Leon menanyakan hal yang sejak tadi ia pikirkan. "Gue salah apa coba?" Tanya Leon pada Gio.
"Lo kan' nyekap putrinya diapartemen." Jawab Gio. "Mungkin aja om Adit dah gerakin hacker perusahaan nyokapnya Stela buat nyelidikin Lo udah ngapa-ngapain Sandra sampai mana." Jelas Gio yang malah menakut-nakutin Leon yang gak takut sama sekali.
"CK!" Decak Leon. "Gue belum ada ngapa-ngapain Sandra." Ucapnya membuat Gio meletakkan kembali gelasnya.
"Seriusan?" Tanya Gio terkejut. "Lo belum unboxing dia,Man!" Cibirnya dengan senyum mengejek dan lesung pipi yang menggoda.
"Hah!Gue gak sebrengsek itu!" Balas Leon meneguk gelas Gio.
Dan dalam hitungan 3 detik Leon pun Ambrukk!
πππ
Lalalalalala....sayangi author rebahan ini dengan vote,like,dan Coment yaaa...
Gomawo cingu!π