
Natal pun usai Leon kembali dengan tugasnya di perusahaan. Sebagai wakil presdir bukanlah hal yang mudah. Ia harus menciptakan jaringan bisnis dan tampil menawan disetiap kondisi apapun sebagai wajah perusahaan.
Pergi pagi dengan setelan jas dan juga sarapan yang disiapkan oleh Sandra setiap paginya. Pulang malam dengan dua kancing kemeja yang terbuka menemui Sandra yang tertidur di sofa menunggu kepulangannya.
Ia kerap menggendong Sandra dan membawanya bersama kekamar atau malah berakhir tidur bersama disofa.
Namun siang tadi Sandra mendapat kabar dari Leon bahwa pria itu akan pulang lebih awal dari biasannya.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Sandra sudah selesai mandi dan duduk dimeja makan menunggu Leon pulang. Ia sudah menyiapkan beragam menu makan malam untuk dirinya dan Leon.
Suara kode pintupun berbunyi menandakan seorang akan membuka pintu dan masuk kedalam.
Kak Leon. Batin Sandra bangkit berdiri dari kursinya dengan wajah yang menilik kearah suara itu datang.
"Leon sayang." Suara panggilan wanita berjalan kearah keberadaan Sandra dengan wajah shock.
Kok malah suara cewek. Batin Sandra dalam hati yang dengan sigap masuk kekolong meja makan untuk bersembunyi.
"Leon!" Panggil Nadin dari bawah tangga memanggil putranya yang ia pikir ada dikamar."Belum pulang ya?" Tanya Nadin berjalan kearah dapur dengan tangannya membawa kantong kresek besar.
Nadin meletakkan kresek besar itu diatas kitchen island. Wanita paruh baya itu terkejut melihat isi kulkas setelah membukanya. Ia melihat begitu banyak bahan makanan mentah didalam. Persis kulkas orang yang sudah berkeluarga.
"Putraku hanya tahu buat nasi goreng dan telor ceplok." Ucap Nadin pada dirinya. Ia sangat mengenal putranya itu. "untuk apa Udang,cumi,daging." Ucap Nadin mengecek satu persatu isi kulkasnya. "Apa putraku mencoba memasak yang lain? Tapi mengapa sebanyak ini?Bumbu dapurnya juga lengkap." Ucap Nadin berbicara sendiri pada dirinya.
Nadin tidak tahu bahwa semenjak Sandra ada Leon kerap pergi berbelanja bahan makanan ke supermarket. Sandra selalu menulis apa yang ia butuhkan di post it yang ia berikan ketika Leon akan pergi bekerja. Leon akan membawa pesanan Sandra ketika akan pulang kerumah sepulang dirinya bekerja.
Sandra mengelus dadanya dikolong meja. Ia merasa lega tidak memberikan post it apapun pagi tadi pada Leon. Gadis itu tidak bisa membayangkan jika wanita yang berdiri didepan kulkas itu melihat Leon tiba-tiba datang dengan sekantong belanjaan.
Ketika mengeluarkan buah-buahan dan susu kotak beraneka rasa dari kresek dan menyusunnya kedalam kulkas. Nadin merasakan aroma makanan disekitarnya yang sejak tadi menusuk hidungnya.
"Harum makanan." Ucap Nadin selesai dari depan kulkas. Wanita itu mempertajam penciumannya mencari-cari dari mana aroma makanan yang menusuk indera penciumannya itu. Ia melangkah mendekati meja makan dan mendapati masakan Sandra.
"Masih hangat." Gumam Nadin menyentuh beberapa wadah kaca itu masih terasa hangat. "Menunya banyak juga." Ucapnya lagi.
"Siapa yang pesan?" Tanya Nadin mengambil sendok dan mencicipi satu persatu hidangan yang dimasak Sandra. Selagi tenggelam dalam mencicipi makanan Nadin tidak menyadari akan kedatangan Leon yang masuk melangkah menuju keberadaannya.
"San---"panggil Leon terputus melihat Nadin berdiri didekat meja makan dengan sendok ditangan yang menyentuh Unjung bibirnya.
"---Mama!" Teriak Leon dengan sigap mengalihkan panggilan itu sebelum Nadin menyadarinya.
Mamanya Kak Leon. Batin Sandra dalam hati yang masih duduk dibawah kolong meja.
"Leon,kamu baru pulang?" Tanya Nadin mengernyit. "Kalau kamu baru pulang ini makanan datangnya dari mana?" Tanya Nadin dengan ekpsresi takut menurunkan sendok dari mulutnya.
"Mama kenapa gak ngabarin kalau mau datang?" Jawab Leon balik bertanya berusaha mengalihkan kecurigaan Nadin.
"Leon,jangan bilang apartemen kamu kemasukan pencuri." Ucap Nadin mengabaikan pertanyaan putranya itu sambil meletakkan sendok ditangannya.
"Ngaco ah!" Sangkal Leon.
"Oh... itu Leon yang pesan. Pas makanannya datang tiba-tiba Leon kelupaan sesuatu dimobil. Yaudah gue balik kebawah ngambilnya." Ujar Leon mengarang alasan menutupi keberadaan Sandra yang tinggal dengannya.
"Oh gitu. Pasti kamu ada feeling ya mama bakal kesini. Sampai pesan makanan seenak ini." Ucap Nadin menerima alasan Leon. Ia merasa ada yang disembunyikan putranya itu dari caranya yang tampak gelisah.
"Mama tahu darimana masakannya enak?" Tanya Leon berusaha menutupi kegelisahannya.
"Mama udah cicipin hehe.." jawab Nadin duduk. "Sini sayang kita makan bareng." Ajak Nadin menghiraukan kegelisahan putranya itu yang seperti menyembunyikan seseorang di apartemennya.
Sandra dimana ya. Batin Leon dalam hati menarik kursi untuk duduk. Sandra yang melihat kaki Leon langsung mengelus dadanya. Ia lega karena pria itu duduk tepat dihadapannya yang dari tadi duduk sambil memeluk lututnya.
Leon memperhatikan jam ditangannya menunjukkan pukul tujuh malam. Ia kembali gelisah karna memikirkan Sandra yang belum makan dan juga ia tidak tahu dimana gadis itu bersembunyi.
"Kamu harus coba Cumi udang asam manisnya enak banget. Rasanya pas dilidah mama." Ucap Nadin memasukkannya kemulut Leon.
Gue tahu mah. Batin Leon mengunyah cumi dimulutnya bersaman dengan Sandra yang meraih kedua paha Leon dan mengusapnya dari bawah. Rasa usapan itu menaikan salah satu alisnya dan menilik sedikit kebawah. Ia melihat juluran tangan Sandra yang menyentuh pahanya. Pemandangan dan sentuhan itu membuat Leon terbatuk melihat wajah gadis itu nongol dari bawah meja.
"Pelan-pelan makannya sayang." Ucap Nadin memberikan segelas air putih pada Leon.
Lo mau buat gue teransang ya. batin Leon meneguk air dengan pandangan yang tidak lepas dari Sandra yang mendongak diantara pahanya.
Leon meletakkan gelasnya lalu menggeser sedikit kursinya kebelakang untuk memberi ruang pada Sandra yang duduk diantara pahanya. Sandra menaruh lengannya dipaha Leon dengan mulut yang menganga.
Sial!buat gue mau nurunin resleting aja nih anak!Batin Leon menatap Sandra. Ia lalu mengalihkan imajinasi liarnya itu dengan menyuapi Sandra diam-diam tanpa sepenglihatan Nadin yang juga sedang makan didepannya. Ia menyuapi Sandra dan dirinnya secara bergantian.
"Leon lapar?" Tanya Nadin menyadari nasi dipiring Leon habis,udang goreng tepung crispy juga tinggal dua ekor lagi dipiring dan ayam goreng mentega hanya ada setengah yang tertinggal.
"Lumayan mah." Jawab Leon kikuk sementara itu Sandra masih menikmati udang crispynya tanpa menyadari suara kriyuk samar-samar oleh Nadin.
Sebelum sempat bertanya asal suara itu Nadin dikejutkan oleh bunyi ringtone hapenya. Panggilan dari David membuat wanita itu mengakhiri dengan meneguk air putih digelasnya.
"Mama pulang ya sayang!" Ucap Nadin menyandang tasnya.
"Mau diantar gak mah?" Tanya Leon menghela nafas pelan.
"Gak usah,Papa udah dibawah." Sahut Nadin. "Buahnya dimakan dan susunya diminum ya sayang. Bye!" Ucapnya pamit bergegas melangkah pergi.
"Mamanya Kak Leon ya?" Tanya Sandra yang berdiri bertumpu pada lututnya diantara kedua paha Leon.
"Kucing gue bisa ngomong ya!" Jawab Leon menangkup wajah Sandra.
"Kok kucing sih kak." Sahut Sandra memajukan bibirnya.
"Coba gue tanya." Ucap Leon membantu Sandra berdiri. "Yang suka minta makan dari kolong meja apa?" Tanya Leon mendudukkan Sandra dipangkuannya.
"Kucing." Jawab Sandra lirih.
"Nah,tuh tahu." Sahut Leon mencubit hidung Sandra.