
Setelah membuat Sandra salah paham dengan perkataannya Leon memarkirkan mobilnya tidak jauh dari gedung sekolah. Ia melakukan pembicaraan serius di telpon dengan seseorang didalam mobil sambil memperhatikan murid yang keluar dari gedung.
"Gue mau Lo awasi gerak-geriknya. Beritahu jika Lo menemukan sesuatu yang berkaitan dengan gue." Ucap Leon mengakhiri pembicaraan dan lansung segera menutupnya.
Ia kembali memperhatikan satu persatu murid mencari keberadaan Sandra.
"Gue kenapa sih?" Tanya Leon pada dirinya. Di satu sisi ia ingin membuat Sandra salah paham agar gadis itu menjauhinya. Leon tidak ingin keberadaan Sandra diketahui oleh orang yang sedang menguntitnya. Namun di sisi lain Leon tidak ingin gadis itu salah paham dengan apa yang baru saja ia katakan.
"Sudahlah." Gumam Leon melonggarkan dasinya dan melepas satu dua kancing atas kemejanya. Ia bergegas menyalakan mobil dan pergi melaju meninggalkan tempat.
Semenjak Sandra pergi dari apartemen Leon merasa ada sesuatu yang hilang. Ia berusaha menutupi rasa kehilangan akan keberadaan Sandra dengan bekerja siang dan malam. Bayangan Sandra adalah alasan mengapa ia kembali pula kerumah dan meninggalkan apartemennya untuk sementara waktu.
Terlalu banyak bayangan Sandra yang tertinggal disetiap sudut ruangan membuat pikiran Leon menjadi kacau.Ia pun mengacaukan isi apartemennya sampai kacau balau hingga hanya ruang kerja yang masih terlihat sedikit normal.
Kondisi itu membuat Nadin shock saat masuk kedalam apertemen putranya itu. Nadin sempat mengira bahwa dirinya salah masuk apartemen.
"Halo!" Suara Nadin menelpon Leon yang masih didalam mobil. Nadin menduga ada maling yang membobol apartemen putranya.
"Apa mah?" Tanya Leon sambil menyetir.
"Sayang apartemen kamu dibobol maling." Ucap Nadin panik.
"Maling?" Tanya Leon dengan mengernyitkan keningnya.
"Iya. Kamu baik-baik ajakan sayang?atau ada yang luka." Sahut Nadin panik mengira sebelumnya mungkin maling datang setelah akhirnya Leon kembali kerumah.
"Gak ada maling mah." Jawab Leon. "Mama lagi diapartemen Leon ya?" Tanya Leon mengingat bagaimana ia mengacaukan apartemennya.
"Iya sayang kayaknya emang ini kelakukan maling." Ucap Nadin.
"Gak ada maling mah." Ucapnya lagi. "Itu Leon yang kacauin." Ucap Leon.
"Kenapa?" Tanya Nadin bingung.
"Gak ada." Jawab Leon
"Dah yah mama Leon tutup telponnya." Ucap Leon mengakhiri panggilan Nadin.
Ini pertama kalinya Nadin melihat apartemen Leon sekacau ini . Ia pun segera menghubungi petugas untuk mengembalikan apartemen ke keadaan kesemula. Lalu menghubungi Gio untuk mencari tahu yang sebenarnya terjadi.
****
Malamnya Leon datang menghampiri Gio yang sedang berada diruang barunya setelah nanti ia selesai mengurus kepindahan kerjanya dari rumah sakit disingapur ke rumah sakit milik kakeknya.
"Lo kenapa?" Tanya Gio yang mendapati Leon merebahkan diri di sofa dengan kaki yang terangkat di meja. Ia melarikan diri dari bayangan rasa bersalah pada Sandra sejak siang tadi.
"Kalau gue cerita juga Lo gak bakalan paham." Jawab Leon.
"Terus ngapain Lo kesini kalau udah tahu gue gak paham." Celetuk Gio melepas jas putihnya duduk di kursinya sambil mengecek komputer didepannya.
"Entahlah." Ucap Leon diakhiri helaan nafas panjang.
Apa jangan-jangan ini anak udah tahu mengenai Jesika dan Frans?. Batin Gio dalam hati mengalihkan perhatiannya pada Leon.
"Lo ada apa sih?" Tanya Gio bangkit meninggalkan meja kerja barunya. "Tante cerita Apartemen Lo kayak kapal pecah dalamnya." duduk disamping Leon.
"Mama nemuin Lo?" Tanya Leon menaikan salah satu alisnya.
"Bukan." Jawabnya. "Tante nelpon gue siang tadi. Tante mikir Lo berantam sama gue." Jawab Gio.
"Oh."
"Lo ngebunuh bayangan siapa dikamar?" Tanya Gio menilik wajah Leon yang tiba-tiba datar tanpa ekspresi.
"Kamar?" Jawab Leon yang balik bertanya.
"Hmhm. Tante bilang cuma kondisi ruang kerja Lo yang normal lainnya berantakan semua . Seingat gue bukannya Lo gak pernah kasih ijinin siapapun masuk kedalam." Ucap Gio mulai mengulik Leon. Ia mencium ada sesuatu yang disembunyikan Leon sebelumnya di apartemennya.
"Ngak ada apa-apa." Jawab Leon ketus. Tebakan Gio membuatnya teringat kembali akan Sandra lagi. Padahal tujuan ia datang menemui Gio untuk menghilangkan pikirannya tentang gadis itu. Bukannya hilang tapi malah membuatnya kepikiran lagi dan lagi.
"Hari itu Lo buru-buru balik ke apartemen ngapain?" Tanya Gio mengingat saat Jesika masuk rumah sakit. "Jelas-jelas Jesika disini tapi Lo malah ngebet banget mau pulang." Sambungnya lagi.
"Siapa yang buru-buru." Bantah Leon. "Lo lupa gue nginap disini." Ucap Leon mengingat malam itu ia membuat Sandra melewati malam tahun baru tanpa dirinya serta kembang api yang sudah ia janjikan.
"Kalau gitu kenapa Lo perginya pas gue tidur?" Tanya Gio lagi.
"Gue gak tega bangunin lo." Jawab Leon menggoda Gio sambil mencari alasan untuk menutupi keberadaan Sandra selama ini dari sahabatnya.
"Bacot!" Umpat Gio menimpuk Leon dengan bantal disampingnya.
"Lo gak nungguin gue kan?" Tanya Leon lagi.
"Eh? Lo pikir gue kurang kerjaan." Ucap Gio berbohong.
Kenyataannya setelah turun dari Rooftop Gio patroli di loby rumah sakit demi Frans yang pergi menemui Jesika. Ia bahkan bertukar shift dengan rekan barunya untuk berjaga-jaga akan kedatangan Leon. Alhasil hingga malam Leon tidak juga menampakkan diri.
Dengan sumringah Frans pulang setelah menghabiskan waktu yang panjang bersama Jesika berkat bantuannya. Sementara dirinya harus kembali bekerja menjalankan shift yang sudah ia tukarkan dengan rekannya pada shiff dini hari. Belum sampai disitu esok paginya ia harus mengurus segala administrasi Jesika atas permintaan Leon.
"Makasih ya udah rawat Jesika selama gue gak ada." Ucap Leon.
Ah itu. Sebenarnya yang rawat Jesika selama Lo gak ada bukan gue tapi Frans. Batin Gio dalam hati. Ia merasa bersalah pada Sahabatnya ini namun di sisi lain ia juga harus menjaga rahasia sahabatnya yang lain.
"Oh. Tapi kenapa Lo gak datang lagi?" Tanya Gio yang mulai merasa Leon tidak sepeduli saat ia menjalin hubungan dengan Jesika. "Sampe-sampe Jesika harus pulang sendiri." Ucapnya lagi.
"Gu..Gu--"
"---Lo nyembunyiin siapa diapartemen?" Tanya Gio memotong ucapan Leon yang terdengar gugup.
"Siapa apanya orang gue sendirian." Jawab Leon.
"Cewek bukan?" Tanya Gio semakin penasaran.
"Bukan siapa-siapa." Jawab Leon spontan menghindari kecurigaan Gio.
"Kalau bukan siapa-siapa kenapa malam itu Lo gelisah banget." Ucap Gio mengingat dimalam pergantian tahun Leon mencoba menelpon ke hapenya yang tertinggal di apartemen.
"Gak ada----"
"---Kalau gak ada orang gimana mungkin Lo sampe buat panggilan ke nomor Lo sendiri." Ucap Gio memotong ucapan Leon.
"Wow!sekarang gue baru sadar Lo sepintar itu." Celetuk Leon tersenyum kecil.
"Ahahah. Sial!" Umpat Gio.
"Hei gue muji Lo bro!"
"Gue gak tahu apa harus bahagia dengan pujian yang disertain sindiran ini." Ucap Gio menggelengkan kepalanya.
"Hahahah." Suara tawa keduanya.
"Jadi siapa dia?" Tanya Gio kembali ke topik awal yang menjadi tujuannya sampe meninggalkan monitornya.
"Siapa??" Jawab Leon balik nanya.
"Udah deh gak usah ngalihin topik." Jawab Gio.
"Bukan siapa-siapa." Ucap Leon yang sudah tidak bisa mengelak kecurigaan Gio padanya.
"Cewek kan?" Tanya Gio.
"Yaiyalah.ya kali gue tidur sama cowok di---"
"----kamar." Sambung Gio memotong perkataan Leon membuat keduanya saling mengernyitkan alis.
"Eh.. tidur doang." Ucap Leon segera mungkin mematahkan imajinasi liar Gio yang amat terlihat jelas dari salah satu alisnya yang semakin naik.
"Otak gue traveling nih." Cibir Gio.
"Sial!" Umpat Leon.
"Tapi Entar deh." Ucap Gio tidak mempedulikan umpatan Leon untuknya.
"Apalagi?" Tanya Leon.
"Lo bawa dia ke kamar lo?" Tanya Gio yang dibalas anggukan oleh Leon dengan santai disertai senyum sinis. Bagaimanapun caranya ia tidak bisa lagi menutupi kecurigaan Gio terhadapnya.
"KAMAR LO?!" Tanya Gio terbelalak.
"Iya. Suara Lo bisa pelan dikit gak?"
"KOK BISA??!"teriak Gio.
"Sekali lagi Lo teriak gue tampol." Ucap Leon membuat Gio menutup rapat mulutnya. Gio tidak percaya ada wanita lain yang mendapat izin masuk kekamar Leon selain Nadin. Dari Rahel hingga Jesika satu pun dari mereka tidak pernah masuk ke kamar Leon. Jangankan masuk untuk berdiri didepan pintu pun mereka tidak diperbolehkan.
"Lo gak usir itu cewek tapi lo malah biarin dia masuk." Ucap Gio gak percaya. Ia dulu menganggap sahabatnya itu punya penyakit lain karna tak membiarkan wanitanya masuk kedalam kamarnya.
"Usir?emang gue sejahat itu apa?" Sanggah Leon.
"Rahel Lo usir. Jesika Lo usir. Lupa lo?!" Celetuk Gio dengan wajah lempem mengingat bagaimana Leon memperlakukan dua wanita itu.
"Gue juga bingung kenapa bisa begitu." Ucap Leon tersenyum kecil mengingat wajah Sandra setiap kali terbangun dari tidurnya.
"Lo jatuh cinta kali sama tuh cewek." Ucap Gio yang melihat senyum merekah diwajah Leon.
"Enggaklah!" Sangkal Leon. "Mana mungkin gue jatuh cinta sama dia." Ucap Leon bangkit berdiri.
"Kenapa gak mungkin?" Tanya Gio yang juga bangkit berdiri. "Lo ngespesialin dia men diantara wanita-wanita lo." Jelas Gio kembali ke meja kerjanya.
"Sok tahu Lo!" Celetuk Leon. "Lo aja belum pernah pacaran!" Ucap Leon masih menyangkal.
"Pernah tidaknya pacaran bukan berarti kita pernah jatuh cinta kan." Jawab Gio membuat Leon melihat padanya yang berubah menjadi dokter cinta.