
Stela mondar-mandir disekitar depan lift lantai ruangan divisinya. Satu jam sebelumnya ia melihat Jesika pergi mengantar dokumen pada Simon atas perintah GM mereka.
"huft!" mengeluarkan nafas masuk kedalam lift menyusul Jesika ke atas.
Ting! Suara lift terbuka membuat Mona menaikan alisnya menyadari kedatangan seorang diluar ruangannya.
"Apa ada klien yang tak mendapat info?" Tanya Mona pada Simon yang sedang memeriksa dokumen yang diserahkan Jesika.
"Yang ada list gue udah semua." Jawab Simon menegakkan wajahnya melihat lurus ke Jesika yang menunggu apporval Simon. "Apa tadi ada telpon?" Tanya Simon melihat ke Mona kemudian melihat ke Jesika.
"Gak ada." Jawab keduanya kompak.
"Lalu siapa yang datang." Ucap Simon melihat kepintu.
"Cleaning mungkin." Ucap Jesika yang kembali fokus kepada beberapa data yang perlu diapproval oleh Simon. Sementara Stela berusaha membuat pintu ruangan Leon yang terkunci.
"Dugaan gue benar." Ucap Stela melirik keruangan Simon yang berada disebelah meja resepsionis.
Setengah jam kemudian Jesika keluar dengan dokumennya dari ruangan Simon. Tiba-tiba Stela yang bersembunyi dibalik dinding ruangan menarik Jesika yang keluar masuk kedalam toilet.
Ckrek! Suara Stela mengunci toilet yang hanya ada ia dan Jesika didalam.
"Stela." Desis Jesika kaget. "Ngapain Lo disini?" Tanya Jesika melepas tangan Stela yang mencengkramnya.
"Harusnya gue yang tanya begitu." Jawab Stela. "Kenapa Lo ada disini?" Tanya Stela.
"Yaa kerjalah!" Jawab Jesika meraih pintu namun dihalangi oleh Stela.
"Gue tahu Lo kerja." Cibir Stela.
"Tuh tahu." Tepis Jesika pada tangan Stela yang menghalanginya membuka pintu.
"Leon gak masuk kantor." Ucap Stela membuat tangan Jesika terhenti. "Sepertinya dia pergi bersenang-senang dengan wanita lain." Sambungnya.
"Benarkah?" Tanya Jesika dengan raut terkejut. "Apa Lo berharap gue benar-benar shock dengan itu?" Ledek Jesika yang berpura-pura terkejut.
"Lo gak marah?" Tanya Stela menangup wajah Jesika.
"Haruskah?!" Ejek Jesika yang mengepal tangannya menahan amarah. Ia bisa melihat Stela datang untuk memprovokasinya setelah sebelumnya wanita licik didepannya itu berhasil pamer bahwa Frans lebih memilih dia.
"Harus!" Jawab Stela dengan senyum sinis diwajahnya. "Lo pacarnya bukan?!" Mengangkat dagu Jesika dengan telunjuknya.
"Kalau gue pacarnya." Ucap Jesika menepis jari Stela dari dagunya. "Kenapa malah Lo yang repot dia ada tidaknya dikantor." Sindirnya.
"Ah, Leon belum mutusin Lo?"balas Stela melangkah maju menyudutkan Jesika dibalik pintu.
"Kenapa?" Tanya Jesika. "Apa sampai detik ini Lo belum berhasil dapetin dia?" Ejek Jesika yang berusaha menahan amarahnya. "Atau Lo keselip sama wanita lain." Cibirnya pada Stela yang kalah telak dengan adiknya sendiri.
"Gue? Diselip orang?" Balas Stela yang kini bertolak pinggang. "Lo pikir gue itu elo?hah!" Cibirnya pada Jesika yang berhasil ditipu olehnya.
"Benar!" Jawab Stela menghela nafas. "Gue bukan Lo." Ucapnya mendekatkan wajahnya pada Stela. "Yang diselip Adik sendiri." Bisik Jesika menatap mata Stela yang shock mendengar bahwa Jesika juga mengetahui hubungan Leon dan Sandra.
Cekrek! Suara tangan Jesika memutar kunci yang kemudian menarik pintu.
"Sepertinya Leon sedang bersenang-senang disuatu tempat bersama Sandra." Ucap Jesika keluar dari toilet meninggalkan Stela yang diam membatu.
****
"Kak mau lagi gak?" Tanya Sandra mengarahkan sedotan minuman ke bibir Leon. "Ini masih ada French friesnya." Menunggu Leon menelan minumannya dengan tenang.
"Lo makan aja." Melihat ke depan yang menanjak ke atas tempat Villa. "Yang banyak." Memarkirkan mobilnya tepat didepan Villa.
"Sandra udah kenyang." Membuka jendela mengeluarkan kepalanya melihat Villa Leon yang berada diatas jalan dikeliling oleh taman da pohon Cemara.
"Turun yuk!" Ajak Leon melepas seatbelt Sandra kemudian membuka pintu keluar dari mobil.
Leon memeluk Paper bag isi belanjaan mereka dari bagasi mobil dibantu oleh Sandra yang memeluk lainnya berjalan sambil mengikuti Leon dari belakang masuk kedalam Villa.
"Uwahhh!" Teriak Sandra pada Villa yang tadinya terlihat biasa dari luar ternyata didalamnya begitu menakjubkan. Dengan konsep semi terbuka di beberapa ruangan,Villa Leon terasa begitu menyatu dengan alam. Sandra berlari kearah area open kitchen meletakkan bahan makanan yang mereka bawa dari kota.
"Wah!" Ucap Sandra kagum melihat pemandangan tepat dihadapan area kitchen yang di padukan oleh tempat bersantai yang memiliki taman.
"Kak Leon kita bisa BBQ-annya disini." Teriak Sandra berdiri diatas rerumputan sambil merentangkan tangan. Ia mendongak keatas menghirup udara segar yang menepis rambutnya.
"Wah!" Serunya lagi ketika berdiri diantara pagar dipinggir taman yang ia pijak. Ia menyadari dirinya berada diketinggian kurang lebih 3 meter dari pemandangan dibawahnya.
Lalu ia berbalik menoleh kearah lain yang berada disisi lain. Ia melangkah di atas jalan setapak yang terhubung ke tiga anak tangga yang dibentuk dari bebatuan terus mengarah ke kolam renang yang pada permukaannya telah menunggu ban pelampung berbentuk kerang dan unicorn.
"Mau berenang?" Tanya Leon membuka pintu kaca yang terhubung ke kolam melihat Sandra menggapai mulut unicorn yang dibalas gelengan kepala dari Sandra. "Gak suka berenang?"tanya Leon memeluknya dengan melingkarkan tangannya dipinggang Sandra.
Suka banget. Tapi Sandra gak bawa baju renang. Batin Sandra yang kemudian tubuhnya diangkat Leon.
"Kalau mau kita berenang dikolam yang lain aja." Ucap Leon membawa Sandra masuk kembali memasuki Villa yang memiliki ornamen yang terbuat dari jerami dibeberapa sudut ruangan membawa nuansa pantai dengan udara puncak.
"Kak Leon mau gendong Sandra kemana?" Tanya Sandra melingkarkan tangannya dileher Leon.
"Ke kamar." Jawab Leon menapaki tangga menuju kamar.
"Wah!" Seru Sandra ketika masuk kekamar yang disambut dengan pintu kaca yang didepannya terdapat kolam renang. Leon menendang pintu untuk menutupnya kembali.
"Bruk!" Suara Leon menjatuhkan Sandra dan dirinya keranjang bersamaan.
"Sayang jam berapa?" Tanya Leon duduk melepas bajunya.
"Jam 3 sore kak." Jawab Sandra terduduk menatap pemandangan diluar kamar.
"Lo gak ngantuk." Ucap Leon yang kini bertelanjang dada membuka kancing celana jeans-nya memperlihatkan tulisan Calvin di ****** ***** yang ia kenakan. Kemudian ia membaringkan kembali tubuhnya.
"Kak Leon ngantuk?" Tanya Sandra berbalik badan melihat Leon telentang merebahkan tubuhnya dengan mata sayu.
"Iya sayang." Menarik Sandra tidur disampingnya.
"Kak Leon gak mandi dulu?!" Tanya Sandra yang mendapat balasan tangan Leon yang masuk kedalam bajunya. "Ahh!" Desah Sandra merasakan tangan Leon menyeruak masuk kedalam bra-nya. Leon meraba kepunggung melepas kaitan bra Sandra.
"Lepasin sayang." Desis Leon meminta Sandra menurunkan bra-nya. Sandra kemudian duduk menariknya keluar. "Kaosnya gak usah." Desis Leon menarik Sandra berbaring kembali disampingnya lalu melanjutkan permainan jemari pada ujung gundukan yang perlahan mulai mengeras disusul oleh *******-******* kecil dari bibir Sandra yang membuat Leon tak bisa berhenti.
๐๐๐
Jangan lupa vote seninnya dikasih ke Leon dan Sandra yaaa,, โค๏ธโค๏ธโค๏ธ
Thank you evribadihhhh๐๐๐