Try Not to Fall In Love

Try Not to Fall In Love
Bab 97



" Satu satunya alasan mu bahagia adalah karena kamu memilih untuk bahagia, kebahagiaan adalah sebuah pilihan, begitu pula penderitaan."


—Christina Aira Agustin—


🌸🌸🌸


Keesokan harinya, Aira terbangun karena cahaya matahari yg menerobos masuk kedalam kamarnya, hehehehe.


Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, matanya pun kembali fokus, dia mulai mengedarkan pandangannya, dia berada di kamarnya, Tetapi sejak kapan dia berada didalam kamar, seingat dia, dia masih berada didalam helikopter. Pikirnya, saat dia memiliki banyak pertanyaan dikepalanya, dia pun sadar jika seseorang sedang memeluk pinggangnya dari belakang, dan Aira tau siapa orang tersebut, karena aroma tubuhnya Aira hapal betul.


Aira berusaha untuk melepaskan tangannya Alan dari pinggangnya, dan hasilnya nihil, karena laki laki itu semakin erat memeluknya, Aira kemudian menghela nafas pasrah.


" Oh tuhan!."


Pikirnya.


" Sepertinya nggak ada cara lain!."


Ucap Aira pelan.


" Kunyit bangun..gw mau ke kamar mandi nih!."


Ucap Aira sambil mengguncangkan tubuhnya Alan, Alan menggerang.


" Lima menit lagi!."


Ucap Alan malas, sambil memeluk tubuh Aira semakin erat.


" Oh..ya ampun...lu bukan anak bocah lagi kunyittt."


Ucap Aira yg sudah mulai kesal karena tingkah laku Alan.


" Bocilll..."


Ucap Alan merengek seperti anak kecil, Aira menepuk jidatnya, dia akhirnya pasrah.


" Ok lima menit ya.."


Ucap Aira, kemudian dia membiarkan Alan memeluknya, dan tiba-tiba saja Alan membalikkan tubuhnya Aira menghadapnya, wajah Aira langsung memerah.


" Ini anak minta di tampol kayaknya!."


Ucap Aira kesal, Alan mengeratkan pelukannya dan meletakkan kepalanya di tengkuk lehernya, tubuhnya dibuat merinding tiba tiba.


" Kunyit..jangan mesum deh...masih pagi Woy!."


Ucap Aira berusaha untuk tetap tenang.


" Aku nggak mesum kok!."


Ucap Alan sambil menghirup aroma tubuhnya Aira, wajah Aira semakin memerah, jantungnya mulai berdetak tidak karuan.


" Semoga dia nggak sadar!." Pikirnya, tapi nihil, Gadis itu lupa kalau Alan Sangat gemar menggodanya.


" Kenapa detak jantung kamu berdetak kencang?, Apa jangan jangan kamu sedang jantungan?."


Ucap Alan sambil meletakkan kepalanya diatas dadanya, Aira mengepalkan tangannya.


" Aih..sial... udah..sana minggir!."


Ucap Aira kesal, sambil mendorong tubuh Alan kesal, dan pelukan tersebut akhirnya lepas, Aira berusaha untuk menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tetapi terlambat.


" Wajah kamu juga kenapa merah kayak tomat!."


Ucap Alan pura pura tidak tau, sambil tersenyum jahil.


" Yakkkkkkk...aih menyebalkan.."


Ucap Aira kesal, dia berlari kedalam kamar mandi, sedangkan Alan tersenyum puas, karena dia baru sadar ternyata dirinya lah, yg bisa membuat gadis keras kepala itu bereaksi seperti tadi.


" Sepertinya kamu memang benar benar menyukai aku Aira, tetapi sejak kapan dia suka sama gw ya!."


Ucap Alan pelan, dia mencoba berpikir tapi hasilnya nihil.


" Ah sudahlah tidak usah dipikirkan, yg penting sekarang Aira menyukai gw!."


Ucap Alan bersemangat.


Beberapa menit kemudian berlalu, Aira tak kunjung keluar dari kamar mandi, dan hal itu membuat Alan khawatir, Alan turun dari ranjangnya, dan mulai berjalan menuju pintu kamar mandi, saat dia ingin mengetuknya, tiba tiba saja pintu kamar mandi terbuka, dan keluar lah Aira dengan rambutnya yg basah, Alan langsung menelan ludahnya dengan susah payah, karena tenggorokannya Tiba tiba saja terasa kering.


" Ngapain lu didepan pintu kamar mandi huh?, Apa jangan-jangan lu mau ngintip gw mandi ya...wah..lu su-"


Ucap Aira cerocos nya tetapi langsung ditutup mulutnya dengan tangan kekar Alan, laki laki itu mengisyaratkan Aira supaya diam.


" Gw tadi khawatir, takut lu kenapa-kenapa, makanya gw samperin!."


Tapi saat Alan melepaskan tangan nya dari mulut Aira, Gadis itu tiba tiba saja membuka mulutnya sambil berteriak.


" Wahhh... tolong Aira...!!."


Ucap Aira sambil berteriak kencang.


" Oh tuhan." Pikirnya tidak habis pikir, dan Aira terlihat ingin berteriak kembali, tanpa pikir panjang, Alan langsung membuat Aira bungkam langsung menggunakan bibirnya, mata Aira membulat sempurna, Gadis itu tidak menyangka jika pagi pagi bibirnya akan bersentuhan lagi dengan bibir Alan, atau lebih tepatnya dicium pikirnya.


Alan kemudian menjauhkan wajahnya, dan mulai memperhatikan wajah Aira yg terlihat masih syok, Alan kemudian memajukan wajahnya.


" Kalau kamu berani teriak lagi seperti tadi aku akan mela-."


Ucap Alan sambil berbisik di Aira, tapi ucapan nya langsung terpotong karena seseorang tiba tiba saja membuka pintu kamar nya tanpa mengetuk terlebih dahulu dan lebih parahnya lagi adalah posisi Alan dan Aira saat ini yg bisa membuat orang lain salah paham.


" Akhh.. maafkan mamah ya..tadi sepertinya mamah denger Aira teriak, tetapi sepertinya mamah salah dengar."


Ucap Elena sambil menutup pintu kamar Alan, Tetapi sebelum pintunya tertutup, Elena mengatakan sesuatu yg membuat dua sejoli tersebut malu.


" Lanjutkan aktivitas kalian ya, hmmm...mamah pengennya cucuc cewek..tapi nggak apa apa cowok juga..yg penting mamah mau nimang cucu secepatnya.. hehehhehehe."


Ucap Elena sambil menutup pintu kamar Alan.


" Mah.. tunggu."


Ucap Aira yg Sepertinya ingin menjelaskan tetapi terlambat sudah, kemudian dia menatap Alan yg sedang tersenyum misterius kepadanya, tiba tiba saja tubuhnya menjadi merinding.


" Ngapain lu liatin gw kayak gitu?."


Ucap Aira sambil melangkah mundur, tetapi Alan berjalan beberapa langkah kedepan.


" Sepertinya mamah ingin punya cucu, bukankah kita bisa memberikannya satu!."


Ucap Alan godanya, Aira membelalakkan matanya.


" Lu jangan bercanda ya..gw masih bocah nihh.."


Ucap Aira beralasan, Tetapi Alan tetaplah Alan, dia suka melihat Aira seperti mati kutu.


" Bukankah menikah itu untuk melanjutkan keturunan ya."


Ucap Alan sambil maju, Aira berjalan mundur tapi dia sudah mentok.


" Jangan macam macam lu, ya..kalau nggak mau masa depan lu itu hancur gw potong potong pake pisau."


Ucap Aira mengancam.


" Siapa takut."


Ucap Alan sambil menyeringai kemudian dia memajukan wajahnya, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.


" Jauhin muka lu dikit kunyit."


Ucap Aira kelabakan.


" Nggak mau!."


Ucap Alan sambil tersenyum usil. Alan semakin memajukan wajahnya dan hidung mereka berdua sudah bersentuhan, Aira terlihat memejamkan matanya. Alan tersenyum, kemudian dia memberikan jarak beberapa sentimeter.


Aira membuka matanya, dan melihat Aira sedang tersenyum usil kepadanya.


" Sepertinya ada y berharap untuk dicium nih."


Ucap Alan menggodanya.


" Dasar kunyit mesumm!!."


Ucap Aira sambil berlari keluar dari kamar, Alan terkekeh kecil melihat tingkah laku Aira, kemudian dia teringat wajah Aira yg sedang memejamkan matanya.


" Akan berbahaya jika gw melanjutkan apa yg gw mau lakukan tadi, gw nggak mau dia membenci gw, bukankah menunggu dia siap itu lebih baik."


Ucap Alan pelan sambil masuk kedalam kamar mandi.


.


.


.


.


.


Terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca ☺️