
Aira menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum, kemudian dia mengecup bibir Alan sekilas, laki laki itu langsung mematung. Aira tersenyum melihat reaksi Alan.
" Aku mencintaimu."
ucap Aira pelan, Senyuman bahagia terukir jelas diwajahnya Alan, laki laki itu tanpa pikir panjang langsung mengangkat tubuh Aira dan memutarnya, Aira hanya tersenyum terkekeh.
" Turunin."
ucap Aira, Alan pun menurunkan Aira senyuman bahagia masih tidak luntur diwajahnya.
" Kamu sepertinya bahagia sekali?."
ucap Aira.
" Aku memang sedang bahagia, seakan akan dunia ini tidak mampu membendung perasaan aku saat ini."
ucap Alan sambil menyentuh dadanya.
" Dasar lebay!."
ucap Aira sambil geleng-geleng kepala.
" Biarkan sekali kali lebay."
ucap Alan santai.
" Masih mau tidur?."
ucap Aira
" Nggak, sudah nggak ngantuk lagi!."
ucap Alan
" Kalau kayak gitu mandi sana."
ucap Aira
" Emangnya mau kemana kita?."
ucap Alan sambil bergelayutan manja kepada Aira.
" Aku lapar, aku mau makan, kalau kamu nggak mandi aku tinggalin, aku mau turun sendirian kalau kayak gitu."
ucap Aira sambil memiringkan kepalanya.
" Aih aih... tadi barusan lagi mesra-mesranya sekarang udah mau ditinggal sendirian aja suami mu ini sendiri."
ucap Alan heran.
" Saat ini perut ku lebih penting."
ucap Aira sambil tersenyum polos Alan dibuat melongo.
" Kalau nggak sayang aja, udah gw lempar deh." pikirnya
" Ayo...mau ditungguin nggak..kok malah ngelamun sih!."
ucap Aira tiba-tiba nadanya sudah mulai kesal.
" iya tunggu..kita turun kebawah bersama sama."
ucap Alan sambil berlari ke kamar mandi, Aira tersenyum sendiri.
" Kayak ini yg namanya suami takut istri."
ucap Aira terkekeh kecil, tidak butuh waktu lama Alan sudah keluar dari kamar mandi.
" Cepet banget?."
ucap Aira
" Kamu mandinya kayak gimana?."
ucap Aira heran.
" Mandinya pake air, terus sabunan terus sikaj Gigi, terus cuci muka, terus ganti baju selesai."
ucap Alan.
" Tapi kok bisa cepet banget mandinya."
ucap Aira masih penasaran, Alan kemudian memajukan wajahnya.
" Kalau seperti itu, lain kali sepertinya kita perlu mandi bareng nanti."
ucap Alan, wajah Aira tiba-tiba memerah seperti kepiting rebus.
" Dasar mesum!."
ucap Aira sambil mendorong Alan, alan tersenyum kecil.
" Tapi kamu mencintai laki laki mesum ini."
ucap Alan penuh percaya diri.
" Dasar narsis!."
ucap Aira yg kemudian keluar dari kamar begitu saja.
" Tungguin dong sayang!."
Alan dan Aira sedang menuruni tangga, tiba-tiba saja Aira melihat sosok yg tak asing dimatanya. kemudian Aira mengalihkan pandangannya ke Alan
" Ngapain itu ulat bulu ada disini?, Apa jangan jangan kamu kegoda sama itu si ulet?."
ucap Aira tak suka, Alan langsung menggelengkan kepalanya.
" Kamu harus percaya sama aku, Aku sama sekali nggak tau kalau wanita itu ada disini, dan aku sama sekali tidak pernah tergoda sekali pun dengan gadis yang seperti dia."
ucap Alan berusaha membuat Aira percaya.
" Ok.. aku percaya sama kamu."
ucap Aira pelan, kemudian dia mulai melanjutkan langkahnya.
" Wah.. pengantin baru baru bangun tidur!."
ucap Rachel, Aira hanya tersenyum mendengar ucapan Rachel.
Aira pun menarik bangku dekat dengan Elena, begitu pula dengan Alan dia sepertinya tidak mau berjauhan dengan istrinya dia dengan sengaja menarik bangku disebelah sana Aira, tiba-tiba suasa dimeja makan menjadi hening,.
" Bukankah kepala keluarga harus nya duduk di kursi sebelah sana."
ucap Tante Linda sambil menunjuk kursi yg sampingnya sudah ada ulet bulu, Aira menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan dingin.
" Terimakasih Tante Linda, tapi mulai saat ini aku akan duduk disamping istriku untuk seterusnya juga akan tetap begitu."
ucap Alan mantap.
" Berarti kamu mau melanggar aturan keluarga besar Nugroho?."
ucap Tante Linda keras kepala.
" Aturan itu.. terkadang bukan hanya untuk ditaati saja. tapi dilanggar juga bisa."
ucap Alan dingin, wajah Tante Linda tiba-tiba berubah masam.
" keluarga anggota baru biasanya yg menyiapkan makanan, bukan baru bangun tidur!."
ucap Tante Linda tiba-tiba mengubah alur pembicaraan, Aira terlihat ingin membuka mulutnya, tetapi Tante Linda sepertinya masih blm selesai.
" Akan lebih baik jika Adelia yg menikah dengan mu Alan, sebenarnya Tante menentang keras pernikahan ini, dan benar saja apa yang-."
ucap Tante Linda terpotong tiba tiba karena Alan tiba tiba berdiri dari tempat duduknya dan menatap tantenya dengan dingin, Aira tidak pernah melihat ekspresi wajah dingin dan aura pembunuh yg begitu jelas.
" Pertama sepertinya saya tidak pernah mengundang Tante Linda dan wanita yg bernama Adelia ini untuk datang ke mansion ini, yg kedua saya menikahi seorang wanita bukan untuk menjadikan dia seorang pembantu, malahan saya ingin membuat dia menjadi seorang ratu, yang ketiga saya sangat berterimakasih dan bersyukur karena mamah saya tidak pernah tergerak sedikit pun untuk menikahkan saya dengan keponakan angkat mu itu yg bermuka tebal."
ucap Alan sambil menggeser kursinya dan berniat untuk pergi tapi langkahnya terhenti.
" Kenapa kamu sangat membela wanita murahan ini."
ucap Tante Linda yg masih tidak mau mengalah, kali ini Aira yg membuka mulutnya.
" Permisi, sebelumnya maaf kalau anda berpikir saya wanita murahan.. terus wanita yg ada disampingnya Anda aoa dong..hmn!."
ucap Aira sambil tersenyum polos, Adelia mengepalkan tangannya.
" Berani beraninya kamu!."
ucap Tante Linda yg siap siap mau menampar wajah Aira, tapi gadis itu langsung merubah raut wajahnya.
"Jika Tangan anda berani menyentuh wajah saya..saya jamin anda tidak bisa menggunakan tangan Anda lagi."
ucap Aira pelan sambil tersenyum menyeringai Linda dibuat merinding melihat seringaian Aira.
" Berani beraninya kamu mengancam yg lebih tua, memang nya orang tua mu tidak mengajarkan etika."
ucap Linda yg sudah tersulut emosi, Aira menatap Linda dengan santai seakan akan dia sedang bermain dengan boneka.
" Orangtuaku memang mengajarkan tatak Rama, dan mereka juga menyuruh ku untuk menghormati yg lebih tua, Tetapi sayangnya kali ini, saya sedang melupakan tata Krama yg sudah saya pelajari."
ucap Aira santai.
" Berani beraninya kamu!."
ucap Linda.
" Linda cukup. sepertinya kamu memang tidak bisa menginjakkan kaki kamu disini lagi."
ucap Elena.
" Kak elena berpihak dengan gadis jalan* ini?."
ucap Linda tak percaya
" Jaga ucapan mu Linda, Aira adalah menantu kebanggaan ku, yg menjadi wanita jalan* disini tidak lain adalah keponakan mu itu, sudah tau jika Alan sudah menikah tapi masih tetap saja menggoda suami orang bukankah itu sama saja dengan wanita murahan!."
ucap Elena tegas.
.
.
.
.
.