Try Not to Fall In Love

Try Not to Fall In Love
Bab 31



Aira mematung otaknya membeku, dia tidak tau harus bersyukur atau merutuki nasib sial yg menimpanya.


" Oh...Shittt kenapa harus tuan mesum!!." pikirnya


Alan memperhatikan wajah Aira yg menurutnya menggemaskan karena dari tadi matanya beberapa kali berkedip.


" Tidak ada satu wanita pun yg berani berdiri disamping ku... Gadis kecil."


ucap Alan berbisik dan kemudian menjauhkan tubuhnya dari Aira sambil tersenyum misterius, ingin sekali Aira memukul wajah laki laki yg telah menjadi suaminya.


" Jika saja ini dilapangan...udah gw habisin lu semprull."


ucap Aira mengumpat pelan tetapi masih terdengar jelas ditelinga Alan, membuat laki laki tersebut menatap Aira kembali tanpa ekspresi sama sekali.


" Emangnya lu mau jadi janda kecil?."


ucap Alan santai.


" Kenapa nggak...masih banyak cowok yg ngantri buat jadi suami gw...bukan hanya lu doang."


ucap Aira, tetapi tidak tau kenapa ucapan Aira menyulut emosi Alan.


Grepp.


Alan mencengkeram tangan Aira dan menariknya keluar dari ruangan tersebut, membuat orang orang yg berada disana langsung terdiam, dan suasana tiba tiba hening.


" Ah...maaf bapak Hendra sepertinya anak saya sudah mau bawa pulang anak bapak saja.. maafkan atas ketidak nyamanannya."


ucap Elena.


" Ah tidak apa-apa...yg penting mereka senang."


ucap Hendra tersenyum misterius.


" Orangtua macam apa itu?, Tidakkah anda merasa sedikit khawatir dengan Aira?, putri anda baru menikah dengan kakak saya, yg saya tau anda sudah tau identitas kakak saya... bukannya seharusnya anda takut putri anda kenapa kenapa?."


ucap Rachel sinis, karena dia tidak menyangka orangtua mempelai Kakaknya sangat lah tidak berperasaan.


Hendra menatap Rachel tidak suka, tetapi dia mencoba untuk menutupinya tetapi masih terlihat jelas dari raut matanya.


" Ah ini anak bungsu anda ternyata Nyonya, cantik sekali.. bolehkah om tau nama kamu?."


ucap Hendra basa basi.


" Maaf saya tidak Sudi berkenalan dengan orang tua yang seperti anda, saya heran kenapa putri anda mau berkorban demi orang tua yg seperti anda."


ucap Rachel dingin sambil geleng-geleng kepala dan meninggalkan ruangan tersebut, Hendra mengepalkan tangannya geram.


" Jika saja Gadis itu tida mempunyai kuasa apapun, akan saya berikan dia kado mimpi buruk yg indah." pikir Hendra, sedangkan Elena hanya terdiam dia sama sekali tidak mencegah Rachel untuk berbicara tidak sopan dengan besannya, tetapi sebagai orang tua bukankan seharusnya dia khawatir dengan putrinya, apalagi mengingat Calon suami anaknya adalah seorang mafia juga?. pikir Elena


" Saya kira....saya tidak perlu berada disini lagi, Nikmat saja perjamuan makan yg ada, saya pulang terlebih dahulu, untuk memastikan menantu saya baik baik saja"


ucap Elena datar, dia sengaja berbicara dengan nada yg tidak bersahabat.


" Bukankah nyonya Elena belum berkenalan dengan istri saya?."


ucap Hendra mengukur waktu.


" Tidak perlu... karena saya tau anda itu laki laki seperti apa, dan tentunya pasangan anda, apa bedanya dengan anda?."


ucap Elena sinis meninggalkan Hendra dibelakang yg sedang menggeram menahan amarahnya.


" Jika dia bukan orang kaya... siapa yg Sudi menikah dengan Laki laki yg bernama Alan itu."


ucap Hendra tidak suka, Hendra membalikkan tubuhnya dan mendapati Sosok Intan dengan wajah sendunya.


" Cihhh....kamu mau meratapi nasib sial anak mu itu?, Atau mungkin kamu ingin menemani anak itu hmm, jika memang benar dengan senang hati saya akan menceraikan dan membuat mu menjadi uang."


ucap Hendra datar sambil berjalan melalui Intan dan dengan sengaja menyenggol pundak Intan, Intan mengigit bibir bawahnya, supaya tidak menangis, Dia masih teringat jelas bagaimana suami Aira menarik nya keluar tadi.


" Semoga kamu tidak apa apa nak..."


ucap Intan pelan.


🌲🌲🌲🌲


Aira Beberapa menyentakan tangannya, tetapi cengkraman tangan Alan malah semakin kuat, membuat Aira menyerah untuk mencoba.


" Jika dia berani macam macam, tinggal gw tendang aja tuh telurnya...biar tau rasa." pikir Aira.


Tanpa Aira sadari merek berdua sudah berada di parkiran, Alan membuka pintu mobil dan menyuruh Aira untuk masuk, tetapi Aira bukanlah gadis penurut.


ucap Aira kesal, Alan memberikan tatapan tajam.


" Masuk, sebelum gw patahin kedua kaki lu, mau lu?."


ucap Alan mengancam, Tetapi Aira adalah gadis yg keras kepala. Aira memberikan alasan datar, seperti tidak peduli dengan ancaman yg di ajukan oleh Alan.


" Patahin aja kedua kaki gw, Toh yg bakal malu bukan gw doang, tapi lu juga, karena pasti lu di cap nikahin cewek cacat, mau lu dihina?."


ucap Aira membalikkan kata katanya, Alan mengerutkan keningnya karena ini adalah hal yg baru, karena biasanya orang orang akan selalu melaksanakan apa yg diperintahkan, tetapi Gadis yg berstatus Istrinya ini berbeda seperti spesies langka.pikirnya.


" Ya elahhh... kenapa lu ngelamun... giliran gw udah masuk dan duduk manis di mobil lu, lu malah diam aja kaya kesambet seta*!."


ucap Aira asal yg sudah duduk manis di dalam mobil, sedangkan Alan sama sekali tidak melihat pergerakan Aira.


" Ya elahhh..malah diam... bukannya tadi doyan banget tuh ngomong sampai berbusa gitu."


ucap Aira menyindir Alan, Alan berdecak kesal, tetapi dia tidak mau ambil pusing, dia berjalan ke sebelah pintu mobil lainnya, dan langsung masuk kedalam


" Pasang sabuk pengaman lu!."


ucap Alan memberi perintah, membuat Aira dengan sigap memasang Sabuk pengamannya.


Alan kemudian menjalankan mobilnya dan mulai mengendarainya.


" Kita mau kemana?."


ucap Aira, melihat sekelilingnya karena tiba tiba saja jalanan dipenuhi pepohonan yg besar.


Aira menunggu jawaban dari Alan, tetapi sepertinya Alan berpura pura tidak mendengar, dan hal itu mampu membuat Aira kesal.


" Lu nggak berpikiran aneh kan?."


ucap Aira.


" Berpikiran aneh?."


ucap Alan tanpa menoleh kearah Aira.


" Maksud gw lu nggak ada niat buat bunuh gw di hutan kan, Karena kesel sama gw, inget ya gw ini istri lu, kalau orang orang nemuin gw mati, pasti polisi akan menangkap lu sebagai tersangka."


ucap Aira percaya diri, hening sesaat tetapi setelah itu terdengar suara tawa Alan di dalam mobil, membuat Aira seketika merinding mendengar suara tawa Alan.


" Gila lebih serem dari pada Tante key...yg ada di pohon beringin!!."


pikirnya


" Hahhaha... Dengerin gw baik baik Gadis kecil, Gw itu licin macam belut, polisi itu adalah antek anteknya gw, Yg sekarang lu perlu pikirin adalah Bagaimana caranya lu bisa terbebas dari maut lu malam ini..hahhaha."


ucap Alan tertawa keras, sedangkan Aira hanya memutar bola matanya jengah.


" Gw nggak perlu nunggu lu matiin gw saat dirumah lu, Kalau lu mau gw kasih lu ide dah... kenapa lu nggak bunuh gw sekarang aja di mobil, mumpung jalanan sepi dan samping sampingnya jalan adalah hutan, bukankah itu mempermudah lu?."


ucap Aira, dan Alan tertawa sekali lagi dengan keras.


" Lu masih waras kan, Jangan bilang gw nikah sama suami yg baru kabur dari rumah sakit jiwa!."


ucap Aira sarkastik, Alan langsung menghentikan Tawanya, dan tiba tiba saja menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Aira menatap Alan.


" Ide gila apalagi yg muncul di otak si tuan mesum itu?, Semoga saja nggak nyuruh gw keluar dari mobil..."


pikirnya, tetapi sejurus kemudian Aira merutuki pikirannya.


" Sekarang Turun dari mobil!."


ucap Alan datar, membuat Aira melongo.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca ☺️