
Aira baru melangkahkan kakinya beberapa langkah, dia ingin segera menghampiri ibu yg dia Tolong tadi, tetapi semua itu tertunda karena hp Aira mulai bergetar beberapa kali, Aira menghela nafas kesal, Aira menghentikan langkahnya sambil mengeluarkan hpnya dan tertera no asing yang tidak asing.
" Kenapa sih, hari ini banyak orang yang nyebelin!."
ucap Aira menggerutu kesal, Aira menghela dan menghembuskan nafasnya dan mencoba untuk tenang, dan setelah merasa sedikit tenang, Ia pun mengangkat telpon tersebut.
" Halo!."
ucap Aira datar.
"......"
" Bukankah masih ada satu jam lagi?."
ucap Aira sambil melihat jam tangannya.
" ......."
" Baiklah, baiklah, tapi mungkin saya akan sedikit telat kesana."
ucap Aira beralasan.
"....."
Aira mengertakan giginya, dia paling tidak suka dipaksa, ataupun diperintah.
" Saya akan bertemu dengan anda, ditempat biasa."
ucap Aira keras kepala.
"....."
Aira mengepalkan tangannya.
" Kenapa saya harus pergi kesana, bukankah saya tidak diterima disana?."
ucap Aira sinis.
"...."
" Baiklah jika seperti itu ceritanya, saya akan pergi ke kantor pusat, tetapi saya tidak mau masuk keruangan tua Bangka itu sendirian!."
ucap Aira dingin, setelah itu Aira langsung mematikan telponnya, Aira memejamkan matanya.
" Baru juga gw mau mulai hidup dengan tenang."
ucap Aira kesal, dia memasukkan hpnya ke kantong celananya, dia mulai melanjutkan langkahnya, tetapi langkahnya terhenti saat ia melihat sosok laki laki yg sangat familiar.
Aira melangkahkan kakinya dengan cepat menuju mereka berdua, kemudian ia menepuk pundak laki laki tersebut, laki laki itu menolehkan kepalanya, ia terkejut saat mengetahui siapa sosok laki laki itu.
Aira tersenyum kecil, setelah melihat laki laki tersebut.
" Ah untungnya lu ada disini Bro!."
ucap Aira, Rizal menatap Aira dengan heran, Rizal masih memegang tangan Indah (Mamahnya).
" Ada juga gw kali yg harusnya nanya begitu sama lu!."
ucap Rizal tidak mau kalah, Aira nyengir kuda.
" Sorry Bro, kebetulan hari ini gw emang lagi ada keperluan."
ucap Aira menjelaskan, tetapi dia tidak memberi tahu yg sebenarnya, kemudian Aira teringat tentang ibu ibu yg dia tolong barusan, sambil celingukan mencari sosok yg dicari dan akhirnya terlihat juga. Aira mengernyitkan keningnya.
" Lu kenap sama ibu ini?."
ucap Aira
" Maksud lu mamah gw?."
ucap Rizal yg tak kalah heran, Aira mengernyitkan keningnya, tidak lama kemudian dia pun sadar.
ucap Aira sambil berbisik, Rizal semakin dibuat bingung, Rizal melihat Mamahnya kemudian menatap Aira lagi.
" Maksud lu apa gw nggak ngerti!."
ucap Rizal heran, Aira menghela nafas, kemudian dia menatap jam tangannya.
" Lain kali aja gw ceritain, dan juga jaga nyokap lu, karena gw rasa ada orang yang berniat jahat terhadap nyokap lu!."
ucap Aira pelan sambil menepuk pundak Rizal dan berjalan melewati Rizal kemudian berjongkok didepan Indah, mamahnya Rizal.
" Tante, maaf ya aku nggak bisa menepati janji aku, tapi aku janji suatu hari nanti aku akan main kerumahnya Tante!."
ucap Aira sambil memegang tangan indah lembut, sambil tersenyum manis, Aira merasa berat untuk berpisah dengan wanita yang baru dia temui untuk pertama kalinya, tetapi dia mencoba menghilangkan perasaan tersebut, saat Aira sedang memikirkan sesuatu, dia tersentak saat merasakan tanggalnya di pakaikan sesuatu, mata Aira langsung membulat sempurna, setelah tau apa yg sedang melingkar dipergelangan tangannya, Aira merasa tidak pantas, dia mencoba untuk melepaskan gelang tersebut, tetapi tangganya ditahan, Aira menatap wajah wanita paruh baya yang kecantikan nya masih belum pudar.
"Pakai gelang ini."
ucap Indah sambil memegang tangan Aira dan menatapnya penuh kasih sayang, Aira merasakan sensasi hangat menjalar di seluruh tubuhnya.
" Tapi aku nggak pantas untuk menerima ini Tante."
ucap Aira lembut dan berusaha untuk menolak pemberian tersebut, Indah menggelengkan kepalanya.
"Gelang ini sengaja Tante beli buat kamu Aira, dan juga bisakah kamu memanggil Tante dengan sebutan Mamah?."
ucap Indah penuh harap, Aira terdiam sejenak, dia masih belum mengerti maksud ucapan Indah, sedangkan Rizal dia hanya bisa menghela nafas panjang.
" Ternyata mamah memang bukan orang yang suka berbelat belit!." pikir Rizal.
Aira menatap wajah Indah dengan ekspresi bingung, dia tidak tau harus berkata apa, walaupun Aira merasa nyaman dengan wanita yang ada dihadapannya saat ini, kan aneh kalau tiba-tiba saja ia memanggilnya Mamah?, dan juga maksud ucapan Tante tadi apa?. pikirnya.
" Sepertinya kamu masih terkejut sayang, tapi Tante mohon, panggil Tante Mamah, supaya kita bisa lebih akrab lagi."
ucap Indah sambil menggenggam tangan Aira, Aira terlihat bingung kemudian dia melirik kebelakang meminta pendapat Rizal, dan Rizal hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Aira menaikan sebelah alisnya, sambil menghela nafas panjang, kemudian dia menatap wajah Indah kembali yg tidak henti hentinya tersenyum dari tadi dan itu membuat Aira luluh.
" Baiklah..Tan..eh maksud aku Ma..mah.."
ucap Aira sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Indah tersenyum sumringah dengan mata yg berbinar binar.
" Terimakasih sayang!."
ucap Indah sambil memeluk Aira, gadis itu langsung terdiam kikuk, tetapi pada akhirnya dia membalas pelukan tersebut.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca ☺️...
.
.
.
.
Terimakasih untuk vote, like dan komentar nya...