
Seorang Gadisadis tertawa terus menerus sampai tidak terasa sudah hampir sampai rumahnya, dia pulang di temani oleh seorang laki-laki.
" Woy bro mampir dulu nggak?, setidaknya gw udah nawarin lu."
ucap Aira sambil tersenyum, Rizal hanya geleng-geleng.
" Lain waktu aja, nanti gw chat kalau udah sampai rumah, dan good luck buat ujiannya besok ok."
ucap Rizal sambil tersenyum dan berlalu pergi dari depan rumah Aira.
Aira pun masuk kedalam rumah nya.
" Aku pulang!!."
ucap Aira, sambil masuk ke dalam, tapi diruang tengah tidak ada siapapun jadi Aira langsung masuk ke kamarnya.
Baru beberapa menit Aira berada di kamarnya, seseorang sudah mengeruk pintu kamarnya.
" Masuk!."
ucap Aira.
" Kak, lu habis dari mana aja sih?, lama bener dari panti nya."
ucap Laki laki tersebut yg tidak lain adalah adik laki laki nya.
" Emangnya lu kenapa Vin?, kalau minta jajan ke Papah aja, jangan minta duit ke gw."
ucap Aira ketus, sebenarnya Aira dan Kevin adalah adik kakak yg saling menyayangi dan mendukung satu sama lain, tapi tidak tau kenapa Aira selalu diperlakukan tidak adil oleh Papahnya.
" Yah.....kakak kok gitu, nanti gw dimarahin Papah."
ucap Kevin sambil merengek.
" Kalau lu minta duit ke gw, gw besok berangkat pake apa, lu tau sendiri gw nggak pernah minta uang jajan ke papah sama sekali."
ucap Aira ada sedikit perasaan sedih sebenarnya.
" Kenapa kak?, Bukannya kakak juga masih sekolah?, jadi wajar kalau kakak masih minta uang ke Papah."
ucap Kevin tegas, sebenarnya Kevin juga merasa kalau kakak nya di perlakukan tidak adil oleh Papahnya.
" Aih sudah lah jangan di bahas lagi kakak besok ada ujian, jadi lebih baik kamu keluar dari kamar kakak, dan kakak nggak kasih uang untuk kamu ngertikan."
ucap Aira yg mencoba menjelaskan ke adiknya yg keras kepala.
" Ok kalau kaya gitu, belajar yg semangat ok, jangan cepet nyerah kak."
ucap Kevin sambil keluar dari kamar Aira,
Aira hanya tersenyum melihat tingkah laku adiknya yg satu ini, Kevin merupakan adik yg manis menurut Aira. Aira terus saja belajar tanpa dia sadari dia sudah tertidur pulas.
Aira terbangun karena merasa silau, Aira pun terbangun dan dia baru sadar kalau dia sama sekali belum ganti baju, dia melihat jam sudah 06:30, matanya langsung melotot dia langsung berdiri dan berlari ke arah kamar mandi, Aira hanya mandi 5 menit, dia mengganti baju dan menyisir rambutnya dan mengambil tasnya dan memasukkan hp dan dompetnya. ke dalam tas, Aira langsung turun kebawah.
Saat di bawah Aira melihat papah dan adiknya sedang makan bersama, Aira menyalami tangan orang tuanya.
" Mah Aira berangkat dulu."
ucap Aira sambil memakai sepatu nya.
" Kamu nggak sarapan dulu?."
ucap Intan.
" Nggak perlu mah, nanti dikantin aja."
ucap Aira sambil berdiri.
" Aira pamit berangkat dulu."
ucap Aira sambil berlari keluar dan menutup pintu rumahnya. beberapa menit setelah itu Kevin pun berangkat.
Hanya ada kedua orang tuanya dirumah.
" Saya hanya mengingatkan mu, setelah Aira selesai ujian, maka saya akan memberi tahu nya, jadi kamu tidak bisa menghalanginya lagi"
ucap Hendra sambil pergi.
Intan hanya terdiam dan menangis, dia memikirkan bagaimana reaksi anaknya nanti, Aira masih kecil, dia masih ingin belajar, dia masih ingin bermain, apakah Aira mampu untuk menerima nya?. pikirnya
" Maafkan mamah Aira, mamah sama sekali tidak bisa menghentikan tindakan papah mu sama sekali."
ucap Intan disela tangisnya.
Disekolah.
Anak anak murid sudah duduk di bangkunya masing masing. ujian pun sudah dimulai, beberapa jam kemudian, setelah ujian selesai, Violeta dan ChaCha menghampiri Aira.
" Hey...pas habis dari sana ( diskotik) kan pulang, kenapa lu nggak nginep dirumah gw?."
ucap Violeta mengintrogasi Aira, Aira menatap temannya, menghela nafas.
" Kalian berdua mabuk parah saat itu, gw capek kalau nginep dirumah lu vio, jadi gw pengen pulang aja ke rumah gw."
ucap Aira jujur memang dia capek, tapi mustahil juga kalau dia berkata jujur tentang apa yg terjadi saat diskotik dan saat mereka dikejar, jika Aira bercerita mereka pasti akan histeris tidak karuan.
" Tapi kata pak Dudung lu pulang sendiri nggak mau di antar pulang?."
ucap ChaCha, sekarang dia yg bertanya.
" Gw pengen pulang sendiri, lagian rumah Violeta dan rumah gw Deket kok."
ucap Aira.
" Iya gw tau, tapi gw yakin pas malam itu kita pulangnya pasti tengah malam Ra."
ucap Violeta, Aira terdiam sejenak.
" Aih lu berdua kayak nggak tau gw aja, kalau ada apa apa kan tinggal gw hajar aja."
ucap Aira cengengesan.
ucap Chacha.
" Nggak ada kata feminim di kamus gw Cha."
ucap Aira sambil berdiri dan mengambil tasnya.
" Lu mau kemana Ra?, bukannya masih ada ujian lagi?."
ucap ChaCha.
" Gw belum sarapan, jadi gw mau ke kantin dulu, apa lu berdua mau ikut juga?."
ucap Aira, sambil berjalan tanpa menjawab ucapan Aira mereka berdua mengikuti langkah kaki Aira.
Ditempat lain.
seorang laki-laki sedang memperhatikan daftar orang yg masuk, sesekali dia membenarkan kacamatanya, sudah dari kemarin malam dia bekerja, tapi kerjaannya sama sekali belum selesai, laki laki tersebut melemparkan kertas yg dia pegang.
" Pekerjaan seperti ini yg bikin gw gila, lebih baik gw disuruh bunuh orang, dari pada harus nyari satu nama orang dari ribuan orang bukan lah gila, dan kenapa lagi itu diskotik akhir akhir ini malah banyak pengunjung."
ucap Aldi menggerutu, sambil mengacak-acak rambutnya, baru beberapa saat dia diam dan memijat keningnya.
Ada suara telepon berdering, Aldi mendengus kesal, dia melihat nama yg tercantum di hpnya dia tersenyum karena yg nelpon dia bukan Alan tapi salah satu sahabat mereka.
" Hey bro, gimana kabar lu?."
ucap Laki laki tersebut.
" Gw baik, gimana kabar lu?, kapan pulang ke Indonesia?."
ucap Aldi tersenyum, dia senang mendengar suara dari orang tersebut.
" Hahah sorry bro, sebenarnya gw sudah berada di Indonesia beberapa hari yang lalu karena urusan pekerjaan."
ucap Laki laki tersebut sambil tertawa.
" Wah gila lu Rizal, tau gitu gw minta bantuan lu."
ucap Aldi, laki laki yg sedang berbicara dengan Aldi adalah Rizal.
" Emangnya ada apa?, sepertinya ada hal serius terjadi?."
ucap Rizal semangat.
" Serius apaan, mungkin kalau lu denger gw mau minta bantuan apa, pastinya lu bakal ketawa."
ucap Aldi kesal.
" Wah emang nya soal apa kali ini?, sampai lu sendiri yg turun tangan?."
ucap Rizal penasaran.
" Alan nyuruh gw buat cari informasi seorang cewek bro."
ucap Aldi pasrah terdengar suara tawa yg kencang.
" Ketawa lagi lu, bukan nya bantuin gw."
ucap Aldi mendengus kesal.
" Hahhaha sorry bro, hanya aja lu ngomong kaya sebuah lelucon aja buat gw, hahahah...dan lagi itu anak ke sambet setan apa, sampai lu disuruh nyari cewek itu."
ucap Rizal yg masih tertawa, sedang Aldi hanya diam.
" Sebenarnya itu kaya gini."
ucap Aldi, sambil menceritakan kejadian semuanya dari awal sampai beberapa anak buahnya tidak bisa mendapatkan informasi tentang gadis itu , sampai Aldi sendiri yg disuruh turun tangan.
" Gitu jadinya Zal, coba aja lu pikir gimana gw nggak gila coba, lebih baik gw ngerakit bom ketimbang harus cari satu nama cewek dan cari tau orangnya cocok atau nggak, gw bukan orang yg sabar atau telaten bro."
ucap Aldi terus terang, sedangkan Rizal hanya diam dan geleng geleng kepala.
" Sorry bro kalau lu mau minta bantuan tentang hal seperti ini gw angkat tangan, lu tau sendiri gw aja sampai sekarang masih cari adik gw masih belum ketemu, apalagi cari satu cewek lagi, nggak deh makasih."
ucap Rizal menolak temannya.
" Jujur bro, gw heran sama lu sampai sekarang lu masih mencari adik lu yang hilang 16 tahun yg lalu, tapi sampai sekarang lu belum menemukan informasi seputar adik lu."
ucap Aldi, sebenarnya ada rasa kasihan terhadap sahabatnya satu ini karena adik perempuan Rizal adalah satu satunya keluarga yg Rizal punya tapi karena kejadian tersebut membuat dia dan adiknya terpisah.
" Yang sabar aja bro, terus sekarang gimana kabar percintaan lu?, apa lu sudah mempunyai seseorang yg lu suka?."
ucap Aldi, membuat Rizal berpikir sejenak tiba tiba Rizal terpikir kan wajah Aira. dan tersenyum manis
" Hey bro kenapa lu diam aja?."
ucap Aldi.
" Oh nggak hanya saja, sepertinya gw perlu memastikan sesuatu bro, jadi gw matiin dulu bye."
ucap Rizal, sambil mematikan hp, Rizal melihat hpnya tidak ada balasan SMS atau telpon balik dari Aira, tidak tau kenapa hal tersebut membuat Rizal khawatir, padahal mereka baru pertama kali bertemu.
.
.
.
.
.
.
.
jangan lupa like dan share ☺️