
Aira masuk kedalam villa, gadis itu melangkahkan kakinya kearah dapur, tetapi dia tidak menemukan makanan apapun disana, dan didalam kulkas sama sekali tidak ada bahan makanan yg bisa di pasak.
" Ini villa gede nya bukan main, tapi masa mie instan juga nggak ada sih!."
ucap Aira menggerutu kesal, Alan menyenderkan kepalanya di pinggir pintu, sambil memperhatikan gerak gerik Aira yg terlihat sedang kesal, tetapi itu membuatnya terlihat sangat menggemaskan menurut Alan.
Alan tersadar dari lamunannya saat Aira berjalan melalui dirinya begitu saja.
" Apa itu anak nggak mau nanya sesuatu gitu?, masa asal nyelonong aja?." pikirnya, tanpa mengatakan apa-apa Alan berjalan mengekor dibelakang Aira seperti anak anjing.
Aira pun kesal dibuatnya, Aira membalikkan badannya, kemudian dia menatap wajah Alan dengan datar. mereka berdua berhenti ditengah ruang tengah.
" Apa lu nggak punya kerjaan lain?, selain berjalan dibelakang gw wahai tuan Alan Gusti Nugraha?."
ucap Aira menekan intonasi namanya, Alan tersenyum menyeringai, karena Aira sudah mulai memperhatikan dirinya.
" Emangnya ada peraturan gitu tentang suami nggak boleh ngikutin Istrinya?."
ucap Alan memberikan pertanyaan yg nyeleneh, Aira mengernyitkan keningnya.
" Lu makan apa sih?, sampai ngomong ngaco kayak gini?, apa jangan jangan lu Sebenarnya mempunyai penyakit mental?."
ucap Aira, Alan menatap Aira dengan dingin, Aira menelan ludahnya tanpa dia sadari, karena tiba tiba saja Alan menatap dirinya dengan intens.
" Lu bisa Nggak sekali aja!, jangan natap gw kayak makanan lu, jujur aja gw sedikit merinding!."
ucap Aira jujur, mendengar ucapan Aira tersebut membuat Alan terpikir sesuatu.
" Kalau lu nggak mau gw liat lu kayak gini, maka ada syaratnya!."
ucap Alan, Aira terdiam, gadis itu sama sekali tidak tau apa yg sedang dipikirkan Alan saat ini.
" Kalau syaratnya nggak masuk akal!, maka gw nggak aka terima syarat tersebut!."
ucap Aira, Alan tersenyum menyeringai.
" Gw pengen kita temenan!."
ucap Alan, Aira melongo mendengar ucapan Alan, untuk beberapa detik gadis itu membuka mulutnya tanpa dia sadari.
" Ya elahh...kaget sih kaget....tapi nggak perlu sampai buka mulut juga kali, nanti ada lalat atau serangga kecil masuk mulut lu, baru tau rasa nantinya!."
ucap Alan, refleks Aira langsung menutup mulutnya, dan menatap Alan dengan penuh selidik, tetapi Alan hanya memberikan wajah tanpa ekspresi untuk kesekian kalinya, dan hal itu cukup membuat gadis itu frustasi dibuat.
" Bisa nggak sih itu muka dikondisikan gitu, jangan flat flat banget, jalan raya aja yg keliatan nya mulus kadang ada bolongnya!." pikirnya mengumpat kesal.
" Lu lagi mikirin apa huh?."
ucap Alan membuat Aira kembali tersadar dan fokus kembali.
" Gimana lu mau nggak jadi temen gw?."
ucap Alan menanyakannya sekali lagi, Aira terdiam sesaat.
" Nggak ada salahnya juga gw temenan sama ini anak, setidaknya ini anak nggak terlalu Bar bar seperti Andre dan kakaknya!." pikirnya
" Ya elah..malah ngelamun lagi, mikirin apa sih?."
ucap Alan kesal.
" Hmmmm..ok deh!."
ucap Aira.
" Ok apa jendol?."
ucap Alan memastikan.
ucap Aira kesal, tanpa Aira sadari sendiri perasaannya mulai tumbuh, tetapi dia masih belum menyadarinya.
" Gitu dong kalau ngomong yg jelas, biar orang yg ngomong sama lu itu nggak salah paham!."
ucap Alan.
" Ya terserah gw..mau gw ngomong kayak gimana juga gw nggak peduli, toh ini mulut gw, dan gw nggak terlalu peduli dengan perkataan orang lain, jadi ya inilah gw, gw sering ngomong nggak jelas kayak gini, jadi gw cuma mau ngingetin aja jika lu mau temenan sama gw, maka lu harus sering sering muter otak lu itu sesekali!."
ucap Aira panjang lebar, Alan hanya menganggukkan kepalanya.
" Tenang aja, gw udah sering kok, nemuin orang yang sering nggak jelas kalau ngomong, macam lu sekarang ini."
ucap Alan sambil tersenyum nyengir kuda tanpa dosa.
" Gila... pengen gw tampol dah itu muka!, bikin kesel mulu kerjaannya!." pikirnya.
" Jangan terlalu sering berpikir yg aneh aneh deh, karena jidat lu itu lama lama bisa ada kerutan orang tua!."
ucap Alan asal, Aira langsung memukuli Alan dengan kesal.
" Lu udah bosen hidup ya!."
ucap Aira sambil menunjuk Alan, dengan jari telunjuknya kesal, Alan hanya tersenyum melihat nya, laki laki itu sama sekali tidak takut, hal itu malah membuat Aira terlihat semakin cantik menurut Alan.
" Emangnya lu nggak mau makan?."
ucap Alan
" Jangan mengalihkan topik pembicaraan kunyit!."
ucap Aira ketus
" Hahaha...lu bisa nggak, kalau kasih Nama panggilan itu yg lebih enak dikit!."
ucap Alan
" Terserah gw mau manggil lu apa, suka suka gw, apa!.. Emangnya lu berani marahin gw!."
ucap Aira menantangnya, Alan hanya geleng-geleng kepala, Alan juga baru tau jika Aira bisa bersikap seperti anak kecil.
" Woy... tadi lu tanya kan gw laper nggak?, Sekarang gw laper tapi nggak ada makanan di dapur!."
ucap Aira merengek tanpa dia sadari.
" Kalau nggak ada bahan makanan di dapur ataupun di kulkas kan mudah saja, tinggal pergi beli bahan makanan!."
ucap Alan santai, Aira pun terdiam, kemudian dia menepuk jidatnya sendiri.
" Kenapa gw nggak kepikiran sampai sana ya!, wah... ternyata otak lu jalan juga bro!."
ucap Aira sambil memukul punggung Alan, membuat laki laki itu meringis dibuatnya.
.
.
.
.
.
terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca ☺️