Try Not to Fall In Love

Try Not to Fall In Love
bab 22



Mereka berempat berdiri di tempat penjalan kaki, banyak orang yg sedang memperhatikan mereka berempat, Aira nyengir lebar baru sadar sekarang posisi mereka ada dimana.


" Sorry."


ucap Aira yg kemudian berjalan sedikit ke pinggir diikuti oleh mereka bertiga.


Aira duduk ditempat duduk yg disediakan.


" Lu kenapa tadi keluar duluan ninggalin kita semua disana?, bikin khawatir aja tau."


ucap Rizal, yg memang sebenarnya dia ada perasaan sedikit khawatir tiba tiba saja Aira keluar tanpa berbicara apapun.


Aira menghela nafas panjang, dia tidak bisa mengatakan yg sejujurnya, karena dia nggak mau tambah ribet masalahnya.


" Tadi gw liat nenek mau nyebrang jalan, makannya gw keluar duluan buat ngebantuin."


ucap Aira. Rizal sedang memperhatikan Aira dan dia pun sadar kalau Aira sedang berbohong, tetapi sepertinya kedua sahabatnya itu bisa dikelabui oleh dirinya.


"Kalau kayak gitu kenapa lu Nggak ngomong Ra, kan kita nggak perlu adu bacot."


ucap Violeta sedikit kesal.


" Hehehehe sorry habisnya lu sewot banget sih tadi, makannya gw kebawa emosi."


ucap Aira sambil tersenyum karena kedua sahabatnya bisa dikelabui, tetapi kemudian tatapan matanya mengarah kepada Rizal yg sedang tersenyum manis kepadanya.


" Jangan bilang dia sadar kalau gw sedang bohong." pikirnya


" Habis ini mau kemana lagi?."


ucap Chacha


" Gw mau pulang, gw capek."


ucap Aira yg mulai bangkit dari duduknya.


" Lah lu mah nggak seru Ra."


ucap Violeta.


" Sudah mungkin aja ini anak memang lagi capek, kan kita besok bisa ketemu lagi, lagian juga ini sudah sore."


ucap ChaCha mengingatkan.


" Hmm ya udah kalau kayak gitu mah."


ucap Violeta yg mengalah.


" Kalau seperti itu biar kakak yg mengantar kalian pulang ya."


ucap Rizal.


" Pastinya lu perlu nganterin kita semua, kan tadi cuma naik mobil lu doang bro."


ucap Aira menepuk pundak Rizal.


Mereka berempat pun mulai berjalan menuju parkiran, dan setelah sepuluh menit berjalan kaki akhirnya mereka sampai diparkiran, dan masuk kedalam mobil, dan mulai menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya ke jalan raya, setelah mengantar ChaCha dan Violeta, tinggal Aira.


" Lu tadi bohong kan?."


ucap Rizal memulai pembicaraan.


" Bohong apaan bro?."


ucap Aira pura pura tidak tau.


" Gw tau tadi lu bohong sama kita bertiga dan gw rasa yg menyadari nya hanya gw sendiri."


ucap Rizal yg tidak menoleh sedikit pun. karena fokus menyetir. Aira menghela nafas, karena dia tau kalau Rizal bukanlah orang bodoh yg dengan gampangnya bisa dibohongi.


" Gw belum bisa cerita sama lu bro, lagian gw berharap semoga kejadian hari ini tidak terulang lagi, karena itu seperti mimpi buruk untuk gw."


ucap Aira terus terang.


" Ok gw paham, tapi kalau lu mau cerita gw siap kok jadi pendengar setia lu."


ucap Rizal sambil mengelus kepala Aira. Aira hanya tersenyum menanggapi ucapan rizal, tidak tau kenapa dia merasa nyaman saat bersama Rizal, tetapi dia juga tidak bisa dengan mudah memberi tahu rahasianya bagaimana pun juga pikirnya.


Tidak lama kemudian setelah sampai di depan rumah Aira.


" Mampir dulu nggak bro?."


" Nggak gw masih ada kerjaan yg lainnya. gw duluan ya."


ucap Rizal yg kemudian mulai melajukan mobilnya kembali, Aira masih memperhatikan mobil Rizal Sampai tidak terlihat lagi, dia merasa ada sesuatu yang hilang, dengan langkah yg berat Aira masuk kedalam rumah nya. seperti biasa suasana dirumah sangat hening, tidak seperti saat dia berada di panti ataupun bersama kedua sahabatnya dan Rizal, benar benar suasana yang berbeda, padahal ini rumahnya sendiri, tetapi kemudian dia menyadarinya.


"Ah iya ini rumah orang tua angkat gw, wajar mungkin jika gw seperti tidak dianggap." pikirnya .


Aira mulai berjalan langsung masuk kedalam kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan menatap langit langit kamarnya, yg tiba-tiba saja dia terbayang wajah tuan mesum ( Alan), Aira langsung bergidik merinding saat Teringat laki laki itu memanggilnya princess.


" Semoga saja gw nggak akan pernah bertemu orang mesum seperti dia lagi, dan juga dalam beberapa hari lagi gw akan menikah, yg sampai sekarang gw nggak tau wajah laki laki yg akan dinikahkan oleh gw itu, mungkin saja orang yang sudah tua yg banyak harta, karena Nggak mungkin jika pengusaha muda mau dijodohkan dengan keluarga gw."


ucap Aira pelan, membayangkan dirinya menikah dengan pria tua membuat dirinya bergidik merinding.


" Oh ayolah Ra, Nggak mungkin papah lu sejahat itu kejodohin lu sama pria tua."


ucap Aira yg berpikiran positif tentang papahnya, tetapi kemudian dia teringat dengan Papahnya yg terlihat tidak menyukai dirinya, Aira ingin sekali berteriak keras dan menangis sekencang-kencangnya, mengingat perjodohan ini, padahal dia baru selai ujian dan tinggal beberapa hari lagi hari kelulusan.


" Mungkin ini yg terbaik."


ucap Aira kepada dirinya sendiri yg tanpa dia sadari Aira matanya mulai turun perlahan.


" Kenapa gw bisa cengeng seperti ini, bukankah gw setuju dengan pernikahan ini, ayolah Ra, lu pasti bisa menghadapi ini semua."


ucap Aira kepada dirinya sendiri tetapi hasilnya nihil, air matanya semakin deras mengalir, dia sudah tidak tahan lagi dengan semua yg terjadi kepada dirinya yg seperti mimpi buruk yg ingin segera bangun dari mimpinya.


" Doa saja semoga saja laki laki yg gw nikahin bukan pria tua botak, ataupun laki laki mesum seperti tuan mesum gila itu."


ucap Aira pelan. yg kemudian dia berjalan kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sendiri.


🌲🌲🌲🌲🌲


Rizal sedang menunggu anak buahnya, perasaannya sangat senang setelah beberapa tahun terakhir, tetapi saat dia teringat dengan Aira dia tiba tiba merasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang membuat dirinya khawatir, tapi apa pikirnya.


tidak lama kemudian seseorang mengetuk pintu ruangannya.


" Masuk!."


ucap Rizal datar


Orang tersebut masuk kedalam ruangan.


" Bagaimana?, sudahkah kamu mendapatkan hasil DNA nya?."


ucap Rizal yg langsung berbicara ke intinya.


" Maaf pak Rizal anda perlu menunggu hasil yg akurat dalam beberapa hari, jika anda menginginkan hasil yg cepat, yg saya takutkan hasilnya tidak valid."


ucap anak buahnya.


" Lakukan yg terbaik saya masih bisa menunggu, karena saya perlu memastikan hal ini dengan benar, saya tidak ingin ada sebuah kesalahan sedikitpun."


ucap Rizal.


" Baik pak saya mengerti, tetapi bukankah Anda akan keluar negeri dalam beberapa hari lagi?."


ucap Anak buahnya.


" Memang benar, karena itu saya minta kamu kirimkan hasilnya nanti lewat email, saat semuanya sudah akurat."


ucap Rizal.


" Baik pak Rizal saya akan melakukan sesuai dengan perintah anda."


ucap anak buahnya yang kemudian keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Rizal sendirian di ruangan tersebut.


Rizal menatap kosong kedepan, kemudian dia tersenyum.


" Setidaknya gw bisa pergi dengan tenang karena gw yakin dia adalah adik gw, dan saat hari itu tiba gw bakalan kasih tau, kepada dia kalau dia adalah adik gw yg hilang beberapa tahun yg lalu."


ucap Rizal sambil tersenyum sendiri.


.


.


.


. selamat membaca ☺️