
Rizal tersenyum bahagia menatap wajah Indah, wanita paruh baya itu tersenyum bahagia mendengar cerita Rizal.
" Ah iya mah, Nenek juga udah pernah ketemu sama Aira."
ucap Rizal santai.
" Bagaimana respon Nenek?."
ucap Indah.
" Nenek sangat bahagia, saat bersama dengan Aira."
ucap Rizal.
" Apakah nenek tau jika Aira itu adalah Vivi?."
ucap Indah.
" Tentu saja Nenek belum tau mah, karena orang yang pertama tau kalau Aira adalah adik aku, itu adalah aku dan yg kedua adalah Mamah."
ucap Rizal.
" Mamah sudah tidak sabar untuk bertemu dengan adik mu itu, apakah dia seperti mu?."
ucap Indah, Rizal tersenyum.
" Tidak mah, dia gadis yg ceria dan periang, dan juga dia sedikit tomboy."
ucap Rizal.
" Bagaimana mungkin adik kecil kamu sekarang menjadi tomboy?."
ucap indah tidak percaya.
" Oh ayolah mah, apa salahnya menjadi tomboy, asalkan Aira sehat dan baik baik saja, bukankah itu sudah kabar baik untuk Mamah?."
ucap Rizal, membuat Indah menghela nafas berat.
" Iya terserah kamu aja deh, mamah ikutin semua saran mu aja, tapi ingat jangan lama-lama, karena Mamah mau kumpul lagi dengan putri kecil Mamah."
ucap Indah, Rizal hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil mengelus tangan Indah.
" Akan aku pastikan kita akan berkumpul seperti dulu lagi mah."
ucap Rizal sambil tersenyum lembut.
π²π²π²π²
Terlihat jelas jika Aira sudah kelelahan karena hampir 3 jam dari pertama masuk Rachel selalu menarik tangan Aira, dan tidak membiarkan Aira untuk duduk.
" Apakah jadi seorang cewek yg nikah sama Alan harus setiap hari seperti ini?."
ucap Aira, Rachel hanya tersenyum.
" Tentu saja tidak, karena Abang gw si gunung es itu paling anti nemenin seseorang belanja."
ucap Rachel santai.
" Terus gimana caranya dia pacaran, setau gw ini mah, bukankah cewek itu suka banget yg namanya belanja, terus gimana ceritanya Abang lu bisa menyenangkan perasaan pacarnya?, jika dia paling anti nemenin belanja?."
ucap Aira
" Sepertinya lu benar benar nggak tau siapa kakak gw ya!."
ucap Rachel sambil menunjuk Aira, Aira hanya mengedipkan kedua bahunya.
" Kakak gw mendapat julukan Gunung es itu bukan tanpa alasan, lu tau apa?."
ucap Rachel mengantung. Aira lebih memilih diam saja.
" Abang gw walaupun dia tampan tajir, pengusaha sukses, tapi dia jomblo dari lahir dan dia paling anti sama yg namanya cewek, makanya pas denger Abang gw mau nikah, gw pikir apakah ini yg namanya sebuah keajaiban!."
ucap Rachel, Sedangkan Aira terdiam menyimak setiap kalimat yg keluar dari mulut Rachel.
" Apa lu nggak salah ngomong?, lu bilang kakak lu jomblo dari lahir dan paling anti sama cewek?, gw nggak percaya ucapan lu, karena selama ini dia selalu bersikap seperti seorang playboy."
ucap Aira keceplosan, Rachel mengerutkan keningnya.
" Apa sebelumnya kalian berdua pernah berdekatan?."
ucap Rachel mengintrogasi, Aira berusaha untuk tetap terlihat tenang. kemudian dia berdiri.
" Gw udah lelah, gw mau balik lagi ke mansion, gw mau tidur."
ucap Aira berjalan meninggalkan Rachel sendiri dibelakang.
" Eh... Aira tapi lu belum Jawab pertanyaan gw tadi, dan setidaknya jangan tinggalin gw sendirian disini."
ucap Rachel sambil berlari mengejar Aira yg berjalan dengan langkah lebar.
ucap Aira sambil memukul mulutnya, dan tanpa Aira sadari seseorang sedang berdiri dihadapannya.
Brugghh
Bokongnya mendarat mulus ke atas tanah.
" Arggghhhh sakit...siapa yg naruh tembok disini sih!."
ucap Aira sambil mengelus pantatnya, Aira yg tidak sadar jika yg dia tabrak bukanlah dinding tapi seorang laki laki yg tak lain adalah Alan, Alan pulang lebih cepat dari biasanya.
" Punya mata jangan taruh di dengkul!."
ucap Alan dingin, dia terlihat seperti tidak ada niatan untuk membantu Aira berdiri, Aira yg mendengar suara Alan langsung mendongak menatap wajah Alan.
"Setidaknya lu bilang maaf, bukan ceramah kaya ibu ibu rumpi, punya mulut tapi nggak punya otak."
ucap Aira sinis, Alan tersenyum mengejek.
" Terus lu berharap apa?, Apa karena sekarang lu telah menjadi istri gw, lu bisa ngatur gw gitu?, Apa lu berharap gw bakalan bersikap Sok baik dengan wanita murahan kayak lu ini, Apakah lu nggak ngaca dulu sebelum keluar hmm?, Apa kaca di kamar kurang besar, apa gw perlu beli yg lebih besar sekalian, supaya lu bisa ngaca diri, siapa lu ini sebenarnya!."
ucap Alan tak kalah sinis, Aira mengepalkan tangannya, dia menahan amarahnya, Aira baru tau jika laki laki dihadapannya bukan hanya laki laki yg mesum dan somplak, tetapi dia juga memandang rendah orang orang, apakah ini sifat aslinya? pikirnya.
" Ngapain lu diam aja?, Apa dengan lu diam, lu pikir gw bakal simpati dengan lu, maka bermimpi sajalah, karena lu bukanlah tipe gw, dan ingat cepat atau lambat gw bakalan menceraikan lu, dan jika saat itu tiba, gw pastikan lu nggak bakalan menerima sepeserpun dari harta Gono gini."
ucap Alan sombong, Wajah Aira memerah dia ingin rasanya mengubur hidup-hidup laki laki yg ada dihadapannya saat ini, tetapi jika hal itu terjadi, maka penyamaran nya akan terbongkar.
Aira membuang nafas kasar, dia menutup dan membuka matanya perlahan mencoba untuk menenangkan dirinya, dia menatap Alan,Tatapan gelap dan dingin dia sengaja berikan kepada laki laki tersebut yg sedang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi, tetapi Aira sama sekali tidak terlihat seperti takut ataupun gemetar mendapat tatapan tersebut dari Alan, dia hanya bersikap santai.
" Udah puas ngomongnya?."
ucap Aira dingin, Alan menatap tidak percaya kepada Aira, Apalagi setelah mendengar kalimat yg keluar dari mulut Aira barusan.
Padahal Biasanya jika orang lain yg mendapatkan Tatapan tersebut dari Alan mungkin saja sudah ketakutan dan gemetaran, tetapi berbeda dengan Aira, gadis tersebut berdiri tegak dengan nyamannya.
" Sekarang biarkan gw ngomong, gw nggak mau ngomong panjang lebar, dan gw nggak ada pengulangan, jadi dengerin baik baik."
ucap Aira dingin, glek Alan menelan ludahnya, dia baru sadar jika wanita yg ada dihadapannya bukanlah gadis yg bisa dia remehkan. pikirnya
" Jaga mulut lu baik baik, dan pikirkan kalimat yg akan keluar dari mulut kecil lu itu terlebih dahulu, Kalau nggak mungkin kepala lu itu bakalan hilang dengan mudah, jadi gw harap lu menyimak setiap ucapan gw tadi."
ucap Aira datar, sambil menepuk pundak Alan, dan kemudian berjalan melalui Alan begitu saja, meninggalkan Alan yg masih mematung berdiri.
" Eh kakak?, nggak biasanya lu udah pulang, dan iya apa lu liat Aira?, Soalnya gw lagi nyari dia nih."
ucap Rachel, tetapi Alan masih diam.
Plakkk.
Rachel memukul pundak Alan dengan keras, membuat laki laki tersebut kembali dari lamunannya, dan menatap tidak suka, tetapi kemudian dia sadar siapa yg ada dihadapannya.
" Gadis Siala* itu mana?."
ucap Alan dengan wajahnya yang mulai memerah.
" Maksud Kakak Gadis Siala* itu Aira?."
ucap Rachel memastikan.
" Iya siapa lagi memangnya?."
ucap Alan yg terlihat sedang menahan amarahnya.
" Ya elahhh kak, gw aja nanya ke lu, lu liat Aira nggak?."
ucap Rachel kesal, Alan membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Rachel sendiri dibelakang.
" Dih itu pasangan pengantin baru..kompak banget..suka banget gitu ninggalin gw...woy kak.. tungguin gw!."
ucap Rachel sambil berlari mengejar Alan.
.
.
.
.
.
.
jangan lupa like dan share βΊοΈ