Try Not to Fall In Love

Try Not to Fall In Love
bab 8



Aira dan kedua sahabatnya sudah selesai makan, mereka kembali lagi ke kelas.


" Ra, habis ini lu mau kemana?."


ucap Violeta.


" Hari ini gw ada pemotretan majalah biasa, lu berdua mau ikut?."


ucap Aira, sambil berdiri mau berangkat ke tempat pemotretan untuk hari ini.


" Wah ikut dong, kan disana banyak cogan."


ucap ChaCha penuh antusias. sedangkan Aira Hanya geleng geleng, karena memang kebiasaan kedua sahabatnya selalu mengikuti kegiatan Aira.


" Ok kita pergi pakai mobil gw aja ya Ra, biar cepet gitu."


ucap Violeta memberi saran.


" Ya terserah kalian berdua, gw ikut aja."


ucap Aira pasrah sambil berjalan keluar kelas diikuti oleh kedua temannya. sesampainya di parkiran sekolah, mereka langsung memasuki mobil Violeta.


" Pak Dudung ke alamat ini ya."


ucap Violeta memberikan secarik kertas.


" Baik non."


ucap pak Dudung sambil menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya, tidak tau kenapa perasaan Aira tidak bisa tenang.


" Woy kenapa, kok lu diam aja?."


ucap ChaCha yg sedang memperhatikan Aira yg diam seperti tidak biasanya.


" Nggak, hanya perasaan gw lagi nggak enak, itu doang."


ucap Aira terus terang.


"Emangnya ada masalah apa?, biasanya lu cerita Ra?."


ucap Violeta ikut nimbrung.


" Sebenarnya nggak ada masalah apa apa sih."


ucap Aira bingung, sedangkan kedua temannya hanya tertawa, Aira pun melirik mereka dengan kesal.


" Aih lu berdua mah, malahan bikin suasana hati gw tambah nggak enak aja."


ucap Aira kesal.


" Sorry habisnya seorang gadis macam lu, apa yg membuat lu bingung, lu cerdas, lu cantik, terus lu juga baik, tapi terkadang kalau lagi kumat rada rada sedikit sengklek gitu."


ucap Violeta sambil cekikikan, mendengar ucapan temannya, Aira hanya menghela nafasnya, dia berpikir sejenak, sebenarnya apa yang membuat dia merasa tidak nyaman.


jika soal nilai ujian, dia sudah tau nilainya pasti bagus, terus soal apa. pikirnya lagi


" Udah jangan terlalu dipikirkan, bentar lagi seperti kita sampai di tempat pemotretan."


ucap ChaCha, setelah beberapa menit mobilnya diparkiran dan Aira mulai turun dan menghela nafas dan menutup matanya dan tersenyum.


" Nah.... kalau lu senyum cantik kaya gitu nanti pas foto juga kan pasti cantik."


ucap ChaCha menyenggol pundak Aira.


" Iya iya, lebih baik kita cepat pergi masuk kedalam dulu."


ucap Aira yg tidak ingin telat, sambil berjalan masuk duluan sedangkan kedua temannya hanya berjalan mengikuti Aira dari belakang, sesampainya di tempat pemotretan, Aira di sambut oleh orang orang kru disana.


" Ka Aira ganti baju duluan ya."


ucap Salah satu kru.


" Ok!."


ucap Aira sambil berjalan keruang ganti baju, setelah ganti baju Aira menunggu kru make up nya.


"Kak Aira bukan?."


ucap Seorang gadis.


" Iya saya Aira, kamu siapa?."


ucap Aira lembut.


" Nama saya Sindi, kakak Aira ternyata udah cantik walaupun belum memakai make up."


ucap Sindi, dia memang sedikit terkejut saat pertama kali melihat Aira, gadis yg didepannya begitu cantik walaupun tanpa polesan make up, walaupun gadis ini terlihat dingin tapi sebenarnya dia ramah.


" Terimakasih Sindi, kamu yg bakal jadi makeup artist nya bukan?."


ucap Aira tersenyum manis, membuat Sindi melongo dia kaget karena gadis didepannya senyum dengan ramah biasanya gadis seumuran dengan Aira akan berprilaku jelek apalagi jika mereka adalah model terkenal.


" Kenapa Sindi masih diam saja?."


ucap Aira membuyarkan lamunannya.


" Nggak kak, hanya saja kalau kakak senyum itu bikin sejuk ke hati."


ucap Sindi terus terang, membuat Aira tersenyum kembali.


" Udah sekarang kamu lakukan makeup nya, karena saya nggak mau kamu kena marah juga."


ucap Aira lembut, Sindi pun dengan cekatan mulai memoleskan make up nya sampai Aira pun tertidur, Sindi juga yg menata rambut Aira, dia sangat kagum dengan sosok yang ada dihadapannya, wanita cantik bak peri, wajahnya yang dingin tapi saat tersenyum membuat orang lain tidak mau berpaling, apalagi Aira orangnya ramah dan sopan kepada orang lain, setelah selesai, Aira dibangunin oleh Sindi.


" Hmmm...knp apa udah selesai Sin?."


ucap Aira matanya masih terpejam.


"Sudah selesai kok!."


ucap Sindi yg masih kagum dengan pantulan sosok Aira yg ada di cermin.


Aira pun membuka matanya, dan menatap wajahnya di cermin, dia tersenyum kepada Sindi.


" Oke kok makasih ya."


ucap Aira sambil berdiri dan ingin berjalan pergi,


" Wah!!!.. kalau gw jadi cowok pasti udah naksir berat."


ucap Sindi sambil tersenyum melihat sosok Aira yg sudah keluar, sedang kan saat Aira keluar banyak orang yg melihatnya dengan takjub.


" Wahh... cantik banget bak peri coy!."


ucap Salah satu kru.


" Aih lu kayak nya baru tau ya, Aira itu maskot nya di majalah ini jadi wajar kalau dia cantik."


ucap Seorang kru dia juga sebenarnya masih terpesona oleh kecantikan Aira, walaupun sudah berapa kali melihat nya.


" Ra lu cantik tau, coba kalau setiap hari kaya gini!."


ucap Violeta sambil mengacungkan jempol nya.


" Ogah gatel muka gw, dan ini baju juga nggak nyaman bro, cuma karena gw lagi kerja aja makanya gw berusaha profesional."


ucap Aira terus terang, sedangkan ChaCha hanya cekikikan.


" Hahahaha dasar emang jiwa tomboi, percuma Ta lu beberapa kali buat ini anak berubah jadi feminim juga, keburu kiamat yang ada."


" Aira. apa sudah siap?, bisa kesini."


ucap seorang fotografer, Aira pun mendekati nya, dari kejauhan ada sepasang mata yang sedang memperhatikan Aira.


" Ok siap ya!!."


ucap fotografer.


" Ok siap kak!."


ucap Aira, sambil memilih beberapa Pose.


" Ok ganti posenya, berikan senyuman yg manis!."


ucap fotografer.


" Cekrek"


Suara kamera berbunyi,



hasil foto tersebut.


Aira sudah beberapa kali Menganti bajunya dan sesi pemotretan akan segera selesai, Aira sebenarnya merasa ada yang sedang memperhatikan nya, tapi dia diam saja. mungkin hanya perasaannya saja.. pikirnya


" Ok selesai Aira, makasih untuk kerja hari ini."


ucap manager nya sambil tersenyum.


" Ok sama sama, saya akan pulang, jika ada apa apa anda bisa telpon saja."


ucap Aira sambil berdiri dan mulai berjalan bersama kedua sahabatnya menuju mobilnya.


Sebelum mereka pergi ada seseorang yg mengetuk pintu kaca mobilnya, laki laki tersebut seperti ngos-ngosan.


" Iya ada apa pak?, ada keperluan apa ya?."


ucap Aira.


" Maaf nona saya hanya ingin memberikan kartu nama perusahaan ini, karena tadi saya kagum melihat anda saat di pemotretan tadi."


ucap Laki laki tersebut, sambil menyodorkan kartu namanya.


" Baik pak, saya terima!."


ucap Aira sambil mengambil kartu tersebut. laki laki tersebut tersenyum.


"Jika nona Aira tidak keberatan, bisakah anda besok pergi ke perusahaan?."


ucap Laki laki tersebut. Aira mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Laki laki tersebut.


" Maaf untuk hal tersebut saya tidak bisa mengatakan nya, karena saya mempunyai kesibukan yg lain, tapi mungkin, jika untuk menelpon,saya akan melakukan nya...jika tidak lupa."


ucap Aira yg mulai sedikit kesal karena dipaksa.


" Baiklah kalau seperti itu nona saya tidak akan memaksa anda."


ucap Laki laki tersebut menjauh dari mobilnya.


" Terimakasih karena anda sudah mengerti, saya akan memastikan kalau saya akan menelpon."


ucap Aira sambil menutup kaca mobilnya, dan mobilnya pun melaju pergi.


" Lu kenal sama Laki laki tadi Ra?."


ucap Violeta.


" Nggak. ini juga baru ketemu."


ucap Aira disambut dengan anggukan kepala oleh keduanya.


🌲🌲🌲🌲🌲🌲


Rizal sedang duduk santai sedang menunggu seseorang, tiba tiba ada yg mengetuk pintunya.


" Masuk!!."


ucap Rizal dingin.


Seorang Laki-laki masuk keruangan tersebut sambil membawa sebuah dokumen.


" Saya sudah mendapatkan semua informasi tentang gadis tersebut, dan di dalam dokumen ini juga, ada foto yg diambil saat gadis tersebut melakukan pemotretan."


ucap Laki laki tersebut sambil menyodorkan dokumen tersebut kepada Rizal.


" Apakah anda memberikan kartu nama perusahaan ini?."


ucap Rizal.


" Sudah pak, hanya saja saya tidak yakin, jika gadis tersebut akan datang kesini."


ucap Laki laki tersebut.


" Saya sudah tau, biarkan saja mengalir cepat atau lambat gadis itu akan kesini, dan sekarang kamu boleh pergi."


ucap Rizal sambil membuka dokumen tersebut.


" Baik saya keluar dulu pak Rizal."


ucap Laki laki tersebut dan keluar dari ruangan tersebut, Rizal membuka dokumen tersebut saat melihat kertas putih tersebut Rizal mengerutkan dahinya pusing dan aneh, dan untuk beberapa saat dia mulai tersenyum.


" Aira, apa gadis ini sudah tau kalau dia adalah anak angkat dari keluarga yg tidak adil itu?."


ucap Rizal sambil meremas kertas yg ada ditangannya, ada perasaan geram dan kesal saat tau gadis yg bernama Aira di perlakukan tidak adil oleh ayah angkatnya dari kecil.


Rizal mengambil foto yg dimaksud oleh laki laki tersebut, Rizal tiba tiba tersenyum manis melihat foto tersebut.


" kamu cantik Aira, tetapi kenapa kamu masih bertahan di keluarga tersebut, kenapa kamu tidak mencari keluarga kandung mu, itu lebih baik untuk mu."


ucap Rizal sambil terus memandangi foto yg dia pegang, foto tersebut sekarang sudah diberikan bingkai, dan foto Aira di pajang di meja kerja Rizal.



foto Aira yg ada dimeja Rizal.


Rizal hanya menghela nafasnya dan tersenyum saat melihat foto tersebut.


" Mungkin gw sendiri yg harus memeriksanya, untuk memastikan, karena kalau seperti ini terus, gw nggak bakal bisa tenang!!."


ucap Rizal, sambil meletakkan kembali foto Aira, tidak tau kenapa dia begitu peduli dengan Aira, walaupun dia belum yakin apakah mereka mempunyai hubungan darah.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih have nice day ☺️