
Adelia mengepalkan tangannya, dia tidak menyukai ucapan Elena yg membela Aira.
" Aku adalah anggota keluarga Nugroho Tante!."
ucap Adelia membela diri, Elena menatap Adelia tidak suka.
" Kamu memang anggota keluarga Nugroho, tetapi kamu bertingkah seperti cacing kepanasan disampingnya Alan, apakah kamu kira saya tidak tau bagaimana perilaku kamu selama ini."
ucap Elena tegas, Adelia dibuat tak berkutik, sedangkan Linda sepertinya sudah kehabisan akal, dia ingin Adelia menjadi pendamping Alan, bagaimanapun juga pikirnya.
" Saya sudah tidak ada selera untuk sarapan pagi lagi."
ucap Alan sambil menggandeng tangan Aira, dan mulai berjalan pergi dari sana. Elena menatap kepergian anaknya dan menantunya. kemudian pandangannya dia alihkan kembali.
" Akan lebih baik, jika kalian cepat cepat pulang dari sini, karena kalian berdua disini hanya menjadi perusak suasana saja."
ucap Elena ketus, dia pun mulai meninggalkan ruangan meja makan tersebut, yg tersisa hanya ada Rachel, Linda dan Adelia, Adelia menyenggol lengan Tante Linda sambil mengisyaratkan sesuatu.
" Sayang Rachel!."
ucap Tante Linda, Rachel mengangkat kepalanya sambil menatap kedua orang itu tidak peduli.
" Kenapa?, Apa masih nggak puas bikin suasana sarapan pagi menjadi kacau?."
ucap Rachel dingin.
" Adik dan kakak sama sama saja dingin." pikir Adelia.
" Kamu tahu kan Tante hanya menginginkan yg terbaik untuk kakak mu dan memberikan menanti idaman untuk mamah mu."
ucap Tante Linda lembut, Rachel hanya memiringkan kepalanya. Linda pun tersenyum.
" Dan Tante juga ingin memberikan kamu kakak ipar yg cantik dan juga baik."
ucap Tante Linda manis
" Terimakasih Tante Linda, tapi jujur saja aku lebih suka Kak Aira yg menjadi kakak ipar ku, ketimbang wanita yg ada disampingnya Tante itu."
ucap Rachel sarkastik.
" Tapi-."
ucap Linda terpotong.
" Aih Tante.... Tante benar benar ngerusak mood aku buat makan aja."
ucap Rachel kesal sambil mendorong kursinya dan mulai pergi dari sana, tinggallah mereka berdua.
" Tante terimakasih sebelumnya, atas pembelaan Tante, Tapi aku nggak apa apa Tante asalkan Tante Elena dan Alan bahagia, aku bisa merelakan kebahagiaan ku untuk semua itu."
" Kamu tenang saja, Tante masih ada cara lain."
ucap Linda
" Tante jangan berbuat yg aneh aneh."
ucap Adelia pura-pura khawatir, Linda pun tersenyum, dia sama sekali tidak tau ada topeng dibalik senyuman Adelia.
" Wanita itu tidak pantas menjadi pendamping Alan, yang pantas itu hanya kamu, dan orang yang tidak pantas itu seharusnya dibasmi sampai ke akar-akarnya."
ucap Linda yg tiba tiba sifat kejamnya muncul.
" Apa yg Tante Linda rencakan?."
ucap Adelia pura-pura takut.
" Jika kamu tidak bisa menjadi pendamping Alan, maka tidak ada satu orangpun yg bisa menjadi pendamping Alan, kamu mengerti sayang!."
ucap Linda sambil mengelus rambut Adelia lembut, Adelia memasang ekspresi polosnya.
" Ah..aku sudah tidak sabar, melihat keangkuhan wanita siala* itu?."
pikirnya
" sekarang lebih baik kita pulang ke rumah, dan tenang saja tidak akan lama lagi kamu juga akan menjadi nyonya dirumah ini sayang."
ucap Linda, mereka berdua pun pergi, tetapi dari kejauhan tampak Aira yg sedang santai mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
" Aih... kebetulan sekali mereka berdua telah menguji kesabaran ku, liat saja nanti aku akan kasih hadiah yang cantik untuk mereka berdua."
ucap Aira sambil tersenyum dingin.
" Sayang....kamu lagi ngapain ada disana?."
ucap Alan
" Lagi cari ide...buat menangkap nyamuk...tapi jangan dibuat mati dulu..biar bisa dijadikan boneka mainan dulu."
ucap Aira
.
.
.
.