
Aira memapah Nenek Winda masuk kedalam berkumpul dengan lansia lainnya, aira menunggu Rizal yg seperti nya tidak datang hari ini, pikirnya. Aira melihat jam tangannya, tanpa dia sadari ternyata sudah siang, memang tidak terasa saat dia berada di panti berbeda saat dirumah satu jam serasa beberapa jam pikirnya. nenek winda terus menerus menggenggam tangan Aira yg Sepertinya tidak ingin melepaskan tangan Aira sedikit pun.
"Nenek Winda, maaf sebelumnya aku mau pergi ke suatu tempat."
ucap Aira yg memang hari ini dia ada jadwal tiba tiba untuk pemotretan.
" Kamu sudah mau pergi?"
ucap nenek Winda yg tiba tiba saja sedih.
" Maaf nek bukannya aku ingin pergi dari sini, tetapi aku ada urusan mendadak, dan Aira Nggak bisa menolaknya."
ucap Aira, karena dia tau jika dia menolak pemotretan kali ini, mungkin dia tidak bisa menyumbang untuk panti ini bulan ini, pikirnya.
Nenek Winda memperhatikan raut wajah Aira yg kebingungan, dia pun merasa tidak enak.
" Baiklah jika seperti itu, tetapi kamu harus janji Minggu depan kamu harus kesini, jenguk nenek."
ucap Winda sambil tersenyum manis, Aira yg mendengarnya bisa menghela nafas lega
" Baik nek, aku pasti tidak lupa, dan juga makasih untuk hari ini."
ucap Aira yg kemudian menyalami semuanya dan mulai berjalan keluar dari ruangan tersebut tetapi sesaat dia menoleh kebelakang dan memperhatikan sosok Winda dan tersenyum lembut sambil melambaikan tangan nya. tidak lama kemudian ojek online pesanan Aira sudah datang.
" Aku berangkat dulu ya. semua nenek dan kakek harus pada sehat ya, nanti kita ketemu lagi di Minggu depan."
ucap Aira sambil memakai helm dan menaiki motor tersebut.
" Jalan mas."
ucap Aira
Motor tersebut pun mulai berjalan menuju tempat tujuan Aira, ketempat pemotretan.
Masih dipanti, seseorang mendekati nenek winda, sambil membungkukkan badannya.
" Maaf nyonya besar, kita terlalu lama membuat anda menunggu."
ucap Orang tersebut yg memakai setelan jas hitam. berdiri dihadapannya Winda.
" Tidak apa apa, untuk hari ini saya maafkan, tapi untuk dilain waktu saya tidak bisa menjamin kalau anda masih bisa bekerja dengan saya."
ucap Winda sambil berdiri dan mulai berjalan keluar dari panti, dan menuju mobil mewah didepan panti, meninggalkan supirnya dibelakang yg sedang mengelus dadanya gugup. bagaimana tidak gugup nenek winda termasuk orang yg disiplin dan orang yg tidak suka kesalahan sedikitpun, tetapi mungkin hari ini perasaannya lagi bagus, pikir supir tersebut sambil berlari masuk kedalam mobil.
" Setelah ini nyonya besar akan pergi kemana?."
ucap Supir tersebut.
" Kita ke perusahaan Rizal, karena saya ingin memberi kejutan untuk cuci saya yg Sepertinya lupa kalau dia masih mempunyai nenek yg masih hidup ini."
ucap Winda datar.
" Baik nyonya saya akan mengantar anda ke tempat kantor Aden Rizal."
ucap supir tersebut yg kemudian menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya ke jalan raya.
" Apakah kamu yakin kalau Rizal sekarang sedang ada dikantor nya?."
ucap Winda tiba tiba.
" Setau saya hari ini Aden Rizal masih ada di Indonesia nyonya besar, dan Minggu lalu dia pergi ke panti tempat nyonya tadi singgah."
ucap supir tersebut menjelaskan kegiatan cucunya.
" Tidak biasanya dia ingin pergi ke panti, biasanya dia hanya akan menjadi donatur tanpa datang ketempat panti yg dia berikan uangnya, tetapi kali ini kenapa dia sedikit berubah?."
ucap Winda.
" Saya kurang tahu nyonya besar, mungkin anda nantinya bisa menanyakan langsung kepada Aden Rizal."
ucap supir tersebut.
Winda terdiam sejenak, kemudian dia teringat dengan gadis yg bernama Aira, yg menurut nya, sangat mirip dengan anaknya Aulia mamahnya Rizal, tetapi mungkin itu hanya kebetulan saja, karena manusia banyak yg mirip, pikirnya.
" Dia gadis yg menarik andai saja Vivi masih hidup, mungkin dia seusia Gadis itu."
ucap Winda pelan, dia merasa ada sesuatu yang hilang saat dia berkata seperti itu untuk dirinya sendiri.
π²π²π²π²
Aira sudah sampai ditempat pemotretan, dia berlari kedalam saat dia tau kalau dia telat. dan saat dia masuk kedalam, banyak orang yg memberi nya senyuman.
" Maaf kak, Sindi aku telat!."
ucap Aira sambil duduk dan mengatur nafasnya.
ucap Sindi sambil membungkukkan badan.
" Nggak perlu seperti itu kak, mau bagaimana pun juga ini kewajiban aku sebagai model di perusahaan ini, jadi wajar saja jika suatu waktu aku ditelpon untuk melakukan pemotretan, diluar jadwal aku."
ucap Aira sambil tersenyum manis.
" Terimakasih sekali, andai saja semua model seperti mu Ra, mungkin kita tidak akan kelabakan seperti ini."
ucap Sindi, yg dijawab dengan senyuman kecil oleh Aira.
" Ya sudah lebih baik sekarang kamu ganti dulu baju kamu, diruang ganti bajunya sudah disiapkan, dan nanti kakak juga akan kesana membantu untuk memoles wajah kamu."
ucap Sindi sambil mendorong tubuh Aira kedalam ruangan ganti, selang beberapa menit setelah Aira mengganti bajunya.
" Kak aku udah selesai ganti bajunya, tinggal make up nya doang!."
ucap Aira.
" Ok siap kakak akan kesitu sebentar lagi."
ucap Sindi yg tidak lama kemudian, dia masih ke ruang make up, dan membantu Aira untuk di dandani. setelah selesai diberi sentuhan makeup natural. Sindi tersenyum puas.
" Wah kamu cantik...dan kayaknya akan lebih cantik lagi saat kamu menikah nanti."
ucap Sindi sambil tersenyum dan merapikan alat make-up nya, tanpa melihat ekspresi wajah Aira yg sudah berubah.
Aira memilih untuk diam dan tidak menjawab ucapan Sindi, dia berdiri dari tempat duduknya dan mulai berjalan keluar meninggalkan Sindi didalam sendirian, padahal biasanya sebelum keluar Aira selalu membiasakan dirinya, untuk berterima kasih, tetapi sepertinya hatinya sedang kacau.
" Ok giliran kamu Aira."
ucap fotografer, Aira langsung berjalan mendekati fotografer tersebut tanpa menjawab ucapan nya tadi. Aira mulai menghela nafas.
" gw harus profesional, gw nggak bisa bawa masalah gw saat gw kerja, lagian kak Sindi juga pastinya tidak tau, jadi lu jangan terlalu sensitif Ra.." pikirnya sendiri.
Aira beberapa kali Menganti pose nya, dan sepertinya hati nya mulai membaik seperti saat dia pertama kali ke tempat pemotretan, sampai seorang gadis cantik tiba tiba saja menerobos kedalam, membuat keributan.
" Aira kita sudahi sesi pemotretan nya, dan terimakasih sekali lagi!."
ucap fotografer.
" Iya sama sama."
ucap Aira yg kemudian dia mulai memperhatikan kerumunan tersebut, dan tiba tiba sosok seorang gadis cantik mendekati dirinya sambil memandang Aira dengan sinis.
" Apakah perempuan ini yg menggantikan gw?."
ucap gadis tersebut sombong, salah satu tangannya menunjuk kearah Aira, membuat Aira mengangkat alisnya sebelah, oh ayolah siapa gadis Dila ini. pikir Aira sambil memutar bola matanya jengah.
" Hei gw ngomong sama lu, apa jangan jangan lu Nggak bisa ngomong?, wah benar benar kalian mengganti diri ku dengan model amatir dan lebih parahnya dia juga bisu.!!"
ucap gadis tersebut sombong, Aira mengepalkan tangannya geram, dia ingin menampar Gadis yg ada dihadapannya saat ini juga, tapi dia menahannya, saat dia ingin membuka mulutnya, tiba tiba saja tamparan keras mendarat di pipi mulus Aira.
" Plakk."
Gadis dihadapannya menampar dirinya tanpa merasa bersalah sama sekali, sedangkan orang orang yang ada disana diam membisu, dan suasana hening.
Aira menatap gadis itu seperti ingin memakannya hidup hidup, dan sepertinya Gadis itu sudah salah memilih orang yg akan dijadikan musuh olehnya.
" Dengerin gw sialan, gw nggak ada niat sedikitpun untuk mengambil pekerjaan lu, tetapi orang di perusahaan ini nelpon gw untuk menggantikan lu, dan kalau aja gw tau model seperti apa orang yg akan gw gantiin sekarang, gw sepertinya milih Nggak akan datang, karena lu tau apa...."
ucap Aira menggantung yg kemudian mulai mendekati tubuh gadis tersebut dan berbisik sesuatu ditelinga nya yg membuat dia gemetaran menahan amarahnya.
" Karena lu seperti orang gila yang baru keluar dari rumah sakit jiwa."
ucap Aira berbisik pelan, dan yg mendengarnya hanya mereka berdua saja.
.
.
.
.
.
.
.
terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca βΊοΈ