
Aira dan Alan sudah sampai ke mansion miliknya, tetapi Rachel dan Mamahnya Belum terlihat.
Aira dengan sengaja berjalan melewati Alan, tanpa mengucap sepatah katapun.
" Sepertinya kalian berdua saling mengenal."
ucap Alan datar.
" Bukan urusan lu, dan jangan pernah ikut campur tentang hidup gw."
ucap Aira dingin, tanpa menoleh kebelakang.
" Tetapi Gw suami lu!."
ucap Alan yg terdengar ragu, Aira tertawa sarkastik, dengan santai dia membalikkan tubuhnya, dan menatap lurus ke manik matanyanya.
" Dengarkan gw baik baik, dan Sepertinya gw perlu mengingatkan lu lagi, kita menikah karena sebuah paksaan, dan jangan pernah berharap supaya gw berprilaku seperti wanita yang sudah menikah, dan menjadi wanita penurut, karena mereka rata rata menikah atas suka sama suka, atau karena materi, Tetapi kondisi gw berbeda, karena seharusnya yg nikah sama lu itu Papah gw, bukan gw, karena dia yg menerima mas kawinnya, bukan gw, Dan satu lagi gw ingetin gw nggak suka disentuh, mau sengaja ataupun tidak disengaja."
ucap Aira dingin, Aira kemudian melanjutkan langkahnya, tanpa perlu mendengar jawaban Alan.
Alan memperhatikan Sosok Aira yg sudah tidak terlihat lagi, Alan tersenyum menyeringai, dan tanpa Alan sadari seseorang sudah berdiri disampingnya.
" Dia cukup.... Menarik!."
ucap Seseorang, sambil menepuk pundaknya.
Alan menatap tajam kepadanya, laki laki tersebut tersenyum kecil.
" Oh ayolah...ada mainan baru...lu nggak mau bagi bagi gitu,jangan dinikmati sendirian, kenalin dia sama sahabat lu ini juga kali?."
ucap Laki laki tersebut.
" Dia bukan mainan, Dan dia memang hanya milik gw saja Zen."
ucap Alan serius.
" Sejak kapan lu tertarik dengan cewek?."
ucap Zen mengejeknya, dia tidak tau jika Alan itu sudah menikah, karena pernikahan Alan dan Aira di langsungkan secara tertutup dan termasuk dadakan.
" Cewek yg lu suruh Alan kenalin ke lu itu istrinya jendol."
ucap Aldi yg tiba tiba saja muncul entah dari mana, Zen melongo mendengar penuturan Aldi.
" Biasa aja kali kagetnya."
ucap Aldi sambil menutup mulut Zen dengan tangannya, Zen menyingkirkan tangan Aldi dari mulutnya.
" Sejak kapan Ini kunyuk nikah?, kenapa gw nggak dikabarin?."
ucap Zen kesal, Aldi geleng-geleng, kemudian menatap Alan sekilas.
" Gw udah capek, kalau lu masih mau ngomong kayak burung beo, besok aja, karena sekarang waktunya untuk tidur."
ucap Aldi Datar, sambil menarik tangan Zen untuk keluar dari mansion, tetapi hasilnya nihil karena Zen tidak bergerak sedikitpun.
Alan memperhatikan mereka berdua, kemudian menghela nafas berat.
" Lu urusin ini anak, gw mau istirahat duluan."
ucap Alan datar dan berjalan meninggalkan mereka berdua.
" Woy ini masalah lu bro!."
ucap Aldi berteriak, tetapi Alan mengacuhkan ucapan Aldi, dan terus berjalan menuju kamarnya.
" Wah.... Sepertinya enak kalau udah nikah."
ucap Zen sambil menatap sosok Alan yg sudah masuk kedalam kamar nya.
" Lu kira Nikah itu gampang!."
ucap Aldi ketus.
" Ya elahhh Di, emangnya lu berharap gw nikah beneran gitu, gw mau nikah tapi hanya untuk nikmatin tubuh istri gw doang, kalau nanti udah bosen tinggal cari aja yg baru, mudah bukan."
ucap Zen santai, Aldi menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya.
" Sepertinya lu terlalu menganggap rendah seorang wanita bro, inget lu keluar dari mana?, dan inget surga itu ada di telapak kaki ibu man, lu nyakitin hati istri lu nanti, sama aja seperti lu nyakitin hati ibu lu sendiri."
ucap Aldi panjang lebar.
" Ya nggak sama lah, ibu gw itu yg ngelahirin gw, Sedangkan istri itu adalah wanita yg berhasil gw ikat dalam status pernikahan."
ucap Zen santai.
" Tetapi apa lu nggak berpikir jika istri lu itu adalah calon ibu dari anak anak lu, apa lu Nggak mikir sampai kesitu?."
ucap Aldi.
" Aih...lu terlalu serius ngomongnya bro, lagian siapa yg mau menikah dalam waktu dekat."
ucap Zen mengelak.
" Gw hanya ingetin lu doang cunguk, hidup lu Cuma sekali dan gw harap lu juga nikah hanya sekali seumur hidup, dan gw berharap jika lu nanti udah menikah jangan pernah lukain perasaan istri lu, karena dia adalah calon dari anak anak lu, dan wanita yg menjadi istri lu itu tentu saja wanita yang kuat."
ucap Aldi sambil menepuk pundak Zen.
" Lu ngomong kayak orang kolot aja."
ucap Zen sambil tertawa kecil.
" Terserah lu aja, gw hanya ngingetin lu doang, dan juga Alan baru menikah beberapa hari, cewek yg dia nikahin itu namanya Aira, dan gw harap lu nggak berpikiran macam-macam tentang gadis itu, karena dia menikahi Alan, itu juga karena sebuah paksaan."
ucap Aldi
" Maksud lu, Mereka berdua di paksa menikah begitu?."
ucap Zen tidak percaya.
" Iya..."
ucap Aldi jengah
" Bukankah itu curut bisa nolak?."
" Dia bukan anak durhaka coy!."
ucap Aldi, membuat Zen membuka matanya lebar-lebar.
" Wah...cool..dia keren banget, ternyata seorang ketua mafia adalah orang yang berbakti kepada orang tuanya."
ucap Zen sambil bertepuk tangan.
" Sekarang udah nggak ada yg perlu gw kasih tau lagi, dan waktunya untuk lu pulang."
ucap Aldi.
" Wahhhhh... ceritanya lu ngusir gw nih!."
ucap Zen.
" Sepertinya begitu!."
ucap Aldi sambil tersenyum tanpa merasa bersalah, Zen pura pura ingin menangis.
" Kalau lu mau nangis, Sono ditengah jalan, besoknya gw tinggal bikin batu nisan."
ucap Aldi santai,
" Wah...temen somplak...lu nyuruh gw buat bunuh diri!."
ucap Zen kesal.
" Oh ayolah...lu udah sering bunuh orang...masa lu takut mati."
ucap Aldi meledek Zen.
" Tapi mereka yg mati begeee...bukan gw."
ucap Zen kesal.
" Hush...hushhh... udah malam.."
ucap Aldi yg kemudian berjalan keluar dari mansion Alan dan diikuti oleh Zen dari belakang.
π²π²π²π²
Rizal menatap seorang gadis yang sedang duduk sendirian dari kejauhan, Rizal telah kembali ke Indonesia siang tadi, karena mamahnya mendesak dirinya untuk segera membawa Aira, Aira di telpon beberapa kali tetapi tidak kunjung diangkat, dan karena hal itu lah sekarang Rizal duduk di taman di malam hari, sampai tanpa dia sadari dia sedang memperhatikan seorang gadis yg sudah tidak asing lagi.
" Di tempat pencahayaan yang kurang saja, dia masih tetap cantik."
ucap Rizal tulus
Tanpa Rizal Sadari dia sudah berada didepan Chacha, membuat gadis itu mendongak keatas.
" Kak Rizal?."
ucap ChaCha bingung, karena dia tidak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan Rizal di taman, Rizal tersenyum lembut.
" Bolehkah aku duduk?."
ucap Rizal lembut.
" Silahkan!."
ucap Chacha sambil bergeser, Rizal tersenyum melihat wajah Gadis yg telah mengusik tidurnya beberapa hari yang lalu.
" Kamu ngapain disini?."
ucap Rizal perhatian, ChaCha membuang nafasnya.
" Pikiran aku sedang tidak tenang kak, makanya aku keluar malam malam."
ucap ChaCha, Rizal tersenyum melihat wajah ChaCha yg menurutnya menggemaskan.
" Apa yg sedang kamu pikirkan hmm."
ucap Rizal sambil memainkan wajah Chacha karena gemas. Chacha hanya tersenyum mendapatkan perlakuan seperti ini.
" Apakah aku begitu menggemaskan kakak?."
ucap ChaCha sambil melepaskan kedua tangan Rizal dari wajahnya.
" Seperti anak kecil dengan pipi chubby."
ucap Rizal sambil mencubit pipinya ChaCha.
Tetapi ChaCha tiba tiba saja terdiam kembali, seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Apa yg sedang mengganggu pikiran mu?."
ucap Rizal.
" Aku ingin menikah dengan laki laki pilihan aku kak, karena jika anakku nanti lahir, mereka tidak bisa memilih seseorang supaya menjadi ayah mereka, maka dari itu Aku akan mencari laki laki yg baik dan memberi tahu dengan bangga kepada anakku nanti kalau ayah mu adalah pria baik baik."
ucap ChaCha tiba tiba, Rizal mengernyitkan keningnya karena tidak paham, maksud ucapan ChaCha barusan.
" Maksud kamu apa Cha?."
ucap Rizal yg terdengar gelisah.
.
.
.
.
.
.
terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca βΊοΈ