Try Not to Fall In Love

Try Not to Fall In Love
Bab 72



Terlihat Seorang wanita paruh baya yg sedang duduk diatas kursi roda, sambil melihat pemandangan kota dari balkon rumahnya, wanita paruh baya itu masih terlihat cantik, kendati beliau terlihat lemah dan rapuh.


" Mah, kenapa mamah ada disini, angin malam tidak bagus untuk kesehatan Mamah."


ucap Seorang laki laki. Wanita itu langsung menoleh kesamping sambil tersenyum lembut.


" Mamah lebih suka disini Rizal, karena ditempat inilah Mamah bisa menenangkan pikiran Mamah."


ucap Indah, mamahnya Rizal, Rizal hanya tersenyum mendengar ucapan Mamahnya itu, Sebenarnya dia sudah lama tidak melihat mamahnya pergi ke balkon rumah, setelah sekian lama, mungkin kah ini suatu kemajuan. pikirnya


" Nak, Vivi mana?, katanya kamu akan membawa gadis kecil mamah kesini?."


ucap Indah sambil melihat kebelakang Rizal, tapi Indah sama sekali tidak melihat siapapun.


" Maaf mah, Aku Nggak bisa bawa Vivi pulang, karena Vivi mempunyai kesibukannya sendiri."


ucap Rizal mencari alasan yg tepat, tetapi dia tidak handal berbohong dihadapan Mamahnya.


" Bicaralah dengan jujur, jangan ada yg ditutup tutupi, karena mamah nggak suka orang yang bohong."


ucap Indah.


" Kalau aku menceritakan semuanya, Mamah janji jangan panik, karena jika mamah panik ditengah cerita, aku nggak akan melanjutkan ceritanya sampai selesai."


ucap Rizal tegas.


" Kamu berani mengancam Mamah kamu Rizal?."


ucap Indah yg tiba tiba saja emosional, Rizal menggelengkan kepalanya.


" Ini semua demi kebaikan mamah sendiri, jika mamah tidak mau kooperatif dengan aku, maka aku hanya bisa mengancam Mamah."


ucap Rizal.


" Maafkan aku mah, aku tidak bermaksud untuk mengancam mamah sedikitpun, aku bersikap seperti ini hanya untuk antisipasi saja." pikirnya.


Indah menghela nafas panjang.


" Baiklah, mamah akan ikuti semua syarat kamu, tapi kamu harus menceritakan semuanya yg kamu ketahui tentang Vivi."


ucap Indah, Rizal pun menganggukkan kepalanya, karena sekeras apapun Rizal berusaha untuk menyembunyikan semuanya, tetap saja semuanya akan terbongkar juga.


" Ceritanya itu begini."


ucap Rizal, kemudian dia menceritakan semuanya yg diketahui termasuk pernikahan Aira, yg dilakukan secara paksa, Indah mengepalkan tangannya dan mengertakan giginya.


" Dan suaminya Aira adalah Alan Gusti Nugraha, sahabatnya aku, dan mamahnya Alan adalah sahabat Mamah."


ucap Rizal, Indah memijat keningnya.


" Jika Vivi menikah dengan pria lain mungkin akan mudah Mamah meminta Aira untuk diceraikan, tetapi jika Vivi menikah dengan Alan, ini akan semakin sulit nak."


ucap Indah.


" Tenang mah!."


ucap Rizal.


" Bagaimana Mamah bisa tenang, mamah hapal betul dengan sahabatnya kami yg satu itu, laki-laki yg dingin, laki laki yg bersikap acuh, laki laki yg kasar, membayangkan saja membuat mamah ingin segera mengambil adik kamu secara paksa, tapi mamah tidak bisa melakukannya."


ucap Indah putus asa, Rizal tersenyum mendengar penuturan Mamahnya.


ucap Rizal serius.


" Tapi dia itu sahabat kamu loh nak."


ucap Indah mengingatkan.


" Walaupun dia sahabat aku, jika dia menyakiti adik aku, sama saja dia menyakiti aku, dan mamah."


ucap Rizal tegas, indah hanya tersenyum lembut mendengar ucapan Rizal.


" Kamu memang mempunyai sifat yg sama dengan almarhum papah mu nak."


ucap Indah.


" Lebih baik sekarang mamah nggak perlu mikirin apapun dulu, karena sekarang aku mau menawarkan mamah sesuatu."


ucap Rizal.


" Kamu mau menawarkan apa hmm?."


ucap Indah.


" Mamah mau pulang ke Indonesia nggak?."


ucap Rizal, mendengar ucapan Rizal tersebut membuat matanya mulai berkaca-kaca, bukannya Indah tidak ingin pulang ke kampung halamannya, tetapi ditempat kampung halamannya itulah dia mendapatkan trauma yg paling mendalam, sampai dia sendiri tidak bisa melupakannya.


Tetapi sekarang berbeda, dia ingin kembali ke kampung halamannya kembali, setelah tau jika putri kecilnya masih hidup sampai sekarang, dan sudah tumbuh besar menjadi gadis yg cantik.


" Mamah nggak mau pulang ya?."


ucap Rizal, bertanya sekali lagi.


" Kata siapa mamah nggak mau pulang nak, Mamah ingin cepat cepat pulang ke Indonesia dan bertemu adik mu sayang."


ucap indah sambil tersenyum sumringah, Rizal menganggukkan kepalanya.


" Baiklah, sore ini kita akan berangkat."


ucap Rizal.


" Terimakasih kasih ya nak."


ucap Indah sambil memeluk Rizal dengan hangat, Rizal sudah lama tidak melihat senyuman manis terukir diwajah Mamahnya.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca ☺️