
" Lepaskan tangan saya sekarang!, sebelum saya berteriak."
ucap ChaCha tak nyaman, tidak tau kenapa saat ini dia ingin sosok Rizal muncul pikirnya.
" Kenapa saya harus melepaskan tangan mu?, bukankah orangtua kita sudah menjodohkan kita berdua."
ucap Leo sambil tersenyum polos, dia sebenarnya mempunyai niat tersembunyi, Leo tau jika ChaCha termasuk salah satu sahabat baiknya Aira, jadi kenapa tidak bermain-main sesaat. pikirnya
" Perjodohan itu tidak akan terjadi!."
ucap seseorang dingin, ChaCha mengalihkan pandangannya dan dia melihat sosok yg sedang dia nantikan, sosok itu seperti penyelamat baginya. pikirnya, Leo tersenyum menyeringai.
" Wah...siapa yg akan menyangka jika seorang Rizal yg terkenal dengan sosok yg dingin ingin, ternyata tertarik dengan sosok gadis yang akan dijodohkan dengan orang lain."
ucap Leo sambil tersenyum mengejek, Rizal mengertakan giginya, tatapannya begitu dingin dan tajam.
" Lepaskan tangan gadis ini, sebelum gw pastiin, kalau tangan lu nggak bisa di pake lagi."
ucap Rizal dingin, Leo tersenyum menyeringai dia meremehkan perkataannya. tetapi tiba-tiba hpnya berdering, dia berdecak kesal setelah tau siapa yg menelponnya.
" Ah... baiklah gw bakalan melepaskan tangan calon tunangan gw untuk saat ini, karena sepertinya bakalan ada yg marah."
ucap Leo sambil tersenyum mengejek, Leo mulai berdiri dan meninggalkan mereka berdua, untuk beberapa detik mereka berdua masih berada diposisi yang sama.
" Aku bisa jel..askan."
ucap ChaCha sedikit gugup, Rizal menatap ChaCha, kemudian dia menghela nafas untuk sesaat, tiba-tiba ide gila menghampirinya.
" Tidak perlu kamu jelaskan, hari ini aku akan mengantarmu pulang dan menemui kedua orangtua mu."
ucap Rizal perasaan sama sekali tidak bagus, dan rasa cemburu masih menyelimuti dirinya.
" Untuk apa kakak bertemu dengan orangtuaku?."
ucap ChaCha yg tiba tiba gugup bukan main.
" Apalagi kalau bukan melamar mu dan menjadikan mu sebagai istri ku?, Apa jangan jangan kamu ingin menikah dengan laki laki seperti tadi?."
ucap Rizal mendengus kesal. ChaCha menggelengkan kepalanya dengan cepat, tetapi dia sama sekali tidak pernah berpikir sekalipun bahwa laki-laki yang pernah menggelitik hati nya ini ternyata menyimpan perasaan untuknya, sesaat ChaCha terdiam dia tidak tahu harus melakukan apa.
" Jangan terlalu dipikirkan."
ucap Rizal lembut tiba-tiba saja isi kepala Rizal mulai jernih, dan jujur saja dia memang mencintai wanita yg ada dihadapannya saat ini, tetapi dia bukan tipe orang yang bisa mengatakan kata kata romantis.
" Apakah kakak benar benar ingin bertemu dengan orangtuaku?."
" lebih cepat lebih baik."
ucap Rizal bergumam, tapi ChaCha bisa mendengarnya dengan jelas, jantungnya berdetak tidak karuan.
" Ok."
ucap ChaCha setuju, Rizal mengangkat kepalanya sambil tersenyum seperti anak kecil.
" Ok ayo .."
ucap Rizal semangat sambil menggandeng tangan ChaCha, gadis itu merasa nyaman berada dekat dengan Rizal. mereka berdua pergi keluar begitu saja meninggalkan seseorang yang sedang menjadi penonton setia.
" Wah... sepertinya itu anak telah melupakan sesuatu!, sepertinya gw juga harus cari cewek!, biar nggak jadi obat nyamuk"
ucap Aldi sambil meminum kopinya.
🌲🌲🌲🌲
Alan duduk seperti anak kecil yang sedang diceramahi ibunya, tak kala Aira tiba-tiba meledakkan bukan main.
Aira sekarang sedang mondar-mandir sambil menggigit kukunya dan sesekali melihat suaminya, jika seseorang melihat Alan seperti ini pasti orang tidak akan percaya jika dia adalah seorang leader mafia yg kejam.
Aira tau konsekuensinya jika dia gagal, diburu atau memburu.
" Bukankah akan menyenangkan jika memburu, dari pada berburu, lagian gw juga udah lama mencurigai kelompok agent ini." pikirnya
" Aira...sayang.. jangan marah!."
ucap Alan pelan
" Aku nggak marah sama sekali, aku malah berterimakasih karena kamu sudah mau membagikan rahasia mu ini sebelum terlambat."
ucap Aira sambil tersenyum
.
.
.
.