Try Not to Fall In Love

Try Not to Fall In Love
bab 68



Aira menatap tajam kepadanya, laki laki itu hanya memperlihatkan ekspresi datarnya, dia sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan yg diberikan Aira kepadanya, tetapi sebaliknya, Alan merasa dia sedikit merasa ada sedikit perasa ketertarikan kepada gadis tersebut, Apalagi setelah melihat manik mata yg menurutnya tidak asing baginya, dan perasaan tersebut sama sekali tidak asing.


" Dengarkan saya baik baik, wahai Tuan Alan Gusti Nugraha, saya menikah dengan anda karena keterpaksaan, bukan karena atas dasar suka, dan perlu anda ingat saya tidak akan pernah menjalankan kewajiban saya sebagai seorang istri, karena saya tidak memiliki perasaan sedikitpun dengan anda, dan juga saya yakin anda sudah mempunyai nama seseorang didalam hati anda itu, dan karena hal itu sebaiknya anda mengerti perkataan saya."


ucap Aira pelan, tapi di setiap perkataan yang dia keluarkan semuanya sengaja dia beri tekanan.


Alan tersenyum menyeringai.


" Kamu tau?."


ucap Alan berdiri tegak dihadapan Aira, kemudian mendekatkan wajahnya ke samping telinga Aira membuat gadis itu bisa merasakan hembusan nafas hangat Alan, dan hal itu sukses membuat darah Aira mendidih.


" Kamu adalah wanita pertama yang pernah menolak saya, Tapi karena penolakan itu pun, saya merasa terpacu, dan saya ingin menaklukkan hati kamu yg keras seperti batu itu!."


ucap Alan pelan dengan suara beratnya, membuat sekujur tubuh Aira gemetaran.


" Oh tuhan... perasaan asing apakah ini?."


pikirnya, dan tanpa Aira sadari Alan, sudah mundur beberapa langkah, karena dia tau Aira itu seperti apa.


" Apakah kamu ingin bertarun sesuatu?."


ucap Alan sambil mengangkat alisnya sebelah, dengan ekspresi wajah yang mengejek, sedangkan Aira yg sudah menahan amarahnya dari tadi, tanpa banyak berpikir dia mengatakan sesuatu yang akan merubah segalanya.


" Baiklah saya akan menerima taruhannya, tapi apa permainannya?."


ucap Aira, Alan tersenyum menyeringai.


" Permainannya adalah, dilarang untuk jatuh cinta!."


ucap Alan, Aira tersenyum mengejek mendengar ucapan Alan.


" Bukankah saya sudah bicara dengan jelas jika, sama sekali tidak menyukai anda?."


ucap Aira sinis, Alan tersenyum Santai menanggapi ucapan Aira.


" Saya belum selesai bicara."


ucap Alan.


" Baiklah, teruskan!."


ucap Aira tidak sabar, Alan pun tersenyum misterius.


" Siapapun yg jatuh cinta duluan diantara kita berdua, berarti dia kalah, dan orang yang menang bisa meminta apapun kepada orang yg kalah bagaimana?."


ucap Alan, Aira terlihat sedang berpikir sejenak.


ucap Aira.


" Sudah pasti!."


ucap Alan, Aira pun tersenyum kecil mendengarnya.


" Baiklah aku terima tantangan nya."


ucap Aira mantap.


" Kamu sepertinya begitu yakin, jika kamu yg akan menang nantinya?."


ucap Alan.


" Saya tidak suka kekalahan!."


ucap Aira datar, kemudian dia mulai berjalan meninggalkan Alan sendirian di ruang tamu.


" Sepertinya permainan ini akan menyenangkan."


ucap Alan, dia juga mulai berjalan menuju kamarnya.


🌲🌲🌲


Berbeda di tempat yang lain, Hendra, Papah angkat Aira dia sedang mencari sesuatu, pekerjaan kantor sudah selesai semua nya, Tetapi dia tidak bisa berkonsentrasi terlalu lama.


Kevin, dia laki laki pendiam dan tidak suka berada dalam kerumunan, tetapi dia sangat menyayangi saudaranya yg tidak lain adalah Aira, setelah Aira meninggalkan rumah mereka, Kevin merasa sedikit terusik, bukan karena Aira perlu keluar dari rumah itu tetapi karena dipaksa untuk keluar oleh seorang laki-laki yang sangat Kevin hormati.


Tetapi semua itu bukanlah alasan utama Hendra menjadi seperti ini, situasi yg membuat dirinya terjebak didalamnya.


Situasi tersebut membuat dirinya kesulitan untuk tidur dimalam hari, dia sangat mengkhawatirkan anaknya, walaupun seharusnya dia tidak perlu memikirkan hal itu, Atau Sebenarnya dia memikirkan nya?.


Kepribadian Hendra membuat dirinya menjadi salah satu orang yg selalu tidak bisa mengatur emosinya sendiri, akan tetapi bagaimanapun juga dia itu manusia, dan dari semua alasan apapun itu.. Hendra adalah seorang ayah.


.


.


.


.


Terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca ☺️