
Andre menatap datar kearah gadis yg sedang menatapnya sambil tersenyum mengejek, dia adalah Adelia. sahabatnya dari kecil.
" Lu kapan balik ke Indonesia?."
ucap Andre mengalihkan pembicaraan. Adelia geleng geleng kepala, yg kemudian duduk didepan Andre.
" Lu nggak pernah berubah ternyata, suka mengalihkan pembicaraan dari dulu, boleh nih lu kenalin cewek yg lu taksir itu ke gw."
Ucap Adelia sambil menopang dagunya yg siap menjadi pendengar setia.
" Aishhh...lu itu jadi orang pengen tau mulu urusan orang kenapa kali."
ucap Andre sedikit kesal, tetapi percuma walaupun dia tidak mau cerita maka Adelia akan mencari tau sendiri, seperti dulu.
" Biarin gw kan sahabat lu dari kecil, lagian walaupun lu berusaha untuk merahasiakan nya, gw juga pasti akan tau, jadi percuma lu mau menyimpan nya serapat apapun."
ucap Adelia sambil nyengir lebar.
" Aihh..gw mah beneran kenapa lu mau tau banget tentang perempuan itu, padahal gw yakin lu pasti nggak bakal kenal."
ucap Andre.
" Walaupun gw nggak tau, mungkin kalau nanti lu cerita dan kasih tau wajah gadis itu, mungkin gw bisa bantu lu buat ngedapetin dia."
ucap Adelia, Andre terdiam sejenak mendengar ucapan sahabatnya, ada benernya dengan ucapan Adelia barusan.
" Ok...gw ceritain deh.."
ucap Andre walaupun terpaksa, kemudian dia menceritakan semuanya tentang kejadian waktu di diskotik.
" Oh gitu ceritanya..terus lu pasti nya masih ingat kan wajah gadis itu?."
ucap Adelia.
" Tentu nya gw masih ingat.. tetapi gw sama sekali nggak punya foto gadis itu, dan anak buah gw udah mencari tahu di tempat diskotik tersebut tetapi hasilnya nihil, mereka sama sekali tidak mendapatkan hal yang gw inginkan."
ucap Andre yg terdengar sedikit frustasi.
" Apa lu pernah mencoba untuk melukis gadis itu?."
ucap Adelia yg memberi ide.
" Belum..gw sama sekali nggak kepikiran sampai kesitu, wah beneran ternyata cerita sama lu ada gunanya juga ya."
ucap Andre sambil tersenyum.
" Gw kan udah pernah bilang lagian lu sendiri keras kepala sih..coba lu dari jauh jauh hari cerita, mungkin gadis itu sekarang sudah sama lu."
ucap Adelia santai.
" Jujur saja gw sama sekali nggak kepikiran Kalau lu bisa ngasih gw solusi, tetapi ternyata kebalikannya, thanks banget yah."
ucap Andre.
" Namanya juga temen wajarlah kalau gw ngebantu lu."
ucap Adelia sambil menepuk pundak Andre beberapa kali, mereka berdua saling bercakap-cakap dan terkadang tertawa.
π²π²π²π²
Aira dan Rizal memutuskan untuk duduk terlebih dahulu, sedangkan kedua sahabatnya masih melanjutkan permainannya. Aira menatap kearah Rizal sambil tersenyum misterius.
" Woy bro lu kapan nembak si ChaCha?."
ucap Aira tiba-tiba, membuat Rizal yg sedang minum pun tersedak kaget, dan menatap Aira yg sedang tersenyum tanpa dosa.
" Gw aja belum PDKT sama ChaCha, gimana ceritanya gw mau nembak nya, nanti yg ada malahan kabur itu anak, karena takut duluan sama gw, kan berabe kalau hal itu terjadi."
ucap Rizal menjelaskan semuanya.
" Ohh gitu, gw sangka lu bakalan langsung nembak, secara dari tampang lu itu terlihat seperti bukan orang yang sabar."
ucap Aira yg mengucapkan pendapatnya.
" Gw emang nggak sabaran, tapi kalau urusan perasaan gw bisa menunggu sampai gw sendiri jenuh."
ucap Rizal serius yg sekarang sedang menatap ChaCha yg sedang tertawa bersama Violeta.
" Nggak sangka ternyata lu sabar juga jadi orang yah.. padahal dari tampang nya ampun sangar banget keliatannya bin dingin."
ucap Aira yg terus menerus memberikan pendapatnya tentang Rizal dimatanya, sedangkan Rizal hanya tersenyum mendengar celotehan Aira, menurut Rizal, Aira adalah sosok yang menurutnya tidak asing lagi, walaupun mereka baru bertemu dua kali.
" Makanya jangan liat orang dari luar nya doang, lagian tampang kayak gini lu sebut garang..wah beneran buta lu ya.. padahal banyak cewek yang ngantri gara gara tampang wajah gw ini loh."
ucap Rizal percaya diri sambil bercanda.
" Narsisnya diri lu bro."
ucap Aira sambil tertawa, tidak lama kemudian ChaCha dan Violeta mulai mendekati Aira sambil tertawa.
" Lu berdua kayaknya asik banget mainnya?, emangnya nggak capek?."
ucap Aira menatap kearah kedua sahabatnya.
" Capek sih pastinya..tapi kan kita jarang main kayak gini Ra."
ucap ChaCha sambil duduk di samping Aira, dan Violeta Duduk di samping Rizal.
ucap Rizal tiba tiba.
" Kita terserah Aira aja kak."
ucap Violeta sedikit gugup.
" Hmmm kalau terserah gw berarti setelah ini kita makan dulu, dan nanti lanjut nonton di bioskop gimana mau nggak?."
ucap Aira sumringah saat dia mengatakan kata makan, padahal dia baru saja selesai makan.
" Bukannya tadi sebelum kita pergi kesini kita makan dulu kan Ra, terus kenapa kita harus makan dulu?."
ucap Violeta heran.
" Aih lu mah..kayak nggak tau ini anak kan perutnya kayak karet, nggak ada kata kenyang di dalam perut nya Aira, bener nggak Ra?."
ucap ChaCha tersenyum jahil.
" Eh enak aja..gw bukan perut karet ya...lagian perut lu berdua aja yg kecil makannya masih kenyang aja, sedangkan perut gw kan gede."
ucap Aira sambil mengelus perutnya.
" Perut datar kayak gitu lu sebut gede Ra, terus apa kabar bentuk perut gw dan ChaCha."
ucap Violeta menatap perutnya sendiri.
" Eh perut gw nggak buncit ya."
ucap ChaCha membela dirinya.
" Gw kan nggak bilang perut lu buncit Cha."
ucap Violeta.
" Yapi kan sama sa.."
ucap ChaCha yg terpotong oleh ucapan Aira.
" Lu berdua seneng banget kayanya berdebat mulu, mau gw kasih pisau Tah satu satu."
ucap Aira kesal , karena kedua sahabatnya selalu berdebat disetiap kesempatan.
" Habisnya dia duluan yang cari masalah Ra."
ucap mereka berdua bersamaan.
" Mulai lagi deh, mau gw tinggalin ya..apa kita setelah ini langsung pulang aja kerumahnya masing masing, dari pada dengerin lu berdua debat mulu setiap hari, sampai gw sendiri bosan."
ucap Aira yg mulai kesal, sedangkan Rizal yg dari tadi melihat dan mendengar hanya diam saja tidak mau ikutan, karena menurutnya, hal ini begitu menarik untuk di lihat pikirnya.
" Jangan dong Ra."
ucap Mereka bersamaan.
" Kalau seperti itu lu berdua jangan berdebat mulu kayak anak kecil tau, emangnya lu berdua lupa kalau disini ada orang lain, selain kita bertiga."
ucap Aira mengingatkan kedua sahabatnya yang sepertinya melupakan kehadiran sosok Rizal. dan benar saja.
" Eh kak Rizal sorry gw vio lupa, kalau kakak juga masih disini."
ucap Violeta sedikit malu, sedangkan ChaCha hanya terdiam tidak mengeluarkan suara, Rizal yg sedang memperhatikan ChaCha hanya tersenyum manis melihatnya.
" Tenang aja kok, kakak maklumi kok, kalian kan masih proses remaja menuju dewasa, jadi wajar sajalah jika kalian masih bertingkah seperti ini."
ucap Rizal santai. membuat ChaCha yg mendengarnya langsung mengangkat kepalanya dan saat itu tanpa sengaja, antara ChaCha dan Rizal bertatap mata untuk beberapa detik, yg kemudian ChaCha pun menyadarinya dan menundukkan kepalanya kembali, Rizal yg melihat nya hanya tersenyum.
Aira hanya tersenyum melihat pemandangan tersebut, menurut Aira Rizal sudah mulai mengambil langkah secara perlahan pikirnya.
" Oh ya udah bagaimana kalau sekarang kita cari tempat makan dulu.. soalnya perut gw nggak bisa di ajak kompromi nih."
ucap Aira yg kemudian menarik tangan Violeta dan mulai berjalan lebih dulu meninggalkan ChaCha dan Rizal berdua. yg masih terlihat canggung.
" Kak sepertinya kita perlu menyusul Aira, sebelum dia pergi jauh."
ucap ChaCha yg masih menundukkan kepalanya.
" Kalau kamu berbicara dengan orang yang lebih tua, seharusnya menatap wajah orang tersebut."
ucap Rizal yg mulai mendekati ChaCha, tanpa ChaCha sadari.
.
.
.
.
.
.
.
. terimakasih karena sudah mau mampir, jangan lupa like jempolnya.βΊοΈ