
Aira masuk kedalam rumah nya, kedua orangtuanya duduk diruang tengah, dan pemandangan tersebut adalah hal yg jarang dilakukan oleh kedua orangtuanya tapi itu membuat Aira sedikit nyaman, Aira menyalami kedua tangan orang tuanya. ketika Aira mau masuk kedalam kamar,
" Aira kalau sudah ganti baju kamu kembali lagi kesini ya."
ucap Hendra lembut, membuat Aira tersenyum senang karena untuk pertama kalinya Papah nya berbicara lembut.
" Baik Pah!."
ucap Aira dia masuk ke kamarnya dan Menganti pakaian nya. dan kembali lagi diruang tengah.
" Aira kamu duduk dulu!."
ucap Hendra lembut, Aira melirik kearah Mamah, terlihat ekspresi wajah Mamahnya yg merasa bersalah, sebenarnya apa yg terjadi pikirnya.
Aira pun duduk di sofa didepannya hanya ada kedua orang tua nya, adiknya belum pulang.
" Aira apa kamu menyayangi Papah?."
ucap Hendra lembut, dijawab dengan anggukan kepala oleh Aira sambil tersenyum.
" Apa kamu mau mengabulkan permintaan Papah mu ini?."
ucap Hendra, Aira mengangkat kepalanya dan menatap Papahnya, Aira baru pertama kali mendengar Papah nya mempunyai sebuah permintaan kepada Aira, Aira pun mengangguk kepalanya tanpa ragu.
" Papah sebenarnya sedang kesulitan ekonomi Aira!."
ucap Hendra pelan.
" Aira bisa kasih uang yg Aira tabung Pah untuk Papah gimana?."
ucap Aira spontan.Hendra hanya menggelengkan kepalanya.
" Tidak Aira, Papah sebenarnya ingin kamu menikah seseorang!."
ucap Hendra lembut, seakan akan permintaan tadi bukanlah hal yg berat untuk dilakukan, tapi mendengar ucapan Papahnya barusan seperti mendapatkan sebuah gunung yg menimpa pundak Aira secara tiba tiba, Aira menghela nafasnya dengan susah payah.
" Apa Papah akan baik baik saja jika Aira menikah?, Aira masih kecil Pah."
ucap Aira suaranya terdengar pelan sekali tetapi bisa terdengar dengan jelas.
" Papah bahagia jika kami menikah dengan orang ini, apalagi nanti kamu bisa membantu ekonomi keluarga kita!."
ucap Hendra lembut dan tersenyum misterius, Aira sebenarnya Papahnya sedang menjual dirinya kepada orang lain, tapi dia berusaha kuat dan tidak menangis di depan Papahnya.
" Jika itu membuat Papah bahagia, maka Aira akan melakukan nya!."
ucap Aira, padahal dalam hatinya sangat berat, karena dia masih ingin belajar, tapi untuk Papahnya dia kubur keinginan tersebut untuk sementara,
" Bukankah setelah menikah nanti, tetap masih bisa kuliah?." pikirnya.
" Kamu itu memang anak yg berbakti, dan pernikahan mu akan diselenggarakan setelah hari kelulusan mu Aira!."
ucap Hendra sambil meninggalkan ruangan tersebut, Aira menghela nafas panjang. dia pergi ke kamar nya dan duduk dilantai sambil memeluk lututnya, dia menangis sesenggukan tapi saat dia menangis tidak terdengar sama sekali suara Isak tangisnya hanya yg terdengar hanya suara senggukan Aira.
" Bukan kah semua ini tidak adil, sebenarnya apa yg kau rencanakan tuhan?, kenapa kehidupan ku banyak sekali rintangan?."
pikirnya.
Aira terdiam sejenak dan kemudian kekamar mandi dan mencuci muka nya, dan menatap wajahnya sendiri. dan tersenyum.
" Tenang Ra, lu menikah bukan berarti dunia ini akan berakhir, toh jika lu menikah dengan laki laki pilihan Papah lu, bukannya akan membantu ekonomi keluarga ini, jadi ambil positifnya saja dan jangan dibawa pusing ok!."
ucap Aira sambil menepuk wajah nya dan menyemangati dirinya sendiri.
Didalam kamar kedua orangtuanya, mereka terlihat sedang berdebat.
" Mas bukannya sudah berjanji akan membicarakan hal ini setelah Aira selesai ujian"
ucap Intan, Laki laki Tersebut melirik kearah Istrinya tidak suka.
" Dia sudah selesai ujian, jadi tidak masalah jika aku mengatakan nya, dan lagi anak itu menerima nya dengan senang hati."
ucap Hendra yg tidak merasa bersalah sedikitpun.
" Apakah mas pernah memikirkan perasaan Aira sedikit saja?, selama ini padahal mas selalu bersikap tidak adil dengannya, dan tiba tiba berubah lembut saat menginginkan sesuatu kepada Aira!."
ucap Intan tidak percaya.
" Wajar saja jika aku memperlakukan dia secara tidak adil, dia juga bukan anak kandung ku, dan wajar jika aku meminta dia untuk menikah, hitung hitung balas budinya karena sudah merawat dia dari kecil!."
ucap Hendra tanpa merasa berdosa, sedangkan Istrinya hanya geleng-geleng.
" Mas kamu keterlaluan, kita sudah mengangkat Aira jadi anak kita sendiri saat dia berusia 2 tahun dan sekarang dia sudah berusaha 18 tahun, apa mas sama sekali tidak ada perasaan sayang sedikit pun terhadap Aira?."
" Aku memang tidak menyayangi nya, karena yg meminta dia menjadi anak kita waktu itu adalah kamu, jadi wajar jika aku tidak menyayangi nya, dan jangan bahas semua ini lagi karena aku sudah muak, dan lagi kamu harus berpikir tentang keadaan putri mu setelah menikah nanti!."
ucap Hendra sambil tersenyum misterius.
" Maksud kamu apa?, bukannya kamu menikah kan nya dengan seorang pengusaha sukses?"
ucap Intan
" Memang benar, tetapi laki laki itu juga adalah seorang mafia yg ditakuti oleh semua orang."
ucap Hendra sambil tersenyum bahagia, sedangkan Intan hanya menangis setelah mendengar ucapan Suaminya.
" Mas kamu benar benar kejam, bisa bisanya kamu membuat putri ku menikah dengan seorang mafia, apakah tidak ada perasaan kasian sedikit pun ketika kamu ingin menjodohkan nya?."
ucap Intan menangis histeris.
" Sudah lah kamu jangan terlalu berlebih-lebihan, nanti juga yg menjalani kehidupan dengan mafia itu adalah dia bukan kamu, jadi kamu sekarang tenang, atau kamu ingin aku membuat anak mu semakin menderita sebelum dia menikah?."
ucap Hendra mengancam istrinya sambil tersenyum mengejek. istrinya hanya geleng-geleng.
" Itu lebih baik, sekarang aku ingin pergi dulu, aku akan bertemu sama besan ku, kamu dirumah saja, jangan ikut takut bikin malu!."
ucap Hendra sambil memakai jasnya, sedangkan Intan melihat suaminya tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan suaminya.
Setelah kepergian suaminya, dia pun terdiam, dan dia teringat dengan Aira dia pun keluar dan mengetuk pintu kamar Aira.
" Aira sayang ini mamah, mamah boleh masuk nggak?."
ucap Intan lembut.
" Masuk aja Mah, pintunya nggak dikunci!."
ucap Aira, tapi terdengar suara nya yg serak, Intan tau kalau Aira pasti habis menangis, saat masuk kedalam.
" Kenapa Mah?."
ucap Aira lembut, tapi bisa dengan jelas terlihat kalau Aira sudah menangis karena matanya merah dan bengkak.
" Kamu nangis ya, maafin Mamah ya nak, Mamah nggak bisa cegah Papah kamu."
ucap Intan, Aira hanya tersenyum dan geleng geleng.
" Mamah nggak perlu minta maaf, toh jika Aira menikah nanti akan membantu situasi ekonomi keluarga, jadi Aira akan menerima nya dengan lapang dada!."
ucap Aira sambil tersenyum pahit, Bagaimanapun Aira tidak bisa menunjukkan wajah sedihnya dihadapan Mamahnya. Intan berpikir sejenak.
" Mungkin ini waktu yg tepat untuk memberi tahu kebenaran nya" pikirnya.
" Aira sayang Mamah ingin mengatakan sesuatu, tetapi setelah ini Mamah tidak akan memaksamu untuk tetap tinggal bersama keluarga ini"
ucap Intan berat hati. mendengar ucapan Mamahnya membuat Aira mengernyitkan dahinya.
" Maksud Mamah apa?."
ucap Aira.
" Kamu bukan anak kandung Mamah, kamu adalah anak angkat sayang...yg mamah adopsi, 16 tahun lalu di rumah sakit."
ucap Intan pelan, tapi masih bisa terdengar jelas oleh Aira, Aira menatap Mamahnya dengan pandangan tidak percaya.
" Mamah jangan bercanda, nggak lucu tau, Aira tau Aira lagi nangis tapi Mamah jangan bercanda kaya gini, ini nggak lucu tau Mah!."
ucap Aira gugup, bukannya mendengar suara tawa Mamahnya, tapi Aira mendapatkan tatapan yg tajam dari Mamahnya, Dengan wajah yg serius dan tatapan yg tajam, dan hal itu membuat Aira menjadi lemas.
.
.
.
.
.
.
.
. terimakasih atas kunjungannya, semoga semuanya selalu diberikan kesehatan ☺️