Try Not to Fall In Love

Try Not to Fall In Love
Bab 100



" Rahasia yg kusimpan darimu, bukannya tak ingin ku ungkapkan padamu, hanya saja aku tidak punya keyakinan untuk melakukannya."


—Christina Aira Agustin—


🌸🌸🌸🌸


Rizal mendorong kursi roda milik Mamahnya, dan sesekali berhenti untuk melihat sesuatu, tetapi Intan belum juga menemukan sesuatu yang membuat dia tertarik, Intan kemudian menyentuh Tangan Rizal, Rizal menghentikan langkahnya begitu pula dengan kursi roda yg dia pegang.


" Ada apa mah?."


ucap Rizal lembut.


" Kita masuk kesini dulu aja!."


ucap Indah sambil menunjuk toko perhiasan, Rizal tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


" Baiklah mamah."


ucap Rizal lembut, dia pun mendorong kursi roda tersebut masuk kedalam toko tersebut.


" Perlihatkan perhiasan yg paling bagus disini."


ucap Indah salah satu pegawai disana terlihat dengan sigap melayani Intan dengan cekatan.


Beberapa menit kemudian, senyuman manis terukir diwajahnya Intan, Rizal pun tersenyum sambil mengelus dadanya.


" Sepertinya mamah sudah menemukan sesuatu yang menarik." pikirnya


" Bukankah gelang ini cantik bila di pakai oleh Aira?."


ucap Indah sambil menunjukkan sebuah gelang yg dia pegang, senyuman manis masih terukir jelas diwajahnya.


" Gelang yg cantik, pasti Aira menyukai pemberian mamah."


ucap Rizal lembut.



" Mamah jadi tidak sabar untuk segera bertemu dengan putri kecil mamah."


ucap Indah sambil tersenyum bahagia, Rizal terdiam sejenak, dirinya yakin kalau dia sudah memberi tahu kalau Aira itu sudah menikah kepada Mamahnya.


Tetapi Rizal tidak sanggup merusak suasana hati mamahnya saat ini, jadi dia membiarkan nya saja.


" Ayo kita segera kerumah Aira nak!."


ucap Indah sambil menarik tangan Rizal Intan terlihat begitu antusias, Rizal menghela nafasnya.


" Apa Mamah melupakan sesuatu?."


ucap Rizal mencoba mengingatkan, Indah menatap Rizal bingung.


" Seingat mamah, mamah tidak melupakan apapun."


ucap Indah mantap, Rizal menghela nafasnya pasrah.


" Mungkin saat perjalanan menuju ke mansion Alan, gw perlu omongin lagi."pikirnya.


" Ayo cepetan berangkat."


ucap Indah


" Iya mah, sabar."


ucap Rizal pelan, sambil mendorong kursi roda keluar dari toko tersebut, setelah selesai membayar gelang tadi.


Rizal membuka matanya lebar-lebar, dia seperti sedang menahan sesuatu, dan Indah melihatnya.


" Kamu ke kamar mandi aja dulu sana."


ucap Intan, yg tau kalau anaknya sedang menahan sesuatu, tetapi Rizal terlihat ragu.


" kalau kamu disini terus, bisa bisa kamu keborosan, dan itu lebih memalukan."


" Ya udah aku ke kamar mandi dulu sebentar, mamah jangan kemana mana ya."


ucap Rizal.


" Iya.. Udah sana, bereskan dulu urusan mu itu."


ucap Indah sambil menghempaskan tangannya, Rizal melihat sosok mamahnya sekali lagi.


" Mamah janji, mamah Nggak akan pergi kemana-mana jadi sekarang, cepetan kamu ke toilet."


ucap Indah serius. Rizal pun akhirnya mengalah dengan cepat dia berlari menuju kamar mandi, meninggalkan mamahnya sendirian, dan dijaga oleh para bodyguard Rizal.


Indah kemudian mengeluarkan gelang yg baru dia beli tadi dengan mata yg berbinar binar, jujur saja dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putrinya yang hilang.


" Apakah Aira akan menyukai gelang ini?."


ucap Indah pelan saat itu dia mengangkat gelang tersebut tanpa dia sadari seseorang sedang tersenyum misterius.


" Pekerjaan ini ternyata lebih mudah."


ucap...


Indah masih mengagumi gelang tersebut dan tiba tiba saja seseorang mengambil gelang tersebut dari tangannya, matanya langsung terbuka lebar.


" Pencuri!!!."


ucap Indah sambil berteriak-teriak, Indah refleks langsung mengejar pencuri tersebut menggunakan kursi roda Nya, Ia tidak sadar jika itulah yang diinginkan pencuri tersebut.


" Wanita tua itu, memang terlalu memaksakan dirinya sendiri, tetapi itu mempermudah pekerjaan ku."


ucapannya..


Pencuri tersebut berlari keluar dari mall tersebut dan sesekali dia melirik kebelakang sambil tersenyum menyeringai.


" Ajal mu akan semakin dekat!."


ucapannya pelan, Indah terlihat mulai kelelahan keringat mulai membasahi wajahnya, matanya mulai buram karena nafasnya yang memburu.


" Berhenti... Pencuri!."


ucap Indah sekali lagi sambil berteriak, Ia berjarak tidak terlalu jauh dari pencuri tersebut, pencuri tersebut melihat jalan raya, sambil tersenyum menyeringai.


" Selamat tinggal wanita tua."


ucap pencuri sambil melemparkan gelang tersebut ke tengah jalan raya, tubuhnya langsung tersentak melihat gelang yg akan dia berikan kepada Aira dibuang begitu saja ke jalan raya, Tanpa pikir panjang dan tanpa melihat sekelilingnya, Intan langsung menjalankan kursi rodanya ke jalan raya.


pencuri tersebut tersenyum menyeringai, dan dengan santai dia mendorong kursi roda milik Indah dengan keras, membuat Intan tersadar dengan apa yg dia lakukan saat ini, Intan tersungkur ke jalan raya dan dia memegang gelang tersebut dengan tubuhnya yg masih gemetaran.


" Sepertinya takdir tidak akan pernah mempertemukan kita, wahai putriku!."


ucap Indah lemas, air matanya mulai menetes diwajahnya, dari kejauhan Intan bisa melihat sebuah mobil sport mewah melaju dengan kecepatan tinggi kearahnya, indah tersenyum lemas.


" Semoga kebahagiaan selalu bersama mu sayang."


ucap Indah sambil tersenyum manis dan memegang gelang tersebut dengan sangat erat, seakan akan gelang itu adalah gadis kecilnya.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca ☺️