Try Not to Fall In Love

Try Not to Fall In Love
Bab 108



Aira tersenyum menyeringai.


" Ini nih yg namanya keluar kandang ayam masuk kandang macam.. hehehhehehe!." pikirnya.


Aira bergidik melihat tatapan Yg diberikan Alan kepada Adelia.


" Ternyata ini orang mempunyai aura seperti pembunuh?, Adeh...tapi nggak mungkin kan Alan itu pembunuh!." pikirnya sambil geleng-geleng.


" Lu itu memang sudah bosan hidup."


ucap Alan geram, Adelia tersenyum mendengar ucapan Alan, Aira mengernyitkan keningnya, si ulet bulu kayaknya perlu pergi ke psikiater!." pikirnya.


" Bukan aku yg bosan hidup, tapi istri kakak yg sudah bosan hidup."


ucap Adelia sambil tersenyum tanpa dosa.


" Dia benar-benar gila."


ucap Aira pelan, Alan menarik Aira dan memeluknya semakin erat. dia menatap tajam Adelia.


"Lebih baik kamu keluar dari ruangan ini, sebelum gw bersikap kasar."


ucap Alan dingin, Adelia tersenyum menyeringai.


" Itu muka lama lama minta digusur!." pikir Aira.


" Apa yg kamu liat dari wanita jalan* itu huh?."


ucap Adelia sombong bukan main, Aira mengepalkan tangannya, dia tidak terima.


" Sekali lagi kamu memanggil wanita saya dengan sebutan jalan*, padahal nama panggilan tersebut lebih cocok untuk kamu."


ucap Alan dingin, Adelia terdiam.


" Iya aku jalan*, Jalan* punya kamu!."


ucap Adelia menggodanya. Aira sudah tidak tahan lagi, dia langsung berdiri dan mulai berjalan mendekati Adelia, Alan hanya bisa pasrah.


" Sepertinya perang dunia kedua akan segera dimulai."


ucap Alan pelan.


Aira berdiri dihadapannya Adelia, Adelia menatap Aira dengan tatapan mengejek.


" Kenapa?, sekarang mulut lu Nggak bisa ngomong lagi Tah?, diem aja, walaupun lu di bela mulu sama kak Alan, tapi tetap saja perasaan gw nggak akan pernah sirna untuk dia, dan seharusnya lu sadar diri, karena lu hanya numpang hidup dan seharusnya gw tabrak lu dari pada Tante indah."


ucap Adelia sambil tersenyum manis, Aira membuka matanya lebar-lebar, tangannya sudah mengepal, dia ingin melayangkan tinjunya, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang. dan berusaha bersikap biasa saja.


" Sudah selesai bicaranya?."


ucap Aira datar.


" Gw masih belum selesai ngomong cewek jal-."


ucap Adelia yg langsung terpotong karena wajahnya langsung miring ke kanan.karena sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi kanannya.


" Kak Alan, kamu membiarkan dia memukul ku?."


ucap Adelia pura pura sedih, sambil meletakkan tangannya di pipinya. dan menatap Alan, Alan mengangkat pundaknya.


" Kamu memang pantas mendapatkannya!."


" Masih mau lagi!."


ucap Aira sambil mengangkat tangannya, Adelia langsung mundur beberapa langkah, sambil menatap Aira. tidak percaya.


" Awas aja, gw bakalan Balasperlakuan lu ini lebih dari ini."


ucap Adelia mengancamnya.


" Dengan senang hati, gw akan menunggunya, tetapi sebelum itu gw akan pastikan hidup lu akan merana, dan sengsara jika masih mengganggu kehidupan pernikahan gw ulet bulu!."


ucap Aira, suara Aira terdengar seperti sedang mengintimidasi nya,


" Lu Nggak bisa mencegah gw buat nggak masuk dalam kehidupan kak Alan, karena gw nggak akan pernah menjauhi Alan sedikitpun, malah sekarang gw semakin termotivasi lagi supaya tidak menyerah."


ucap Adelia sambil tersenyum tanpa malu sedikitpun.


" Coba saja jika berani, pada saat itu juga gw bakalan jamin kalau kaki lu Nggak bakalan bisa di gunakan lagi, karena sepertinya kaki lu perlu masuk inventaris!."


ucap Aira sambil tersenyum, Adelia merinding mendengar ucapan Aira.


" Gw masih dengan pendirian gw!."


ucap Adelia keras kepala.


" Silahkan saja, tapi ingat gw pernah memberi tahu lu sebelumnya, jadi jangan salahin gw kalau kaki lu itu lumpuh atau di potong!."


ucap Aira santai.


" Dasar wanita gila!."


ucap Adelia cukup keras, Aira tersenyum menyeringai.


" Gw bisa menjadi wanita gila, saat seseorang berani mengusik ketenangan kehidupan pernikahan gw!, dan ini hadiah pertama gw buat lu."


ucap Aira santai,


Plakkkk.. sebuah tamparan mendarat di pipi kiri milik Adelia, Aira tersenyum misterius.


" Lu salah memilih musuh!."


ucap Aira sambil berbisik di telinga Adelia, stelah mengatakan itu, Adelia terlihat menghentakkan kakinya dilantai beberapa kali, kemudian dia membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Dadah ulet bulu!!."


ucap Aira sambil melambaikan tangannya


.


.


.


.


.


.


Terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca