
Rizal dan Aira berbincang bincang dengan santai, dan terkadang tertawa, sampai tidak sadar jika seorang nenek sedang memperhatikan mereka berdua sambil tersenyum.
" Andaikan adik perempuan Rizal masih hidup dia pasti seumuran dengan Aira.."
ucap Nenek Winda.
" Nyonya... kenapa nyonya tidak menghampiri tuan muda!!."
ucap supirnya, nenek winda mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat untuk menunggu sebentar, karena nenek winda sudah lama tidak melihat pemandangan yg seperti ini.
" Sudah berapa lama dia tidak tidak tertawa?."
ucap nenek winda.
" Setelah Nona muda hilang nyonya."
ucap Supir tersebut.
" Begitu ya..hmm..kita hampiri mereka berdua sekarang bagaimana?."
ucap Nenek.
" Itu tergantung nyonya besar, saya hanya akan mengikuti perintah nyonya."
ucap supir tersebut sambil membungkukkan badannya. Nenek winda tersenyum mendengar ucapan Supirnya, kemudian dia menghampiri mereka berdua.
" Sepertinya Kamu sedang bahagia?."
ucap Nenek Winda membuat Rizal menatap Neneknya sambil tersenyum manis.
" Nenek."
ucap Rizal senang sambil memeluk Nenek Winda, dan Nenek Winda membalas pelukan Rizal.
" Aduh cucu nenek udah besar ternyata."
ucap Winda sambil mengelus rambut Rizal dan melepaskan pelukannya, sedangkan Aira menatap bingung dengan pemandangan saat ini.
" Nenek kok ada disini?."
ucap Aira heran, nenek winda tersenyum lembut kepada Aira.
" Maafkan nenek ya... hanya saja sepertinya tadi pagi kamu salah paham sayang...nenek bukan salah satu penghuni panti jompo...Nenek kesana hanya sekedar berkunjung saja."
ucap Nenek Winda lembut, sedangkan Aira Sepertinya merasa canggung, apalagi setelah mengetahui jika Rizal adalah cucunya nenek winda.
" Maaf nek, jika ada perkataan aku yg kurang sopan."
ucap Aira tulus sambil membungkukkan tubuhnya.
" Kamu tidak perlu terlalu formal dengan nenek, karena nenek suka kamu memperlakukan nenek saat di panti tadi pagi."
ucap nenek winda jujur, sedangkan Rizal yg mendengar percakapan mereka berdua sedang kebingungan.
" Nenek ketemu Aira di panti?."
ucap Rizal memastikan.
" Iya, memangnya ada apa?, tidak bisakah nenek jalan jalan tanpa dikawal oleh orang orang yang menyebalkan itu?."
ucap nenek winda.
" Nek itu demi keselamatan nenek, aku tidak mau kejadian masa lalu terulang lagi..."
ucap Rizal memelas, dan baru kali ini Aira melihat ekspresi wajah Rizal yg sedang memelas, sama sekali tidak cocok dengan aura yg ada disekitarnya. pikirnya
" Iya...iya....nenek tau...tapi nenek bosan dirumah..kamu tau kan jika nenek seorang pembisnis, jadi kamu harap memaklumi nenek mu ini yg tidak bisa diam Di rumah..uncang uncang kaki."
ucap nenek winda menjelaskan perasaannya, sedangkan Rizal menghela nafas saat dia ingin membuka mulutnya, Aira langsung menepuk pundak Rizal.
" Bro...lu seharusnya jangan terlalu menekankan nenek, jika lu pengen di rumah aja...maka lu juga harus ada dirumah bersama nenek, nemenin dia, bukannya gw sok ikut campur, tetapi jujur saja... pasti nggak nyaman jika seseorang yang biasanya sibuk tiba tiba saja harus tinggal dirumah saja..gw tau maksud lu itu baik, lu ingin nenek lu sehat selalu nyaman dan terlindungi, tapi apa lu pernah mikir jika dia merasa kesepian saat keluarganya tidak ada yg menemaninya?."
ucap Aira panjang lebar, tidak tau kenapa dia merasa nenek winda perlu dibela, Aira menunggu amukan Rizal, tetapi Rizal tak kunjung mengeluarkan kata kata, dia hanya menatap Aira sambil tersenyum misterius.
" Jangan ukir senyuman seperti itu didepan gw, kalau lu Nggak mau Jontor itu bibir."
ucap Aira mengancam Rizal sambil mengangkat tinjunya, dan tentu saja Rizal langsung mundur kebelakang.
" Nggak gw hanya kepikiran aja, kenapa lu Nggak temenin nenek aja, selama gw nggak ada, karena mendengar ucapan lu barusan sepertinya lu antusias banget."
ucap Rizal tersenyum lembut.
ucap Aira yg teringat kalau dalam satu Minggu lagi dia akan menikah.
" Emangnya kenapa?, bukankah setelah lu kerja lu bisa langsung main kerumah nenek gw?."
ucap Rizal keras kepala.
" Gw punya urusan juga kali bro, gw nggak janji bakal nemuin nenek setiap hari, tetapi setidaknya setiap seminggu sekali, Aira janji sama nenek Aira bakalan main kerumah nenek."
ucap Aira sambil tersenyum lembut, Nenek Winda hanya tersenyum mendengar ucapan Gadis yang baru dia temui tadi pagi, ada perasaan hangat saat mendengar ucapan Aira.
Sedangkan Rizal sepertinya tidak puas dengan ucapan Aira, tetapi nenek winda langsung menyela ucapan cucunya.
" Tidak apa apa seminggu sekali juga, asalkan kamu mau main kerumah nenek, dari pada cucu nenek dia sama sekali tidak pernah jenguk nenek."
ucap nenek winda menatap Rizal tajam, membuat laki laki itu kikuk, sedangkan Aira tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Rizal saat ini, yg begitu pasrah menerima nasibnya.
" Oh iya....kalian sudah makan?."
ucap nenek winda membuat mereka berdua menggelengkan kepalanya berbarengan membuat siapapun yang melihatnya akan merasa gemas melihatnya.
" Kebetulan nenek juga belum makan, bisa temenin nenek makan juga?."
ucap nenek winda pelan sambil tersenyum manis. dan tentu saja aura tidak akan menolaknya.
" Boleh nek."
ucap Aira sambil tersenyum lembut sedangkan Rizal hanya menghela nafasnya pasrah.
" Ok tunggu apalagi, ayo!!."
ucap nenek winda yg tanpa dia sadari dia menggenggam tangan Aira keluar dari kantor tersebut, sedangkan Rizal hanya tersenyum melihat pemandangan tersebut.
" Jika seperti ini...gw semakin yakin jika Aira adalah adik gw, tetapi gw harus punya bukti nya terlebih dahulu, supaya gw bisa memberi tahu tentang hubungan gw dan Aira... tunggu aja de..Abang mu ini."
ucap Rizal dan menyusul mereka dari belakang.
π²π²π²
Dirumah Aira, Hendra dan istrinya yg tak lain adalah orang tua angkat Aira, mamahnya meminta suaminya untuk memberi tahu dia seperti apa calon suami anak gadis kecilnya, walaupun ini pernikahan paksa, setidaknya Dirinya harus memastikan seperti apa pendamping hidup anaknya nanti.
" Mas!!."
ucap Intan yg tidak lain adalah Mamah angkat Aira.
" Hmmm!."
ucap Hendra berdeham.
" Mas, setidaknya beri tau aku seperti apa laki laki yg akan menjadi pendamping hidup Aira."
ucap Intan, membuat Hendra menatap istrinya sambil tersenyum menyeringai membuat Intan merasa tertekan.
" Mas..aku minta tolong.. setidaknya jika kamu merencanakan pernikahan ini... pikiran bagaimana nasib Aira."
ucap Intan yg matanya mulai berkaca-kaca.
" Ah...kamu terlalu cengeng Intan, kau tau saya sudah lama ingin menyingkirkan anak itu... tetapi siapa sangka ternyata dia juga menguntungkan...kau tau..aku menikahkan putri mu itu dengan seorang CEO..... tetapi dia juga seorang mafia yg berdarah dingin...hahhahah...aku ingin sekali menyaksikan bagaimana kehidupan anak mu itu nanti hhahahahahahaha."
ucap Hendra sambil tertawa dan berdiri meninggalkan Intan sendirian yg sekarang sedang sesegukan, meratapi nasib putrinya setelah menikah.
" Aira...maafin mamah nak...mamah tidak bisa melindungi kamu.... maafkan mamah nak.. maafin mamah hiks.."
ucap Intan disela tangisnya.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca βΊοΈ