
"Aku suka saat melihat mu tersenyum, tetapi saya menyukai senyuman itu saat saya menjadi alasannya."
— Alan Gusti Nugraha —
🌸🌸🌸
" Lu ngapain masih ngikutin gw segala Sampai kesini?."
ucap Aira heran, bukannya menjawab pertanyaan Aira, Alan malahan duduk di tepi ranjang disamping gadis tersebut, hal itu membuat Aira kesal bukan main.
" Sejak kapan sih... cowok mesum ini berubah menjadi anak kecil yg bertubuh besar!, Apa jangan jangan kepalanya benar benar kebentur sesuatu?. pikirnya.
" Woy...!."
ucap Aira sambil menatap Alan, laki laki itu hanya diam saja, tapi matanya masih menatap wajah Aira, Aira menghembuskan nafasnya kasar.
" Apa Kepala lu ke bentur sesuatu beberapa hari yang lalu?."
ucap Aira, Alan memiringkan kepalanya.
" Wah... sepertinya kepala lu benar benar ke pentok sesuatu!."
ucap Aira berspekulasi.
Alan hampir tertawa mendengarnya, Tetapi laki laki itu hanya menampilkan ekspresi datarnya saja, dan hal itu malah membuat Aira semakin yakin.
" Kalau kayak gini ceritanya, kita perlu balik lagi dong ke Jakarta."
ucap Aira.
" Memangnya kenapa?."
ucap Alan Bingung.
" Buat periksa lu lah, apalagi coba!!, gw nggak mau disalahin sama orang rumah, gara gara lu sakit kayak gini!."
ucap Aira tegas.
" Hahahaha!."
Alan tertawa mendengar ucapan Aira.
" Lu kenapa malah ketawa, apa jangan jangan saraf lu juga udah kena?."
ucap Aira, Aira terlihat mulai khawatir, dan Alan pun tersenyum melihat Aira yg terlihat khawatir kepadanya.
" Kenapa lu senyum segala aih, bikin gw tambah takut aja!."
ucap Aira
" Apa gw pura pura aja?, sepertinya semakin menyenangkan diperhatikan oleh seseorang seperti ini?." pikirnya, ide gila mulai bermunculan di kepala Alan, kemudian dia tersenyum sendiri.
" Jangan senyum senyum sendiri ih..gw takut beneran."
ucap Aira yg masih terus menatap wajah Alan.
" Bisa berabe ceritanya kalau pulang ini anak kondisi kayak gini!, lagian dia ke pentok dimana sih!." pikirnya.
" Lu kenapa diam aja?."
ucap Alan yg mulai berbicara Datar, dia mulai menjalankan ide gilanya itu, Aira mulai mengernyitkan keningnya.
" Lah ini anak, udah sehat lagi!." pikirnya, karena penasaran Aira pun memegang wajah Alan dengan kedua tangannya, sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Alan terus menerus melihat manik mata Aira, dan hal itu membuat detak jantungnya berdetak tak karuan.
" Gadis kecil ini sepertinya telah membuat gw benar benar gila huh?." pikirnya, tetapi Alan masih menyangkalnya.
" Bisa berhenti sekarang!."
ucap Alan dingin, Aira langsung tersadar kemudian dia langsung melepaskan tangan nya, Aira pun tidak sadar kenapa dia melakukannya atau mungkin karena khawatir dia refleks melakukan hal itu. pikirnya
" Sorry, gw nggak bermaksud untuk membuat lu nggak nyaman, tapi jujur saja tadi gw khawatir sama lu, karena lu tem..an gw sekarang!."
ucap Aira gadis itu terdengar ragu saat mengatakan kata 'teman' tersebut.
Alan memilih untuk diam, Laki laki itu masih bergelut dengan pikiran dan perasaannya sendiri.
Alan benar benar laki laki yg egois, bukankah begitu teman teman?.
Aira terus memperhatikan Alan, tetapi laki laki itu malah memalingkan wajahnya.
" Sepertinya dia benar-benar nggak nyaman?, gw perlakuan seperti tadi."
" Mungkin lain kali, gw jangan terlalu bar bar!." pikirnya, Aira terlihat sedang membuka tasnya, tetapi gadis itu menemukan hal aneh, ada gembok di resleting Tasnya yg membuat dia kesusahan untuk membukanya.
" Kelakukan siapa coba!."
ucap Aira bergumam pelan, gadis itu mencoba untuk mengotak ngatik kode gembok tersebut tetapi selalu gagal.
" Aihh..siapa sih yang jailin gw!." pikirnya kesal, Alan pun ternyata sedang memperhatikan Aira yg terlihat sedang kesulitan.
" Kenapa?."
ucap Alan berbicara pas disampingnya Aira, membuat gadis itu terkejut.
" Sejak kapan lu kesini?."
ucap Aira bertanya, Alan sepertinya tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan Aira tersebut.
" Lu kenapa?."
ucap Alan, Gadis itu sepertinya tidak mau mengalah.
" Mau ngapain gw jawab pertanyaan lu!, orang gw tanya lu aja tadi lu nggak jawab!."
ucap Aira keras kepala.
" Tadi kan gw yg tanya duluan, kenapa lu balik tanya hmm?."
ucap Alan sambil menatap wajah Aira, tanpa mereka berdua sadari mereka berdua hanya berjarak beberapa senti,
" Tas gw ada yg masang gembok!."
ucap Aira kesal, sambil menunjukkan tas ransel yg ada gembok nya.
" Pasti kerjaan om lagi." pikirnya
" Sepertinya ada seseorang yang sengaja memasang gembok di tas ransel lu itu!."
ucap Alan, membuat Aira menatap Alan curiga.
" Wih..bukan gw yah yg ngelakuin!."
ucap Alan membela dirinya, karena mendapat tatapan curiga dari Aira, gadis itu kemudian menghela nafasnya.
" Terus siapa dong yg ngelakuinnya!, Kalau kayak gini gw nggak bisa ganti baju!."
ucap Aira merengek kesal, Alan terdiam dia berpikir sejenak.
" coba lu buka resleting tas lu yg paling depan!."
ucap Alan, kemudian Aira mengikuti ucapan Alan, Aira memeriksa Tas bagian depan, dan benar saja Aira menemukan secarik kertas.
" Bisa lu kasih ke gw itu kertasnya?."
ucap Alan sambil memintanya, Aira kemudian memberikan kertas tersebut dan Alan mulai membacanya, beberapa saat kemudian, Alan mulai melipat kertas tersebut sambil tersenyum misterius.
" Kenapa lu senyum kayak gitu!."
ucap Aira sambil merampas kertas yg ada ditangan Alan kemudian mulai membacanya.
" Lu nggak bakalan ngelakuinnya kan Alan!."
ucap Aira sambil menunjuk Alan dengan jari telunjuknya, laki laki itu hanya tersenyum menyeringai.
" Kenapa gw harus menolaknya hmm!."
ucap Alan.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca ☺️